..."Kesempurnaan apa yang harus kita sempurnakan?"...
...- Anonymous....
•
•
•
"Penjualan coklat bulan ini meningkat drastis Pak, banyak konsumen dari pihak ritel yang meminta stok sehingga produksi semakin cepat di pabrik, sementara dikantongi tim staf pemasaran dan target produksi sedang memikirkan cara baru memasarkan coklat produksi kita," Glen mulai menjelaskan hasil kontingen perusahaan bulan ini.
Sekedar info, perusahaan yang dijalankan oleh Danu adalah perusahaan yang memproduksi coklat merupakan perusahaan peninggalannya ayahnya, Halim.
Tapi entah kenapa, sikap Danu tidak pernah semanis coklat yang dia produksi di perusahaannya, Glen kembali menjelaskannya tentang hal-hal yang terjadi persentase penjualan mereka.
"Tapi ada satu masalah, Tuan, produsen yang serupa dengan perusahaan kita sudah melakukan gebrakan baru dalam penjualan mereka, jika kita hanya diam ditempat tentu kita akan ketinggalan," ujar Glen.
Mendengar itu membuat Danu diam sejenak, dia menaruh tangannya di pelipis dan mengusap pelipisnya pelan.
"Akan saya pikirkan gebrakan baru yang akan perusahaan kita ambil, kamu bisa kembali," jawab Danu pada Glen.
"Tidak ingin saya antarkan ke ruangan pendingin untuk memantau coklat yang akan di pasarkan besok, Tuan," tanya Glen yang membuat Danu menggeleng.
"Saya bisa sendiri," jawab Danu pada Glen.
Glen mengganggukkan kepalanya kemudian berjalan keluar dari ruangan Glen meninggalkan Diajeng dan Danu disana.
"Kenapa diam aja?" tanya Danu pada Diajeng. "Kamu gak mau lanjut ngomelin saya?"
"Gak, masuk kuping kiri keluar kuping kanan yah percuma," jawab Diajeng yang membuat Danu menghela napas panjang.
"Ya sudah antar saya ke ruangan penyimpanan coklat perusahaan, saya ingin melihat-lihat," pinta Danu.
"Boleh dimakan gak Mas?" jawab Diajeng yang memang sangat suka dengan coklat.
Mungkin inilah sebabnya Diajeng menikah dengan Danu, saking sangat sukanya dengan coklat, sewaktu kecil Diajeng pernah berjanji ingin menikah dengan pengusaha coklat agar dia bisa makan coklat setiap hari.
Dan ternyata itu terkabul, walaupun Diajeng harus sedikit bersabar menghadapi Danu.
Diajeng kemudian mendorong kursi roda Danu menuju ruangan penyimpanan coklat yang terletak di ujung lantai dua, sesampainya disana, Danu kemudian mulai memeriksa dan sudah ditebak Diajeng memilih memakan beberapa coklat disana.
"Mas, cobain deh," ujar Diajeng memberikan sepotong coklat dari kategori coklat low sugar kepada Danu.
"Saya gak suka manis."
"Ini low sugar."
"Gak!"
"Cobain, dikit aja," jawab Diajeng yang membuat Danu terpaksa memakan coklat itu.
"Puas? Yasudah ayok keluar, saya sudah mulai kedinginan," jawab Danu menggerakkan kursi rodanya menuju pintu.
Disaat Danu hendak membuka pintu, dia mendapati pintu ruangan itu tidak bisa terbuka dan tampak terkunci.
"Kenapa Mas?"
"Pintunya, gak bisa dibuka!"
"Hah!?"
Diajeng mendelik kemudian berjalan ke arah pintu tersebut dan hendak membukanya namun tidak bisa membukanya.
"Kekunci Mas?"
"SAYA TAHU!" ujar Danu dengan nada tinggi.
Diajeng masih berusaha membukanya sembari meminta tolong agar ada orang yang mendengar mereka tapi nihil karena ruangan itu kedap suara.
Ditambah dilantai dua hanya ada tiga ruangan, ruangan staf divisi, ruangan kerja Danu dan ruangan penyimpanan sehingga tidak mungkin didengar orang karena kondisi karyawan yang sedang istirahat makan siang.
Diajeng mengambil tasnya kemudian mencoba menyalakan ponselnya, dia mencoba menelepon Glen saat telepon tersebut menyala namun ternyata sinyal tidak dapat menembus ruangan itu.
"TOLONG!"
"Percuma kamu teriak, gak akan bisa nolong kita."
"Seenggaknya kita usaha, Mas," jawab Diajeng masih berusaha membuka pintu.
•
•
•
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Dyah Oktina
eh..... kan diajeng blm tahu akan menikah dgn siapa .. lah emang blm kenal juga... dan mereka nikah kan krn d Paksa... jd bukan krn suka coklat dong thor
2024-01-04
0
Dyah Oktina
hasil kontingen????? ngak pas d pasang d sini ya nak..
2024-01-04
0
Yunia Afida
g sabar nunggu danu bucin
2022-12-28
1