Kedatangan Jemmy yang kedua tangannya menenteng karton warna cokelat dan menebarkan aroma lezatnya roti, tetap tidak membuat Amel memberikan tanggapan berarti. Amel tetap diam tak ubahnya patung, gamang gara-gara ancaman Tianka. Kedua tangan Amel saling remas di pangkuan. Ia malah agak membelakangi Jemmy setelah pria itu duduk di sebelahnya.
“Aku minta maaf, aku menyesal sudah membiarkan ini, terjadi,” lirih Jemmy benar-benar menyesal. Dalam hatinya, ia juga membenarkan anggapan Dion, bahwa lepas dari orang seperti Tianka, sangat lah tidak mudah.
“Kamu enggak berpikir, ... melepaskanku, kemudian mengakhiri hubungan kita, akan jauh lebih membuatku dan juga anakku, lebih aman?” lirih Amel yang kemudian menoleh, menatap Jemmy di tengah matanya yang sudah langsung basah. Tak beda dengannya, di hadapannya, pria itu juga sudah langsung berkaca-kaca. Jemmy yang tampak gelisah menggeleng tegas sembari terus menatapnya dengan tatapan memohon.
“Kamu sudah bermain api, hingga semua yang kamu miliki termasuk kami, terbakar dan hanya bisa kamu ratapi,” ucap Amel lagi masih dengan suara lirih. Ia kembali memunggungi Jemmy kemudian menunduk. Jujur, ia menjadi kasihan kepada Jemmy. Namun sisi lain dari dirinya mengatakan, daripada mengasihani Jemmy, lebih baik ia jauh lebih waspada karena nyawanya termasuk nyawa calon bayinya, akan makin terancam.
“Aku mohon percayalah, aku yakin aku bisa mengatasi semua ini,” mohon Jemmy. Baru saja, butiran bening jatuh menimpa bangku tunggu, dari kedua sudut matanya. Amel tetap mengabaikannya. Wanita itu tampak sangat terbebani.
Setelah menghela napas dalam, Jemmy mendekap tubuh Amel dari belakang. Dagunya mengunci pundak kanan Amel, sementara kedua tangannya bertumpu sambil sesekali mengelus perut Amel.
“Sekarang begini saja,” lirih Amel terdengar tegas.
Jantung Jemmy langsung berdetak lebih cepat karenanya.
“Kamu ceraikan aku, lalu kamu menikah dengannya. Kamu bahagia dengannya seperti keinginanmu sebelumnya, dan aku bahagia bersama anakku!” lanjut Amel yang kemudian menoleh menatap Jemmy tanpa ragu. Pria itu langsung menggeleng.
“Aku enggak bisa!” tolak Jemmy.
“Kamu harus bisa karena ini juga hukuman untuk kamu!”
“Enggak, Mel. Aku bisa membereskan semua ini!” yakin Jemmy.
“Namun andai mamah kamu juga tetap enggak kasih restu, ... jangan salahkan aku jika aku melakukan semua yang aku mau. Karena demi anakku, aku akan melakukan apa pun terlebih aku sadar, kami enggak bisa bergantung apalagi mengandalkan kamu!” tegas Amel tak mau toleransi. Waktunya terlalu berharga jika ia isi dengan hal-hal yang hanya membuatnya dan calon anaknya terluka. Seperti kata Dion, Amel berhak bahagia. Perceraian yang ia minta pada Jemmy juga bagian dari haknya terlebih ia memiliki alasan kuat yang bisa memberatkan Jemmy.
“Ini yang terakhir!” tegas Amel. Melalui ekor lirikannya, ia mendapati Jemmy yang langsung menyikapinya dengan serius. Jemmy yang baru saja mematikan mesin mobil, menatapnya tajam cenderung takut.
“Mel,” ucap Jemmy memohon.
Tanpa menatap atau setidaknya membalas tatapan Jemmy, Amel berkata, “Rumah kamu dan segala kenangan di dalamnya terlalu menyakitkan buat aku, Jem. Kamu tega memaksaku untuk menelan semua pil pahit dari sikap kalian? Kalian yang main api, tapi kenapa aku yang tetap harus mengerti bahkan memaklumi?!”
Jemmy mengangguk-angguk seiring ia yang menghela napas pelan sekaligus dalam. “Kita ke sini hanya untuk memohon restu. Selebihnya, kita akan tinggal di rumah pilihan kamu. Kamu yang tentukan semuanya, aku janji!” tegasnya kembali menatap Amel penuh keseriusan.
Bukannya menanggapi, Amel buru-buru melepas sabuk pengaman dari tubuhnya. Kenyataan yang jujur saja membuat Jemmy takut, Amel nekat meninggalkannya bahkan sekalipun ia melarang sekaligus berulang kali memohon. Kini saja, Amel langsung menyingkirkan cekalan tangannya tanpa sedikit pun meliriknya.
Jemmy mendengkus pasrah kemudian melepas sabuk pengaman dan turun menyusul Amel. Kedatangan Tianka beberapa jam lalu yang nekat menemui Amel di butik, dirasanya menjadi pukulan tersendiri bagi Amel meski Amel cenderung menyikapinya dengan masa bodo. Semua yang terjadi seolah membuat Amel muak. Wanita itu makin ragu dalam memberinya kesempatan apalagi memperbaiki hubungan mereka.
Kedatangan Amel dan Jemmy ke kediaman orang tua Jemmy, langsung ditanggapi dengan sangat dingin oleh ibu Marta. Belum banyak perubahan dari ibu Marta. Tak hanya sikapnya yang masih sangat dingin, tetapi juga tatapannya. Semuanya benar-benar masih sama tanpa sedikit pun perubahan. Kedua mata itu selalu menatap Amel dengan sinis sekaligus jijik. Hampir di setiap kesempatan ketika tatapan mereka tak sengaja bertemu, ibu Marta juga buru-buru mengakhirinya. Wanita itu masih tidak sudi untuk sekadar melirik Amel.
Di ruang keluarga lantai bawah kediaman megah milik orang tua Jemmy, kebersamaan itu terjadi. Amel apalagi Jemmy mulai merasa frustrasi menghadapinya. Terlebih Jemmy karena jika sang mamah terus begitu, ancaman Amel sungguh akan ia dapatkan. Amel benar-benar akan meninggalkannya.
Lain dengan ibu Marta, pak Winarya selaku papah Jemmy, justru menyikapi Amel dengan sangat hangat. Pria yang memiliki wajah tampan layaknya Jemmy itu tak hentinya mengumbar senyum hangat kepada Amel. Pria itu begitu antusias, teramat bahagia mendengar kabar kehamilan Amel yang sebelumnya disampaikan oleh Jemmy.
“Sekarang kamu fokus istirahat, ya, Mel. Biar kamu dan janin kamu selalu sehat. Kalau kamu mau makan atau minum apa, tinggal bilang saja. Cukup telepon enggak usah naik turun tangga. Kalaupun kamu mau kamu olahraga, olahraga yang ringan-ringan dulu. Semacam yoga apa jalan kaki. Kalau enggak, panggil pelatih senam khusus ibu hamil juga lebih bagus,” ucap pak Winarya sarat perhatian dan sepertinya akan kesulitan mengakhirinya.
Bukankah perhatian yang diberikan pak Winarya harusnya dilakukan oleh seorang ibu mertua? Bukankah sebelumnya, ibu Marta selalu menjadikan kehamilan sebagai olok-olokan kepada Amel? Lantas, setelah mengetahui Amel hamil dan bahkan tak jadi keguguran, kenapa ibu Marta malah hanya diam dan malah terkesan masa bodo?
“Tes DNA! Mamah mau Amel tes DNA buat janinnya!” tegas ibu Marta dan seketika menorehkan luka tak kasat mata jauh di lubuk hati mereka khususnya Amel.
Ketiga orang di sana terdiam tak percaya menatap ibu Marta. Dada mereka seolah amblas lantaran permintaan wanita itu benar-benar menyakitkan di tengah kebahagiaan yang harusnya mereka rasakan.
“Mah!” bentak Jemmy yang detik itu juga langsung emosi. Apalagi di waktu yang sama, ia mendapati kedua mata Amel menjadi basah. Istrinya itu menitikkan air mata dan buru-buru menyekanya sambil menunduk.
“Mamah sudah janji ke aku!” tegas Jemmy lirih, menagih janji sang mamah.
Amel yakin, memang sudah terjadi perjanjian seperti yang Jemmy tegaskan. Mungkin semacam ibu Marta yang Jemmy minta bahkan tuntut menerima Amel, selain ibu Marta yang juga Jemmy larang mengusik Amel lagi. Namun sepertinya, kebencian ibu Marta kepada Amel memang tidak akan pernah ada akhirnya. Ibu Marta telanjur benci sekaligus dendam kepada Amel.
“Mamah ini!” tegur pak Winarya lirih. Ia tak hanya menatap, tetapi juga menghadap sang istri yang ada di sebelahnya. Namun, dengan sinis sang istri menepisnya sambil mendengkus sebal. Tak habis pikir olehnya, kenapa wanita itu begitu egois dan tak segan mempertaruhkan nasib rumah tangga Jemmy di atas keegoisannya.
“Kalau mau tes DNA, ayo tes DNA. Namun selebihnya, saya beneran enggak mau memperbaiki hubungan ini lebih dari yang Jemmy minta. Saya beneran mau cerai!” Amel berusaha tenang, berusaha seelegan mungkin. Meski tanggapan tegas dari ibu Marta yang mendukung permintaan perceraiannya, sukses membuat darahnya mendidih. Ibu Marta terlihat jelas ingin menyingkirkannya dari kehidupan mereka, secepatnya.
“Mah!” Jemmy murka dan sampai berdiri dari duduknya. Namun seperti sebelumnya, teguran yang ia layangkan tidak ditanggapi oleh ibu Marta. Sang mamah seolah sudah kebal dan sepertinya memang sangat tidak sudi berurusan apalagi membiarkan Amel menjadi bagian dari mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Akbar Razaq
lama" gak kasihan aku sama amel.dia sendiri yg milih begini padahal ada arden dan dio yg siap membantu.
2024-07-02
1
Lienda nasution
tes DNA tidak bisa dilakukan pada saat hamil kalaupun dilakukan akan sangat beresiko terhadap perkembangan janin. ngerti gak ya hai manusia modern tapi oon
2023-11-26
0
Yunerty Blessa
seorang ibu bersifat setan
2023-11-18
0