Amel masih hanya pura-pura tidur ketika Jemmy buru-buru keluar dari ruang rawatnya, setelah ponsel pria itu berulang kali berdering dan Amel tahu, itu merupakan dering telepon masuk. Telepon masuk yang Amel curigai dari ibu Marta atau malah Tianka. Terbukti, Jemmy tak berani menjawab telepon tersebut di dekatnya. Jemmy terkesan tidak mau Amel mengetahui obrolannya. Pria itu sengaja merahasiakannya dari Amel, yang mana Amel juga yakin, Jemmy tahu dirinya hanya pura-pura tidur.
“Sayang, kamu ke mana, sih? Kok enggak pulang-pulang? Sini dong pulang, bantu aku pilih undangan pernikahan kita,” rengek Tianka dari seberang sana.
Jemmy menutup pintu ruang rawat Amel dengan sangat hati-hati. Detik itu juga, Amel yang masih mendengar sekaligus mengenali suara Tianka, tak kuasa menahan air matanya. Dari kedua sudut matanya yang masih terpejam, butiran bening mengalir.
Ya Tuhan, sejahat itu mereka! Batin Amel sembari mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya.
“Enggak, Ti. Aku benar-benar minta maaf karena aku enggak bisa melanjutkan hubungan kita karena aku enggak bisa tanpa Amel. Amel istri aku, dan Amel lebih butuh aku!” tegas Jemmy.
“M-maksud ... maksud kamu apa? Jem, ini enggak lucu. Bercandamu beneran enggak lucu. Kamu cepat pulang, ya, aku tunggu. Aku sudah lagi pilih-pilih nih, sama mamah kamu. Bagus-bagus semua undangannya, makanya kami bingung dan kami butuh pendapat kamu.”
Mendengar balasan Tianka yang jelas tidak bisa menerima kenyataan, Jemmy yang mondar-mandir di depan pintu ruang rawat Amel, refleks memejamkan kedua matanya. Jemmy menghela napas dalam kemudian berkata, “Ti, aku benar-benar minta maaf! Aku beneran enggak bisa. Amel jauh lebih butuh aku.”
“Jem ....”
Jemmy menggeleng lemah sekaligus berat, seberat keputusan yang ia ambil demi kebaikan bersama, khususnya kebaikan hubungannya dengan Amel. “Maaf, Ti. Aku beneran enggak bisa. Mulai sekarang, aku mohon lupakan aku.”
“Enggak, Jem. Kamu enggak bisa ngomong gitu, dong. Kamu juga jangan lupa apa yang berjam-jam tadi kita lakukan. Kamu bilang kamu sayang aku. Kamu bilang kamu cinta aku dan kamu janji, ... kamu akan menikahi aku!”
Di tempat berbeda, di ruang keluarga lantai bawah kediaman Jemmy yang mewah, Tianka sudah berderai air mata dan sangat emosional. Ibu Marta yang menyimak sampai ikut geram melihatnya. Ibu Marta sampai nekat merebut ponsel Tianka kemudian berbicara lantang, mengomel kepada sang putra.
“Jemmy, kamu kenapa, sih? Kamu kenapa bikin Tianka nangis sedih begini?!”
“Amel keguguran, Mah. Dan Amel butuh aku. Aku enggak bisa melanjutkan hubunganku dan Tianka. Tolong kalian mengerti karena ini keputusanku!”
Geram, ibu Marta berkata, “Amel enggak mungkin hamil karena dia mandul!”
“Amel enggak mandul, Mah. Amel hanya sulit memiliki anak, Mamah saja yang salah paham meski kami sudah berulang kali menjelaskan!”
“Sekali lagi aku tegaskan, ini keputusanku. Tolong kalian paham!”
Ibu Marta tidak bisa berkata-kata. Ia bahkan membiarkan Jemmy mengakhiri sambungan telepon mereka hingga Tianka yang sangat bergantung kepadanya kecewa.
“Mah, ... ini gimana? Kok Mamah biarin Jemmy mengakhiri hubungan kami, sih? Kami akan menikah, kan, Mah?” Tianka ketar-ketir tanpa bisa menutupinya. Karena andai Jemmy tetap dengan keputusannya, dengan kata lain, ia yang harus mundur seperti yang pagi ini Amel lakukan.
Amel angkat kaki dari rumah dan memilih perceraian sebagai akhir dari hubungan sekaligus pernikahannya dengan Jemmy yang awalnya berniat menikahi Tianka. Namun, Tianka tidak mau menyerah begitu saja. Tianka tidak mau mengikuti jejak Amel karena ia sangat mencintai Jemmy apa pun yang terjadi meski Jemmy sudah memiliki istri dan bahkan anak. Tianka yakin, dirinya bisa menjadi wanita sekaligus istri yang baik. Cintanya kepada Jemmy akan menjadi cinta paling tulus melebihi wanita mana pun termasuk itu Amel. Tianka akan melakukan apa pun demi mendapatkan Jemmy.
***
“Kamu mau makan apa?”
“Bagaimana kalau kita nonton *d**rakor?”
“I love you* ....”
Hingga kini, Amel tetap mendiamkan Jemmy. Segala perhatian yang pria itu lakukan sekaligus berikan pun, tak ada artinya lagi. Semacam pelukan bahkan ciuman juga Amel abaikan. Amel sengaja membuat Jemmy seolah-olah tengah berinteraksi dengan patung, layaknya apa yang selama ini pria itu lakukan ketika sedang bersama Tianka. Sebelum sekarang, Jemmy memperlakukan Amel layaknya patung dan dengan tega mengabaikan Amel hanya karena Tianka. Jadi, jangan salahkan Amel jika kini dirinya mati rasa.
“Aku enggak harus panggil satpam apalagi polisi hanya untuk mengusir kamu dari sini, kan? Pergilah,” ucap Amel dingin sengaja mengingatkan Jemmy yang masih ia punggungi.
Di balik punggung Amel, Jemmy terdiam dengan banyak kebingungan. Ia berangsur mendekat, kemudian kembali mengecup kepala Amel. “Sampai kapan pun, aku enggak akan pernah meninggalkan kamu. Aku janji, dan kamu bisa pegang ucapan aku,” bisiknya tepat di sebelah telinga Amel.
“Aku enggak peduli. Aku udah mati rasa ke kamu dan aku mau sendiri.” Amel tetap dengan keputusannya.
Jemmy menghela napas pelan. “Aku ....”
“Aku beneran ingin sendiri!” sergah Amel memotong ucapan Jemmy.
Jemmy menahan napas, kemudian mengangguk-angguk paham dan perlahan beranjak dari ranjang rawat Amel. “Sampai kapan pun, kamu tetap istri aku. Aku beneran ingin memperbaiki hubungan kita.” Ia mundur sambil membungkuk loyo. Berharap, Amel segera memaafkannya kemudian memberinya kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.
Amel yang masih saja miring ke kiri memunggungi Jemmy, berangsur memejamkan kedua matanya. Kembali, di tengah dadanya yang bergemuruh menahan rasa panas sekaligus sakit, air matanya berlinang.
“I love you, Mel!” lirih Jemmy masih meyakinkan, sekalipun ia yakin, kata-kata cinta dan juga usahanya meyakinkan Amel, tak akan langsung membuat wanita itu baik-baik saja.
Tuhan, aku dendam. Aku enggak rela mereka bahagia di atas penderitaan aku. Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin mereka ketakutan, bertahan nyawa seperti yang aku rasakan demi mempertahankan janinku. Aku ingin mereka merasakan apa yang kami rasakan! Batin Amel yang perlahan mengelus perutnya menggunakan kedua tangan. Sembari melakukannya, dalam hatinya ia berkata, “Sayang, sehat-sehat ya kamu di dalam. Kamu harus kuat karena Mamah cuma punya kamu. Dan kamu harus jadi orang berguna, kamu harus jadi orang hebat jangan seperti papah kamu!” Amel mantap dengan keputusannya untuk tetap menyembunyikan kehamilannya dari Jemmy.
Tak lama berselang, seseorang mengetuk pintu dari luar. Ada yang datang dan Amel yang menyimak juga mendengar Jemmy yang langsung beranjak dari sofa belakangnya. Amel yakin, Jemmy langsung membukakan pintu. Lantas, siapa yang datang dan langsung membuat Jemmy sigap terkesan memang sudah janjian?
“Terima kasih banyak, Mas!” Amel mengenali suara tersebut sebagai suara Jemmy.
Tak lama kemudian, Amel mendengar pintu ruang rawatnya yang ditutup disusul suara langkah yang mendekat lengkap dengan aroma tubuh Jemmy yang bagi Amel, kali ini agak berbeda. Sebab, hari ini Amel juga turut mencium aroma tubuh Tianka di tubuh pria itu. Kenyataan yang juga membuat Amel mantap menjaga jarak. Juga, kenyataan yang membuat Amel seolah mati rasa kepada Jemmy. Karena jika kenyataannya sudah begitu, Amel yakin telah terjadi hubungan yang lebih dekat pada keduanya hingga aroma tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Juga, memangnya apa lagi yang terjadi jika bukan hubungan intens yang sudah selumrahnya dilakukan suami istri, di kedekatan berdasarkan cinta dan juga hasrat bagi pasangan dewasa sekelas Jemmy dan Tianka? Mustahil mereka hanya sebatas pegang-pegang dan ciuman. Pasti lebih!
Dendam, sungguh tak ada rasa lain yang Amel rasakan di setiap ia mengingat kenyataan tentang Jemmy dan Tianka yang tidak bisa ia tinggalkan. Kedua tangannya termasuk tangan kiri yang mencengkeram selimut, makin mengeratkan cengkeraman yang sebelumnya sudah sangat erat demi melampiaskan kekesalannya. Baru saja, langkah Jemmy berhenti di hadapannya. Pria itu membawa sesuatu yang ditaruh di nakas.
“Sayang, aku bawa mawar merah kesukaan kamu,” ucap Jemmy lembut sembari meletakan buket mawar merah berukuran besarnya di nakas. Namun, ia berubah pikiran dan kembali membawa buket tersebut. Ia sengaja jongkok menghadap Amel yang masih menutupi tuntas tubuhnya menggunakan selimut.
“Kamu mau lihat mawarnya?” Jemmy menyuguhkan buketnya di hadapan Amel lengkap dengan senyum terbaik yang membuat ketampanannya tak terelakkan.
“Aku benci aroma tubuh kamu!” sergah Amel. “Aku yakin kamu tahu maksudku. Ada aroma tubuh gundik itu di tubuh kamu dan aku beneran makin mati rasa ke kamu!”
Detik itu juga, Jemmy langsung membeku dan perlahan dirundung kegelisahan karena apa yang Amel keluhkan membuat ingatannya terempas pada apa yang ia lakukan dengan Tianka nyaris seharian ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
rasakanbitu Jemmy....pergi saja Amel..
2023-11-18
0
❄️_vioolet_❄️
yaah bgtulah, ga bisa di pungkiri juga , bumil penciuman nya memang lebih tajam.....🤔
2023-11-18
0
❄️_vioolet_❄️
serasa kenyang sendiri tau perasaan tianka kek gitu......
2023-11-17
0