Pada kenyataannya, Amel memang ingin balas dendam. Amel ingin memberi ibu Marta, Tianka, dan juga Jemmy pelajaran. Namun, hati kecilnya mengingatkan, bahwa apa pun yang terjadi, Jemmy tetap merupakan ayah dari jabang bayi dalam rahimnya. Semua yang berkaitan dengan Jemmy otomatis akan berdampak kepada calon anaknya. Kenyataan tersebut pula yang membuat Amel dilema.
Amel memang ingin lepas dari semua lukanya dan telah sampai melahirkan rasa dendam yang begitu besar. Semua luka yang ia dapatkan dari ibu Marta dan juga luka dari pengkhianatan yang Jemmy dan Tianka lakukan. Namun, selain ia tidak bisa melupakan semuanya walau ia sudah berusaha, ia juga tidak bisa menyembuhkannya begitu saja. Sulit untuknya melepas semua luka dan juga dendamnya setelah apa yang terjadi yang mana ibu Marta maupun Tianka juga tak segan menyerang janinnya. Meski mundur saja sama dengan membuat Tianka dan ibu Marta menang, pilihan bertahan juga Amel rasa tidak lebih baik.
Tepat pukul dua dini hari, Amel terbangun dan mendapati Jemmy masih duduk terjaga untuknya. Pria itu belum tidur dan tengah menatap wajah Amel dari sofa tunggal yang sengaja didekatkan ke ranjang rawat Amel berada. Sejak tahu Amel tidak keguguran, Jemmy memang menjadi sangat perhatian melebihi sebelum Tianka hadir menjadi bagian dari hubungan mereka.
“Kamu haus apa lapar? Atau, ... kamu mau ke kamar mandi? Apa mau aku pijitin lagi? Apa ada yang sakit?” sergah Jemmy lembut. Tangan kanan bertumpu di ubun-ubun Amel dan mengusap sayang di sana, sedangkan tangan kiri mengelus-elus perut Amel.
Amel tidak menjawab pertanyaan Jemmy yang diliputi banyak perhatian sekaligus kekhawatiran. Ia justru menghela napas kasar kemudian menepis tatapan Jemmy yang makin tak berjarak dari wajahnya.
Amel mencoba bangun sendiri tapi Jemmy sigap membantunya dengan sangat hati-hati. Tentu hati Amel tersentuh, terlebih biar bagaimanapun, cintanya untuk Jemmy memang masih ada. Namun, Amel tidak mau dibutakan oleh cintanya. Amel juga tidak akan memberikan kesempatan kepada Jemmy secara cuma-cuma. Karena sebelum ini saja, Jemmy dengan tega sekaligus sadar mengkhianati ikatan suci hubungan mereka. Amel sungguh akan memberi Jemmy pelajaran hingga tanpa harus bermain kasar, pria itu merasakan hukuman yang lebih menyakitkan.
Amel ingin Jemmy belajar dari kesalahan yang pria itu lakukan dengan sadar bersama Tianka. Meski Amel juga tidak yakin, setelah pengkhianatan yang ia dapatkan dari Jemmy, masihkah hatinya bisa percaya? Masihkah hatinya mampu memberi ruang untuk cinta, menjadi bagian bahkan melengkapinya termasuk itu cinta dari Jemmy?
Setelah sampai langsung membopong tubuh Amel, memboyongnya ke kamar mandi, Jemmy yang memang tak sampai membiarkan Amel melangkah, sengaja terjaga di depan kloset Amel akan duduk.
“Tolong keluar dulu,” pinta Amel merengek.
“Udah enggak usah malu, kamu mau ngapain lakukan saja. Aku tetap di sini takut kamu kenapa-kenapa,” lirih Jemmy masih sarat perhatian. Ia bahkan sampai agak jongkok hanya karena ingin membuat wajah mereka sejajar sekaligus berhadapan. Termasuk meski Amel masih menyikapinya dengan dingin, bagi Jemmy, kenyataan tersebut sudah sewajarnya ia terima selain Amel yang memang berhak melakukannya setelah luka yang Jemmy torehkan kepadanya.
Amel mengambil alih botol infusnya dari Jemmy, kemudian mendengkus kesal. “Enggak usah lebay deh, Jem. Sebelum ini saja, kamu enggak begini! Seandainya kamu enggak tahu aku enggak keguguran, belum tentu juga kamu begini, kan?” Amel sengaja memalingkan wajah, menepis tatapan Jemmy dan memang sengaja membuat pria itu tak bisa menatap wajahnya dengan leluasa.
Jemmy yang paham kondisi segera mengangguk-angguk. “Jawabanku masih sama, Mel. Mintalah apa pun itu, tolong katakan syaratnya. Asal kita bisa sama-sama lagi, asal kamu mau memberiku kesempatan, aku bersumpah akan melakukan apa pun itu!”
Yang membuat Amel heran, sekalipun dirinya yakin mampu balas dendam dan membuat ibu Marta maupun Tianka sangat menyesal, kenapa hatinya tetap tidak bisa tenang? Kenapa Amel tetap tidak bisa menemukan kebahagiaan terlebih ketenangan?
Benarkah balas dendam bukan cara yang tepat untuk mengobati luka terlebih trauma? Pikir Amel.
----
Keesokan harinya, Amel terbangun dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan leluasa. Seseorang memeluknya dari belakang dan Amel mendapati kedua tangan Jemmy telah mengunci perutnya. Iya, Jemmy pelakunya, Amel paham tangan bahkan jemari tangan Jemmy, termasuk aroma tubuh pria itu yang tak lagi disertai aroma tubuh Tianka.
Amel bingung, sejak kapan Jemmy ada di ranjang rawatnya bahkan memeluknya? Amel sungguh baru tahu dan tidak ingat kenapa itu bisa terjadi. Karena hal terakhir yang Amel ingat, setelah dari kamar mandi, Jemmy membantunya untuk tidur. Sudah, hanya sampai di situ dan selebihnya mungkin memang di luar kendali Amel.
“Sebentar,” batin Amel yang menjadi menyusun rencana. Bisa Amel pastikan, hari ini bahkan pagi-pagi, ibu Marta dan Tianka akan kembali datang. Bukankah akan menjadi balasan nyata, andai kedua wanita itu melihat Amel dan Jemmy dalam kebersamaan mesra?
Persis seperti dugaan Amel, sepuluh menit kemudian kedua wanita itu sungguh datang. Keduanya langsung berisik dan mencoba membangunkan Jemmy, tak terima Jemmy malah kembali lengket dengan Amel.
Ibu Marta meledak-ledak dan menuding Amel telah menggoda Jemmy. Seolah di mata ibu Marta, Amel merupakan wanita penggoda yang sengaja menyewakan jasanya. Padahal Amel masih istri Jemmy, menantu ibu Marta sendiri. Kini, ibu Marta tak segan mengguncang keras tubuh Jemmy agar sang putra kesayangan bisa secepatnya bangun. Amel yang masih Jemmy dekap merasakan dampaknya. Kini, kebersamaan Amel dan Jemmy tak ubahnya pasangan serong yang tertangkap basah dan langsung dihakimi.
“Jem, kamu jangan begini dong. Hargai perasaan Tianka. Tianka tulus ke kamu! Sebentar lagi kalian menikah!” ucap ibu Marta jengkel. “Buka mata kamu, tolong bedakan mana wanita yang patut diperjuangkan dengan mana wanita yang sudah sepatutnya kamu buang!”
“Kepada Tianka, ibu Marta memang peduli banget meski jelas, aku yang istri Jemmy. Memang sudah enggak ada harapan, sih. Enggak ada gunanya mempertahankan hubungan ini. Pasti akan selalu begini, makan hati!” Batin Amel yang berangsur melepas paksa dekapan Jemmy kemudian buru-buru bangun dan duduk. Ia langsung menjaga jarak.
Jemmy tidak rela dilepas paksa oleh Amel. Jemmy sungguh jengkel kepada sang mamah yang membuat Amel kembali menjaga jarak darinya. “Sepagi ini Mamah sudah berisik? Ini rumah sakit, Mah!” ucap Jemmy yang akhirnya murka. Jemmy tidak bisa menahan lagi karena sang mamah tak juga kunjung mengerti.
“Kalau mau ribut jangan di sini. Tolong keluar!” tegas Amel menatap marah ketiga manusia di hadapannya.
“Kamu lagi, ... dasar perempuan enggak punya urat malu, gundik kamu! Bisa-bisanya merebut calon suami orang!” ibu Marta sungguh ingin menghabisi Amel detik itu juga agar wanita itu pergi dari kehidupan Jemmy untuk selama-lamanya.
“Merebut calon suami orang padahal calon suami orang yang dimaksud, justru suamiku sendiri,” lirih Amel yang kemudian menggeleng tak habis pikir. Ia tersenyum mengejek menatap wajah ibu Marta kemudian berganti pada Tianka. Kedua wanita tersebut langsung ketar-ketir tak bisa menjawab. Termasuk sekadar menatapnya, baik ibu Marta terlebih Tianka, seolah tidak berani melakukannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Dewi Anjasmaraa
kira2 di dunia nyata ada gak ya mertua kaya gini
2025-01-24
0
Sandisalbiah
tianka gak laku kali ya... ngebet banget ama laki org.. cinta konon.. yg ada cuma obsesi... dasar gak waras..
2023-09-01
2
💕Erna iksiru moon💕
medusa sm mak lampir emang gak bisa ngaca.siapa yg merebut siapa.selucu itu y mereka😒
2022-12-22
1