“Ya Tuhan, hamba mohon, izinkan dia baik-baik saja. Izinkan hamba melahirkannya, merawatnya menjadi anak yang sehat. Hamba mohon, tolong izinkan hamba membahagiakannya hingga akhir hayat. Karena meski hamba akan menjadi orang tua tunggal, hamba akan melakukan yang terbaik. Hamba akan melakukan semuanya untuk kebahagiaannya,” batin Amel. Tertatih ia melewati pintu mobil kemudi. Ia melangkah agak membungkuk demi mempertahankan janinnya yang seolah sudah ada di pangkal perut. Tas di pundak kanannya ia dekap erat guna meredam rasa nyeri dan benar-benar sakit di pangkal perutnya yang terasa sangat kuat di setiap ia melangkah.
Malaikat tak berdosa di rahim Amel seolah memberontak keluar, tapi susah payah Amel menahan, tak mengizinkan di tengah kesibukannya memohon kesempatan kepada Sang Pemilik Kehidupan, jauh di lubuk hatinya. Mengamati sekitar di tengah air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipi mewakili suasana hatinya saat ini, Amel yang sangat mengkhawatirkan nasib janinnya, memohon belas kasih kepada orang yang ia jumpai.
“T-tolong, ... tolong antar saya ke rumah sakit ibu dan anak terdekat karena saya pendarahan. Sakit ....” Amel tersedu pilu. Tak terbayang olehnya, ia akan ada di titik sekarang walau hanya ada di mimpi. Padahal, Amel ikhlas mundur membiarkan Jemmy bahagia dengan Tianka. Namun, kenapa janin tak berdosa dalam rahimnya juga malah ingin meninggalkannya?
Petugas kebersihan atau yang lebih akrab disebut pasukan oren, bergegas membantu, memanggilkan Amel taksi dan sampai mendampinginya hingga rumah sakit ibu dan anak terdekat.
“Mamah sayang banget ke kamu, Nak. Mamah mohon, bertahanlah terlebih Mamah hanya punya kamu. Kamu alasan Mamah bertahan. Kamu alasan Mamah kuat sampai sekarang,” batin Amel sungguh memohon untuk keselamatan janin di dalam rahimnya yang ia takutkan benar-benar akan meninggalkannya akibat pendarahan yang ia alami. Padahal di rumah, di kamarnya dan Jemmy, pria yang di mata hukum masih resmi berstatus sebagai suaminya itu tengah membiarkan Tianka memeluknya dengan leluasa. Tianka memeluk Jemmy penuh kemanjaan, dari belakang. Layaknya biasa, wanita bertubuh langsing yang memiliki gunungan berukuran besar di dada itu tak segan menghampiri Jemmy ke kamar.
“Akhirnya ... makasih banyak, yah, Jem, kamu sudah buktiin janji kamu. Makasih banyak karena kamu sudah memilih aku,” ucap Tianka sembari mengendus dalam, aroma punggung Jemmy.
Raut wajah Jemmy masih tidak menentu. Pria itu berangsur menoleh hanya untuk menatap Tianka yang memang ada di belakangnya. “Aku mau siap-siap, mau ganti baju dulu,” ucapnya mengulas senyum, mencoba memberi Tianka pengertian. Namun jujur, kepergian Amel membuatnya merasa ada yang kurang. Seolah ada kepingan hatinya yang hilang, terlepas dari rasa sakit yang juga terasa kuat jauh di lubuk hatinya.
“Bentar, ih ... masih kangen. Ganti bajunya bentar lagi saja. Kamu kan tahu, aku selalu kangen kamu meski kita lagi bareng. Atau kalau enggak biar aku saja yang gantiin baju kamu?” Menahan senyum dan juga memasang wajah menggoda nan agresif andalannya, Tianka langsung mengubah keadaan, menguasai Jemmy dan malah menarik handuk yang masih melilit tubuh bagian bawah pria itu.
Handuk tersebut terjatuh asal ke lantai, layaknya jantung Jemmy yang seolah mengalami hal serupa akibat ulah Tianka. Ada gejolak kuat dari diri Jemmy sebagai laki-laki normal yang tentunya tidak bisa menolak apa yang Tianka lakukan.
“Enggak apa-apakan, kita ‘lakukan’ sekarang? Toh, sebentar lagi kita menikah, dan mamah kamu juga sudah pengin banget gendong anak kita?” manja Tianka. Tanpa memastikan ulahnya yang telah membuang asal handuk pembungkus tubuh bagian bawah Jemmy, ia merapatkan jarak mereka di tengah tatapannya yang terus lurus beradu dengan kedua mata Jemmy. Bisa ia pastikan, tak beda dengannya, pria di hadapannya juga sangat menginginkannya. Pria itu sudah berulang kali menelan ludah, membuat jakunnya naik turun secara teratur.
“Apa pun, ... demi kamu, aku pasti akan melakukan semuanya tanpa syarat, Jem!” lanjut Tianka yang kali ini berbisik menggoda dan sengaja menjilatt telinga kanan Jemmy. Tubuh Jemmy bak disengat arus listrik karenanya, menegang dan benar-benar tak tahan. Jauh di lubuk hatinya, Jemmy bersumpah dirinya akan tunduk kepada Tianka asal detik ini juga wanita itu memuaskannya. Benar saja, dalam sekali sentakan, Tianka berhasil membuat bibir mereka bertautan yang mana Jemmy juga langsung membalasnya dengan hasrat yang begitu liar.
“Luar biasa kamu Jem!” lirih Tianka. Andai kamu lihat ini, Mel. Nangis darah kamu! Makasih banyak, ya ... makasih banyak karena kamu sudah sadar diri dan mengembalikan semua yang seharusnya aku miliki dari dulu! Batin Tianka merasa menang dengan apa yang ia dapatkan. Bahkan meski Jemmy sampai membanting tubuhnya ke ranjang, di tengah napas mereka yang sama-sama memburu dan juga tatapan mereka yang terus beradu. Tianka malah bahagia karena kenyataan tersebut menegaskan, Jemmy sudah sangat menginginkannya.
Sisi lain Jemmy memang mengingatkan, ia telah melukai Amel sangat dalam yang mana apa yang akan ia lakukan kepada Tianka tak kurang satu jam dari kepergian Amel, akan membuat luka Amel makin menggunung andai wanita itu tahu. Namun sebagai laki-laki normal terlebih ia juga mencintai Tianka, Jemmy sungguh tidak kuasa menolak. Bahkan meski sempat berpikir untuk memperbaiki hubungannya dan Amel, Jemmy sungguh urung dan berniat baru akan melakukannya setelah ia menuntaskan hasratnya dengan Tianka. Lihatlah, betapa Tianka sangat menggoda ketika jemari lentiknya dengan sengaja membuat kedua kakinya agak berjarak dan menarik dalaman hitam dari sana kemudian melemparkannya kepadanya.
“Ayo miliki aku. Tubuh dan hidupku milikmu!” bisik Tianka.
Ketika Jemmy dan Tianka asyik memadu cinta panas mereka penuh gelora hingga dunia seolah hanya milik mereka karena Jemmy pun sama sekali tidak ingat kepada Amel terlebih rasa bersalahnya kepada wanita itu, di tempat berbeda dan penuh kekhawatiran sekaligus ketegangan, Amel tersedu-sedu memohon kepada dokter kandungan yang tengah memiliki.
“Mamah jangan stres, ya ... ayo rileks ... Mamah kuat, baby sayang Mamah, baby butuh Mamah yang bahagia. Mamah harus terus semangat,” ucap wanita berparas ayu yang juga memiliki kulit sangat putih tersebut. Ia tengah memastikan pembukaan pada rahim Amel. Wanita yang terus menangis memohon pertolongan kepadanya itu, dalam keadaan berbaring, sedangkan kedua kakinya ia pandu untuk tetap menempati posisi lekukan ranjang rawat khusus yang Amel tempati.
“Saya mohon, Dok ... saya mohon tolong bantu saya. Tolong lakukan apa pun asal janin saya baik-baik saja, Dok.” Amel tersedu-sedu. Sebelumnya, ia belum pernah setakut sekarang. Ia juga belum pernah memohon layaknya pengemis layaknya sekarang.
“Lakukan apa pun, Dok. Saya mohon.”
“Mamah ada nomor suami yang bisa kami hubungi agar Mamah merasa lebih baik?” tanya sang dokter yang sedari awal menangani Amel, sudah didampingi oleh seorang asisten.
Membahas suami, Amel malah makin terpuruk Amel seolah terempas ke titik nadir dan ia menggeleng.
“Mah, ... dukungan suami sangat membantu untuk proses ini. Demi janin kalian, ... Baby sungguh ingin disayang sama papah mamahnya. Karena dukungan suami juga akan membuat Mamah makin rileks. Mamah akan makin merasa dihargai.” Sang dokter makin serius membujuk, tapi kenyataan tersebut malah membuat Amel tersedu-sedu tak karuan.
Dukungan suami? Dia bahkan sengaja bermain api dan membuatku ada di titik ini, batin Amel merasa hancur tak berupa jika harus memikirkan nasib hubungannya dan Jemmy, hingga menjadikan calon anak mereka sebagai korban.
Meski pada akhirnya pihak rumah sakit menghubungi nomor ponsel Jemmy, tapi tak ada satu pun telepon yang direspons. Padahal, pihak rumah sakit tak hanya menghubungi dengan telepon rumah sakit, tapi juga nomor ponsel sang dokter dan tentu saja, nomor ponsel Amel. Sebab di dalam kamarnya, Jemmy sedang dimabukkan oleh cinta dan hasratnya kepada Tianka. Pergulatan panas dua insan yang sedang menuntaskan hasratnya itu masih berlangsung, meski ranjang yang mereka gunakan sudah tak karuan dan sangat berantakan. Terus begitu hingga mereka lelah dan seolah sudah tidak ada tenaga yang tersisa. Yang mana, tanpa membersihkan tubuh lebih dulu setelah pertempuran panas mereka, baik Jemmy terlebih Tianka yang menjadi sangat manja dan tak mau sedikit pun ditinggal Jemmy walau hanya geser, memilih untuk tidur. Sambil terus berpelukan, Jemmy meraih selimut yang sebagiannya terjatuh ke lantai untuk menyelimuti tubuh mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
sherly
situasi yg beneran buat nyesek, istri lagi berjuang eh suaminya lagi enak2 sama selingkuhannya...
2024-08-04
1
Yunerty Blessa
suami setan kau Jemmy 😠😠
2023-11-18
1
Adinda
biadab kau jemi istrimu hamil kau main dengan jalang
2023-10-19
0