“Kamu langsung boyong semua barang-barang kamu?” tanya Jemmy yang baru saja beres mandi. Kedua tangannya masih sibuk mengeringkan kepalanya yang basah menggunakan handuk.
Dengan dada yang terasa sangat sakit terlebih rasa cinta untuk Jemmy sedang mekar-mekarnya ditambah kehamilan yang terpaksa ia sembunyikan karena tak mau nasib anaknya terancam, Amel yang tetap fokus membereskan koper kemudian menguncinya, berangsur mengangguk.
“Iya, soalnya ke depannya aku akan sangat sibuk, takutnya jadi enggak sempat beresin ini semua.” Amel berucap lirih tanpa menatap Jemmy. Beruntung, ponselnya yang ada di nakas sebelah bersanding dengan tas kerja miliknya, berdering. Dering tanda telepon masuk hingga membuatnya bisa makin menghindari Jemmy, meski kenyataan tersebut malah membuat hatinya makin berdenyut nyeri.
“Wah, sudah dikemas semua?” seru ibu Marta yang kembali datang.
Amel yang refleks menoleh pada kedatangan ibu Marta yakin, mantan mamah mertuanya itu tidak hanya datang sendiri. Iya, seperti dugaannya dan memang sudah terlalu biasa, Tianka melangkah tak berdosa memasuki kamar Jemmy. Kamar yang tentu saja sempat Amel tempati sekaligus menjadikan Amel sebagai pemiliknya. Enggak usah sedih, Mel. Percuma. Kesedihanmu hanya akan membuatmu makin memprihatinkan terlebih kenyataannya, Jemmy tidak pernah mencintaimu. Sedangkan mengenai Tianka yang terbiasa masuk bahkan menghabiskan waktu di kamar ini, cukup ambil positifnya saja, jangan sampai kamu meniru ulah yang bagi kamu tak terpuji itu, batin Amel.
Wanita mana yang tidak kesal, wanita mana yang tidak marah terlebih sakit hati, jika wanita lain dan itu wanita yang dicintai oleh suami kita, asal masuk bahkan menghabiskan waktu di kamar kita dengan laki-laki yang masih resmi menyandang status sebagai suami kita? Bahkan tak jarang karena memang sering, Tianka dengan leluasa naik ke ranjang untuk bermanja sekaligus bercumbu mesra dengan Jemmy. Dan kini, ... Amel bertekad untuk melupakan semua itu meski tentu saja tidak mudah. Terlalu menyakitkan bagi Amel yang sadar diri bahwa dirinya hanyalah wanita lemah.
Memberikan senyum terbaik merupakan hal yang kini Amel lakukan kepada ibu Marta dan juga Tianka. Amel tetap ingin tampil elegan sekalipun jauh di lubuk hatinya, luka-luka yang ia sembunyikan menuntutnya untuk segera balas dendam. Bahkan, beberapa jiwa lain yang seolah menghuni kehidupannya begitu sibuk berbisik, menuntun Amel untuk mengamuk.
Setelah meraih ponsel sekaligus tas kerjanya dari nakas, Amel menatap ketiga wajah di sana. Ketiga wajah yang sudah menjadikannya sebagai fokus perhatian. Ibu Marta dengan wajah bahagianya dan tampak sangat puas, memamerkan kebahagiaannya kepada Amel. Tianka dengan wajah cantiknya, menatap Amel dengan mata bulatnya yang begitu indah. Tatapan yang begitu tenang sarat kebahagiaan. Juga, ... Jemmy yang menatap Amel dengan tatapan sulit Amel artikan.
“Aku rasa sudah tidak ada lagi yang tersisa. Aku pergi, maaf jika selama ini aku banyak salah.” Amel mengalihkan tatapannya kepada Jemmy. “Mengenai surat cerai, aku tunggu secepatnya. Kirim saja surat dan semua keperluan cerai kita ke butik.” Amel pastikan, dirinya tidak akan mengamuk bahkan sekadar melakukannya melalui kata-kata. Ia sungguh merasa jauh lebih bahagia bahkan beruntung karena akhirnya bisa keluar dari lingkaran makhluk-makhluk tak berperasaan seperti ketika orang di hadapannya.
“Kalau begitu kirim surat cerainya sekalian pesan pakaian pernikahan kalian saja, Jem. Enggak apa-apa, yah, Ti, pesan gaun pernikahannya di butik Amel meski kualitasnya pasti, ... ya enggak mutu-mutu banget, lah. Yang penting pakaian pengantinnya cepat jadi biar bisa cepat dipakai!” usul Ibu Marta tiba-tiba.
Tianka langsung tersipu dan menyambutnya dengan senyum haru sebelum anggukan setuju mengiringi senyum indahnya. Ekspresi andalan agar wajah dan juga tampangnya, tampak manis sekaligus menggemaskan.
Amel yang diam-diam melirik sengit kedua sejoli tadi di tengah hati yang seolah diremas dengan keji, mengangguk pasrah. Akan ada masanya, kalian juga merasakan apa yang aku rasakan. Iya, akan ada masanya. Karena setelah semua yang kalian lakukan, jangan salahkan aku jika aku sampai balas dendam! batin Amel.
“Hubungi aku jika kamu akan ke rumahku dan menemui orang tuaku untuk menyelesaikan hubungan kita.” Amel mengangkat kopernya yang berukuran besar dalam sekali sentakan hingga rasa sakit luar biasa ia rasakan di pangkal perutnya. **** *-nya sampai terasa sangat nyeri, benar-benar sakit yang mana ia juga refleks berkeringat dingin. Bahaya, semoga janinnya baik-baik saja! batinnya.
“Jangan diangkat, itu berat. Tarik saja, sini ... sini.” Jemmy mengambil alih koper Amel.
Amel yang refleks melepaskan kopernya, susah payah menyikapi keadaan dengan baik-baik saja. Giginya saling bertautan demi menghalau rasa sakit yang begitu luar biasa di pangkal perutnya. Amel buru-buru melangkah pergi dari neraka nyata dalam hidupnya. Termasuk meski ibu Marta berucap lantang, menegaskan akan datang ke rumah orang tua Amel, hari ini juga untuk membahas perceraian Amel dan Jemmy.
“Kenapa begitu buru-buru?” tanya Jemmy terdengar mengeluh.
“Ini yang kamu mau.” Amel melampaui Jemmy yang justru menjadi berhenti melangkah.
“Cepat, sebentar lagi aku ada rapat!” keluh Amel tak sabar karena mulai kewalahan menahan rasa sakit di pangkal perutnya terlebih sekadar melangkah saja, kewanitaannya terasa makin nyeri dan sakit ya sampai ke tulang-tulang. Amel terpaksa berhenti tepat di depan gerbang. Seorang satpam sudah langsung membukakan gerbang tersebut untuknya, sebelum buru-buru mengambil alih kopernya dari Jemmy.
“Non, ini masuk ke bagasi mobilnya Non?” tanya si satpam memastikan.
Amel mengangguk membenarkan. Di tengah kenyataannya yang menahan sakit luar biasa, ia sungguh akan menyetir sendiri tapi setelah pergi dari kediaman orang tua Jemmy, ia akan langsung mampir ke rumah sakit untuk memastikan kehamilannya.
Dengan jarak sekitar lima meter, Jemmy menatap Amel dengan tatapan sulit diartikan tapi cenderung berat sekaligus menahan luka. Jemmy seolah tak rela melepaskan Amel, tapi Amel tidak yakin, terlepas dari Amel yang memang tidak peduli.
“Jangan memintaku untuk tidak sakit hati terlebih marah kepada orang tua kamu. Aku kecewa kepadamu! Aku membencimu! Sebelumnya, tidak ada seorang pun yang berani merendahkan terlebih kasar kepadaku, bahkan meski aku salah. Namun menjadi bagian dari hidupmu, aku selalu diam. Aku menerima semua perlakuan yang jauh dari kata layak, bahkan itu dari kamu.” Amel yang tak lagi menyembunyikan kesedihan sekaligus air matanya, menunduk untuk beberapa saat.
“Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa. Anggap saja kita memang tidak saling kenal. Bukankah seperti itu yang kalian mau? Tenang saja, sebelum kalian memintanya, aku sudah akan melakukannya. Selamat tinggal!” Tanpa menunggu balasan Jemmy, Amel berlalu dari sana dan langsung masuk sekaligus mengemudikan mobilnya.
Namun sekitar dua puluh menit kemudian, Amel terpaksa menepikan sekaligus menghentikan laju mobilnya. Amel sudah tidak tahan dengan rasa sakit di pangkal perutnya selain Amel yang sadar, kewanitaannya yang mendadak terasa sangat perih melebihi ketika ia sedang mens, juga menjadi basah.
Mengandalkan dua helai tisu kering yang ia ambil dari tempat duduk sebelah, Amel yang sampai gemetaran sekaligus berkeringat parah, memastikan kewanitaannya. Benar, darah! Tisu tersebut menjadi dihiasi darah cukup banyak sesaat setelah ia mengelap kewanitaannya! Celaka!
“Ya Tuhan, aku pendarahan!” Amel ketar-ketir, napasnya memburu saking kacaunya ia di titik itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
sherly
martha beneran ibu mertua yg jahat banget... kalo ngk bagus butik Amel ngapain juga pesan ke sana...
2024-08-04
2
❄️_vioolet_❄️
org ini kek ya kepalanya lgi bocor halus deh, makanya kalo ngomong asal jeplak saja .....😏😏
2023-11-16
1
Nci
Ya ampun itu tiga manusia ggak ada akhlak 🥹
Sabar Mel, laki modelan Jemmy. mah lbh baik dilepas biar dia nanti yang merana-merene 😅
Semoga kehamilannya tidak bermasalah
2023-11-14
0