Suasana mendadak kacau karena pak Winarya juga ikut memarahi ibu Marta.
“Andai ibu Marta berkaca pada Jemmy, ....” Amel tak kuasa melanjutkan ucapannya, ia menunduk berat kemudian menghela napas dalam sekaligus pelan demi meredam rasa sesak yang begitu memenuhi dada dan teramat menyiksanya. Namun bersamaan dengan itu, suasana menjadi hening karena tak ada lagi yang bersuara terlebih berucap sinis seperti sebelumnya.
“Ibu Marta yang terhormat, tolong jangan tutup mata Anda. Karena andai putra Anda wanita, dia juga memiliki masa lalu tak kalah kelam dari saya. Bahkan Anda tahu, sudah tak terhitung berapa jumlah wanita yang putra Anda tiduri di luar pernikahan. Ah sudahlah, ... saya rasa memang percuma. Kalau begitu saya permisi. Hari ini juga saya akan meminta pengacara saya untuk mengurus semuanya dan semoga perceraian saya dengan Jemmy juga dilancarkan!”
“Amel,” tegur pak Winarya tapi masih perhatian, beda ketika tadi ia melakukannya pada sang istri.
“Mengenai masalah tes DNA, kalian tenang saja. Besok juga saya akan menjalaninya karena usia janin saya sudah mencukupi untuk melakukannya.” Jujur, Amel merasa sangat terluka. Air matanya bahkan tak hentinya berlinang meski ia berusaha tegar bahkan mengulas senyuman. “Kalau begitu, saya permisi.”
“Mel,” ucap pak Winarya yang kali ini sampai menghampiri Amel.
“Maaf, Pah. Sekali lagi, saya benar-benar minta maaf jika selama mengenal apalagi selama menjadi bagian dari keluarga ini, saya banyak salah.”
“Sudah, biarkan saja, Pah. Terus kamu juga ngapain ikut bangun, Jem? Ingat, tanpa fasilitas dari Mamah, kamu enggak bisa apa-apa! Tanpa Mamah, kamu bukan siapa-siapa!” tegas ibu Marta murka. Ia masih menjadi satu-satunya sosok yang duduk dan ia melakukannya sambil bersedekap garang.
“Terserah Mamah. Aku mau keluarga kecilku, Mah. Aku tetap memilih istri dan calon anak kami!” tegas Jemmy.
“Daripada Papah kehilangan anak-anak bahkan cucu Papah, lebih baik Papah kehilangan Mamah. Lebih baik Mamah yang angkat kaki dari rumah bahkan keluarga ini!” tegas pak Winarya.
Melalui lirikannya, Amel mendapati ibu Marta yang detik itu juga terlihat sangat syok. Wanita itu bahkan seolah mendadak mengalami serangan jantung. Ibu Marta membeku dan wajahnya tampak pucat.
“Papah serius!” tegas pak Winarya lebih tegas dari sebelumnya. Pria itu berucap lantang dan tampak sangat murka.
“P-pah ....” Ibu Marta berdiri dengan susah payah. Sebab apa yang sang suami tegaskan sukses membuat nyawanya seolah dicabut secara paksa. Tak pernah terpikirkan olehnya bahkan walau hanya dalam mimpi, ia akan mengalami situasi layaknya kini. Dibentak bahkan diancam oleh suami sendiri apalagi di hadapan Amel yang sangat ia benci.
Setelah sampai menghela napas pelan, Amel kembali melanjutkan ucapannya. Amel sudah telanjur lelah, baik fisik, apalagi hati dan pikirannya. Amel bahkan sudah tak berniat balas dendam, Amel lebih memilih menutup kisah mereka. Karena Amel sadar, andai ia tetap melanjutkan bahkan itu balas dendam, nyawa janinnya memiliki peluang lebih dari terancam.
Jemmy mencekal sebelah lengan Amel. Membuat langkah Amel terhenti dan berakhir dengan tatapan mereka yang bertemu karena Amel juga sampai menoleh.
“Lepas, Jem. Aku mohon. Aku menyerah, ... aku ingin hidup tenang.”
“Sekarang, aku hanya bisa berdoa untuk kebaikan kita, ... aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu sekeluarga. Semoga kamu mendapatkan jodoh seperti yang mamah kamu mau. Jodoh yang bisa membuat kamu sekeluarga bahagia.”
Amel mengulas senyum di antara luka-lukanya yang telah membuat hatinya sibuk menangis. Namun satu hal yang baru ia sadari dari apa yang ia alami. Mengenai kemenangan yang telah ia dapatkan ketika hatinya merasa damai. Kemenangan yang tak sampai membuatnya berperang terlebih menerima penghargaan. Seperti halnya yang tengah ia rasakan, dengan ikhlas atau itu rela, ia sungguh mendapatkan kemenangan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Semuanya terasa jauh lebih mudah dan Amel yakin mampu menyelesaikannya hingga akhir.
---
“Mel ... Mel, please, Mel. Aku enggak mau! Aku beneran enggak mau! Aku mau, kita sama-sama lagi. Aku mau, kita sama-sama terus bersama anak-anak kita. Aku mohon, Mel!” Jemmy menangis, terus memohon, menggunakan kedua tangannya untuk menahan kedua lengan Amel.
Hanya ibu Marta yang tidak peduli, bahkan sekalipun pak Winarya sang suami sampai teriak-teriak meminta ART mereka untuk mengemasi barang-barang ibu Marta kemudian mengusirnya pergi.
Malamnya, Amel dijemput Arden. Amel memang sengaja meminta bantuan Arden karena Jemmy dan pak Winarya tetap menahan Amel di sana. Sempat terjadi perdebatan alot terlebih pak Winarya juga sampai menghalang-halangi. Namun, untuk terakhir kalinya Amel benar-benar memohon dengan dalih ingin mencari ketenangan demi kesehatan janinnya apalagi pada kenyataannya, ibu Marta tetap bertahan di sana. Ibu Marta tetap mengharamkan Amel menjadi bagian dari keluarganya, terlebih jika tetap menjadi istri Jemmy.
“Aku ikhlas. Aku beneran ikhlas. Demi anakku, demi kebahagiaan sekaligus masa depannya. Kami akan menjalani lembaran baru, dan kami akan bahagia tanpa mereka,” batin Amel. Ia meninggalkan ruang tamu utama, selaku ruang pertama setelah pintu masuk utama di kediaman orang tua Jemmy. Nyaris seharian ini, ia ditahan di sana oleh Jemmy yang sibuk memohon, merintih tak ubahnya pengemis. Juga, pak Winarya yang sibuk membujuk sekaligus meyakinkannya. Sedangkan yang dilakukan ibu Marta, kedatangannya hanya untuk memupuk keputusan Amel yang mantap bercerai dari Jemmy.
Ditinggal Amel, Jemmy meraung-raung dan terus berusaha mengejar mobil Arden. Jemmy melakukannya hingga pertigaan di kompleks perumahannya. Sedangkan di sebelah Arden yang langsung menyetir sendiri, Amel yang menunduk tak hentinya berlinang air mata.
---
Keesokan harinya, agenda tes DNA sungguh Amel dan Jemmy jalani. Jemmy ditemani sang papah, dan kebersamaan mereka tak sampai disertai ibu Marta. Namun sepanjang kebersamaan tersebut, Amel yang masih ditemani Arden terus menjaga jarak dari Jemmy. Terakhir, Jemmy mendadak senam jantung karena Amel sungguh memberikan surat gugatan perceraian kepadanya.
“Mel, alasanku mau tes DNA karena kamu yang minta meski ini memang ide gila mamah aku! K-kamu jangan begini, dong ... tolong izinkan aku kembali. Tolong, sekali lagi saja,” rintih Jemmy benar-benar memohon.
“Enggak apa-apa, Jem. Kita cukup tunggu hasilnya saja. Besok pagi atau siang, hasilnya baru keluar. Namun bisa aku pastikan, itu anak kamu. Kalaupun kamu tetap ragu, itu hak kamu dan biar menjadi urusan kamu dengan Tuhan. Sekarang, aku mau bed rest total di rumah orang tuaku karena aku memang flek parah lagi.” Ditemani Arden, Amel mengalihkan tatapannya dari Jemmy. Ia menatap pak Winarya yang detik itu juga langsung menepisnya. Pria paruh baya yang masih tampak gagah itu langsung memalingkan wajah dan perlahan menunduk dalam.
Ada kesedihan, tetapi lebih kental kekecewaan yang begitu besar dan terpancar nyata dari tanggapan pak Winarya. Amel yakin, keputusannya yang terus maju melanjutkan proses perceraian, menjadi penyebab kesedihan sekaligus kekecewaan dari pak Winarya. Kendati demikian, demi keselamatan janinnya, Amel tetap dengan keputusannya. Amel tetap ingin bercerai, melepaskan diri dari Jemmy dan juga semua hal yang berkaitan dengan pria itu dan memang selalu dipermasalahkan oleh ibu Marta.
Amel mengikuti tuntunan Arden yang sudah langsung menggandeng sebelah tangannya, membawanya pergi dari sana. Amel berusaha tegar di tengah air mata yang kian sibuk berlinang. Di tengah sesak dan juga rasa sakit yang juga terus mengikis kehidupannya. Karena andai boleh memilih, Amel juga ingin memperbaiki hubungannya dan Jemmy. Amel ingin memperbaiki rumah tangganya, menciptakan keluarga sempurna bagi anaknya dengan formasi orang tua lengkap. Bukankah kenyataan tersebut sangat membahagiakan? Namun apa daya, Amel lebih harus fokus dengan keselamatannya, dan perceraian menjadi satu-satunya keputusan yang harus Amel ambil.
"Mel ....” Jemmy terus mengejar dan menyejajarkan langkahnya dengan Amel. Wanita itu memang bungkam, tetapi Amel yang menunduk dalam juga ia dapati menangis sampai sesenggukan.
Baru saja, Jemmy menyobek amplop cokelat berukuran besar dan berisi gugatan perceraian dari Amel.
“Kalau kamu mau merenung dan menenangkan diri, oke. Namun aku enggak akan menerima gugatan perceraian dari kamu. Sampai kapan pun, aku enggak akan terima! Aku akan menunggu kamu, Mel!” Tak ubahnya pengemis, Jemmy terus mengikuti Amel, bahkan sekalipun wanita itu sudah duduk di tempat duduk penumpang sebelah setir mobil yang akan Arden kemudikan sendiri. Jemmy nekat duduk di tempat duduk belakang tanpa bisa mengakhiri tangis kesedihan dan juga rasa takutnya. Sungguh, Jemmy teramat takut kehilangan Amel. Ia merasa sangat menyesal telah menorehkan luka dengan membagi hati bahkan cintanya kepada Tianka. Karena andai ia tak membukakan pintu untuk Tianka memasuki hatinya yang sebelumnya sudah dihuni Amel, tentu ibu Marta tak akan sekeras sekarang hingga memaksa Amel memilih perceraian sebagai akhir dari hubungan mereka.
“Ya Tuhan, aku beneran enggak menyangka, hubungan ini akan sepelik ini. Aku beneran enggak menyangka, akhirnya akan begini. Anakku terancam enggak punya papah bahkan meski dia masih di kandungan. Sehat-sehat ya kita, kita pasti bisa karena sampai kapan pun memang enggak akan ada pilihan lebih baik, selagi kita juga enggak mengubahnya menjadi lebih baik seperti yang kita mau,” batin Amel menyemangati dirinya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
sherly
terlalu betele tele si Amel mah, padahal kenyataan dah didpn mata mertuanya ngk suka, suaminya selingkuh, dianya selalu dihina demi menjaga kewarasan hrsnya langsung urus aja perceraiannya... toh kamu punya bukti si Jemmy punya perempuan lain.. ini kayak maju mundur ngk tegas padahal kondisinya hrs stabil demi bayi dlm perut
2024-08-04
2
novi 99
kok bisa surat gugatan cerainya langsung keluar gitu aja .
lagian orang hamil gak bisa cerai sama suaminya
klo pisah ranjang , ya gak apa...
walaupun disini aku dukung banget buat Amel pisah sama suaminya yang murahan itu
2023-12-02
1
Yunerty Blessa
sabarlah Jemmy memang pilihan mu diawalnya bersama ibu mu.. sekarang sudah tiada harapan untuk kau bersama kembali Amel
2023-11-18
0