Hingga detik ini, meringkuk ke kiri dan menjalani bed rest total masih menjadi hal yang Amel lakukan. Demi menjaga kesehatan sekaligus keamanan janinnya yang nyaris keguguran setelah mengalami pendarahan hebat, Amel yang telah bekerja sama dengan pihak rumah sakit untuk bersandiwara, akan memanfaatkan keadaannya. Amel akan mengelabuhi Jemmy dan semuanya, agar mereka yakin, ia sungguh keguguran.
Amel akan memanfaatkan kondisinya tersebut untuk menguasai semua simpati bahkan kepedulian Jemmy. Karena melalui Jemmy, Amel akan balas dendam. Amel akan membuat ibu Marta terlebih Tianka merasakan luka-luka yang sempat Amel rasakan. Luka-luka yang tidak bisa hilang hingga sekarang. Karena meski waktu telah membuat luka itu terlupakan, luka tersebut tetap meninggalkan bekas. Luka itu tidak akan pernah benar-benar hilang, bahkan meski perjalanan waktu telah membawakan banyak kebahagiaan sekaligus cinta baru dalam hidup Amel.
Sambil mengelus perutnya yang memang sudah ada semacam benjolan sebesar dua kepal tangan orang dewasa, Amel yang memunggungi keberadaan pintu, masih menyimak perdebatan di depan sana. Terdengar Jemmy yang sampai menyuruh pengawalnya untuk membawa ibu Marta dan Tianka pergi secara paksa dari sana. Sepertinya, alasan Jemmy nekat melakukannya tak lain karena baik ibu Marta maupun Tianka, terus saja berisik. Kedua wanita itu mencoba menerobos masuk, ingin menemui Amel. Amel yang tengah sangat membutuhkan ketenangan sampai naik pitam karena tindakan ibu Marta maupun Tianka sangat bar-bar.
Dengan hati-hati, Amel mencoba duduk, menatap kesal ke arah pintu. Kebetulan, Jemmy baru masuk dan langsung menutup pintunya.
“Kamu pergi saja kenapa, sih? Beneran enggak hanya mereka karena kamu juga wajib pergi!” omel Amel jengkel dan sampai terengah-engah sebelum akhirnya mendesah karena merasa frustrasi.
“Harusnya kamu enggak kasih tahu mereka kalau aku ada di sini, Jem. Bukan hanya karena aku sengaja merahasiakan keadaanku bahkan dari kedua orang tuaku, ... tapi beneran lebih dari itu!” Kemudian, Amel juga berkata, “Kamu tahu mereka seperti apa, tapi sengaja membuat mereka makin ingin menerkamku!”
“Bagaimana jika mereka nekat menyewa orang untuk membunuhku? Mereka memang sejahat itu kan? Mereka memang sejahat itu seperti kamu!” Amel makin meledak-ledak.
Keputusannya menahan emosi sungguh membuat Amel kehilangan banyak stok oksigen di tubuhnya. Tak habis pikir olehnya, ada manusia seperti ibu Marta terlebih wanita tak tahu diri seperti Tianka dan parahnya sangat didukung oleh ibu Marta.
Jemmy terpejam pasrah. Ia melangkah tergesa menghampiri Amel. “Tolong tenangkan diri kamu, Mel.” Ia meraih sebotol air minum dan menuntun Amel untuk minum melalui sedotan yang tersedia.
Amel mengambil alih minumannya dan bermaksud melakukannya sendiri, tapi Jemmy menahannya. Jemmy bahkan sengaja menahan kedua tangan Amel hingga mereka sama-sama menahan botol air mineral.
“Jadi, apa mau kamu?” tanya Jemmy setelah Amel selesai minum.
“Aku ingin hidup tenang.” Sebelum melanjutkan ucapannya, Amel sengaja menengadah, menatap kedua mata biru milik Jemmy dengan tatapan tajam. “Tanpa kalian!” tegasnya benar-benar serius.
Jemmy yang tercengang langsung menggeleng. “Aku enggak bisa. Dan enggak akan pernah bisa, Mel!” balas Jemmy mantap dengan keputusannya.
Amel merasa tak habis pikir dengan keadaan Jemmy sekarang, kenapa pria itu mendadak sangat sulit melepaskannya? “Melukaiku saja kamu bisa, kamu bisa dengan begitu mudah dan bahkan sengaja. Namun, ... kenapa untuk melepasku, kamu justru enggak bisa? Jahat banget kamu Jem!” Sadar emosinya akan berdampak buruk pada sang janin, Amel kembali merebahkan dirinya secara hati-hati.
Mendapati kenyataan tersebut, Jemmy langsung siaga membantu, merangkul punggung Amel dengan sangat hati-hati. Namun dengan cepat tangan kanan Amel yang tak diinfus, memukul lengan Jemmy. Kendati demikian, Jemmy tetap bertahan hingga Jemmy yakin, Amel merasa sakit karena terus memukulnya.
“Aku beneran minta maaf, Mel. Please,” sesal Jemmy sambil mendekap punggung Amel dari samping. Kedua tangannya ada persis di bawah dagu Amel, selain ia yang menahan salah satu pundak Amel menggunakan dagunya.
Dalam diamnya, Amel yang masih merasa kesal bahkan dendam, menjadi menitikkan air mata. “Aku enggak akan memintamu mengatakan itu di depan orang tuaku maupun dunia. Aku juga enggak akan membagi kisahku yang kalian perlakukan semena-mena. Mengenai kejahatan mamah kamu, ... mengenai perselingkuhan kamu dengan Tianka, ... usaha gundik itu untuk selalu bisa bersamamu dan sebisa mungkin melukaiku, ... juga semua usahanya dalam menyingkirkan aku dari hidupmu.”
“Katakan saja, asal kamu mau memaafkan aku, asal kita bisa sama-sama lagi seperti dulu, aku siap melakukan apa pun Mel. Apa pun, aku janji!” Jemmy serius dan sebelumnya, ia belum pernah seserius sekarang. Ia menatap lekat-lekat kedua mata Amel, berusaha menyalurkan keseriusannya.
“Mereka yang sudah pernah selingkuh terlebih sengaja melanjutkannya, biasanya memiliki potensi mengulangi hal yang sama sangat besar, Jem. Jangan memaksaku untuk merasakan luka yang sama, bahkan dari orang sekaligus kasus yang masih sama!” tegas Amel.
“Mel ...!” lirih Jemmy masih sangat memohon.
“Aku akan menghubungi Mas Arden karena aku sudah menganggapnya sebagai waliku. Tolong katakan semua penyesalan kamu, katakan semua kesalahan kamu dan juga kesalahan mamah kamu maupun gundik itu, ... katakan semua itu kepada Mas Arden!” ucap Amel. Susah payah ia beranjak sekaligus keluar dari dekapan Jemmy.
Amel dapati, Jemmy yang langsung diam kebingungan. Pria berwajah rupawan yang juga mantan play boy itu langsung pucat pasi hanya karena permintaan yang Amel katakan barusan. Arden, bisa Amel pastikan, Jemmy takut kepada sepupunya itu walau Jemmy juga bersahabat baik dengan Arden. Manusia mana yang mau dengan suka rela mengakui kesalahan bahkan itu untuk kesalahan sangat fatal? Maling mana yang mau mengaku?
“Mel ...,” rintih Jemmy memohon.
“Aku hanya minta itu, tapi kamu tetap enggak sanggup?” sergah Amel kecewa.
“Oke! Oke, aku akan melakukannya! Hubungi Arden sekarang juga!” sergah Jemmy menyanggupi terlebih Amel masih menatapnya sarat kecewa.
Dari luar, seseorang mengetuk pintu dengan irama yang teramat santun. Suara sapaan wanita juga kemudian terdengar menyusul, tapi sukses mengalihkan perhatian Jemmy maupun Amel.
“Masuk!” Amel berseru sambil menahan pangkal perutnya menggunakan kedua tangan. Ia masih duduk selonjor dan itu membuatnya cukup tidak nyaman. Ia menatap Jemmy penuh kerisauan karena bisa mereka pastikan, siapa yang datang.
Jemmy sengaja mengantongi kedua tangannya di sisi saku celana panjangnya sambil menunduk, menunggu petugas rumah sakit yang datang dan sepertinya semacam perawat atau petugas pengantar makanan.
“Selamat malam, Mom. Mom makan dulu habis itu minum obat dan vitaminnya, ya. Biar Mom dan baby Mom, makin sehat,” ucap wanita berseragam putih tersebut dengan sangat ramah, menyuguhkan menu makan malam yang dibawa kepada Amel.
Meski hanya melalui lirikan, bisa Amel pastikan di seberangnya, Jemmy langsung syok dan tidak bisa berkata-kata. Jemmy langsung memelotot tak percaya memperhatikan kebersamaan Amel dengan si petugas yang baru datang. Bahkan meski si wanita ramah tersebut menyapa Jemmy melalui senyuman, Jemmy tetap tidak baik-baik saja dan malah menatap Amel penuh keseriusan.
“Sus, kenapa obatnya jadi tambah? Tadi hanya empat sama yang penguat janin, kan?” tanya Amel kebingungan menatap mangkuk kecil berisi tablet dan kapsul yang harus ia konsumsi.
Di belakang si petugas wanita, Jemmy yang seperti kebakaran jenggot, makin mendekat, menyikapi kebersamaan dengan lebih serius dari sebelumnya.
“Oh. Itu memang ada tambahan asam folat dan memang lebih dianjurkan untuk dikonsumsi malam sehabis makan. Jadi siangnya yang asam folat memang enggak ada, Mom.” Setelah ia menjelaskan dan langsung dibalas anggukan paham oleh Amel berhias senyuman, ia segera undur dari sana. Tak lupa, ia juga pamit kepada Jemmy melalui senyum hangat meski ulahnya kembali tidak dibalas. Pria rupawan yang langsung membuat dadanya berdebar-debar itu terlihat sangat serius cenderung emosional, fokus kepada Amel. Baginya, Jemmy seperti sedang menahan amarah yang sangat berlebihan.
Setelah yakin petugas tadi benar-benar pergi, Jemmy langsung duduk di hadapan Amel.
“Jangan menyentuhku!” larang Amel masih dengan rencana meski jujur saja, Amel memang masih sangat jengkel kepada Jemmy.
Jemmy menggeragap cukup lama, dan dengan mata berkaca-kaca, akhirnya ia bisa bertanya, “Kenapa kamu bohong? Dia baik-baik saja, kan? Anak kita baik-baik saja!” tangisnya benar-benar bahagia. Ia sampai kesulitan untuk menggambarkan perasaannya saking bahagianya karena ternyata calon anak mereka baik-baik saja.
“Aku berhak!” Amel menatap tajam Jemmy. Emosinya kembali pecah mengiringi gemuruh yang seketika menguasai dadanya. “Tadi kamu bilang, dia baik-baik saja?” ucapnya sambil meringis sakit kemudian menggeleng, menatap pedih Jemmy.
“Dia nyaris dikuret! Siang tadi aku terus menangis dan memohon pada Tuhan agar Tuhan mau memberiku kesempatan untuk bersamanya sekalipun ia terancam tidak punya papah! Namun baru saja, ... baru saja kamu dengan seenaknya bilang dia baik-baik saja!” Amel sampai sesak napas. Susah payah ia mengendalikan emosinya. “DASAR PAPAH JAHAT!”
“Aku mohon maafkan aku, Mel. Aku benar-benar minta maaf!” Tangis Jemmy pecah. Pria itu mendekap kedua kaki Amel. “Aku mohon maafkan aku. Aku mau kalian. Aku mau selamanya bersama kalian. Sayang, Papah mohon, maafkan Papah!” Beberapa kali, di tengah isak pilu yang menyelimuti, Jemmy juga mencium kaki Amel.
Amel memalingkan wajah, menepis tatapannya dari kesibukan Jemmy yang sampai detik ini masih memohon. Amel bungkam dan sengaja tak menjawab. Terlalu menyakitkan. Apa yang Jemmy, Tianka, terlebih ibu Marta lakukan kepadanya benar-benar jahat. Namun bisa ia pastikan, acara balas dendamnya telah dimulai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Akun Lima
terlalu bodoh pemeran wanitanya
2024-05-29
2
novi 99
ayolah alurnya ....
geli baca si Jemmy cengeng gini ... Jemmy selingkuh terang-terangan di depan Amel , jadi nangis begini ...
seharusnya Amel gak ngomong klo janinnya selamat , klo emang gak mau balikan.
2023-12-01
0
YK
ya ampun, adegan 1 hari aja kok sampe sekian bab...
2023-11-14
0