Mengenai anak, juga masa depannya, Amel terus memikirkan kedua kenyataan tersebut. Sudah menjadi hal lumrah seorang ibu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi jika situasinya sangat luar biasa seperti yang ia alami, akankah keutuhan rumah tangga dan juga adanya orang tua dalam formasi lengkap, bisa menjamin kebahagiaan anak, terlebih di balik semua keutuhan itu, semuanya tidak baik-baik saja?
Jauh di lubuk hatinya sana, dua pilihan yang Amel berikan kepada dirinya sendiri. Pertama, menutup mata dan juga hatinya yang dengan kata lain, ia harus berkorban menerima semuanya demi keutuhan rumah tangga dan juga masa depan anaknya. Kedua selaku keputusan yang juga tengah Amel jalani, membebaskan diri dari jerat Jemmy, memulai lembaran baru dan kelak menceritakan semuanya kepada sang anak di waktu yang tepat?
Tidak ada pilihan yang lebih baik karena hadiah saja belum tentu membuat penerimanya bahagia. Amel paham itu. Semuanya selalu memiliki risiko termasuk setiap keputusan yang ia ambil. Namun setelah merenung serius, berpisah dari Jemmy dirasanya menjadi pilihan terbaik karena dengan begitu juga, ia dan calon bayinya juga terbebas dari kekejian ibu Marta.
Badai memang belum sepenuhnya usai dari kehidupan Amel, tapi perpisahannya dengan Jemmy seolah menjadi angin segar untuk wanita itu. Amel mulai bisa bernapas dengan lega walau baru sedikit. Wanita itu langsung berusaha bangkit, mengarungi puing-puing kehancuran kehidupannya dan perlahan menyusunnya dalam lembar kehidupan baru. Ada malaikat tak berdosa yang kini bersarang di rahimnya dan memang sangat bergantung kepadanya. Amel meyakinkan dirinya, dirinya bisa dan wajib lebih kuat dari sebelumnya walau kini, mereka hanya berdua.
“Kamu yakin tidak tinggal di rumahku saja?” Arden menatap khawatir Amel yang wajahnya masih sangat pucat. Selain itu, sekitar wajah dan leher Amel juga basah karena keringat. Arden yakin itu keringat dingin karena sepupunya itu memang belum sepenuhnya sehat terlebih baik-baik saja.
“Iya, paling tidak selama dua minggu ini kamu tinggal di rumah kami. Lagian, kamu juga wajib bed rest selama dua minggu, kan?” timpal Keyra yang berdiri persis di sebelah Arden. Ia tak kalah khawatir, terlebih ia pernah ada di posisi yang sama dengan sepupu suaminya itu.
Amel tersenyum sembari menggeleng pelan, menatap pasurti baik hati di hadapannya. “Aku harus bangkit, Mas, Mbak. Aku ingin menata hidupku, menjadi Amel yang lebih baik lagi. Aku yang sudah susah payah sampai di titik ini saja masih diinjak. Apa kabar kalau aku tetap lemah?” Kedua tangannya masih aktif mengelus perut, sekalipun tatapannya menyisir suasana butik kebersamaan mereka.
Butik tersebut merupakan butik Amel. Memang tidak begitu besar, tapi bagi orang sepertinya yang memulai semuanya dari awal bermodal nekat tanpa bantuan keluarga maupun Jemmy, Amel merasa bangga. Butiknya tengah dikunjungi beberapa pelanggan. Ia mengamati semua itu dari ruang kerjanya.
Setelah menyimak balasan Amel, Keyra menoleh dan menatap Arden. Perlahan tapi pasti langkahnya yang mundur membuatnya sampai di sisi Amel. Ia merengkuh tubuh Amel seiring kepeduliannya yang membuncah. Ia pernah ada di posisi Amel—harus berjuang sendiri ketika hamil sebelum akhirnya ia menikah dengan Arden (baca novel : Terpaksa Menikah (Cinta Duda Dan Wanita Hamil Di Luar Nikah).
“Aku di sini, yah, Mas,” pinta Keyra. “Untuk beberapa waktu,” lanjutnya masih memohon dengan tutur kata yang masih sangat lembut.
Arden mengernyit serius, tampak merenung, mempertimbangkan permintaan sang istri.
“Ya ampun, Mbak Key. Mbak Key enggak usah repot-repot. Aku bisa sendiri, kok!” Amel meyakinkan.
“Kamu masih kurang sehat, Mel. Kalau kamu kenapa-kenapa, gimana?” sergah Keyra makin khawatir hanya karena membayangkan Amel harus berjuang sendiri tanpa ada yang membantu bahkan sekadar mengawasi.
“Mbak Keyra, di rumah, Mbak punya empat anak, bahkan lima sama bapaknya! Mau jadi apa mereka tanpa Mbak, apalagi Mas Arden juga harus fokus kerja? Yang ada berita perceraian aku dan Jemmy menyebar sampai planet tetangga gara-gara kalian ikut repot dan anak-anak heboh mencari,” ujar Amel.
“Di planet ini saja sebenarnya kamu enggak diakui, Mel!” umpat Arden. “Enggak ada yang kenal sama kamu, enggak mungkin juga beritanya menyebar secepat yang kamu bayangkan.” Arden sengaja meledek.
Amel langsung menahan tawanya gara-gara ulah Arden. Pria itu mungkin berniat melucu, tapi kenyataan Arden yang serba kaku bahkan tersenyum saja tampak sangat sulit, menjadi ketertarikan tersendiri.
“Ya sudah, Mas Papah. Tolong minta bantuan orang buat angkat tempat tidur Amel di lantai atas karena Amel belum boleh naik-turun tangga. Malah, harusnya Amel beneran hanya tiduran miring ke kiri seperti aku dulu, Mas,” ucap Keyra menatap Arden penuh keseriusan.
“Yuk kita ubah ruang kerja ini jadi kamar sekalian. Biar Amel enggak naik-turun tangga dan ruang kerjanya pun tetap elegan,” lanjut Keyra yang langsung menyisihkan tas di pundak kanannya ke meja kerja Amel.
“Aku panggil pekerja lain dulu buat bantu kita. Kamu duduk, Mel. Kamu duduk, kalau kamu ingin rahasia hubunganmu dan Jemmy aman dari keluarga kita!” Arden sengaja mengancam Amel agar sepupunya itu fokus istirahat.
Perlakuan istimewa Arden dan Keyra membuat hati Amel terenyuh. Hati Amel seperti diiris oleh sembilu tak kasat mata. Hanya saja, berbarengan dengan rasa sakit itu, Amel juga merasa sangat bahagia. Dalam hatinya ia menjadi tak hentinya bersyukur.
“Ketika Tuhan memberiku pasangan tak setia dan justru membuatku merasakan banyak luka, Tuhan menggantinya dengan kebahagiaan yang aku dapatkan dari saudara-saudaraku. Mereka senantiasa ada, memberiku banyak cinta,” batin Amel benar-benar bersyukur. Ia ingin menangis, matanya sudah terasa panas sekaligus berembun, selain ia yang sengaja menggigit kuat-kuat bibirnya. Namun, ia sengaja menahannya, berusaha menjadi wanita kuat terlebih sebentar lagi ia akan menjadi seorang mama. “Sayang, lihat. Om dan Tante kamu. Mereka sayang banget ke kita. Yuk kita semangat, kita bisa jadi orang hebat! Karena jika kita ingin dilihat dan tidak diinjak, kita wajib jadi orang hebat!” batin Amel.
---
Ruang kerja Amel sudah diubah menjadi kamar pribadi. Tirai warna pink menjadi pemisah meja kerja dan juga tempat tidur di belakangnya atas usul Keyra. Iya, Keyra Miranti, wanita yang pernah sangat Amel benci hanya karena cinta buta Amel kepada Joe, di masa lalu. Padahal sebenarnya, baik Keyra maupun Amel sama-sama korban Joe—si pria brengsek dan hobinya menanam benih di rahim wanita yang dikencani. Pria brengsek yang akan menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Parahnya, semua itu terjadi tanpa terkecuali. Karena wanita yang telah Joe nodai bahkan tengah mengandung anaknya pun, merasakan dampaknya. Meski nasib Amel tak seburuk Keyra Miranti, kini Amel benar-benar menyesal pernah sangat mencintai Joe sangat dalam, dan malah membenci Keyra hanya karena kebucinannya kepada Joe.
“Sudah ... sudah, Mel. Ayo bangkit! Semangat!” Amel menyemangati dirinya sendiri, menikmati keindahan ruang kerjanya yang kini menjadi sangat cantik. Suasana yang masih dikuasai nuansa pink di sana membuat keadaan seperti kamar seorang tuan putri dari negeri dongeng. Benar-benar kamar idamannya. Paling tidak, itu akan membuatnya sedikit melupakan masalahnya dengan Jemmy sekeluarga.
Hal yang langsung Amel lakukan setelah ia kembali duduk di kursi kerjanya adalah menghubungi Dion—sahabat baiknya yang juga merupakan koki dari restoran favorit Amel. Satu lagi, Dion itu sahabat baik Keyra dan juga merupakan sepupu Joe. Kendati demikian, Dion pria baik-baik, bukan seperti Joe yang sangat kurang pantas untuk diceritakan.
“Kalau alasan kamu menghubungiku hanya untuk memesan makanan, kenapa kamu enggak menikah denganku saja, biar pesannya cukup lewat ikatan hati?”
Balasan semacam itu sudah terlalu biasa Amel dapatkan dari Dion.
“Kalau menikah semudah itu, ... KUA penuh, Ion!” Amel mendengkus sebal, tapi dari seberang, ia mendengar Dion yang malah tertawa lepas.
“Aku mau pesan makanan empat sehat lima sempurna tanpa ikan,” lanjut Amel.
“Tanpa ikan? Kenapa sampai tanpa ikan? Lagi ngidam?” balas Dion terdengar penasaran sekaligus langsung serius.
Amel refleks mengangguk, sekalipun ia sadar, tanpa harus melakukannya pun, Dion tetap tidak melihatnya. “Iya, aku memang lagi ngidam. Sudah dua belas minggu. Oh, iya. Kirimnya ke butik ya, jangan ke rumah Jemmy.”
Tak seperti sebelumnya, kali ini Dion tak langsung merespons.
“Ion, jangan bikin aku tambah kelaparan. Awas kamu ya, kalau anakku sampai kekurangan gizi berarti itu gara-gara kamu!” ujar Amel antara mengomel sekaligus mengancam.
“Kamu tinggal di butik?”
Pertanyaan serius barusan langsung membuat Amel tidak bisa berkata-kata. Begitulah Dion, sangat peka sekaligus peduli kepadanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Andri
novel arden di mana
2024-06-14
1
Aira Zaskia
thor aku cari novel ini kok gak ada yah
2024-05-03
1
Yunerty Blessa
biarlah Dion menjadi pengganti Jemmy..
2023-11-18
3