“Aku ingin kita bicara. Sebentar saja, aku mohon,” ucap Jemmy ketika akhirnya, mobil Arden memasuki halaman rumah kediaman orang tua Amel dan memang tidak semewah kediaman orang tua Jemmy.
Amel tidak langsung menanggapi apalagi menyanggupi permintaan Jemmy. Ia melirik Arden yang baru saja menghentikan laju mobil kemudian mematikan mesinnya.
“Lakukan di dalam rumah, jangan di luar,” ujar Arden yang kemudian melepas sabuk pengamannya, sebelum ia juga sampai membantu Amel melepas sabuk pengaman yang melindungi sepupunya itu.
“Paling tidak, kamu harus berpikir panjang. Mengubah perasaan apalagi pola pikir seseorang, bukanlah perkara mudah. Mamah kamu, Tianka, ... mereka sama-sama berambisi membuat hubungan kalian ada. Mamah kamu sangat ingin kamu dan Tianka menikah menjadi keluarga bahagia.” Amel berbicara dengan emosi yang jauh lebih stabil. Malahan, ucapannya terdengar tenang seperti mereka yang tengah berusaha memberi dukungan sekaligus pengertian.
“Kamu mungkin bisa fokus dengan janji sekaligus tujuanmu dalam berubah, menjadikanku satu-satunya wanita dalam hidup kamu. Aku percaya kamu bisa menjadi suami sekaligus papah yang baik, sekalipun tentu kamu juga bisa berubah pikiran dan bisa jadi tak lagi menjalani tujuan awalmu, jika sesuatu hal sampai terjadi. Namun, kamu enggak mungkin bisa mengubah perasaan mamah kamu apalagi mengubah perasaan Tianka.”
“Memangnya kamu pikir, kurang apa mas Arden dalam mencintai sekaligus melindungi mbak Intan? Kurang tegas bagaimana, mas Arden kepada Inara dan orang tuanya? Inara sampai pura-pura amnesia, dia telah menciptakan banyak drama. Semuanya sungguh hancur hanya karena dendam Inara kepada mbak Intan yang sudah berulang kali mengalah. Dan pada akhirnya kita sama-sama tahu, obsesi Inara mendapatkan mas Arden membuat dia nekat membunuh mbak Intan, padahal kita sama-sama tahu, mbak Intan merupakan kakaknya Inara.”
“Iya, andai istri kamu sebaik mbak Keyra. Kalau sekelas Tianka, tentu dia tidak bisa menerima anakku. Bisa aku pastikan, Tianka bahkan mamah kamu, akan berusaha terus melukai hingga anakku mati.”
“Jadi, memang sungguh enggak ada keputusan terbaik lainnya, selain perceraian. Karena ketika kamu dengan suka cita membukakan pintu untuk Tianka, berarti kamu sudah siap menerima segala konsekuensinya termasuk perpisahan kita. Lagi pula, bukankah sebelumnya kamu memang ingin menceraikanku dan sesegera mungkin menikahi Tianka? Kenapa kamu mendadak berubah pikiran seperti ini? Hanya karena kehamilanku? Bukankah pernikahan kalian juga akan membuatmu memiliki anak dari Tianka? Malahan, anak kalian akan sangat diharapkan sekaligus disayang oleh mamah kamu.” Mengatakannya, hati Amel benar-benar terasa nyeri. Sakit lantaran anaknya juga harus mendapatkan kebencian dari neneknya sendiri.
Amel mengakhiri ucapannya dengan tersenyum getir. Bagi Amel, perceraian dan juga mengakhiri rasa dendamnya pada Jemmy, Tianka, dan juga ibu Marta, merupakan salah satu hal terberat dalam hidupnya. Amel sampai merasa sangat lemas, seolah memang tak ada tenaga bahkan nyawa yang tersisa. Namun Amel percaya, mengalah demi kebaikan bersama khususnya keselamatan janinnya, jauh lebih baik ketimbang bertahan dan bisa mengakibatkan pertumpahan darah.
Jemmy dengan segala penyesalannya di tengah kedua matanya yang sembam, sudah sangat tak karuan. Ia terpejam seiring tubuhnya yang juga menjadi gemetaran. Kemudian, demi meredam rasa sesak yang teramat menyiksa dadanya, ia menghela napas dalam.
“Ayo kita pergi ke tempat hanya ada kita. Kita bisa melakukannya, hidup bahagia di mana pun kamu mau,” pinta Jemmy lirih. Ia berangsur membuka matanya dan menatap Amel dengan sangat memohon, kenyataan yang sudah menjadi kebiasaannya sejak dua hari lalu. Wanita yang pipinya kini tampak sangat tirus itu masih berlinang air mata dan baru saja menggeleng. Tak beda dengan dirinya, Amel juga menatapnya penuh kepedihan.
“Percuma,” isak Amel. Suaranya sudah tertahan di tenggorokan. “Itu hanya akan membuat kita menjalani hidup layaknya buronan. Sudah, jalani saja seperti rencana awal. M-menikah, ... dan hiduplah bahagia dengan cinta pertama kamu. Anggap saja memang enggak pernah ada aku. Enggak pernah ada kami, ... enggak pernah ada kita.”
“Karena D-dion?” Jemmy mengakhiri ucapannya dengan tersenyum getir.
“Kenapa kamu selalu menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang kamu lakukan? Kamu tuh ... kamu beneran mirip mamah kamu!” tegas Amel sengaja menegur Jemmy.
Jemmy langsung bungkam dan menepis tatapan Amel, tapi baru saja kedua tangannya meraih kedua tangan Amel yang kemudian ia genggam erat.
“Bersamamu saat aku belum bawa anak saja, mamah kamu selalu ingin membunuhku, apa kabar jika aku yang sudah punya anak, justru dengan Dion?” Tak beda dengan Jemmy, Amel juga tersenyum getir. Ia menarik paksa kedua tangannya dari genggaman tangan Jemmy. Ia berangsur bersedekap dan melangkah pelan meninggalkan Jemmy.
Amel menatap kosong suasana luar melalui jendela kaca yang ditutup gorden tipis. Kemarin, sepulang dari rumah sakit, Arden memang mengantarnya pulang ke rumah orang tuanya. Tentu saja sedikit banyaknya, orang tuanya sudah mengetahui nasib pernikahan Amel dan Jemmy yang berakhir dengan rencana perceraian.
Suasana sudah semakin gelap dan Amel sangat berharap, Jemmy segera pergi karena ia memang sudah ingin beristirahat. Amel sudah mantap dengan keputusannya, berpisah dan hidup tenang penuh kebahagiaan dengan sang anak.
Menikah dan hidup bahagia bersama Tianka seperti rencana awal? Jemmy bisa saja melakukan itu. Hanya saja, keputusan Amel mundur ditambah kenyataan wanita itu yang ternyata tengah hamil benihnya, membuatnya tidak bisa melanjutkan rencana awal yang dimaksud. Malahan, kini cintanya benar-benar hanya Amel. Jemmy sudah bisa memilih, ia sungguh lebih berat pada Amel dan calon anak mereka. Jika berkaca pada renungan yang baru saja Amel katakan, memang tidak ada keputusan lebih baik selain perceraian. Namun, benarkah tidak ada keputusan terbaik lainnya? Keputusan yang tetap membuat mereka bersama-sama?
Jemmy menghela napas pelan, ia melangkah menghampiri kemudian memeluk Amel dari belakang, tetapi kali ini, wanita itu kembali menolak ia sentuh. Barulah di pelukan kedua yang ia lakukan secara paksa, ia bisa memeluk Amel dengan cukup leluasa.
“Sekali, ... tolong beri aku kesempatan sekali lagi saja agar aku bisa membahagiakan kamu. Tolong beri aku kesempatan itu agar aku bisa menebus kesalahanku kepada kalian.” Jemmy benar-benar memohon di tengah dekapannya pada tubuh Amel yang makin erat. Setelah sampai mengunci sebelah pundak Amel menggunakan dagunya, ia berangsur membenamkan wajahnya di sana. Ia bahkan kembali merintih, memohon kepada Amel sekalipun yang bersangkutan tetap mendiamkannya. Namun bisa Jemmy pastikan, dalam diamnya, Amel juga kesulitan untuk mengakhiri tangis apalagi kesedihannya. Tak pernah Jemmy sangka, keputusannya membagi hati pada Tianka, padahal sebelumnya ia sudah sempat mantap melepaskan Amel, hasilnya akan sefatal sekarang. Bukan Amel yang merana, tapi dirinya yang dihempas secara paksa oleh Amel.
Keesokan harinya, ketika Jemmy bangun dan itu di tempat tidur Amel, pria itu tak lagi mendapati sang pemilik kamar. Tak hanya di tempat tidur, tetapi Amel memang sudah tidak ada di kamar. Bergegas Jemmy keluar tanpa memedulikan penampilannya yang masih memakai pakaian kemarin, dan matanya sangat bengkak. Saking bengkaknya, kedua mata Jemmy yang terasa sangat panas juga sampai sulit dibuka secara sempurna.
Jemmy bertemu dengan orang tua Amel sekalipun kini masih sekitar pukul setengah enam pagi. Orang tua Amel meminta Jemmy untuk melupakan Amel agar Amel bisa hidup tenang sekaligus bahagia sesuai kemauan putrinya. Hal tersebut pula yang membuat Jemmy yakin, Amel telah pergi meninggalkannya. Iya, Amel benar-benar meninggalkannya.
Pagi yang buruk, Jemmy menyebutnya. Pria itu seolah kehilangan kewarasan detik itu juga. Tanpa menunggu penjelasan lebih rinci dari orang tua Amel yang menegaskan sang putri telah pergi, Jemmy pergi. Jemmy mencari Amel ke kediaman Arden yang tentu saja membuatnya diamuk oleh tuan rumah. Arden memarahi Jemmy habis-habisan dan memaksa Jemmy untuk melupakan Amel, seperti yang orang tua Amel lakukan.
“Aku mohon, Ar. Aku mohon tolong bantu aku! Aku bersumpah akan melakukan apa pun! Kali ini saja, Ar. Aku mohon kali ini saja!” Di depan teras keberadaan pintu masuk utama kediaman Arden, Jemmy masih menangis sekaligus memohon tak ubahnya pengemis. Tubuhnya ambruk, dan berakhir dengan bersimpuh kepada sang sahabat yang ia yakini bisa membawanya bertemu dengan Amel.
“Aku beneran enggak tahu, Jem. Sumpah, aku enggak tahu Amel pergi ke mana. Nomor ponselnya pun sudah enggak aktif. Bahkan tadi kamu sendiri yang menggeledah ponselku. Kamu sudah coba menelepon nomor Amel menggunakan ponselku!” Arden masih berucap tegas karena biar bagaimanapun, kepergian Amel yang begitu mendadak juga membuatnya cemas. Ia bahkan masih memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya, meski ia juga sudah memakai kemeja lengan panjang warna biru tua dan kancingnya belum dikaitkan semua.
Kedatangan Jemmy yang langsung membuat keributan, telanjur membuat Arden emosi, sekalipun kini, Arden juga jadi bingung sendiri perihal ke mana Amel pergi? Namun bila ia melihat Jemmy, sahabatnya itu tak hanya terpukul, tetapi juga frustrasi. Belum pernah ia melihat Jemmy sekacau sekarang. Pria itu terduduk pasrah dengan posisi agak mengangkang, sedangkan kedua tangannya sibuk menjambak rambut hingga menjadi sangat berantakan.
Seharian ini, Jemmy masih belum menemukan Amel. Termasuk di butik, restoran Dion, bahkan kediaman orang tua Dion. Tak ada jejak Amel di sana, sementara hasil tes DNA menegaskan, janin yang tengah Amel kandung, sangat cocok dengan DNA Jemmy.
“Kenapa harus pada sesedih itu, sih? Kan Amel sendiri yang menginginkan ini?!” ucap ibu Marta yang turut melongok hasil tes DNA-nya.
“Memang Amel yang melakukan ini, tetapi semuanya terjadi karena desakan Mamah!” tegas pak Winarya.
"Papah masih saja menyalahkan Mamah! Kalau memang Amel enggak mau, ya sudah, biarkan dia dengan keputusannya. Jemmy masih muda, dan wanita baik-baik yang mau sama Jemmy juga masih banyak, Tianka, contohnya!” tegas ibu Marta yang menjadi marah-marah.
“Cukup, Mah. Kepalaku pusing kalau harus dengar suara Mamah apalagi kalau Mamah sampai marah-marah!” tegas Jemmy masih menunduk serius menatap hasil tes DNA di tangan kanannya. “Satu hal yang harus aku sampaikan kepada kalian. Dokter bilang, aku punya kelainan yang bikin aku sulit memiliki keturunan. Bisa jadi, anakku dan Amel akan menjadi satu-satunya cucu kalian!” Jemmy mengakhirinya dengan menghela napas dalam. Ia melipat hasil tes DNA-nya kemudian menyimpannya di saku bagian dalam jas hitam yang dipakai.
Jemmy memutuskan pergi dari rumah untuk kembali mencari Amel.
“Jem, kamu mau ke mana?” seru ibu Marta yang sampai berteriak sekaligus menyusul kepergian Jemmy.
“Aku mau cari Amel, Mah!” tegas Jemmy sambil terus berlalu dan meninggalkan kediaman orang tuanya yang memang sangat megah.
“Ngapain dicari lagi, sih? Sudah, biarin saja. Mamah sudah mengabari Tianka agar dia ke sini secepatnya!” sergah ibu Marta sambil terus melangkah cepat menyusul Jemmy. “Sudah pergi, masih saja dicari. Malahan kalau gini caranya, Mamah berharap Amel enggak hanya pergi, tapi juga mati agar kamu dan Tianka segera menikah dan kalian bahagia tanpa bayang-bayang Amel lagi!” Batinnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
sherly
ini lagi si martha suka kali muter2 kayak komedi puter, kamu yg pengen dia pisah Ama Jemmy skrg kamu pula yg bilang ini keinginannya...semoga kamu bahagia dgn menantu barumu
2024-08-04
1
sherly
hahahah aku jd geli Ama si Jemmy nih, seolah dia pula yg tersakiti sampai ngk ganti baju, ngk mandi, mata bengkak... pdhal yg selingkuh dia... onde mande
2024-08-04
0
Luzi
Thor, setauku tdk bisa tes DNA saat msh hamil, apalagi baru trimester pertama..ngga sinkron disini ya
2024-02-27
0