Perasaan Jemmy kali ini sungguh campur aduk. Dadanya bergemuruh menahan kekacauan yang tiba-tiba melanda kehidupannya. Amel, wanita yang kemarin sore meminta talak kepadanya, kini terbaring lemah dan harus diopname. Yang membuat Jemmy merasa sangat berdosa, dokter kembali menegaskan bahwa wanita itu keguguran. Keguguran, kenyataan yang sungguh sulit Jemmy terima. Jemmy telah lalai, membunuh calon anak mereka karena keegoisannya membagi hati sekaligus mendua, mempertahankan Tianka dalam hidupnya. Padahal mengenai anak, Jemmy juga sudah sangat menantinya di usianya yang tak lagi muda.
Kesedihan yang teramat besar, mengungkung Jemmy dalam penyesalan yang tak berkesudahan. Jemmy bahkan tak kuasa menahan air matanya yang berjatuhan dengan deras. Ia yang telah berdiri di sisi wajah sang istri, sengaja membungkam mulutnya menggunakan kedua tangan demi meredam suara tangisnya.
Untuk kali pertama, Jemmy merasa sangat hancur. Lebih hancur dari ketika dirinya gagal dalam percintaan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menikahi Amel.
Perlahan, tubuh Jemmy merunduk dan nyaris ambruk. Ia terduduk di lantai sana yang terasa sangat dingin, sedingin kepedihan yang ia rasakan akibat janin mereka yang harus pergi lebih awal sebelum ia menyambutnya dan mengatakan bahwa ia sangat menyayanginya. Tangan kirinya berpegangan pada ranjang rawat Amel, sementara tangan kanan masih bertahan membekap mulut, menyembunyikan tangis yang sudah sampai disertai sesenggukkan. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Jemmy mengutuk dirinya sendiri, terlebih setelah apa yang setengah hari ini ia lalui bersama Tianka. Sebab di saat Amel harus berjuang mempertahankan janin mereka, ia malah asyik memadu cinta bersama cinta pertamanya. Ia malah menggunakan ranjang mereka untuk hal yang tak sepantasnya ia lakukan karena biar bagaimanapun, ia dan Amel belum resmi bercerai.
Sekitar setengah jam kemudian, setelah Jemmy mampu meredam tangisnya, akhirnya Amel siuman. Jemmy yang sengaja duduk di sofa kecil yang ada di sebelah wajah Amel, kedua tangannya menggenggam kedua tangan Amel yang saling bertumpu di atas perut, langsung merengkuh sekaligus memeluk Amel penuh sayang.
“Lepaskan aku!” tegas Amel dengan suara yang benar-benar lirih. Suara yang dipenuhi luka dan juga duka. Tak berdaya.
Jemmy yang kembali menangis, langsung menggeleng. “Maafkan aku, Mel. Aku benar-benar minta maaf!”
“Aku tidak bisa memaafkan kamu.”
“Aku mohon, Mel!”
“Pergi!”
“Tidak akan karena aku tidak bisa, dan aku tidak akan pernah bisa melepaskan kamu, Mel!”
“Aku membencimu, ... aku sangat membencimu, Jem!”
Nada suara Amel terdengar sangat dingin, sedingin ekspresi wajahnya ketika Jemmy mengakhiri dekapannya tanpa benar-benar melepaskan Amel dari kedua tangannya.
“Kamu enggak pernah bilang, kalau kamu hamil!” lirih Jemmy penuh penekanan. “Aku juga sangat menginginkannya, kenapa kamu merahasiakannya dariku?”
Plakkk ....
Tamparan panas tangan kanan Amel mendarat di pipi kiri Jemmy. Pria itu langsung bungkam, tak sibuk merintih menyayangkan keadaan lagi dan membuat seolah-olah, Jemmy memang peduli setelah apa yang terjadi dan Amel yakin, harusnya Jemmy menyadari kesalahan yang telah pria itu lakukan kepadanya maupun calon bayi mereka.
“Setelah apa yang terjadi, kamu masih berani mengeluh? Aku istri kamu, aku tanggung jawab kamu! Namun apa yang kamu lakukan? Kamu menjadikanku sebagai pilihan sekaligus cadangan untuk mencari kesenangan dan kepuasan! Kamu lebih memilih wanita lain yang kamu anggap sebagai cinta pertama kamu hanya karena kisah kalian belum kelar! Jangankan aku, anak kita saja jijik dengan kelakuanmu! Dia lebih milih mati ketimbang melihat papah yang membuatnya terlanjur jijik!” Dada Amel bergemuruh menahan amarah yang nyaris membuatnya mengamuk kepada Jemmy. Kedua tangannya sudah mengepal kencang di sisi tubuh, sungguh ia tidak tahan dan ingin mencabik-cabik pria di hadapannya yang malah berlagak tak berdosa, seolah Jemmy memang tak tahu apa-apa.
Susah payah Amel menahan emosi. Susah payah ia menahan air mata dan tangisnya. Namun perlu Amel tekankan, dirinya tidak sekuat itu. Dirinya juga manusia sekaligus wanita biasa yang tak bisa selamanya memendam sekaligus meredam luka-lukanya. Tubuhnya mulai gemetaran karena apa yang tengah susah payah ia redam.
“Aku menjaga diriku dari laki-laki lain hanya untuk kamu, tapi apa balasan kamu? Bahkan kamu tahu mamah kamu lebih jahat dari malaikat maut! Namun kamu dengan teganya bersama Tianka! Otak kamu di mana? Hatimu ke mana ...?” Kali ini, suara Amel tertahan di tenggorokan hingga kenyataan tersebut terdengar sangat menyakitkan bahkan untuk Amel sendiri.
Ketika cinta akhirnya dibagi, kenyataannya memang tidak akan seindah yang dibayangkan. Pasti akan ada yang terluka dan juga harus dikorbankan layaknya apa yang tengah mereka rasakan sekarang. Bukan hanya Amel yang membenarkannya, tetapi juga Jemmy yang sampai saat ini masih bungkam, menelan kepahitan dari sebuah penyesalan.
“Jangan hanya karena aku diam, kalian berpikir aku menerima apa yang kalian lakukan!” Amel menggeleng tak habis pikir, terlalu pedih jika ia harus mengingat apa yang terjadi. “Di luar sana masih banyak laki-laki yang berkali lipat lebih baik dari kamu dan pastinya punya otak dan hati!”
“Kamu enggak sebaik yang kamu pikirkan, Jem. Kamu hanyalah potret laki-laki gagal. Suami murahan yang tega melukai sekaligus menodai kesetiaan istrinya. Kamu sama sekali tidak menghargai aku maupun menghargai rumah tangga kita. Dan kamu, ... kamu seorang Papah yang tega membunuh anaknya!”
“Laki-laki gagal, suami murahan, pembunuh! Itu sebutan yang cocok buat kamu!”
“Sedangkan Tianka, wanita berpendidikan dari keluarga terpandang menantu idaman mamah kamu itu gundik kelas kakap! Karena hanya wanita murahan yang berani menggoda sekaligus memiliki laki-laki bersuami. Kalian cocok. Kalian sungguh pasangan yang serasi! Kalian pasangan MENJIJIKKAN! Pantas kalian tak terpisahkan!”
Amel meledak-ledak, meluapkan sebagian luka-lukanya sekaligus kekecewaannya. Di tengah air matanya yang sibuk berlinang, Amel berangsur meringkuk memunggungi Jemmy. Ia sengaja menarik selimutnya, menutup rapat tubuhnya tanpa kembali membiarkan Jemmy memeluknya. Amel terisak pilu tanpa bisa mengungkapkan keadaanya saat ini. Terlalu menyakitkan, semuanya terasa sangat berat, ia bahkan tak sanggup untuk sekedar menahan tangis dan juga kesedihannya lagi seperti yang selama ini sempat ia lakukan.
Di belakang Amel, Jemmy terpejam pasrah tanpa beranjak dari sana. Menyesal, satu-satunya hal yang kini tersisa selain Jemmy yang telanjur menjadi manusia paling berdosa terlebih andai Amel atau setidaknya orang lain ketahui setelah apa yang ia lakukan bersama Tianka di kamarnya.
“Laki-laki gagal, suami murahan, pembunuh!” Kalimat Amel tersebut terus terngiang-ngiang di ingatan Jemmy, terus memenuhi benaknya. Jemmy terisak dan mengulum bibirnya demi menyamarkan suara tangisnya. Benarkah tidak ada yang bisa diselamatkan terlebih nasib janinnya? Benarkah semuanya sungguh sudah terlambat?
Jemmy sungguh berharap dirinya masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Jemmy mengharapkan keajaiban datang menghampiri sekaligus ia miliki, untuk memperbaiki semua yang telanjur terjadi. Walau terkesan mustahil, Jemmy sungguh akan melakukannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Haryani Yuliwulansih
mantan istri
2025-01-06
0
Rosmiati Ros
Amel ini adiknya naina ya?
2024-02-29
1
Nci
Penyesalanmu tidak ada gunanya Jemmy, kamu sudah menyakiti menghancurkan Amel istrimu lahir batin sebagai suami yang tidak bertanggung jawab 🙃
2023-12-23
1