Kepergian Dion membuat Jemmy memeluk Amel dengan leluasa. Jujur, ia tidak menampik anggapan Dion. Karena melepaskan diri dari Tianka memang tidak mudah bahkan sangat tidak mudah. Buktinya, meski ia sudah sampai memblokir nomor ponsel Tianka, wanita itu tetap memakai nomor baru hanya untuk bisa terhubung dengannya.
“Habiskan makanannya, setelah itu kita tidur dan istirahat,” lirih Jemmy seiring ia yang mengakhiri dekapannya.
Amel tetap diam, masih menunduk dalam. Karena setelah semua yang terjadi, ia merasa ada jarak yang membuatnya merasa canggung bahkan tidak nyaman kepada Jemmy. Pun meski Jemmy sudah memperlakukannya dengan baik, lembut penuh perhatian. Rasanya tetap ada yang berbeda.
“Makan yang banyak biar kamu enggak sekurus ini,” lirih Jemmy sembari membingkai wajah Amel. Namun, tangan kanannya berangsur mengambil sendok dari mangkuk berisi salad buah milik Amel.
“Kamu bikin aku makan hati!” keluhnya sambil melirik kesal yang bersangkutan dan kebetulan menatapnya. Jemmy mengangguk-angguk kemudian kembali meminta maaf. Terus begitu selain pria itu yang masih berusaha kembali mendapatkan simpati terlebih hatinya.
---
Masih sangat pagi, Amel dikejutkan oleh keberadaan Jemmy yang tidur di sebelahnya. Pria itu bahkan tak segan memeluknya, seolah semuanya baik-baik saja. Semudah itu Jemmy melupakan kesalahannya sekaligus luka-luka Amel.
“Kamu tidurnya pulas banget,” ucap Jemmy sambil membingkai wajah Amel kemudian menatapnya penuh cinta. Sesekali, kedua tangannya juga membelai kepala Amel dengan sangat lembut.
Amel menghela napas pelan kemudian buru-buru menjaga jarak tak lama setelah Jemmy mendaratkan ciuman di keningnya. “Jem, aku masih sulit buat terbiasa.” Ia berangsur duduk kemudian merapikan asal penampilannya sebelum akhirnya ia berusaha turun dari tempat tidur, tetapi keberadaan Jemmy menghalanginya.
Jemmy berusaha bangun, mencoba menjadi suami siaga, membantu sang istri turun dari ranjang sederhana yang mereka tempati.
“Pelan-pelan,” ucap Jemmy sambil menatap Amel sebelum akhirnya ia buru-buru turun. Ia tak mengizinkan Amel jalan dan sengaja membopongnya.
“Mulai hari ini, ayo kita biasakan. Kita biasakan berpacaran, kencan. Oh, iya ... hari ini, kita lihat-lihat rumah baru kita. Aku kurang nyaman kalau kamu tinggal di sini. Tempat ini terlalu sempit. Tidur saja, aku harus menekuk kakiku,” ucap Jemmy sambil melangkah pelan membawa Amel ke kamar mandi.
“Memangnya kamu punya apa? Memangnya kamu bisa apa tanpa orang tua kamu?” ucap Amel. “Aku enggak bermaksud meremehkan apalagi merendahkan kamu, tetapi itulah kenyataannya. Selama ini, kamu selalu hidup dengan bermalas-malasan di atas harta dan kekayaan orang tua kamu.”
“Gini, lho. Sesayang-sayangnya orang tua ke orang lain, mereka pasti tetap condong sekaligus berat ke anak. Sementara semua yang selama ini aku punya, semua itu memang hak aku. Iya, aku memang enggak punya apa-apa sekaligus enggak bisa apa-apa tanpa mereka. Namun mulai sekarang, aku akan belajar buat lebih berguna demi kita,” ucap Jemmy sarat perhatian sekaligus kepedulian. Ia menurunkan Amel dengan hati-hati di depan kloset.
Di kamar mandi yang tidak begitu luas di sana tapi masih dihiasi wastafel lengkap dengan cermin, Jemmy sengaja meninggalkan Amel karena wanita itu tak mau ditunggui olehnya dan berdalih sudah sangat kebelet pipis.
Jemmy membasuh wajahnya. Ia menatap pantulan bayangan wajahnya pada cermin wastafel. Wajahnya masih babak belur dan langsung terasa sangat perih ketika ia membasuhnya menggunakan air apalagi sabun.
Di dalam dan hanya tertutup oleh pintu kaca tebal, Amel yang masih duduk di kloset, menjadi menatap tak tega Jemmy. Pria itu babak belur karena dihajar Arden. Amel memang tidak menyalahkan Arden karena Jemmy pantas mendapatkannya. Namun tetap saja, rasa peduli itu membuatnya untuk segera mengobati. Hingga beberapa saat kemudian, di pinggir tempat tidur, Amel mengobati luka-luka di wajah Jemmy.
Suasana kamar tak lagi temaram karena selain semua gorden tebal sudah dibuka, jendelanya juga turut dibuka semua oleh Jemmy guna memperbaiki sirkulasi udara di sana. Jemmy menahan tangan kanan Amel yang tengah memoleskan salep peredam lebam di wajahnya.
“Apa?” lirih Amel sambil menatap heran Jemmy.
Bukannya menjawab, Jemmy malah mengabsen punggung tangan Amel dengan ciuman dan langsung mendapat omelan dari yang bersangkutan.
“Status hubungan kita terlebih di mata agama, sudah sangat enggak baik. Demi jaga-jaga biar enggak salah kaprah, kalau kamu memang serius mau lanjut, harusnya kita menjalani ijab kabul lagi. Tentu saja, kita harus melakukannya di depan orang tua kita. Kamu sanggup membuat itu terjadi? Kalau enggak, ya jangan harap aku mau sama kamu lagi. Kalau kamu menganggap aku terlalu ribet, ya silakan saja cari yang gampangan. Seperti kata Dion, yang semacam Tianka banyak di pinggir jalan. Dapat perhatian apalagi kepuasan dari mereka saking gampangnya asal kamu punya uang. Sementara kalau sama aku, aku enggak hanya butuh uang. Karena aku juga butuh tanggung jawab. Aku enggak munafik dan bilang aku enggak butuh uang. Buktinya, buat berobat kemarin dan menjalani pengobatan janin secara intensif saja bayarnya pakai uang. Bukan ucapan terima kasih apalagi janji dan kata maaf seperti yang sibuk kamu lakukan.” Amel menyikapi Jemmy dengan sangat tegas.
Jemmy mengangguk kilat dan menanggapi Amel tak kalah tegas. “Hari ini juga, setelah kita sarapan, aku akan membawamu menemui orang tuaku, setelah itu kita ke orang tuamu, kemudian kita menjalani ijab kabul lagi. Aku serius ke kamu dan aku mau fokus ke rumah tangga kita,” tegasnya.
“Hari ini juga, Jemmy akan membawaku bertemu dengan orang tuanya, dan dengan kata lain, aku akan bertemu ibu Marta?” batin Amel yang kemudian bertanya, “Kalau orang tuamu apalagi mamah kamu enggak setuju, bagaimana?” Itulah yang paling membuat Amel khawatir. Kekhawatiran yang juga menjadi jarak mengerikan untuk hubungan mereka, khususnya calon bayi mereka.
“Aku enggak peduli. Yang penting aku sudah minta restu secara baik-baik,” sergah Jemmy masih menyikapi Amel dengan tegas.
“Kalau Tianka masih tetap mengejar kamu, kalau dia nekat melukai calon anakku?” sergah Amel yang baru membayangkan saja sudah langsung merasa sedih.
“Aku sudah bilang ke dia, bahwa aku sudah meminta surat larangan khusus berkekuatan hukum karena surat tersebut berasal dari kepolisian. Andai Tianka sampai nekat melukai kamu, dia akan langsung dipenjara. Mendekati kita saja, dia wajib ada jarak. Minimal sepuluh meter, itu jarak terdekat dia dengan kita.” Jemmy masih sibuk meyakinkan.
Dalam hatinya, Amel bertanya-tanya. Benarkah Jemmy bisa dipercaya? Dan apakah apa yang Jemmy lakukan bisa membuat Tianka termasuk ibu Marta, jera? Sejauh ini, baik Tianka apalagi ibu Marta, selalu melakukan segala cara untuk menuntaskan setiap ambisi mereka. Bisa jadi, mereka juga tidak takut dan memang tidak peduli kepada polisi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
sherly
senanglah si Jemmy kamu kasi kesempatan dia masuk ya dia anggap kamu dah maafin... pdhal dianya tetep tak bisa lepas dr gindiknya
2024-08-04
1
Erina Munir
kasih liat buktinya perjanjiannya dong yg dri kepolisian....
2023-07-03
0
💕Erna iksiru moon💕
please jan mau balik lagi jan mau luluh dan percaya Jemmy gt aja Mel
2022-12-22
1