Amel masih menjadi pemantau baik untuk setiap pesan WA masuk di ponselnya dan ia dapatkan dari Jemmy. Iya, pria itu begitu sibuk mengiriminya pesan.
Jemmy : Aku tahu aku salah. Kesalahanku fatal, tetapi bukan berarti aku enggak bisa berubah.
Jemmy : Aku tahu kamu sangat marah, kecewa ke aku. Dan aku tahu kamu belum tidur. Ayo buka pintunya. Aku akan tetap menunggu di sini sampai kamu bukain pintunya.
Seperti yang Amel duga, begitulah Jemmy. Amel yakin, pria itu benar-benar menunggu di depan sampai ia memaafkan atau setidaknya keluar, membukakan pintu. Kini, Amel sengaja membalas pesan Jemmy agar pria itu merasa makin tertantang.
Amel : Pergilah. Aku enggak mau, mamah kamu dan gundik itu mengotori butik aku.
Tanpa menunggu lama, Amel pun mendapat balasan dari Jemmy. Kali ini Jemmy begitu cekatan membalas setiap pesannya, menegaskan pria itu sedang sangat butuh sekaligus menganggap Amel penting. Padahal biasanya, Jemmy tidak begitu.
Jemmy : Aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi.
Amel : Aku sudah bosan. Aku muak dengan janji-janji kamu!
Jemmy : Mel, tolong izinkan aku menebus semua kesalahanku kepada kalian. Izinkan aku membahagiakan kalian.
Terlalu lama berdiri membuat Amel merasakan dampaknya. Kedua mata Amel refleks terpejam, menahan pening yang juga sampai membuat matanya berkunang-kunang.
“Kok gini banget, ya? Ini aku anemia, apa memang bawaan hamil? Sebelumnya aku enggak pernah begini,” lirih Amel. Ia berangsur mencoba duduk di kursi kerjanya sambil berpegangan pada tepi meja. “Aku enggak boleh sampai jatuh.” Amel takut, bahkan sangat takut, janinnya mengalami luka fatal andai ia sampai jatuh seperti yang ia takutkan.
Jemmy : Aku sayang kamu. Aku sayang kalian!
Amel : Pergilah. Sekarang aku tahu, mana yang benar-benar tulus, mana juga yang hanya mengobral janji. Andai dari awal aku mendengarkan nasihat Mas Arden dan Mbak Keyra, andai aku enggak memberi kamu kesempatan, anak yang aku lahirkan pasti memiliki papah.
Amel membaca pesan dari Jemmy, sambil merebahkan kepalanya di meja. Sampai detik ini, bujuk rayu Jemmy sama sekali belum bisa membuat hatinya tersentuh karena ia telanjur terlalu terluka. Dan kini, ia sengaja mendiamkan Jemmy.
Sekitar dua jam kemudian, setelah Jemmy memberinya jeda dalam menghubungi, pesan dari Jemmy kembali menghiasi ponsel Amel. Amel yang ketiduran langsung kaget dan berusaha membacanya. Jemmy mengirimi Amel foto pintu masuk di butik Amel. Foto tersebut diambil dari sekitar bangku tunggu yang ada persis di sebelah pintu masuk utama butik. Amel paham itu.
Jemmy : Kamu sudah tidur?
Amel mendesah karena merasa malas setelah membaca pesan tersebut. Malahan, ia menerima telepon masuk dari Dion yang kebetulan menghiasi ponselnya.
“Sebentar lagi aku sampai. Aku pakai motor biar kamu enggak kelaparan.”
Dari seberang, Dion sampai berseru dan suaranya khas orang yang sedang mengendarai motor. Mendengar suara Dion yang sarat perhatian, Amel tak segan berkeluh kesah. Amel meminta Dion untuk secepatnya sampai dengan dalih karena kepalanya terasa sangat pusing.
Sekitar setengah jam kemudian, setelah Dion berjanji akan datang secepatnya, pria itu menepati janjinya. Dion datang dan mendapati Jemmy masih duduk terjaga di bangku tunggu sebelah pintu masuk yang tertutup. Pintu yang juga dihiasi keterangan tergantung bertuliskan CLOSED.
Api cemburu langsung membakar hati bahkan kehidupan seorang Jemmy hanya karena mendapati Dion kembali datang, membawa dua kantong berwarna putih berisi tumpukan kotak makanan terbilang besar.
“Ngapain kamu ke sini lagi?” sinis Jemmy sesaat setelah berhasil berdiri. Dion yang menepis tatapannya terlihat sangat cemas. Membuatnya curiga, sesuatu yang fatal telah terjadi di dalam sana dan menimpa Amel. Terlebih dua jam terakhir, Amel juga tidak merespons pesan darinya lagi.
Suara proses terbukanya pintu dan itu dilakukan oleh Amel, langsung mengusik mereka. Di pintu transparan yang luarnya dihiasi jeruji besi bercat putih sebagai pengaman, Amel yang memakai piama lengan panjang warna pink tua, tengah susah payah membuka gembok gerbang besinya.
“Pelan-pelan, Mel.” Dion sungguh mengkhawatirkan Amel. Ia sampai gelisah, tak bisa menunggu dengan tenang hanya karena kekhawatirannya.
“Ini sudah malam dan enggak seharusnya kamu mengganggu istri orang. Tolong hargai aku karena biar bagaimanapun, aku suami Amel dan aku enggak suka ada laki-laki lain mendekatinya!” tegas Jemmy lirih tapi terdengar menusuk.
Dion mengernyit, menatap tak habis pikir Jemmy yang terlihat jelas tak hanya ingin mengajaknya ribut, tetapi lebih. “Istri orang ...?” ucapnya yang kemudian tersenyum getir dan memang sengaja ia lakukan untuk mengejek Jemmy.
Jemmy meradang, ingin rasanya ia menghajar Dion, tapi Amel baru saja berdiri di hadapan mereka sesaat setelah wanita yang ia pastikan masih merupakan istri sahnya, berhasil membuka pintu.
Sambil mengerling, melirik Dion dan Jemmy silih berganti, Amel juga merenung. Amel mendapati aura kecemburuan dari Jemmy terhadap Dion. Kecurigaannya tersebut ditegaskan dengan rahang Jemmy yang mengeras dan juga kedua tangan pria itu yang sampai mengepal kencang. Tentu saja, tatapan Jemmy pada Dion juga jangan ditanyakan lagi. Tatapan Jemmy kepada Dion penuh amarah dan seolah mengobarkan kecemburuan. Terbukti, Jemmy juga sampai buru-buru meraih sebelah tangan Amel, menggenggamnya erat kemudian menariknya hingga tubuh mereka tak berjarak. Jemmy mendekap tubuh Amel dengan gerakan yang benar-benar posesif.
Dion tahu, kini Jemmy sengaja menegaskan kepadanya bahwa hubungan pria itu dengan Amel baik-baik saja. Amel masih berstatus sebagai istri orang, istri Jemmy, persis seperti yang beberapa saat lalu pria itu tegaskan.
“Kamu kenapa sih?” sinis Amel yang merasa risi dengan sikap Jemmy. Kemudian ia menoleh, menghadap sekaligus menatap Dion. Pria itu masih menatapnya sarat kekhawatiran, berbeda dengan Jemmy yang masih dikuasai sekaligus memperlakukannya penuh keposesifan.
“Biar aku saja yang taruh ini, kamu kelihatan sakit begitu.” Tanpa menunggu izin, Dion langsung memasuki butik Amel.
Amel melepas kepergian Dion yang memasuki butiknya sambil menghela napas pelan. Pria itu selalu perhatian, benar-benar tidak pernah berubah. Bahkan sekalipun selama ini, Jemmy kurang memperlakukan Dion dengan baik, terlebih tadi.
“Aku enggak suka, kalau kamu dekat dengan dia apalagi sampai begini, yah, Mel!” Jemmy menegaskan kemarahannya karena ia sungguh tidak ingin berbagi Amel dengan laki-laki mana pun, bahkan itu Dion yang ia ketahu sudah cukup akrab dengan Amel maupun keluarganya.
“Apaan, sih?” sinis Amel makin risi. Ia sengaja menghela napas kasar sebagai wujud dari kekesalannya kepada Jemmy. “Bilangnya sayang, tapi hobinya hanya mengatur, mengekang, tanpa peduli aku sedang kelaparan, bahkan sakit!”
Apa yang baru saja Amel keluhkan sukses membungkam seorang Jemmy yang seketika menunduk dalam bersama kata maaf yang pria itu sampaikan penuh sesal.
“Kata sayang, kata maaf, termasuk kata menyesal enggak bakalan bikin aku kenyang apalagi bikin aku dan janinku baik-baik saja. Malahan kalau aku makin stres begini, yang ada janinku juga kena lagi!” keluh Amel lagi.
“Kalau kamu serius sayang ke aku dan anakku, harusnya kamu selesaikan dulu urusan kamu dengan gundik itu. Termasuk dengan mamah kamu. Karena sampai kapan pun, kalau kamu masih belum tegas, ... semuanya beneran sia-sia. Nyawa aku dan anak aku menjadi taruhannya. Aku yakin kamu lebih tahu dari aku seperti apa mereka jika sudah berurusan dengan semua yang berkaitan dengan aku.” Amel memilih pergi meninggalkan Jemmy.
Amel bermaksud menyusul Dion, tapi Jemmy mendadak mencekal sebelah tangannya. Jemmy mendekapnya dari belakang sangat erat, hingga langkah Amel juga seketika terhenti. Pelukan erat yang Jemmy lakukan, seolah pria itu tidak akan melepaskan Amel.
“Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau. Aku akan melakukan semuanya, besok juga!” bisik Jemmy meyakinkan.
Amel menggeleng kemudian berusaha menyingkirkan kedua tangan Jemmy yang mendekapnya. Namun, tenaganya yang memang tak seberapa, sama sekali tak mampu membuatnya untuk melakukannya.
“Aku akan berubah. Mulai detik ini juga, aku beneran berubah. Sumpah, Mel!” Jemmy membingkai erat wajah Amel, membuat wanita itu menengadah sempurna hanya untuk mengikuti tuntunannya, menatapnya.
“Bener kata Dion, ... Amel sekurus ini. Wajahnya saja tirus banget, dan beneran tinggal tulang,” batin Jemmy yang kemudian berkata, “Aku mohon, ... aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf. I love you ....”
Tak ada keraguan walau hanya sedikit dari kenyataan Jemmy sekarang. Sebelumnya, Jemmy belum pernah seserius sekarang kepada siapa pun termasuk kepada Amel.
Haruskah Amel percaya dan memberi Jemmy kesempatan? Layaknya apa yang Jemmy katakan, demi keutuhan keluarga kecil mereka. Demi masa depan jabang bayi yang tengah bersarang dalam rahimnya dan memang membutuhkan sosok orang tua dalam formasi lengkap. Persis seperti yang sedari tadi sibuk Jemmy yakinkan kepada Amel.
“Please, ... demi anak kita. Aku beneran menyesal telah melukai kalian.” Sekali lagi Jemmy meyakinkan, melalui tutur lirih yang pria itu lakukan di depan pintu masuk butik Amel.
Mereka masih bertahan di sana meski Dion sudah terbilang lama masuk le butik lebih dulu. Kini, ulah Jemmy benar-benar membius Amel. Bukan karena ketampanan dan juga segala pesona pria itu, melainkan rencana masa depan sempurna untuk calon anak mereka. Amel bingung sebingung-bingungnya. Perlahan ia menunduk dalam sekaligus berat.
Tak lama berselang, Jemmy memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memeluk Amel seerat mungkin yang juga menjadi bagian dari bujuk rayunya memperbaiki hubungan mereka.
“Setelah semua yang terjadi, hati kamu memang boleh mati untuk Jemmy dan juga semua laki-laki. Namun, jangan jika itu untuk kebaikan anak kamu, Mel,” batin Amel meyakinkan dirinya sendiri. Tatapannya bergetar dan sampai detik ini, ia belum membalas dekapan Jemmy yang Amel yakini langsung menyimpulkan dirinya telah memaafkan pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
S
Mulut sih bisa semanis madu tapi kelajuan di belakang siapa yang tahu.Pertimbangkan kemungkinan" yang gak enaknya Mel.Jangan.lupa.Suamimu mantan Play Boy.
2024-03-19
2
novi 99
ngomongnya ingin balas dendam ...
eh skrg plin plan
2023-12-01
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
jangan terlalu cepet luluh, Mel ...
Jemmy musti buktiin dulu omongannya ...
emang dia bakalan bertindak apa sih ke ibu nya yg gila dan juga ke Tianka dj4l4ng ? jangan2 Jemmy malahan mlehoy kalo udah di depan 2 dedemit itu.
2023-09-06
1