Emosi, ibu Marta berjalan cepat memutari ranjang rawat dan menghampiri Amel.
“Berani Mamah menyentuh terlebih melukai Amel, aku beneran enggak toleransi, Mah!” tegas Jemmy sesaat setelah sampai menahan tangan kanan ibu Marta yang nyaris menjambak kepala Amel.
“Jem,” isak Tianka tampak sangat sedih, seolah dirinya korban. Iya, korban karena calon suaminya direbut gundik yang mana Amel sebagai istri sah calon suaminya, ia jadikan sebagai terdakwanya.
Jijik, itulah yang langsung Amel rasakan hanya karena mendengar suara Tianka memanggil Jemmy. Amel berangsur membekap telinganya agar luka-luka dalam hatinya tidak makin bertambah karena kebersamaan sekarang. Sebab mendengar suara Tianka dan juga penampakan wanita itu, baginya sudah sangat menyakitkan.
“Ini ada apa?”
Suara barusan langsung membuat Amel terenyuh. Niat Amel menutup kedua telinganya langsung tidak jadi. Di tengah air mata yang langsung berlinang, Amel menoleh ke belakang selaku sumber suara bariton dari seorang Arden. Iya, sepupu yang ia harapkan mampu menariknya dari kemelut hubungannya dan Jemmy.
Arden datang bersama Keyra sang istri dan detik itu juga langsung menghampiri sekaligus memeluk Amel dengan banyak kekhawatiran.
Sidang dadakan langsung Arden gelar. Arden tidak terima sang sepupu diperlakukan kasar layaknya sekarang.
“Kamu enggak usah belagu yah, Ar. Ingat, dari dulu kamu hanya kacung! Kamu pembunuh bayaran, kamu pikir saya tidak tahu?!” marah ibu Marta.
Mendengar itu, Jemmy yang sudah berdiri di hadapan Arden, di depan ranjang rawat Amel, refleks menahan napas sambil terpejam pasrah. Ia merasa sangat frustrasi karena sang mamah sungguh tidak bisa ia kendalikan lagi. Sang mamah sudah telanjur terobsesi melihatnya menjalani pernikahan bahagia bersama Tianka tanpa peduli kini Amel tengah mengandung calon cucunya.
Arden yang masih menyimak sambil bersedekap, langsung berkata, “Jika ibu Marta sudah tahu saya merupakan pembunuh bayaran, ... bukankah harusnya ibu Marta juga lebih berhati-hati kepada saya?” Kemudian, tatapan Arden teralih kepada Jemmy. “Jika kamu masih belum bisa menjelaskan, lebih baik kamu tinggalkan Amel sekarang juga! Lebih baik kamu mati daripada hidup tapi tidak berguna!”
“Sebenarnya aku sudah minta cerai, Mas!” sergah Amel tak tahan. “Aku beneran sudah enggak tahan! Sakit. Sakit banget ...!”
Keyra yang masih terjaga di sisi Amel, merasa jauh lebih terkejut dari Arden yang sedang menunggu kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi, dari Jemmy. Mengenai hubungan Amel dan Jemmy, juga alasan ibu Marta terkesan sangat murka kepada Amel. Semua kenyataan tersebut membuat Keyra makin yakin, memang ada yang tidak beres. Hal tak beres yang telah Amel rahasiakan darinya maupun Arden.
“Wanita itu, dia kekasih sekaligus calon istri Jemmy, dan Jemmy juga memilihnya! Wanita itu cinta pertamanya Jemmy, menantu idaman ibu Marta. Wanita baik-baik yang selalu berkeliaran di kamar kami dan tak segan bermesraan dengan Jemmy di tempat tidur kami! Wanita terhormat yang tak segan mengusirku dari kamar hanya agar dia bisa leluasa bersama Jemmy! Mungkin mereka juga sudah terbiasa berhubungan se*ks karena memang begitu sikap wajarnya wanita baik-baik di mata mereka!” lanjut Amel yang merasa sangat sakit hanya karena mengatakan itu. Rasa sakit yang membuat air matanya makin deras berjatuhan. Juga, rasa sakit yang membuat dadanya terasa sangat sesak, selain tubuhnya yang menjadi sangat panas layaknya dipanggang.
“Heh, Amel. Ngaca kamu! Mereka saling mencintai, kamu saja yang enggak tahu diri!” lantang ibu Marta yang sebenarnya belum selesai. Telunjuk tangan kanannya menunjuk-nunjuk wajah Amel, tapi ia pastikan, ia akan selalu menjadi garda depan membela Tianka.
“IBU MARTA! Berani Anda berteriak terlebih berkata kasar kepada Amel, pembunuh bayaran ini tidak segan berbuat jauh lebih kasar kepada Anda!” tegas Arden yang memang memotong ucapan ibu Marta.
“Jemmy, urus mamah kamu sebelum aku benar-benar membunuhnya. Pastikan mulutnya bisa berbicara lebih berguna sebelum aku benar-benar membuatnya tidak bisa bicara!” Arden benar-benar marah. Tatapan sengitnya tertuju kepada Tianka. “Kamu, ... wanita sepertimu sudah terlalu banyak tersebar di jalanan bahkan kolong jembatan! Ambil Jemmy karena kalian sama-sama menjijikkan. MU-RA-HAN, RONGSOK!”
Tianka menggeleng tak habis pikir. “Kamu bilang aku menjijikkan bahkan mur-rahan, Ar? Menjijikkan mana aku dengan wanita yang hamil di luar pernikahan?!” Ia tersenyum sarkas hingga tanggapannya kepada Arden terbilang keji. “Mungkin bagi kamu, wanita yang hamil di luar pernikahan memang enggak menjijikkan karena wanita yang kamu nikahi saja, hamil di luar pernikahan dengan laki-laki lain. Kamu ibarat sudah dapat bekas, jadi tutup pula! Hah! Benar-benar miris!”
Ibu Marta yang telanjur menyayangi Tianka, berangsur mundur kemudian memeluknya, memberinya dukungan penuh.
“Hamil di luar pernikahan karena melakukannya dengan pasangannya bukan pasangan orang masih wajar, Tianka. Yang enggak wajar itu yang aku bilang menjijikkan dan murahan seperti kamu. Merebut pasangan orang dan sampai melakukan segala cara untuk menyingkirkan pasangannya. Termasuk si pasangan yang masih tergoda dengan pihak lain. Kamu dan Jemmy sama-sama menjijikkan, sangat murahan tanpa peduli siapa kalian!” balas Arden berbicara lirih lantang penuh penekanan saking marahnya kepada Tianka. Rahangnya sampai mengeras akibat gigi-giginya yang saling bertautan.
Tianka langsung tidak bisa berkata-kata. “Mereka menganggap aku sebagai orang ketiga, padahal akulah yang pertama. Kami saling mencintai, tapi karena suatu hal, kami terpaksa berpisah. Namun, Sang Pemilik Kehidupan kembali mempertemukan kami dalam perasaan yang sama meski status kami telah berbeda. Entah sandiwara apa yang Tuhan ciptakan hingga cinta yang harusnya indah justru terasa sangat menyakitkan!” Batinnya sampai detik ini masih merasa menjadi korban.
“Pergi sekarang sebelum aku benar-benar membunuh kalian! Bukankah kalian tahu aku seorang pembunuh bayaran?!” tegas Arden yang menatap Tianka, ibu Marta, dan terakhir Jemmy, penuh peringatan. Emosi yang susah payah ia redam sungguh bisa membuatnya menikam mereka tanpa bisa dikontrol lagi.
Jemmy menggeleng di tengah kegelisahan yang tidak bisa ia akhiri. Ia menolak peringatan keras dari Arden.
“Kamu tidak bisa melepasnya, membiarkannya bahagia tanpa luka-luka dari kamu lagi, tapi sebelumnya kamu dengan keji melukainya? Kamu melukai Amel dengan sadar, Jem! Baji*ngan kamu!” tegas Arden cepat.
“Amel sedang hamil dan aku tidak mungkin membiarkannya sendiri!” tegas Jemmy.
Detik itu juga Arden yang awalnya bersedekap langsung melayangkan bogem mentah ke wajah kiri Jemmy. “Masih berani kamu berbicara lantang seperti itu padahal jelas-jelas kamu salah!” tegas Arden tak segan menyeret paksa Jemmy yang awalnya masih sempoyongan, untuk keluar dari sana.
Ulah Arden langsung membuat semuanya terlebih Amel syok. Meski sebenarnya Amel sudah menebak hal semacam kini akan terjadi. Keyra yang tak mau Amel makin terluka terlebih pengkhianatan Jemmy dan Tianka ia yakini sudah sangat melukai Amel, sengaja memeluk Amel. Sebisa mungkin Keyra berusaha agar Amel tidak melihat maupun mendengar kata-kata penuh amarah Arden kepada Jemmy.
“Kamu tahu hubunganmu dan Amel bisa membuatnya hamil, tapi kamu masih saja bersenang-senang dengan wanita lain!” tegas Arden di antara makian marah ibu Marta yang memaksanya menyudahi amukannya. “Sebelum kamu menikahinya aku sudah memperingatkan kamu, agar kamu tidak main-main. Dan kamu janji hanya akan fokus kepadanya!”
Arden melempar Jemmy keluar dari ruang rawat Amel. Ibu Marta tak terima dan mendorong punggung Arden sekuat tenaga, meski ulahnya sama sekali tidak membuat perubahan berarti pada tubuh Arden yang sangat kokoh. Bisa kalian bayangkan tubuh mantan mafia kejam, pembunuh berdarah dingin yang sekadar berbicara saja sangat mahal, tapi ibu Marta malah membuat Arden murka.
“Hanya wanita menjijikkan sekaligus murahan saja yang mau berhubungan dengan pasangan apalagi suami orang! Dan hanya orang tua bahkan ibu gila saja yang tega merusak rumah tangga anaknya!” tegas Arden sembari menatap ketiga wajah di hadapannya.
Ibu Marta dan Tianka bahu-membahu membangunkan Jemmy yang meringkuk di lantai depan pintu ruang rawat Amel. Tadi, Arden melempar Jemmy sebelum pria itu melewati pintu. Yang membuat ibu Marta termasuk Tianka kesal, Jemmy sama sekali tidak melawan. Bagi kedua wanita tersebut, keputusan Jemmy menerima malah membuat harga diri mereka makin terinjak-injak.
Arden dan Jemmy memang bersahabat sejak lama. Namun, kesalahan Jemmy yang terlalu fatal membuat benteng persahabatan mereka roboh hancur tak berupa.
“Pergi sekarang juga sebelum aku benar-benar membun*uh kalian!” tegas Arden sampai terengah-engah akibat amarah yang ia tahan karena demi menjaga perasaan Amel, ia tak mungkin menghajar Jemmy lebih keji dari yang sudah ia lakukan, meski ia yakin, kesalahan Jemmy dan kedua wanita yang menolong, sudah sangat fatal kepada Amel. Terbukti, ketika ia kembali masuk ke ruang rawat Amel, sepupunya itu tengah terisak pilu dalam pelukan Keyra. Tubuh Amel sampai terguncang pelan, dan Arden yakini karena luka-luka yang selama ini wanita itu tahan. Luka-luka akibat Jemmy dan kedua wanita yang sudah sangat ingin ia habisi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Arin
Ya mending memang lepaskan saja si Jemmy. Dari pada di pertahankan pun akan sakit. Jika Ibu Marta sang mertua sudah tidak suka dan memilih Tianka. Rumah tangga rasa neraka jika tetap bersama
2024-05-01
1
Yunerty Blessa
memang padan muka kalian bertiga..
2023-11-18
1
Mirna Loden Mirna Mirna
tampar ajah 2 wanita gila itu arden
2023-11-17
0