BAB 17. Menjawab Pertanyaan.

"Kenapa denganmu?"

Galih tak tahan dengan situasi mereka berdua, Anin sama sekali tak bicara selama di dalam mobil sampai mereka tiba di sekolah Gita.

Ternyata hari ini Gita cuma latihan untuk penampilan mereka di pentas bulan bahasa tiga hari lagi dan wali kelas Gita bahkan tak ada jadwal untuk bertemu orang tua siswa.

Sikap Anin ini tentu saja membuat Galih merasa gusar.

"Ada apa denganku?" Anin menaikkan alisnya tinggi dengan raut hambar. Di tatapnya punggung sang anak yang di gandeng wali kelasnya masuk ke dalam gedung aula, bu Sisi wali kelas Gita memberitahukan mereka berdua boleh menjemput Gita dua jam lagi.

"Kamu terlihat aneh hari ini." Sahut Galih.

"Dari tadi aku telah mendengar kata itu entah berapa kali. Aku aneh? sungguh?" Anin menyeringai. Tawanya terdengar lirih meski rautnya sedatar papan.

"Bawa aku ke tempat di mana kamu melamarku." Kalimat itu di ucapkan Anin kemudian, lalu duduk dengan tegak di kursinya, pandangan matanya lurus ke depan seperti seorang penumpang yang siap berangkat.

"Maksudmu?" Galih menyipitkan matanya, tangannya masih di setiran, tanpa beranjak dari area parkir sekolah itu.

"Kamu lupa tempatnya?" Tanya Anin sinis, tanpa menoleh.

"Bukan masalah aku lupa atau tidak tapi sikap dan permintaanmu itu benar-benar aneh."

"Aku tak heran jika kamu lupa, karena mungkin ingatanmu telah rusak oleh banyak hal yang mungkin lebih penting bagimu dari sekedar aku dan rumah tangga kita."

"Hey, apa maksudmu, sayang?" Mata Galih melotot besar.

"Bawa saja aku ke sana, lalu aku akan bicara denganmu. Mari kita pergunakan waktu yang hanya sebentar ini, sebelum Gita selesai..." Anin menyela, lalu setelahnya dia diam seribu bahasa.

Galih benar-benar terlihat kesal tetapi dia tak bisa mengatakan apapun lagi, Anin tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, sekarang tentu saja dia menjadi tegang dan mulai berfikir, "Apakah Anin tahu sesuatu?"

Mobil mereka keluar dari area sekolah itu dan meluncur di jalan raya.

Lima belas menit kemudian, mobil mereka tiba di sebuah cafe sederhana, di pinggir taman kota. Cafe dua tingkat, di mana tingkat atasnya di jadikan area rooftop.

Anin keluar tanpa bicara, lalu berjalan tanpa menunggu Galih, naik ke atas rooftop di mana ada beberapa meja yang tersedia di sana.

Cafe yang mereka tuju tidak terlalu ramai, mungkin karena masih pagi, mereka baru saja buka. Cafe ini buka dari pagi karena menyediakan menu breakfast yang hangat dan panas.

Anin duduk di meja sudut, di ikuti oleh Galih yang terlihat berusaha menunjukkan sikap tenang.

"Astaga, aku merindukan tempat ini sayang, entah berapa lama kita tak pernah ke sini. Ternyata suasananya tak banyak berubah." Galih memutar kepalanya ke sekeliling. Dia memang jarang bertengkar dengan Anin, bahkan mungkin dari awal pernikahan jikapun bertengkar bisa di hitung dengan jari.

Tapi kini sikap Anin benar-benar tak biasa, bahkan caranya memperlakukan Ratna membuat Galih semakin di landa seribu tanya. Dia gugup? Tentu saja. Seseorang yang bersalah dan melakukan kecurangan tentu saja akan merasa ketakutan ketika apa yang di sembunyikan terasa mulai menguarkan bau.

"Tempat ini tak banyak berubah tetapi orang-orangnya saja yang mungkin telah tak sama lagi."

"Apa maksudmu, sayang?" Tanya Galih sambil menarik kursi untuknya dan berusaha meraih jemari Anin yang bersidekap di atas meja.

"Aku hanya mengatakan apa yang ku fikirkan..." Anin menepis tangan Galih dengan halus lalu melambaikan tangan ke arah seorang pelayan cafe yang menatap mereka dengan senyum ramah dari tadi.

"Kamu ingat, apa pesananmu pertama kali, saat kamu melamarku di sini dengan setangakai bunga rumput?" Anin melirik pada Galih, yang dilirik mengerutkan kening dan menggeleng.

"kopi? Em...tea?"

"Kamu tak memesan apa-apa, karena begitu gugup. Hanya sebotol air mineral." Sesungging senyum singgah di sudut bibir Anin, terlihat getir.

Dia memesan roti bakar, pancake dan kopi cappucino panas untuk mereka berdua, karena sesungguhnya mereka belum sarapan dari tadi.

"Ada apa sebenarnya, sayang? kenapa hari kamu terlihat aneh?" Tanya Galih tak sabar.

"Apakah kamu merasa telah melakukan kesalahan padaku?" Tiba-tiba Anin bertanya dengan raut datar dan tenang.

"Tidak. Tentu saja tidak. Aku tak akan menanyakan apapun padamu jika aku tahu apa kesalahanku." Jawab Galih sembari menyeringai.

"Berapa tahun kita sudah menikah?"

"Kenapa kamu tanyakan itu?"

"Jawab saja."

"Tujuh? Delapan tahun mungkin? Akh, aku sedikit lupa sayang" Galih menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

"Kamu tidak hanya lupa sedikit tetapi banyak..." Ucap Anin kemudian, bersamaan dengan pelayan cafe yang tiba mengantarkan pesanan mereka, kopi cappucino panas yang asapnya mengepul, mengantarkan aroma yang menggoda.

"Aku hanya bertanya satu hal, dan ku harap kamu menjawabku dengan jujur..." Anin menghela nafasnya, ada kelebat sedih dan amarah yang lewat di sudut tatapannya tetapi dia berusaha bersikap setenang mungkin.

"Apa?" Galih mengangkat cangkir kopinya ke bibir, sambil menunggu kalimat Anin selanjutnya.

"Apakah kamu mempunyai orang lain di hatimu?"

"Ugh!!!" Kopi panas yang menyentuh bibirnya nyaris tersembur dari bibir Galih.

"Hey, pertanyaan macam apa itu?!" Galih mendelik dan meletakkan kembali cangkir di tangannya.

"Apakah kamu mempunyai perempuan lain selain aku dalam rumah tangga kita?" pertanyaan itu di ulang dengan lebih jelas di sambut tawa Galih yang garing dan salah tingkah.

"Tentu saja aku punya..." Jawabnya di sela tawanya.

Anin tak berkedip menatap suaminya itu, dia menunjukkan bahwa dia sedang sangat serius.

"Tentu saja ada perempuan lain dalam hidupku, gadis kecil kita...Gita. Dia adalah gadis yang ku cintai dengan segenap jiwaku selain kamu." Lanjut Galih kemudian.

Anin membuang mukanya sesaat, matanya terasa perih, dia berharap Galih menjawabnya dengan jujur tetapi di sudut hatinya yang lain dia merasa takut mendengar kebenarannya dan kini jawaban Galih malah membuatnya merasa di permainkan.

"Kenapa kamu menanyakan itu, sayang?" Galih meraih tangan Anin sambil menatap lurus ke mata istrinya itu.

"Aku hanya ingin tahu saja."

"Apakah ada orang yang mengatakan sesuatu padamu???" Galih terlihat tegang.

Anin tak menjawab, tetapi dia membalas tatapan Galih dengan tajam.

"Pasti ada orang menyampaikan hal yang tidak-tidak padamu. Ayolah, sayang, jangan dengar kata orang, kamu tahu persis aku ini seperti apa. Aku cuma memikirkanmu dan anak kita. Banyak orang yang suka membuat gosip dan rumor sekarang, mungkin terlalu iri dengan pencapaian kita." Galih menepuk punggung tangan Anin dengan mesra, berusaha meyakinkan sang istri padahal jauh di dasar hatinya, ada rasa gugup yang di tekannya kuat-kuat.

"Apakah kamu pernah benar-benar mencintaiku?" Tanya Anin kemudian sambil menarik tangannya dan mengepalkan tangannya yang mendadak sedingin es itu.

"Aaaa...tentu saja. Aku mencintaimu sayang, pertanyaan apa lagi ini?" Galih terkekeh kaku.

"Jika begitu, mengapa kamu mengkhianatiku???"

Terpopuler

Comments

Miryam Toressy

Miryam Toressy

Akhirnya ngomong juga si Anin,...

2025-03-06

0

Siti Nurjanah

Siti Nurjanah

aaaaaahhhh ayo nin lanjut

2025-03-28

0

Maria Magdalena Indarti

Maria Magdalena Indarti

ayooo galih ngaku

2025-03-13

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. Awal Petaka
2 BAB 2. Sejak Kapan?
3 BAB 3. Bukan Layangan Putus
4 BAB 4. Bertemu Ratna
5 BONUS VISUAL
6 BAB 5. Melempar Kail
7 BAB 6 White Rose Gold Swan
8 BAB 7. Meyakinkan Hati
9 BAB 8. Terjaga Dalam Pelukan
10 BAB 9. Panggilan Sayang Yang Sama
11 BAB 10. Melatih Kesabaran
12 BAB 11. Baru Permulaan
13 BAB 12. Ular Belud@k
14 BAB 13. Sekilas Awal Mula
15 BAB 14. Masih Awal Mula Perselingkuhan
16 BAB 15. MANIS DAN PAHIT
17 BAB 16. Mengusir Secara Halus
18 BAB 17. Menjawab Pertanyaan.
19 BAB 18. Memancing Badai
20 BAB 19. Menunggu Waktu
21 BAB 20. Bukan Benalu
22 Bab 21. Di Bawah Payung Hitam
23 BAB 22. Dua Kursi Kosong
24 BAB 23. Tidak Lebih Mahal
25 BAB 24. Mengungkap Kebenaran
26 BAB 25. Bom Meledak
27 BAB 26. Rasa Yang Tak Sama
28 BAB 27. Menangis Tanpa Suara
29 BAB 28. Siap Untuk Pulang
30 BAB 29. Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula
31 BAB 30. Begitu Sulit Mencintai
32 BAB 31. Tak Ada Jalan Kembali
33 BAB 32. Kepemilikan
34 BAB 33. Cukup Dua Tamparan
35 BAB 34. Tak Suka Barang Bekas
36 BAB 35. Menjalankan Misi
37 BAB 36. DEAL
38 BAB 37. Karena Cinta?
39 BAB 38. Di Luar Skenario
40 BAB 39. Terlahir baru
41 BAB 40. Selalu Jadi Istriku
42 BAB 41. Pengantin Masa Kecil
43 BAB 42. Mencari Keadilan
44 BAB 43. Ibu Komisaris
45 BAB 44. Tak Memberi Kesempatan
46 BAB 45. Double Kill
47 BAB 46. Menerima Gugatan
48 BAB 47. Membandingkan
49 BAB 48. Jurang Terakhir
50 BAB 49. Berubah Tak Lagi Sama
51 BAB 50. Kejam Jika Membalas
52 BAB 51. Menagih sendiri
53 BAB 52. Di Balik Semua
54 BAB 53. Pinjam Mama Dulu
55 BAB 54. Menemukan Chemistry
56 BAB 55. Dibakar Cemburu
57 BAB 56. Kamu telah Membunuhnya
58 BAB 57. Rindu Papa
59 BAB 58. Bertemu
60 BAB 59. Sulit Di Gapai
61 BAB 60. Cinta Macam Apa
62 BAB 62. Demi Anak
63 Bab 63. Buket Mawar Makan Malam
64 Bab 64. Menghargai Diri Sendiri.
65 BAB 65. Seumur hidup itu terlalu lama.
66 EKSTRA PART. Mulut Runcing
67 EKSTRA PART. Jiwa Superhero Reno
Episodes

Updated 67 Episodes

1
BAB 1. Awal Petaka
2
BAB 2. Sejak Kapan?
3
BAB 3. Bukan Layangan Putus
4
BAB 4. Bertemu Ratna
5
BONUS VISUAL
6
BAB 5. Melempar Kail
7
BAB 6 White Rose Gold Swan
8
BAB 7. Meyakinkan Hati
9
BAB 8. Terjaga Dalam Pelukan
10
BAB 9. Panggilan Sayang Yang Sama
11
BAB 10. Melatih Kesabaran
12
BAB 11. Baru Permulaan
13
BAB 12. Ular Belud@k
14
BAB 13. Sekilas Awal Mula
15
BAB 14. Masih Awal Mula Perselingkuhan
16
BAB 15. MANIS DAN PAHIT
17
BAB 16. Mengusir Secara Halus
18
BAB 17. Menjawab Pertanyaan.
19
BAB 18. Memancing Badai
20
BAB 19. Menunggu Waktu
21
BAB 20. Bukan Benalu
22
Bab 21. Di Bawah Payung Hitam
23
BAB 22. Dua Kursi Kosong
24
BAB 23. Tidak Lebih Mahal
25
BAB 24. Mengungkap Kebenaran
26
BAB 25. Bom Meledak
27
BAB 26. Rasa Yang Tak Sama
28
BAB 27. Menangis Tanpa Suara
29
BAB 28. Siap Untuk Pulang
30
BAB 29. Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula
31
BAB 30. Begitu Sulit Mencintai
32
BAB 31. Tak Ada Jalan Kembali
33
BAB 32. Kepemilikan
34
BAB 33. Cukup Dua Tamparan
35
BAB 34. Tak Suka Barang Bekas
36
BAB 35. Menjalankan Misi
37
BAB 36. DEAL
38
BAB 37. Karena Cinta?
39
BAB 38. Di Luar Skenario
40
BAB 39. Terlahir baru
41
BAB 40. Selalu Jadi Istriku
42
BAB 41. Pengantin Masa Kecil
43
BAB 42. Mencari Keadilan
44
BAB 43. Ibu Komisaris
45
BAB 44. Tak Memberi Kesempatan
46
BAB 45. Double Kill
47
BAB 46. Menerima Gugatan
48
BAB 47. Membandingkan
49
BAB 48. Jurang Terakhir
50
BAB 49. Berubah Tak Lagi Sama
51
BAB 50. Kejam Jika Membalas
52
BAB 51. Menagih sendiri
53
BAB 52. Di Balik Semua
54
BAB 53. Pinjam Mama Dulu
55
BAB 54. Menemukan Chemistry
56
BAB 55. Dibakar Cemburu
57
BAB 56. Kamu telah Membunuhnya
58
BAB 57. Rindu Papa
59
BAB 58. Bertemu
60
BAB 59. Sulit Di Gapai
61
BAB 60. Cinta Macam Apa
62
BAB 62. Demi Anak
63
Bab 63. Buket Mawar Makan Malam
64
Bab 64. Menghargai Diri Sendiri.
65
BAB 65. Seumur hidup itu terlalu lama.
66
EKSTRA PART. Mulut Runcing
67
EKSTRA PART. Jiwa Superhero Reno

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!