BAB 8. Terjaga Dalam Pelukan

"Kamu membuatku ter@nqs@ng, sayang..."

Anin tak bereaksi, sesaat dia seperti orang linglung. Entah bagaimana cara, seseorang yang jelas telah membelakanginya dengan ketidak setiaan bisa bersikap sedemikian naturalnya.

"Atau aku yang terlalu berlebihan curiga?" Pertanyaan itu menggema di sudut hatinya, perlakuan Galih membuatnya tertegun sejenak.

Mata Anin terpejam saat tangan Galih naik ke atas, l3nguh yang tak berirama keluar dari sela bibir lelaki yang telah sekian tahun menikahinya itu.

"Ada apa denganmu, sayang?" Tiba-tiba pertanyaan itu terdengar, memantul di telinga Anin setengah berbisik.

"Hah?" Anin tertegun, matanya tak berkedip dengan tatapan lurus ke arah tembok kamar sementara dia tak bergeming membiarkan Galih menempel di punggungnya

"Kamu sedikit berbeda dari biasanya."

"Aku? Aku berbeda bagaimana?" Anin menggigit bibirnya, entah bagaimana cara wanita lain di belahan dunia ini memperlakukan suaminya saat tahu lelaki itu kedapatan bermain api di belakangnya, apalagi itu dengan sahabat baik yang di percayainya?

Bagaimana perasaan mereka ketika memikirkan suaminya tidur dengan perempuan lain lalu pada saat yang sama akan menjamah dirinya dengan perlakuan yang sama?

Apakah normal menangis, berteriak histeris, mengamuk? Ataukah diam, tersenyum dan mengatakan tak apa-apa untuk menenangkan hati sendiri dan menyelamatkan keadaan?

Rasanya di khianati oleh orang yang kita cintai dan orang yang kita percayai itu dobelnya luar biasa!

Anin merasa dilema, hatinya sakit, tak ada yang bisa menawarnya tentu saja kecuali amarah dan murka tetapi dengan segenap kekuatan dia menahan emosinya yang di bibir kesabaran.

Dia harus membuktikan dengan mata kepalanya sendiri perselingkuhan mereka bagaimanapun caranya dan jika ini sungguh benar maka dia harus memberi pelajaran yang akan di ingat oleh mereka seumur hidup.

"Kamu terasa lebih pendiam, sayang. Kenapa? Ada masalah? " Galih membalikkan tubuh Anin dan membuat mereka bersitatap untuk beberapa lama.

"Akh, aku baik-baik saja. Perasaan ayang saja." Anin menarik sudut bibirnya, senyum terpaksa yang di buat-buat manis tetap saja terasa hambar.

"Eh, kenapa matamu merah sembab begitu?" Galih menangkupkan tangannya di kedua belah pipi Anin.

"Oh, ini...tadi...tadi aku kelilipan pas memeriksa kamar Gigi." Sahut Anin sambil membuang wajahnya ke samping dengan jengah.

Galih menyapu telapak tangannya di pipi Anin, perlakuan Galih benar-benar membuat Anin terperangkap dalam rasa bingung sekaligus jijik.

Dan sebelum sempat Anin melepaskan diri,

Cup.

Sebuah kecupan mendarat di bibirnya, singkat.

"Sayang...kemarilah..." Galih menarik tangan Anin ke tempat tidur, dengan tanpa memberi aba-aba, tubuh Anin di dorongnya ke atas tempat tidur.

Anin yang setengah terbaring masih terkejut di tindih oleh Galih, lalu ciuman liar tanpa bicara itu menyusuri wajah hingga lehernya. Terasa kasar dan di penuhi gairah.

Cumb*an yang di berikan Galih tak bisa di respon Anin dengan alami, selayaknya istri yang lagi di landa rindu. Tentu saja, siapa yang bisa membalas sebuah ciuman ketika sesaat yang lalu mendapati sebuah foto pertemuan orang yang sama yang kini sedang berusaha menindihnya ini melakukan pertemuan, dinner mesra dengan perempuan lain?

"Sayang, aku rindu bau tubuhmu..." Bisik Galih serak, di ciuminya leher hingga dada Anin hampir di setiap jengkalnya dan saat bertemu sebuah gundukan, tangannya menarik kancing piyama dress itu sedikit tak sabar dan setelahnya dengan rakus dia menyes@pnya.

Tubuh Anin menegang kaku, tak berusaha menggeliat seperti biasanya. Secara naluriah dia menyukai semua cumbu@n suaminya yang tak pernah gagal untuk membuatnya mabuk kepayang itu. Tetapi, di saat bersamaan secara sadar jiwanya menolak, bagaimana tidak, lelaki yang sama ini mungkin saja beberapa saat sebelumnya melepas hajat yang sama pada orang lain dan sekarang dia ingin menuntaskan hasrat itu padanya?

"Ukh..." Sebagai istri Anin merasakan sakit itu hingga ke sendi-sendinya, bayangan perlakuan yang sama yamg mungkin di lakukan Galih pada Retno membuat dirinya sesak nafas.

Semakin di pejamkannya mata semakin pula rasa perih itu naik hingga memaksa air mata untuk keluar dari kelenjarnya.

"Sayang..." Panggilan Galih terdengar dalam volume sedikit tinggi, menyadarkan Anin yang memejamkan matanya sekuat tenaga sembari menahan nafas, tanpa sadar kefuanya mencengkeram sepray di kedua sisi tubuhnya sampai badannya menegang karena gemetar.

"Kamu kenapa?" Tanya Galih kemudian, dia mematung di atas tubuh Anin, paras otu mengeras kemerahan dengan kedua tangan bertumpu di atas tempat tidur. Posisinya seperti orang yang siap melahap Anin kapan saja.

Anin membuka matanya, tanpa bisa di kontrolnya, air mata itu meleleh ke pelipisnya.

"Kamu menangis?" Galih terpana, nyaris tak berkedip.

"Tidak!" Anin menepis tangan Galih yang hendak menyentuh pelipisnya itu seakan ingin memastikan air mata itu nyata.

"Sudah ku bilang mataku tadi kelilipan." Anin mendorong tubuh Galih menjauh lalu bangkit segera. Merapikan piyama dressnya.

"Sayang, bukankah kamu menungguku untuk bercinta?" Pertanyaan konyol itu merobek perasaan Anin sebagai istri.

Bercinta? Dia hanya berfikir aku menunggunya untuk bercinta? Aku ini istrinya!!! Anin berdecih dalam hati, dia marah diperlakukan seakan tak berharga. Dengan tanpa menunggu persetujuan, di matikannya lampu kamar dan yang menyala hanya lampu tidur di atas meja.

Anin beringsut ke tempat tidur, hatinya kesal tak bisa bersandiwara seperti rencananya di awal, hanya untuk menganalisa perbedaan sikap sang suami saat menyentuhnya.

Ternyata rasa sakit, cemburu dan terluka membuatnya merasa jengah dan tak kuasa merespon dengan benar setiap sentuhan sang suami. Perasaannya begitu hambar karena kesakitan yang tak bisa di ungkapnya.

"Sayang?" Dalam remang Galih menatap setiap gerakan Anin yang tak biasa.

"Maafkan aku, Yang...aku lupa bilang kalau aku sedang haid sekarang." Sahut Anin sambil menarik leher suaminya lalu mendekatkan dahinya ke bibir sang suami, seperti kebiasaan Galih yang senantiasa mengecup dahinya sebelum mereka berdua tidur.

"Kita tidur saja, ya. Aku tahu ayang sangat lelah setelah perjalanan ke puncak. Pekerjaanmu yang banyak tentu membuat letih, ayang perlu banyak istirahat." Anin menarik selimutnya lalu membelakangi Galih seakan dia benar-benar memberi kesempatan Galih untuk segera tidur.

"Oh, ku kira karena kamu lagi marah padaku? Ternyata lahi haid, ya?" Suara tawa kecil Galih terdengar garing di telinga Anin. Lalu suaminya itu masuk ke dalam selimut dan memeluk Anin dari belakang,

"Tapi peluk boleh, kan?" Bisik Galih. Ani tak menjawab, dia hanya memejamkan matanya, tanpa menolak pelukan suaminya itu.

Kadang-kadang seseorang mengkhianati kita tanpa menunjukkan taringnya dan perselingkuhan tak harus di tunjukkan dengan gejala sehingga acap kali kita tak menyadari pasangan kita sedang menyelingkuhi kita.

Hujan datang tanpa selalu di sertai angin kencang dan badai, cobaan juga menghampiri tak selamanya dengan peringatan.

Anin menggigit bibirnya, deru nafas teratur Galih terdengar berirama di belakang punggungnya, dia tahu Galih mungkin sedang terlelap tanpa sedikitpun merasa berdosa. malam ini, dia pasti akan terjaga dengan murka dalam pelukan sang suami.

Terpopuler

Comments

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

Laya je Anin,Pura2 tak tau.Tunggu masa yg sesuai baru kau ledakkan bom Atom.Baruvtau rasa mereka/CoolGuy//CoolGuy/

2024-12-20

0

Mimin Saminah

Mimin Saminah

semangat Anin kamu harus bisa membalas perbuatan mereka

2025-01-01

0

Taryumi 2003

Taryumi 2003

lha tadi ke kamar Gita, kirain mau tidur di situ, ga balik ke kamarnya

2024-12-17

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. Awal Petaka
2 BAB 2. Sejak Kapan?
3 BAB 3. Bukan Layangan Putus
4 BAB 4. Bertemu Ratna
5 BONUS VISUAL
6 BAB 5. Melempar Kail
7 BAB 6 White Rose Gold Swan
8 BAB 7. Meyakinkan Hati
9 BAB 8. Terjaga Dalam Pelukan
10 BAB 9. Panggilan Sayang Yang Sama
11 BAB 10. Melatih Kesabaran
12 BAB 11. Baru Permulaan
13 BAB 12. Ular Belud@k
14 BAB 13. Sekilas Awal Mula
15 BAB 14. Masih Awal Mula Perselingkuhan
16 BAB 15. MANIS DAN PAHIT
17 BAB 16. Mengusir Secara Halus
18 BAB 17. Menjawab Pertanyaan.
19 BAB 18. Memancing Badai
20 BAB 19. Menunggu Waktu
21 BAB 20. Bukan Benalu
22 Bab 21. Di Bawah Payung Hitam
23 BAB 22. Dua Kursi Kosong
24 BAB 23. Tidak Lebih Mahal
25 BAB 24. Mengungkap Kebenaran
26 BAB 25. Bom Meledak
27 BAB 26. Rasa Yang Tak Sama
28 BAB 27. Menangis Tanpa Suara
29 BAB 28. Siap Untuk Pulang
30 BAB 29. Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula
31 BAB 30. Begitu Sulit Mencintai
32 BAB 31. Tak Ada Jalan Kembali
33 BAB 32. Kepemilikan
34 BAB 33. Cukup Dua Tamparan
35 BAB 34. Tak Suka Barang Bekas
36 BAB 35. Menjalankan Misi
37 BAB 36. DEAL
38 BAB 37. Karena Cinta?
39 BAB 38. Di Luar Skenario
40 BAB 39. Terlahir baru
41 BAB 40. Selalu Jadi Istriku
42 BAB 41. Pengantin Masa Kecil
43 BAB 42. Mencari Keadilan
44 BAB 43. Ibu Komisaris
45 BAB 44. Tak Memberi Kesempatan
46 BAB 45. Double Kill
47 BAB 46. Menerima Gugatan
48 BAB 47. Membandingkan
49 BAB 48. Jurang Terakhir
50 BAB 49. Berubah Tak Lagi Sama
51 BAB 50. Kejam Jika Membalas
52 BAB 51. Menagih sendiri
53 BAB 52. Di Balik Semua
54 BAB 53. Pinjam Mama Dulu
55 BAB 54. Menemukan Chemistry
56 BAB 55. Dibakar Cemburu
57 BAB 56. Kamu telah Membunuhnya
58 BAB 57. Rindu Papa
59 BAB 58. Bertemu
60 BAB 59. Sulit Di Gapai
61 BAB 60. Cinta Macam Apa
62 BAB 62. Demi Anak
63 Bab 63. Buket Mawar Makan Malam
64 Bab 64. Menghargai Diri Sendiri.
65 BAB 65. Seumur hidup itu terlalu lama.
66 EKSTRA PART. Mulut Runcing
67 EKSTRA PART. Jiwa Superhero Reno
Episodes

Updated 67 Episodes

1
BAB 1. Awal Petaka
2
BAB 2. Sejak Kapan?
3
BAB 3. Bukan Layangan Putus
4
BAB 4. Bertemu Ratna
5
BONUS VISUAL
6
BAB 5. Melempar Kail
7
BAB 6 White Rose Gold Swan
8
BAB 7. Meyakinkan Hati
9
BAB 8. Terjaga Dalam Pelukan
10
BAB 9. Panggilan Sayang Yang Sama
11
BAB 10. Melatih Kesabaran
12
BAB 11. Baru Permulaan
13
BAB 12. Ular Belud@k
14
BAB 13. Sekilas Awal Mula
15
BAB 14. Masih Awal Mula Perselingkuhan
16
BAB 15. MANIS DAN PAHIT
17
BAB 16. Mengusir Secara Halus
18
BAB 17. Menjawab Pertanyaan.
19
BAB 18. Memancing Badai
20
BAB 19. Menunggu Waktu
21
BAB 20. Bukan Benalu
22
Bab 21. Di Bawah Payung Hitam
23
BAB 22. Dua Kursi Kosong
24
BAB 23. Tidak Lebih Mahal
25
BAB 24. Mengungkap Kebenaran
26
BAB 25. Bom Meledak
27
BAB 26. Rasa Yang Tak Sama
28
BAB 27. Menangis Tanpa Suara
29
BAB 28. Siap Untuk Pulang
30
BAB 29. Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula
31
BAB 30. Begitu Sulit Mencintai
32
BAB 31. Tak Ada Jalan Kembali
33
BAB 32. Kepemilikan
34
BAB 33. Cukup Dua Tamparan
35
BAB 34. Tak Suka Barang Bekas
36
BAB 35. Menjalankan Misi
37
BAB 36. DEAL
38
BAB 37. Karena Cinta?
39
BAB 38. Di Luar Skenario
40
BAB 39. Terlahir baru
41
BAB 40. Selalu Jadi Istriku
42
BAB 41. Pengantin Masa Kecil
43
BAB 42. Mencari Keadilan
44
BAB 43. Ibu Komisaris
45
BAB 44. Tak Memberi Kesempatan
46
BAB 45. Double Kill
47
BAB 46. Menerima Gugatan
48
BAB 47. Membandingkan
49
BAB 48. Jurang Terakhir
50
BAB 49. Berubah Tak Lagi Sama
51
BAB 50. Kejam Jika Membalas
52
BAB 51. Menagih sendiri
53
BAB 52. Di Balik Semua
54
BAB 53. Pinjam Mama Dulu
55
BAB 54. Menemukan Chemistry
56
BAB 55. Dibakar Cemburu
57
BAB 56. Kamu telah Membunuhnya
58
BAB 57. Rindu Papa
59
BAB 58. Bertemu
60
BAB 59. Sulit Di Gapai
61
BAB 60. Cinta Macam Apa
62
BAB 62. Demi Anak
63
Bab 63. Buket Mawar Makan Malam
64
Bab 64. Menghargai Diri Sendiri.
65
BAB 65. Seumur hidup itu terlalu lama.
66
EKSTRA PART. Mulut Runcing
67
EKSTRA PART. Jiwa Superhero Reno

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!