BAB 10. Melatih Kesabaran

Rintik hujan turun perlahan setelah tadi angin kencang berhembus agak keras membuat sore itu cuaca menjadi sangat dingin menusuk hingga ke tulang.

November memang selalu identik dengan musim hujan, nyaris tiap hari akan turun hujan, entah itu pagi, siang, sore atau malam.

Anin duduk di salah satu kursi meja makan sambil memperhatikan anaknya Gita di ruang keluarga yang berada tepat di sebelah ruang makan itu. Puterinya itu sedang mencoret-coret kertas gambarnya, mewarnai sebuah sketsa landscape. Dia terlihat anggun dengan pakaiannya, dress floral yang segar dan rambut yang di cepol tinggi. Di hadapannya meja makan tertata rapih.

Jemarinya mengetuk-ngetuk pinggir meja, di liriknya jam di dinding, hampir jam 7 malam. Tetapi yang di tunggu tak muncul, sampai Anin berinisiatif menidurkan Gita ke kamarnya.

Dan kembali lagi ke ruang makan, dia hanya yakin saja mereka akan datang. Jikapun tidak maka malam ini Anin berkeputusan ke kantor suaminya dengan rantangan makanan. Barusan Reno memberitahukan, suaminya itu sudah keluar dari kantor sebelum magrip.

Tapi yang pasti dia tak ada di tempat. Tetapi, sampai sekarangpun tak pulang-pulang. Dia tahu, suaminya dengan Ratna mungkin sedang mengatur rencana untuk bisa muncul di depannya. Mereka tak akan gegabah, mengabaikan undangan Anin, jika mereka benar-benar pro membelakangi Anin.

Hati Anin sesungguhnya panas, tetapi di tahannya. Satu-satunya yang bisa di lakukannya, melatih kesabaran sebesar-besarnya. Jika tidak maka dia hanya menerima kekalahan dan sakit hati, tunai tanpa kembalian.

"Rat, kamu ke rumah ya malam ini, aku akan masak spesial untuk dinner kita di rumah. Beberapa menu favorit kita berdua saat kuliah dulu. Besok ultahmu, aku kangen ingin merayakannya denganmu seperti dulu"

Tulis Anin. Undangan lewat chat WA itu dikirimnya tadi sore.

Dia tahu benar, Bowo, suami Ratna masih di papua sampai setengah tahun ke depan karena tugasnya.

Semua keluarga Ratna ada di Jogja dan Malang, dia di sini karena ikut suaminya saja awalnya, yang kebetulan rumahnya ada di Jakarta.

Ratna tak punya anak, tetapi untuk ikut ke Papua dia tidak mau, alasannya dia tak pandai menyesuaikan diri dengan tempat yang baru. Dan lagi Bowo bertugas paling lama dua tahun di suatu daerah, setelahnya dia bisa pindah tugas ke mana saja tergantung perintah atasannya.

"Wah, gimana ya, Nin..." Akhirnya tadi Ratna menelponnya. Terdengar berat dan bingung.

"Kamu ada rencana ketemu orang lain?" tanya Anin penuh selidik.

"Tidak eh...sebenarnya iya..."

"Ooooh, kamu sudah ada janji sama siapa?" Pertanyaan itu terdengar kecewa dan di lontarkan seperti setengah iseng.

"Aaaaa...itu..."

"Mas Bowo pulang?" Tanya Anin berpura-pura menebak saja meski dia tahu tak ada Bowo di sana.

"Kalau begitu bawa sekalian mas Bowo ke rumah, kan' lama juga tidak ngobrol sama papanya Gita."

"Eh, mas Bowo belum pulang, kok. Cuman aku rencana mau belanja kebutuhan rumah ke supermarket malam ini."

"Oh, ku kira mas Bowo pulang, merayakan ultahmu besok. Laaaah, kok belanjanya malam-malam. Besok saja, bareng aku. Aku juga mau belanja, isi kulkasku juga kosong." Anin berdalih.

"Tapi..."

"Ya sudahlah kalau begitu, aku mau bawa makanan yang ku masak ini ke kantor Mas Galih saja kalau memang kamu tidak bisa. Sayang, sudah sebagian masak, sebagian lagi hampir siap. Katanya mas Galih dia sibuk sampai mungkin lembur. Dia pasti senang ku buat suprise dan ditemani kerja sambil makan malam di sana..." Kalimat itu di rangkai Anin seolah kecewa tetapi tentu saja memaksa Ratna untuk datang.

'Kamu kira, kamu bisa mengambil kesempatan berduaan dengan suamiku malam ini? Ratna, mari kita lihat seperti apa buruknya dirimu sebagai teman bagiku.' Bisik Anin dalam hati dengan dingin.

"Akh, okey...sepertinya setelah ku fikir-fikir urusan belanja bisa di tunda sampai besok, rasanya berat melewatkan dinner special darimu, Nin. Apalagi kamu sudah bela-belain masak. Masakanmu itu ngalahin semua resto." Akhirnya kail di sambar, Anin tahu benar, jika Ratna tak akan menolaknya. Apalagi saat mengancam akan ke kantor Galih.

Pastilah Ratna berfikir, janji temu mereka malam ini akan berantakan juga jika dia menolak undangan Anin. Pilihannya cuma satu, memenuhi undangan Anin sembari menghilangkan celah kecurigaan yang mungkin terjadi dan paling tidak, bukankah dia bisa melihat Galih di sana nanti?

Jika mungkin itu yang terlintas di fikiran Ratna, berbeda dengan Anin, dia punya rencana berbeda selain membubarkan janji bertemu sang suami dengan sahabatnya yang mulai membuatnya jijik itu.

Sekitar sepuluh menit kemudian suara bell rumah berbunyi, Bi Irah tergopoh-gopoh dari belakang hendak membuka pintu,

"Biar saja Bi, aku yang akan membukanya." Anin berdiri dari duduknya, dress floral tanpa lengan yang di kenakannya terlihat cocok di tubuhnya yang cukup semampai.

Bi Irah mengurungkan niatnya dan mengangguk, lalu berbalik lagi ke belakang. Dia sedang menggoreng perkedel tempe.

Ratna dengan pakaian modis berdiri sambil memamerkan senyum di bibirnya di depan pintu, gaun yang di kenakannya berwarna merah jambu muda.

"Hai, Nin..." Sebuah pelukan segera di terima Anin, seperti biasa, salam saat mereka berjumpa.

"Hai, selamat ulang tahun ya. Aku harap aku yang pertama kali mengucapkannya." Anin menyambut pelukan Ratna, sembari menepuk punggungnya. Tepukan itu hanya alakadarnya, jika menuruti hatinya mungkin sudah di remukkan hingga patah tulang punggung sahabatnya ini.

"Kamu terlihat cantik sekali." Puji Anin, membalas senyum Ratna saat mereka saling melepaskan pelukan.

"Terimakasih, Nin. Tentu saja kamu yang pertama, ultahnya masih besok." Sahut Ratna sambil tertawa kecil.

Anin tersenyum seadanya, 'Setidaknya, suamiku bukan yang pertama membuatmu merasa istimewa!' Ucapnya dalam hati.

"Masuklah. Aku sudah lama menunggumu." Kata Anin tanpa basa basi lagi, Anin menarik pergelangan tangan Ratna, menuntunnya menuju meja makan.

"Waaaaaah, kamu bener-bener niat banget..." Ratna terpesona dengan sajian di meja makan, hidangan yang lumayan banyak di sana. Tapi yang membuat Ratna terpesona bukan masalah banyaknya hidangan hingga mengernyit dahi, semua masakan di depannya adalah hidangan yang menurutnya begitu sederhana, untuk ukuran kemampuan mereka sekarang.

Nasi bakar, ayam suir pedas, lalapan, perkedel tempe, ikan asin tomat hijau, sambal goreng ceker pedas dan acar kol. Tak ada yang benar-benar istimewa di atas meja itu, dan kau Ratna boleh jujur, beberapa dari jenis menu ini bahkan lama tak pernah di cicipinya lagi sejak dia lulus kuliah dan bekerja.

Dia sekarang lebih suka semua menu makanan jepang dan eropa.

"Aku masih ingat kamu paling suka ikan asin tomat hijau dan sambal rawit terasi, jadi ku buatkan yang banyak." Anin tersenyum sambil mempersilahkan Ratna duduk di kursi saat bik Irah muncul dengan satu mangkok sambal pedas dengan terasi, baunya yang khas langsung menguar.

Ratna menelan ludahnya, sungguh menu yang tak di sangka-sangkanya dan juga tak biasa mengingat mereka berdua sekarang cukup berada.

"Terimakasih, lho Nin, sudah bikin surprise begini padahal ulang tahunnya kan' baru besok." Ratna duduk dengan sedikit tak nyaman, terasa berbeda penyambutan Anin kali ini.

"Tidak apa-apa kita rayakan lebih awal, besok mungkin kamu ada rencana merayakan dengan keluargamu. Jadi, aku tidak kebagian nanti. Kita kan' sudah teman sejak lama."

"Sekali lagi, makasih ya , Nin. Kamu memang teman ter best lah." Sambut Ratna sambil menyeringai salah tingkah.

"Mas Galih belum pulang?" Pertanyaan Ratna tiba-tiba membuat Anin mengangkat wajahnya. Pertanyaan itu terdengar di buat-buat.

"Dia lembur katanya, kalau tak salah dengar ada kerjaan yang harus di selesaikan hari ini juga, jadi mungkin pulang agak malam." Anin menyunggingkan senyum.

"Tapi, kita tunggu saja, dia tak akan bisa lama. Sebentar lagi dia akan tiba." Anin mengangsurkan piring ke depan Anin dengan sikap percaya diri.

Dan benar saja, tak berselang lima menit dari kalimatnya bell berbunyi.

"Bik Irah, tolong bukakan pintu, sepertinya bapak pulang." Tanpa sedikitpun beranjak, seperti halnya ketika Ratna tiba, Anin meminta Bik Irah yang membukakan pintu.

Galih benar-benar muncul dengan tas jinjingnya dan baju yang sudah sedikit acak-acakan.

"Sayang, kamu pulang..." Anin segera berdiri dan tanpa sungkan menyalami Galih, mencium punggung tangannya kemudian sebelum mengambil tas jinjing yang di bawa suaminya dia sempat-sempatnya mencium sekilas bibir Galih. Yang di ciumi terlihat salah tingkah, sementara Ratna dengan jengah membuang wajahnya yang merona seketika.

Kecemburuan itu sekilas menghias pias wajah cantiknya.

Terpopuler

Comments

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

Dah org halal.Mesti ciunnya santai aja.Jgn cemburu kamu/Tongue//Tongue//Tongue/

2024-12-20

0

Zeeda El husna

Zeeda El husna

bagus ceritanya Nex Thor senang

2024-11-04

1

Ing

Ing

Itu namanya kacang lupa kulitnya alias sok2an OKB. Biasanya jg selera nusantara mlh lelaguan menu sushi lahh pasta lahh pdhal ttp the best ayam suwir, ikan asin & sambel terasi!

2024-10-30

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. Awal Petaka
2 BAB 2. Sejak Kapan?
3 BAB 3. Bukan Layangan Putus
4 BAB 4. Bertemu Ratna
5 BONUS VISUAL
6 BAB 5. Melempar Kail
7 BAB 6 White Rose Gold Swan
8 BAB 7. Meyakinkan Hati
9 BAB 8. Terjaga Dalam Pelukan
10 BAB 9. Panggilan Sayang Yang Sama
11 BAB 10. Melatih Kesabaran
12 BAB 11. Baru Permulaan
13 BAB 12. Ular Belud@k
14 BAB 13. Sekilas Awal Mula
15 BAB 14. Masih Awal Mula Perselingkuhan
16 BAB 15. MANIS DAN PAHIT
17 BAB 16. Mengusir Secara Halus
18 BAB 17. Menjawab Pertanyaan.
19 BAB 18. Memancing Badai
20 BAB 19. Menunggu Waktu
21 BAB 20. Bukan Benalu
22 Bab 21. Di Bawah Payung Hitam
23 BAB 22. Dua Kursi Kosong
24 BAB 23. Tidak Lebih Mahal
25 BAB 24. Mengungkap Kebenaran
26 BAB 25. Bom Meledak
27 BAB 26. Rasa Yang Tak Sama
28 BAB 27. Menangis Tanpa Suara
29 BAB 28. Siap Untuk Pulang
30 BAB 29. Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula
31 BAB 30. Begitu Sulit Mencintai
32 BAB 31. Tak Ada Jalan Kembali
33 BAB 32. Kepemilikan
34 BAB 33. Cukup Dua Tamparan
35 BAB 34. Tak Suka Barang Bekas
36 BAB 35. Menjalankan Misi
37 BAB 36. DEAL
38 BAB 37. Karena Cinta?
39 BAB 38. Di Luar Skenario
40 BAB 39. Terlahir baru
41 BAB 40. Selalu Jadi Istriku
42 BAB 41. Pengantin Masa Kecil
43 BAB 42. Mencari Keadilan
44 BAB 43. Ibu Komisaris
45 BAB 44. Tak Memberi Kesempatan
46 BAB 45. Double Kill
47 BAB 46. Menerima Gugatan
48 BAB 47. Membandingkan
49 BAB 48. Jurang Terakhir
50 BAB 49. Berubah Tak Lagi Sama
51 BAB 50. Kejam Jika Membalas
52 BAB 51. Menagih sendiri
53 BAB 52. Di Balik Semua
54 BAB 53. Pinjam Mama Dulu
55 BAB 54. Menemukan Chemistry
56 BAB 55. Dibakar Cemburu
57 BAB 56. Kamu telah Membunuhnya
58 BAB 57. Rindu Papa
59 BAB 58. Bertemu
60 BAB 59. Sulit Di Gapai
61 BAB 60. Cinta Macam Apa
62 BAB 62. Demi Anak
63 Bab 63. Buket Mawar Makan Malam
64 Bab 64. Menghargai Diri Sendiri.
65 BAB 65. Seumur hidup itu terlalu lama.
66 EKSTRA PART. Mulut Runcing
67 EKSTRA PART. Jiwa Superhero Reno
Episodes

Updated 67 Episodes

1
BAB 1. Awal Petaka
2
BAB 2. Sejak Kapan?
3
BAB 3. Bukan Layangan Putus
4
BAB 4. Bertemu Ratna
5
BONUS VISUAL
6
BAB 5. Melempar Kail
7
BAB 6 White Rose Gold Swan
8
BAB 7. Meyakinkan Hati
9
BAB 8. Terjaga Dalam Pelukan
10
BAB 9. Panggilan Sayang Yang Sama
11
BAB 10. Melatih Kesabaran
12
BAB 11. Baru Permulaan
13
BAB 12. Ular Belud@k
14
BAB 13. Sekilas Awal Mula
15
BAB 14. Masih Awal Mula Perselingkuhan
16
BAB 15. MANIS DAN PAHIT
17
BAB 16. Mengusir Secara Halus
18
BAB 17. Menjawab Pertanyaan.
19
BAB 18. Memancing Badai
20
BAB 19. Menunggu Waktu
21
BAB 20. Bukan Benalu
22
Bab 21. Di Bawah Payung Hitam
23
BAB 22. Dua Kursi Kosong
24
BAB 23. Tidak Lebih Mahal
25
BAB 24. Mengungkap Kebenaran
26
BAB 25. Bom Meledak
27
BAB 26. Rasa Yang Tak Sama
28
BAB 27. Menangis Tanpa Suara
29
BAB 28. Siap Untuk Pulang
30
BAB 29. Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula
31
BAB 30. Begitu Sulit Mencintai
32
BAB 31. Tak Ada Jalan Kembali
33
BAB 32. Kepemilikan
34
BAB 33. Cukup Dua Tamparan
35
BAB 34. Tak Suka Barang Bekas
36
BAB 35. Menjalankan Misi
37
BAB 36. DEAL
38
BAB 37. Karena Cinta?
39
BAB 38. Di Luar Skenario
40
BAB 39. Terlahir baru
41
BAB 40. Selalu Jadi Istriku
42
BAB 41. Pengantin Masa Kecil
43
BAB 42. Mencari Keadilan
44
BAB 43. Ibu Komisaris
45
BAB 44. Tak Memberi Kesempatan
46
BAB 45. Double Kill
47
BAB 46. Menerima Gugatan
48
BAB 47. Membandingkan
49
BAB 48. Jurang Terakhir
50
BAB 49. Berubah Tak Lagi Sama
51
BAB 50. Kejam Jika Membalas
52
BAB 51. Menagih sendiri
53
BAB 52. Di Balik Semua
54
BAB 53. Pinjam Mama Dulu
55
BAB 54. Menemukan Chemistry
56
BAB 55. Dibakar Cemburu
57
BAB 56. Kamu telah Membunuhnya
58
BAB 57. Rindu Papa
59
BAB 58. Bertemu
60
BAB 59. Sulit Di Gapai
61
BAB 60. Cinta Macam Apa
62
BAB 62. Demi Anak
63
Bab 63. Buket Mawar Makan Malam
64
Bab 64. Menghargai Diri Sendiri.
65
BAB 65. Seumur hidup itu terlalu lama.
66
EKSTRA PART. Mulut Runcing
67
EKSTRA PART. Jiwa Superhero Reno

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!