BAB 9. Panggilan Sayang Yang Sama

Anin membuka mata bersiap untuk bangun, dia lupa seberapa lama dia akhirnya tertidur, yang pasti menjelang subuh. Diam-diam nenangis saat sang suami terbaring tenang di sebelahnya sungguh menyita energinya. Sepanjang malam fikirannya melayang-layang, mengingat dirinya tak punya orangtua tempat mengadu. Yang di punya hanya om Haryo, teman sekaligus adik angkat almarhum ayahnya dan kini yang menjadi walinya.

Dia harus kuat dan membela dirinya sendiri, Om Haryo sudah terlalu sibuk mengurus perusahaan mereka. Dia menduda sampai di usia 50-an karena trauma kegagalan rumah tangganya, haruskah dia merecokinya dengan kegagalan dirinya sendiri?

Dia memiliki mertua memang tetapi mereka jauh di kota lain, dan lagi dia tak terlalu dekat dengan keluarga Galih. Berharap mereka membelanya? Anin harus berfikir seratus kali, dulu mereka sempat berselisih paham dengan Galih gara-gara mencap Anin mandul, setelahnya hubungan mereka renggang meskipun tetap saja kadang mereka bertukar kabar.

Anin mengumpulkan separuh nyawanya yang entah di mana, tetapi kemudian urung beranjak saat mendapati Galih sudah tak lagi di sampingnya.

Anin mengitari pandang dan mendapati pintu kamar ke teras balkon terbuka sedikit. Celah kecil itu menghantarkan cahaya matahari yang masih baru beranjak meninggalkan gelap itu memantul di dinding.

"Aku rasa Anin tak tahu apa-apa..." Suara Galih sayup-sayup dalam volume rendah.

"Dia berbicara dengan siapa?" Anin mengerutkan dahinya, sepagi ini suaminya itu telah bangun dan nampaknya sedang mengobrol.

"Ya, aku tahu, besok ulang tahunmu. Bagaimana aku bisa lupa?" Suara Galih lagi.

Anin kemudian sadar, Galih sedang berbicara dengan seseorang, lewat telpon. Matanya tertumpu pada ponsel sang suami yang sedang di charge di atas meja sudut.

Sekarang dia yakin, Galih punya ponsel yang lain, yang di sembunyikannya dari Anin selama ini, entah berapa lama.

"Sayang, dengarkan aku..."

Kalimat itu bagai setrum di ulu hati Anin, Galih memanggil orang lain dengan sayang?

Mata Anin nyaris tak sempat mengerjap sekian detik, bagaimana bisa panggilan itu yang di sematkan suaminya dari awal pernikahan mereka hanya untuknya sekarang menjadi panggilan orang lain suaminya untuk orang lain?

Ugh!

Sakitnya lebih kejam dari apa yang di ketahui orang, sebagai perempuan dia merasa terhempas dalam kecemburuan tak berdasar.

"Ya, aku tahu...aku tahu. Baiklah kita bertemu malam nanti saja, makan malam di tempat biasa." Kalimat itu di tutup dengan suara langkah lebar dan di saat berikut pintu teras balkon itu terbuka perlahan, deritnya sungguh halus.

Anin segera menutup matanya, dia berpura-pura tidur kembali.

"Krek."

Pintu itu di tutup pelan, dan langkah kaki Galih nyaris tak terdengar di atas lantai seolah mengambang, mungkin dia berjinjit atau...

"Cup."

Sebuah ciuman mendarat di kening Anin, basah.

"Sayang, bangunlah." Panggil Galih lirih.

Anin berpura-pura menggeliat sembari membuka kelopak matanya dengan berat.

"Eh, sudah pagi?" Anin berpura-pura terkejut.

"Ya, ini hampir jam enam pagi, tumben kamu belum bangun. Biasanya kamu sudah mandi jam segini?" Tanya Galih, wajahnya terlihat begitu biasa dengan sesungging senyum.

"Oh, aku kesiangan, ya? Astaga, aku harus menyiapkan sarapan..."

Anin segera duduk dan menjulurkan kakinya ke lantai.

"Akh, kalau kamu masih mengantuk tidak apa-apa. Tidur saja. Aku bisa minta sarapan dari bik Irah. Aku membangunkanmu cuma mau pamit mungkin aku harus berangkat lebih pagi hari ini. Ada yang harus kusiapkan di kantor." Sahut Galih cepat sambil menowel hidung bangir Anin, sebuah kebiasaan yang sering di lakukannya pada Anin.

"Tapi, aku juga harus menyiapkan Gigi sekolah."

"Sayang, masa kamu lupa jika hari ini sabtu, tidak perlu tergesa membangunkan Gigi. Kamu bisa santai di rumah, mengurus bunga anggrekmu di taman belakang, nonton drakor atau drachin kesukaanmu saja." Usul Galih.

"Eh, hati ini sabtu ya?" Bahkan hari pun Anin sudah lupa, karena kesibukannya bergelut dengan dilema yang di simpannya sendiri.

"Iya. Istriku ini mulai pikun ternyata." Galih terkekeh, lalu berbalik hendak menuju kamar mandi.

"Hari ini kamu sibuk?" Tanya Anin ragu menatap punggung lebar sang suami.

"Ya, aku akan ke kantor, asisten pak Haryo ingin meminta draft kontrak kemarin malam." Jawab Galih tanpa menoleh.

"Oh..." Anin duduk di pinggir tempat tidur, kakinya yang jenjang itu menjuntai santai, dia sekarang lebih tenang.

Anin benar-benar tak turun dari tempat tidur, seperti saran Galih. Dia yakin, Gita belum bangun karena anak itu jika sudah bangun pasti berlari ke kamar mereka untuk mendapati papanya.

Sampai Galih keluar, dengan wajah segar usai mandi, Anin masih di tempat tidur, dia sibuk dengan ponselnya, memindahkan semua foto-foto Galih dan Ratna yang di kirimkan Retno ke drive emailnya lalu menghapus riwayat Chatnya dengan Reno, sopir kantor Galih. Tentu saja setelah mengarsipkannya. Suatu saat dia akan mengeluarkannya sebagai bukti.

"Sepertinya aku kurang enak badan pagi ini." Keluh Anin. Kepalanya memang terasa berat, kurang tidur membuatnya pusing.

"Tuh, kan. Sudahlah, kamu tidur saja, tidak perlu repot mengurusku."Galih menuju lemari, dia yang backgroundnya tidak kaya tentu saja mandiri dalam mengurus dirinya, selama ini Anin saja yang terlalu memanjakan dirinya, mengurus suaminya dari A hingga Z atas nama pengabdian seorang istri.

Anin menatap sang suami yang hilir mudik di dalam kamar, dia mengenakan pakaiannya yang memang sudah disiapkan Anin, tergantung rapih.

"Jam berapa kamu pulang hari ini?" Tanya Anin tiba-tiba.

"Emh...mungkin agak malam. Kalau pekerjaan ini tidak selesai aku harus lembur."

"Bukankah pekerjaan itu bisa di serahkan kepada staffmu?" Pertanyaan Anin membuat Galih menoleh, alisnya mengernyit, tak biasanya Anin berucap berat seperti itu.

"Sepertinya aku harus mengawasinya sendiri, aku ingin projek ini perpect di mata Pak Haryo, dengan begitu aku mungkin di promokan di jajaran CEO." Galih berucap seakan begitu berat mengambil keputusan itu.

"Oh, begitu, ya?" Anin mengangguk-angguk tak lagi mendebat.

"Memangnya kenapa? Kamu ada rencana apa?" Tanya Galih.

"Aku berencana membuat makan malam di rumah hari ini dengan mengundang seseorang yang berulangtahun besok."

"Hah, oh ya?" Galih terlihat terkejut.

"Siapa?" Lanjutnya, terlihat sekelebat cemas di piasnya.

"Ratna." Jawab Anin pendek.

Wajah Galih menegang sesaat tetapi kemudian dia kembali menguasai diri.

"Oh, ya? Ratna ulang tahun besok? Baru tahu."

Cih!

Anin begitu gemas dengan raksi sang suami yang terlihat surprise padahal dia yakin Galih sudah tahu.

Apalagi di obrolan sayup-sayup tadi dia mendengar mereka berdua akan berencana dinner.

Hmmmm, mari kita lihat, seperti apa kalian di depanku? Apakah kalian begitu mahir menjaga sandiwara kalian jika berada di depan hidungku? Anin menggumam dalam hati. Dia yakin suaminya itu tak bisa membuat alasan, kalau perlu Ratna akan menginap di rumah mereka malam ini!

Terpopuler

Comments

Siti Nurjanah

Siti Nurjanah

ayo anin kamu harus segera bertindak . q kok gedek banget pengen tu muka galih tak bejek" sampai tak berbentuk

2025-03-27

0

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

mantap, mainkanAinin.

2024-12-26

0

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

Krjap Ratna,kejap Retno.Mana satu ninyg benar/CoolGuy//CoolGuy/

2024-12-20

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. Awal Petaka
2 BAB 2. Sejak Kapan?
3 BAB 3. Bukan Layangan Putus
4 BAB 4. Bertemu Ratna
5 BONUS VISUAL
6 BAB 5. Melempar Kail
7 BAB 6 White Rose Gold Swan
8 BAB 7. Meyakinkan Hati
9 BAB 8. Terjaga Dalam Pelukan
10 BAB 9. Panggilan Sayang Yang Sama
11 BAB 10. Melatih Kesabaran
12 BAB 11. Baru Permulaan
13 BAB 12. Ular Belud@k
14 BAB 13. Sekilas Awal Mula
15 BAB 14. Masih Awal Mula Perselingkuhan
16 BAB 15. MANIS DAN PAHIT
17 BAB 16. Mengusir Secara Halus
18 BAB 17. Menjawab Pertanyaan.
19 BAB 18. Memancing Badai
20 BAB 19. Menunggu Waktu
21 BAB 20. Bukan Benalu
22 Bab 21. Di Bawah Payung Hitam
23 BAB 22. Dua Kursi Kosong
24 BAB 23. Tidak Lebih Mahal
25 BAB 24. Mengungkap Kebenaran
26 BAB 25. Bom Meledak
27 BAB 26. Rasa Yang Tak Sama
28 BAB 27. Menangis Tanpa Suara
29 BAB 28. Siap Untuk Pulang
30 BAB 29. Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula
31 BAB 30. Begitu Sulit Mencintai
32 BAB 31. Tak Ada Jalan Kembali
33 BAB 32. Kepemilikan
34 BAB 33. Cukup Dua Tamparan
35 BAB 34. Tak Suka Barang Bekas
36 BAB 35. Menjalankan Misi
37 BAB 36. DEAL
38 BAB 37. Karena Cinta?
39 BAB 38. Di Luar Skenario
40 BAB 39. Terlahir baru
41 BAB 40. Selalu Jadi Istriku
42 BAB 41. Pengantin Masa Kecil
43 BAB 42. Mencari Keadilan
44 BAB 43. Ibu Komisaris
45 BAB 44. Tak Memberi Kesempatan
46 BAB 45. Double Kill
47 BAB 46. Menerima Gugatan
48 BAB 47. Membandingkan
49 BAB 48. Jurang Terakhir
50 BAB 49. Berubah Tak Lagi Sama
51 BAB 50. Kejam Jika Membalas
52 BAB 51. Menagih sendiri
53 BAB 52. Di Balik Semua
54 BAB 53. Pinjam Mama Dulu
55 BAB 54. Menemukan Chemistry
56 BAB 55. Dibakar Cemburu
57 BAB 56. Kamu telah Membunuhnya
58 BAB 57. Rindu Papa
59 BAB 58. Bertemu
60 BAB 59. Sulit Di Gapai
61 BAB 60. Cinta Macam Apa
62 BAB 62. Demi Anak
63 Bab 63. Buket Mawar Makan Malam
64 Bab 64. Menghargai Diri Sendiri.
65 BAB 65. Seumur hidup itu terlalu lama.
66 EKSTRA PART. Mulut Runcing
67 EKSTRA PART. Jiwa Superhero Reno
Episodes

Updated 67 Episodes

1
BAB 1. Awal Petaka
2
BAB 2. Sejak Kapan?
3
BAB 3. Bukan Layangan Putus
4
BAB 4. Bertemu Ratna
5
BONUS VISUAL
6
BAB 5. Melempar Kail
7
BAB 6 White Rose Gold Swan
8
BAB 7. Meyakinkan Hati
9
BAB 8. Terjaga Dalam Pelukan
10
BAB 9. Panggilan Sayang Yang Sama
11
BAB 10. Melatih Kesabaran
12
BAB 11. Baru Permulaan
13
BAB 12. Ular Belud@k
14
BAB 13. Sekilas Awal Mula
15
BAB 14. Masih Awal Mula Perselingkuhan
16
BAB 15. MANIS DAN PAHIT
17
BAB 16. Mengusir Secara Halus
18
BAB 17. Menjawab Pertanyaan.
19
BAB 18. Memancing Badai
20
BAB 19. Menunggu Waktu
21
BAB 20. Bukan Benalu
22
Bab 21. Di Bawah Payung Hitam
23
BAB 22. Dua Kursi Kosong
24
BAB 23. Tidak Lebih Mahal
25
BAB 24. Mengungkap Kebenaran
26
BAB 25. Bom Meledak
27
BAB 26. Rasa Yang Tak Sama
28
BAB 27. Menangis Tanpa Suara
29
BAB 28. Siap Untuk Pulang
30
BAB 29. Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula
31
BAB 30. Begitu Sulit Mencintai
32
BAB 31. Tak Ada Jalan Kembali
33
BAB 32. Kepemilikan
34
BAB 33. Cukup Dua Tamparan
35
BAB 34. Tak Suka Barang Bekas
36
BAB 35. Menjalankan Misi
37
BAB 36. DEAL
38
BAB 37. Karena Cinta?
39
BAB 38. Di Luar Skenario
40
BAB 39. Terlahir baru
41
BAB 40. Selalu Jadi Istriku
42
BAB 41. Pengantin Masa Kecil
43
BAB 42. Mencari Keadilan
44
BAB 43. Ibu Komisaris
45
BAB 44. Tak Memberi Kesempatan
46
BAB 45. Double Kill
47
BAB 46. Menerima Gugatan
48
BAB 47. Membandingkan
49
BAB 48. Jurang Terakhir
50
BAB 49. Berubah Tak Lagi Sama
51
BAB 50. Kejam Jika Membalas
52
BAB 51. Menagih sendiri
53
BAB 52. Di Balik Semua
54
BAB 53. Pinjam Mama Dulu
55
BAB 54. Menemukan Chemistry
56
BAB 55. Dibakar Cemburu
57
BAB 56. Kamu telah Membunuhnya
58
BAB 57. Rindu Papa
59
BAB 58. Bertemu
60
BAB 59. Sulit Di Gapai
61
BAB 60. Cinta Macam Apa
62
BAB 62. Demi Anak
63
Bab 63. Buket Mawar Makan Malam
64
Bab 64. Menghargai Diri Sendiri.
65
BAB 65. Seumur hidup itu terlalu lama.
66
EKSTRA PART. Mulut Runcing
67
EKSTRA PART. Jiwa Superhero Reno

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!