BAB 16. Mengusir Secara Halus

"Kadang kita harus mencoba, sesuatu yang pahit dan tawar supaya kita tahu manis itu seperti apa..." Suara Anin terdengar dingin bahkan raut mukanya tanpa ekspresi.

"Apa maksudmu, sayang?" Galih mengerutkan kening, dia terlihat tak nyaman dengan sikap Anin yang tak biasa.

"Oh, hanya mengatakan, jika selama ini kita terbiasa dengan yang manis-manis, setelahnya bisa saja pahit. Aku sudah merasakannya. Sarapan kali ini, mari kita coba kopi pahit dan roti tawar. Aku ingin kalian mencobanya juga." Anin mendorong cangkir-cangkir kopi ke depan kedua orang yang kini duduk, satunya di seberang meja dan satu di sampingnya.

Keduanya saling pandang sejenak, lalu menatap Anin dengan tegang.

"Jangan menatapku begitu..." Anin terkekeh. Lalu, menggigit sepotong roti sambil menaikkan alisnya.

"Kebetulan semua bahan makanan di dalam kulkas sedang habis. Hanya ini yang ku punya untuk di sajikan. Maklum, aku belum belanja mingguan." Anin tertawa lepas, tawanya terdengar aneh di telinga Ratna.

"Ayo, di makan. Ini adalah hari ulang tahun Ratna, lho. Mungkin Ratna mau terburu-buru pulang dan mas Galih juga ingin segera berangkat. Setidaknya kita bisa sarapan ini dulu." Anin menyeruput kopinya dengan tanpa ekspresi.

Sesaat Galih tertegun, sangat jarang Anin memanggilnya dengan nama. Dia selalu memanggil Galih dengan Ayang atau sayang. Tapi, Anin terlihat tak peka dengan itu.

Sepanjang malam Ratna nyaris tak bisa tidur hanya memikirkan bagaimana cara dia memberikan suaminya itu balasan.

Bagaimana tidak, satu tahun setengah mereka bermain gila di belakangnya dan yang paling menyakiti hatinya hingga ke relung terdalam, bahkan mereka pernah bercinta di atas tempat tidurnya! Tempat terprivat dalam kehidupan rumah tangga mereka, di mana di situlah semua kegiatan sakral sepasang suami istri terjadi.

Tak lama, Gita turun dari atas dengan bik Irah, dia sudah siap dengan pakaian rapih dan rambut yang di kuncir berpita.

"Papa..." Dia langsung menghambur ke pelukan sang ayah.

"Wah, sayangku, puteri kecilku...kamu terlihat cantik pagi ini." Sambut Galih, wajahnya seketika sumringah.

"Papa gak bangunin Gigi kalau papa pulang?" Rengeknya manja.

"Hallo sayang, apa kabar?" Ratna melambaikan tangannya, mencairkan suasana yang semula tegang.

"Gigi sayang, kamu sudah siap? mama akan mengantarkanmu ke sekolah sekarang." Anin menatap sesaat kepada Ratna, dia begitu muak dengan sikap perempuan ini, seperti ular berkepala banyak.

Anin berdiri, kemudian beranjak lalu meraih lengan Gita yang masih berada di dalam pelukan sang suami.

"Pamit sama papa..."

Gita segera memeluk leher Galih lalu menciuminya, mencium punggung tangan sang papa dengan sikap manja. Bik Irah datang tergopoh-gopoh membawa kotak bekal gadis kecil itu.

"Cayang papa..." Dia memeluk papanya, sarat rindu, di bawah tatapan Ratna yang tak berkedip menatap dua ayah dan anak itu.

Anin tak habis fikir terbuat dari apa perasaan sahabatnya ini hingga tega merampas seorang ayah dari anaknya, bukankah dia tahu sendiri cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya?

"Aku mengantar Gita dulu..." Anin masih berdiri menunggu.

"Sayang, ini kan hari minggu?"

"Oh, Gita ada acara di sekolahnya, rasanya aku sudah mengatakan padamu minggu lalu, ada pentas seni bulan bahasa di sekolahnya. Mungkin kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu hingga lupa semuanya. Memang ini tak penting, wajar saja kamu lupa." Kalimat itu di ucapkan dengan sikap manis tetapi bermakna begitu sinis.

"Baiklah, aku pergi dulu. Silahkan kalian sarapan, ku harap tak ada sesuatupun yang menganggu. Dan..." Anin menatap sesaat pada Ratna.

"Kurasa kamu memang harus pulang cepat pagi ini, Rat. Pakaianmu itu tidak cocok untukmu. Jangan lupa mengembalikannya, itu daster bi Irah."

Wajah Ratna seketika bersemu merah mendengar ucapan Anin.

Dia terpana, baru kali ini Anin bersikap aneh bahkan tega meminjamkan baju pembantu padanya.

Anin berbalik lalu melangkah sambil menggandeng tangan Gita tanpa berbicara lagi.

"Oh, iya..." Anin menghentikan langkahnya tiba-tiba.

"Minggu depan, ulang tahun pernikahan kita sayang, bersamaan dengan ulang tahun ibumu. Aku berencana mengundang semua keluargamu dari Surabaya. Dan..." Anin terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Ratna jangan lupa datang, ya. Kamu tamu khusus kami. Kamu tahu kan, aku cuma punya kamu di dunia ini."

Sesungging senyum terlihat di bibir Anin. Tersirat begitu terpaksa.

Ratna dan Galih saling pandang lalu menatap punggung Anin yang berjalan menjauh tanpa menoleh itu.

Sesaat sepi mencekam keduanya terlihat tegang. Duduk mematung menghadap cangkir kopi pahit masing-masing.

"Apa...apa dia tahu sesuatu?" Suara Ratna bergetar dalam volume yang rendah.

Yang di tanya tak menjawab, wajahnya terlihat tegang. Matanya lurus menatap ke arah ruang tamu kemana istri dan anaknya itu menghilang.

"Jangan-jangan Anin..."

"Aku tak yakin--" Akhirnya Galih menyahut seraya menggeleng, menanggapi kilat kecemasan di wajah Ratna.

"Tapi, sikap Anin aneh sekali."

"Mungkin dia sedang kesal terhadap sesuatu atau mungkin efek dia sedang datang bulan." Tukas Galih, matanya segera beralih pada bik Irah yang muncul dari dapur dengan membawa baki berisi beberapa serbet bersih yang terlipat rapi.

"Bik, ada makanan apa di dapur? ibu tidak mbuat sarapan pagi ini?"

"Tidak, pak. Isi kulkas sedang kosong. Ibu belanja hari ini setelah menjemput Neng Gita..."

"Bagaimana mungkin bisa habis semua, tadi malam dia memasak banyak? Masa tak ada apapun yang bisa di masak?" Cecar Galih dengan gusar pada pembantu setengah baya ini.

"Semua...semua bahan makanan sisa kemarin di buang ibu..." Jawab Bik Irah dengan pias takut.

"Dibuang? Di buang bagaimana???" Sekarang mata Galih sebesar kelereng. Heran dan kesal bercampur tak jelas.

"Di buang ke bak sampah, pak. Kata ibu...kata ibu..." Bik Irah menunduk ragu.

"Kata ibu apa, hah?"

"Kata ibu, bahan yang tak berkualitas harus di buang ke tempat sampah, semua barang sisa jangan di biasakan untuk dipungut. Sampah tempatnya di tempat sampah."

"Heeeh, apa maksudmu?" Galih menggertak, sementara Ratna terpaku berusaha mencerna makaud dari ucapan Bik Irah.

"Maaf pak, maaf...ibu cuma bilang begitu sambil membuang semua isi kulkas tadi pagi. Selebihnya saya tidak ngerti..." Bik Irah membungkuk dengan takut, jarang sekali majikannya ini terlihat begitu marah.

"Sudah, mas...sudah..." Ratna memberikan isyarat supaya Galih menyudahi perdebatan Galih dengan pembantunya itu.

"Astaga, kenapa pagi ini jadi aneh!"

Galih mengumpat kesal.

"Apanya yang aneh?" Anin tiba-tiba berdiri di ambang pintu penghubung dengan ruang tamu.

"Yang lebih aneh kalian masih di depan meja makan tanpa nenyentuh apapun yang tersaji. Maaf, aku berbalik, ketinggalan ponselku di kamar atas. Jika kamu tak keberatan, kamu boleh pulang Rat kalau tak mau hanya di temani bik Irah atau jika kamu ingin kamu bisa tinggal sendiri di sini sampai kami pulang. Aku berencana membawa suamiku ke sekolah Gigi, baru ku ingat kepala sekolahnya Gita ingin bertemu dengannya."

Jelas itu nada mengusir yang membuat wajah Ratna seperti kepiting rebus.

Terpopuler

Comments

Taryumi 2003

Taryumi 2003

harus nya mereka sadar, dari kalimat terakhir Anin itu jelas klo Anin udah tau hubungan mereka ,

2024-12-17

0

Taryumi 2003

Taryumi 2003

itu mah bukan manggil Thor.. Anin blng klo mas galih mungkin mau brangkt ..bukan manggil..

2024-12-17

0

Maria Magdalena Indarti

Maria Magdalena Indarti

galih Ratna ga merasakan kalian. anin sdh tahu busuk kalian

2025-03-13

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. Awal Petaka
2 BAB 2. Sejak Kapan?
3 BAB 3. Bukan Layangan Putus
4 BAB 4. Bertemu Ratna
5 BONUS VISUAL
6 BAB 5. Melempar Kail
7 BAB 6 White Rose Gold Swan
8 BAB 7. Meyakinkan Hati
9 BAB 8. Terjaga Dalam Pelukan
10 BAB 9. Panggilan Sayang Yang Sama
11 BAB 10. Melatih Kesabaran
12 BAB 11. Baru Permulaan
13 BAB 12. Ular Belud@k
14 BAB 13. Sekilas Awal Mula
15 BAB 14. Masih Awal Mula Perselingkuhan
16 BAB 15. MANIS DAN PAHIT
17 BAB 16. Mengusir Secara Halus
18 BAB 17. Menjawab Pertanyaan.
19 BAB 18. Memancing Badai
20 BAB 19. Menunggu Waktu
21 BAB 20. Bukan Benalu
22 Bab 21. Di Bawah Payung Hitam
23 BAB 22. Dua Kursi Kosong
24 BAB 23. Tidak Lebih Mahal
25 BAB 24. Mengungkap Kebenaran
26 BAB 25. Bom Meledak
27 BAB 26. Rasa Yang Tak Sama
28 BAB 27. Menangis Tanpa Suara
29 BAB 28. Siap Untuk Pulang
30 BAB 29. Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula
31 BAB 30. Begitu Sulit Mencintai
32 BAB 31. Tak Ada Jalan Kembali
33 BAB 32. Kepemilikan
34 BAB 33. Cukup Dua Tamparan
35 BAB 34. Tak Suka Barang Bekas
36 BAB 35. Menjalankan Misi
37 BAB 36. DEAL
38 BAB 37. Karena Cinta?
39 BAB 38. Di Luar Skenario
40 BAB 39. Terlahir baru
41 BAB 40. Selalu Jadi Istriku
42 BAB 41. Pengantin Masa Kecil
43 BAB 42. Mencari Keadilan
44 BAB 43. Ibu Komisaris
45 BAB 44. Tak Memberi Kesempatan
46 BAB 45. Double Kill
47 BAB 46. Menerima Gugatan
48 BAB 47. Membandingkan
49 BAB 48. Jurang Terakhir
50 BAB 49. Berubah Tak Lagi Sama
51 BAB 50. Kejam Jika Membalas
52 BAB 51. Menagih sendiri
53 BAB 52. Di Balik Semua
54 BAB 53. Pinjam Mama Dulu
55 BAB 54. Menemukan Chemistry
56 BAB 55. Dibakar Cemburu
57 BAB 56. Kamu telah Membunuhnya
58 BAB 57. Rindu Papa
59 BAB 58. Bertemu
60 BAB 59. Sulit Di Gapai
61 BAB 60. Cinta Macam Apa
62 BAB 62. Demi Anak
63 Bab 63. Buket Mawar Makan Malam
64 Bab 64. Menghargai Diri Sendiri.
65 BAB 65. Seumur hidup itu terlalu lama.
66 EKSTRA PART. Mulut Runcing
67 EKSTRA PART. Jiwa Superhero Reno
Episodes

Updated 67 Episodes

1
BAB 1. Awal Petaka
2
BAB 2. Sejak Kapan?
3
BAB 3. Bukan Layangan Putus
4
BAB 4. Bertemu Ratna
5
BONUS VISUAL
6
BAB 5. Melempar Kail
7
BAB 6 White Rose Gold Swan
8
BAB 7. Meyakinkan Hati
9
BAB 8. Terjaga Dalam Pelukan
10
BAB 9. Panggilan Sayang Yang Sama
11
BAB 10. Melatih Kesabaran
12
BAB 11. Baru Permulaan
13
BAB 12. Ular Belud@k
14
BAB 13. Sekilas Awal Mula
15
BAB 14. Masih Awal Mula Perselingkuhan
16
BAB 15. MANIS DAN PAHIT
17
BAB 16. Mengusir Secara Halus
18
BAB 17. Menjawab Pertanyaan.
19
BAB 18. Memancing Badai
20
BAB 19. Menunggu Waktu
21
BAB 20. Bukan Benalu
22
Bab 21. Di Bawah Payung Hitam
23
BAB 22. Dua Kursi Kosong
24
BAB 23. Tidak Lebih Mahal
25
BAB 24. Mengungkap Kebenaran
26
BAB 25. Bom Meledak
27
BAB 26. Rasa Yang Tak Sama
28
BAB 27. Menangis Tanpa Suara
29
BAB 28. Siap Untuk Pulang
30
BAB 29. Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula
31
BAB 30. Begitu Sulit Mencintai
32
BAB 31. Tak Ada Jalan Kembali
33
BAB 32. Kepemilikan
34
BAB 33. Cukup Dua Tamparan
35
BAB 34. Tak Suka Barang Bekas
36
BAB 35. Menjalankan Misi
37
BAB 36. DEAL
38
BAB 37. Karena Cinta?
39
BAB 38. Di Luar Skenario
40
BAB 39. Terlahir baru
41
BAB 40. Selalu Jadi Istriku
42
BAB 41. Pengantin Masa Kecil
43
BAB 42. Mencari Keadilan
44
BAB 43. Ibu Komisaris
45
BAB 44. Tak Memberi Kesempatan
46
BAB 45. Double Kill
47
BAB 46. Menerima Gugatan
48
BAB 47. Membandingkan
49
BAB 48. Jurang Terakhir
50
BAB 49. Berubah Tak Lagi Sama
51
BAB 50. Kejam Jika Membalas
52
BAB 51. Menagih sendiri
53
BAB 52. Di Balik Semua
54
BAB 53. Pinjam Mama Dulu
55
BAB 54. Menemukan Chemistry
56
BAB 55. Dibakar Cemburu
57
BAB 56. Kamu telah Membunuhnya
58
BAB 57. Rindu Papa
59
BAB 58. Bertemu
60
BAB 59. Sulit Di Gapai
61
BAB 60. Cinta Macam Apa
62
BAB 62. Demi Anak
63
Bab 63. Buket Mawar Makan Malam
64
Bab 64. Menghargai Diri Sendiri.
65
BAB 65. Seumur hidup itu terlalu lama.
66
EKSTRA PART. Mulut Runcing
67
EKSTRA PART. Jiwa Superhero Reno

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!