Beberapa waktu lalu setelah Jajang berpamitan Sani menimang Surya dalam dekapannya, para wanita muda yang sama memiliki bayi menatap kagum ke arah bayi yang di timang Sani, mereka saling bersenda gurau, saling mengagumi dan memberikan pujian pada bayi mereka.
Para penjaga yang telah di tugaskanpun ikut tertawa mendengarkan senda gurau para ibu ibu muda yang tengah menimang anak anaknya.
***
Namun di kegelapan Hutan Sancang para penjajah telah mulai merangsak masuk ke dalam hutan hampir setengah dari jumlah mereka mati terbunuh oleh jebakan yang terpasang oleh para warga Desa. Amarah mereka kian memuncak dan menjadi jadi saat ular dan binatang yang menghalangi mereka, namun senjata yang kuat yang mereka miliki membunuh setiap hal yang menghalangi dan terus merangsak masuk.
Dua orang pengawas yang tengah mengawasi sekeliling saling beradu pandang dan terus menjatuhkan jebakan jebakan dan yang satunya lagi kembali memeberikan kabar pada Surwa yang tengah berjaga di depan gua.
Namun belum sempat Surwa mengungsikan warga desa para penjajah itu telah tiba.
"Hahah.. wil je wegrennen? droom gewoon! (Kalian ingin kabur?, mimpi saja!)." ucap seorang pria dalam bahasa yang tidak di mengerti surwa, namun dengan intonasi yang di berikan oleh mereka, dia tahu jelas bila mereka tengah menggertak dirinya.
Para nenek yang berada di gawang gua nampak ketakutan, sedangkan Sani masih berada di dalam gua bersama beberapa wanita yang memiliki bayi.
"Apa mau kalian..!" belum sempat Surwa menyelsaikan kalimatnya sebuah tembakan membabi buta mengarah pada mereka dan para nenek dan anak anak yang berada di ambang pintu terbunuh semua, sedangkan Surwa tertembak di kaki kanannya, tidak ada ringisan dari bibir surwa hanya senyum getir melihat warga tak berdosa terbunuh di belakang tubuhnya.
Amarah Surwa kian berkobar dia akhirnya maju dan di hadang oleh beberapa serdadu penjajah namun berhasil di bunuh surwa namun karena dia hanya sendiri dan para pria yang ada di sana telah terbunuh semua diapun kewalahan, dan kini hanya tersisa wanita wanita lemah, anak anak, dan para lansia saja.
Dengan susah payah seorang pria yang berjaga bersama Surwa menarik sebuah benda hingga terdengar suara nyaring yang menggema dan menggetarkan cakrawala.
Itulah suara yang di dengar Jajang dan seluruh warga desa, para penjajah itu tertawa melihat para pribumi menderita. " hahahah.. roep om uw versterkingen, we zijn niet bang! (Panggilah bala bantuan kalian, kami tidak takut!)" ucap pria itu lagi dalam bahasanya.
Surwa yang sudah lemas dan tidak berdaya mereka jerat dengan tali dan mengikatnya di kayu, memakunya dengan sangat kuat dan menyalibnya di sana, tepat di sebuah pohon dengan batang yang besar.
Mata Surwa perlahan tertutup menatap bergelimpangan mayat di hadapannya, hatinya hancur melihat warga desa yang terbunuh dia yang seorang pria nakal dan sangat terkenal akan dirinya yang mata keranjang, namun dia juga amat sangat mencintai saudaranya, meski tak sedarah namun semua warga desa bagi Surwa semuanya adalah saudara.
Para penjajah merangsak masuk menginjak mayat mayat di ambang pintu dan mendapati para wanita tak berdaya di dalam sana, tanpa hati nurani mereka mengangkat senjata dan menodongkannya pada mereka.
Sani yang menyadari bahaya lantas menyerahkan puteranya pada seorang wanita di sampingnya dan dengan susah payah dia berusaha berdiri menentang para penjajah.
"Hei kalian yang tidak punya hati!, bunuhlah kami dan seluruh putera puteri kami dan akan kami pastikan kalian akan terbunuh lebih tragis dari apa yang kalian bayangkan!" ucap sani lantang dan beberapa serdadu itu nampak iba namun tidak dengan pemimpin mereka.
Sani tersenyum kecut dan dengan kemampuannya yang memang sudah melebihi level Surwa melangkah manju menentang senjata yang kini tepat di dadanya.
Dor.. Senjata itu berbunyi tepat di dada Sani membuat semua orang terkejut, mata Sani berkobar dengan bibir yang tersenyum nampak bahagia dia melotot hingga tembakan berikutnya akan kembali menggelegar namun dengan sigap Sani melempar pria yang menembaknya dan mematahkan lehernya dengan kejam.
Dirinya sudah tahu bahwa dia akan meninggal namun dia juga tidak akan rela bila orang yang membunuhnya tidak mati bersamanya, bebrapa perajurit itu nampak terkejut dan kembali menodongkan senjata mereka pada Sani namun dengan sigap Sani membanting dan melempar mereka, Sani dengan tubuh yang bergetar dan darah yang berlinang tak gentar dan terus melawan.
Hingga pemimpin mereka melakukan langkah berikutnya dia melihat Surya yang di pangku seorang wanita yang kini tengah menangis.
Dengan bengis pria itu meraih Surya dan mencekiknya, wanita yang di titipi oleh Sani di tembak mati di dadanya, para ibu ibu dan bayi yang berada di sanapun tak luput dari tembakannya yang membabi buta.
" dit is je zoon toch? kijk eens goed! ( Ini puteramu bukan?, lihatlah baik baik!)"ucap pria itu dan dalam sekejap dari kepala bagian belakang Surya di tembak hingga tembus ke bagian depan.
Tangis Surya seketika berhenti dan membuat Sani kian murka air mata dan darah yang menyatu menyajikan pemandangan yang amat memilukan.
Sani manangis darah dia menatap pria di hadapannya dan dengan jurus meringankan tubuh yang sudah dia kuasai Sani melayang seperti terbawa angin dan mencekik pria itu dan mematahkan kepalanya.
Para serdadu bawahannya terkejut dan langsung menembaki sani membagi buta. Mereka akhirnya kabur dari tempat itu, mereka amat ketakutan dengan Sani.
Mereka akan habis bila mereka masih di sana terlebih lagi tadi salah seorang penjaga telah memanggil bala bantuan.
Wanita yang baru saja melahirkan dapat amat menyeramkan seperti itu bagaimana dengan para pria yang sehat dan wanita lainnya yang bila mereka masih di sana tentu mereka semuapun akan mati.
Setelah para serdadu itu meninggalkan gua tempat pembantaian, Sani masih tersadar dan berusaha merangkak dengan darah dan air mata di pipinya, dia mendekat ke arah Surya yang sudah meninggal.
"An..na...an..nakku.. " ucap Sani lirih dan memeluk Surya penuh pilu.
"Ki...ta a..kan b..ber..sam..a la..gi na..k!.. Tan..ah air.. men..jadi.. Sa..k..si gu..gur..nya.. Ki...ta.. Ash..ha..du..al...laa... Il.. A..ha.. Illa..llah.. Wa...ashadu... An...na.. Muha...mad.. Rosullul..lullah.." ucap Sani mengucapkan dua kalimat syahadat, hingga akhirnya matanya berat dan menutup.
Sani gugur bersama para warga desa yang berada di sana.
Bersambung...
Maaf bila episode kali ini terlihat mengulang dari episode sebelumnya, tapi sudut pandang dalam episode ini sangat berbeda dari episode sebelumbnya.
Maaf bila kisahnya terlalu tragis! 🙏🙏
Author hanya ingin menunjukkan kisah dan arti cinta sejati sesungguhnya.
Jangan lupa Like, Komen dan masukin list bacaan kalian ya!.
Salam cinta dari Raisa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments