Kewalat

Setelah mendapatkan kabar bila sang isteri tengah mengandung, Jajang akhirnya membatalkan janjinya dengan Surwa karena di larang oleh sang isteri yang tengah bermanja.

Sore itu akhirnya Surwa pergi sendiri, dia mulai menaiki batu batu besar di sekitar sungai dan kemudian dia sedikit mengendap endap.

Beberapa baju nampak terjuntai dari atas batu besar yang masih kering, Surwa menyeringai lalu mendekat secara perlahan.

"Wahhh.. Aku bakal nemu gadis geulis (cantik) ini, bajunya aja geulis pisan! (cantik banget)!" ucap Surwa yang kemudian memperhatikan sekitarnya.

Byuuur... Ternyata sial sekali Surwa sore itu dia malah ketahuan dan di dorong oleh seorang wanita yang memang sering di intip oleh Surwa. Nampak wajah wanita itu merah tengah marah, Surwa terperanjak dan hendak melarikan diri, namun nahas dirinya ternyata telah di tunggu oleh segerombolan gadis di sana dan sudah terkepung.

Surwa yang sudah tidak dapat berkutik menyembunyikan sebagian wajahnya ke dalam air sungi yang mengaliri tubuhnya dan menatap gadis gadis cantik yang mengelilinginya, 'sial bener nasibku hari ini.' ucap hati Surwa.

" Kang! Teu cekap sakali dua kali abdi ningali salira ngintipnya!, teu kapok kapok ceunah!" (mas! Tidak cukup sekali dua kali aku melihat kamu menguntit, tidak jera jera rupanya). Ucap seorang gadis yang nampak amat cantik dengan kulit kuning langsat.

Surwa enggan bersuara, merasa sudah habis nasibnya diapun akhirnya pasrah akan di hakimi seperti apapun dirinya saat ini karena memang dan dia sendiri merasa dirinya memang bersalah. Semua wanita nampak memandang Surwa dengan tatapan iblis, Surwa amat ketakutan melihatnya, terlihat dari tubuhnya yang mengigil bercampur dingin dari air sungai yang mengalir, ingin sekali surwa terbawa arus sungai itu dan menghindari para gadis cantik yang tengah mengerumuninya untuk memberikan hukuman padanya.

"Nah jadi teman teman semuanya ayo kita beri dia pelajaran!" seru seorang gadis dengan tatapan sadis.

'Matilah aku!' ucap hati Surwa seraya berusaha mencari selah namun tak kunjung dia temukan, para gadis itu berhasil menjebak tukang intip Surwa dengan pancingan yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.

Sebelumnya para gadis itu tengah berkerumun dan merasa resah karena selalu di intip saat mandi oleh surwa, hingga akhirnya merekapun melakukan sebuah siasat untuk menjebak pria cabul itu.

Mereka berencana menyebarkan berita bila mereka akan mandi bersama di sungai, dan benar saja saat itu Surwa tengah membagikan makanan yang di amanahkan padanya oleh Jajang, para gadis itu berbisik saling memberi isyarat dan akhirnya mengobrol seakan tidak mengetahui bila Surwa tengah ada di sekitar sana.

Surwa yang mendengar kabar itu langsung terlonjak, jiwanya yang seorang mata keranjang kembali bangkit, dan memang sebelumnya dia sudah memiliki janji dengan Jajang untuk menyimpan jeratan ikan.

Tapi nahas niat awal Surwa yang baik tercemari karena bisikan gadis gadis itu dan saat dia mendapatkan kabar bila Jajang tidak jadi ikut, diapun kian bersemangat karena bila dia bersama Jajang bisa saja Jajang yang merupakan seorang pria naif merusak rencananya.

Hingga akhirnya kejadian itupun terjadi para gadis itu sudah amat geram pada sifat mata keranjang Surwa. Mereka memberi pelajaran Surwa dengan cara menelanjangi pria itu dan mengikatnya di sebuah pohon.

Para gadis itu tertawa girang saat dendam mereka akhirnya terbalaskan, sedangkan surwa kini hanya berdiri pasrah mempertontonkan seluruh tubuhnya pada para gadis tanpa sehelai benangpun, hingga malam hari Surwa tak kunjung di temukan siapapun, dan masih setia terikat di batang pohon. Meski terbilang nekad dan jahat namun para gadis itupun tetap berpatroli untuk menjaga surwa dari kejauhan karena di takutkan bila para penjajah merangsak masuk ke wilayah mereka, dan tentu saja bila mereka menemukan Surwa maka nyawa Surwapun dapat dalam bahaya, tujuan mereka hanya ingin memberikan pembelajaran pada surwa bukan untuk mencelakainya.

Keesokan paginya sebelum ayam berkok dan fajar mempertontonkan ronanya Jajang dan Sani berjalan beriringan menuju sungai namun alangkah terkejutnya Sani saat melihat pria terikat di batang pohon sontak sani berteriak dan memalingkan wajahnya.

"Aaa... Pria cabul!" teriak Sani seraya memalingkan wajahnya.

Jajang yang mendengar teriakan Sani lantas memeluknya erat dan menatap tubuh bugil Jajang yang sangat menggelikan.

"Jang bantu aku!" rengek Surwa, namun tangan Jajang di hentikan oleh Sani dan terus memeluknya.

Jajang celingukkan mencari orang di sekitar sana takut bila bila Surwa di dapati dalam kondisi seperti itu oleh orang lain. Namun mata Jajang kembali terbelalak saat beberapa gadis ternyata tengah mengawasi Surwa dari kejauhan. Jajangpun mengerti dengan situasi semacam ini dengan sembunyi sembunyi tanpa di ketahui oleh isterinya Jajang memberikan sebilah pisau kepada Surwa dan tersenyum kecut.

Surwa menghembuskan nafasnya kasar dan mengangguk setelahnya, "ayo kita tinggalkan pria ini dia memang pantas mendapatkannya!" ucap Sani menarik tangan Jajang, dengan terpaksa Jajang mengikuti langkah sang isteri dan membiarkan sahabatnya itu melepaskan jeratan tali yang mengikat tubuhnya sendirian.

Jajang dan Sani sampai di sungai, mereka mencuci pakaian dan mandi bersama, memang sudah jadi kebiasaan mereka sebelum fajar nampak dan waktu subuh tiba Jajang dan Sani sering pergi ke sungai untuk mandi karena rutinitasnya di malam hari mengharuskan mereka untuk mandi besar.

Dalam keadaan remang remang mereka seakan berbaur dengan sunyi dan gemercik air yang menerpa tubuh mereka, hembusan nafas terasa sangat nyata menerpa tubuh keduanya.

"Ayo kita kembali." ajak jajang saat melihat sang isteri yang telah selsai mandi, dengan cekatan Jajang membawa bakul tempat mereka membawa pakaian basah yang baru di cuci. Sani mengangguk setuju dan mengikuti langkah sang suami dengan tangan yang selalu bergandengan.

Cinta mereka memang teramat besar antara satu sama lain, namun ambisi mereka untuk memerdekakan tanah airpun tidak kalah besar, mereka sudah berjanji sehidup semati untuk memerdekakan tanah air untuk masa depan anak cucu mereka.

Saat pulang baik Sani ataupun Jajang tidak mendapati Surwa yang semula terikat di batang pohon. Jajang menghembuskan nafasnya kasar dan bersyukur karena Surwa dapat terlepas dari jeratan tali yang mengikatnya.

*

*

*

"Hahaha.. Surwa memang pantas mendapatkan hal itu.. Hahaha.." tawa gadis yang mendengarkan kisah sang kakek tertawa puas.

"Hmmm.. Benarkah?, ya kakek juga merasa begitu!" ucap kakek itu membenarkan.

"Lalu bagaimana kelanjutannya kek?" tanya gadis itu yang kian penasaran dengan kisah Jajang yang membuatnya kini kagum melebihi rasa kagumnya pada idol K-pop yang selalu menjadi idolanya.

"Selanjutnya.. Sani berhasil melahirkan dengan selamat dan melahirkan seorang anak perempuan dan kembali hamil enam bulan kemudian dan melahirkan kembali seorang anak laki laki." jelas kakek itu memberikan penerangan.

"Wah keren, apa kakek tahu siapa nama kedua anak jajang itu?" tanya gadis itu dengan mata yang beebinar.

"Anak perempuan mereka bernama Kejora dan nama anak laki laki mereka bernama Surya." jawab kakeknya dengan senyum tua yang terukir di bibir yang telah berusia lebih dari setengah abad itu.

"Waah luar biasa sekali, meski kondisi seperti itu dan bersembunyi sembunyi namun mereka berhasil memiliki dua anak. Lalu bagaimana perjuangan mereka untuk kemerdekaan tanah airnya?" gadis itu memeperhatikan setiap ucapan kakeknya dengan teliti yang kini mulai kembali bercerita.

"Jajang dan sani hidup damai dalam kurun waktu tidak lama, namun puteri merekapun tumbuh menjadi sehat dan cerdas, namun keadaan mereka tak henti hentinya di bayangi ketakutan, selain mereka yang kini sudah mempersiapkan jiwa raga mereka untuk kehilangan orang orang yang mereka sayangi namun mereka juga tetaplah manusia biasa, ada kalanya merekapun menangis dan memikirkan tentang hidup mereka, namun rasa takut mereka seakan menjadi minyak yang mengguyur api semangat mereka kian berkobar." kakek tua itu mengelus pucuk kepala cucunya penuh sayang.

Gadis itu mengangguk dan merasa sangat salah, dia yang kini hidup damai dan hanya harus belajar di rumah saja mengeluh, sedangkan mereka di zaman dulu bukan hanya tidak dapat belajar mereka juga sangat sulit untuk hidup di kehidupan sehari hari.

"Kek apa semua keturunan Jajang itu sudah tidak ada lagi satupun?" gadis itu kembali bertanya karena dia juga ingin tahu bagaimana nasib keluarga pahlawannya itu saat ini.

"Ada, puteri jajang tidak meninggal dia masih hidup saat sebuah kejadian besar terjadi." jawab kakeknya tersenyum lembut.

"Wahh kejadian apa itu kek?" gadis manis itu penasaran dan akhirnya kembali mendengarkan cerita panjang sang kakek.

*

*

*

Bersambung...

Jangan lupa Like, Komen, dan masukin ke list bacaan kalian ya..

Salam cinta dari Raisa.

Episodes
1 Darah dan lumpur
2 Cinta itu apa?
3 Aku mencintaimu Sani
4 anggukkan
5 Aku masih utuh!
6 Rasa bersalah
7 Adat istiadat
8 Patah arang
9 Nampak jelas belangnya
10 Pinggan pecah
11 Pemberontakan
12 Pengasingan
13 Permohonan maaf
14 Aku mengingat semuanya
15 Kujang
16 Kabar bahagia
17 Kewalat
18 Hari berdarah
19 Tanah air mata
20 Aku serdadumu
21 Kobaran perjuangan
22 Kenangan
23 Senandung jeritan rindu
24 Pembantaian
25 Para Syuhada
26 Pohon kematian
27 Keserakahan pembawa maut
28 Jajang dan Jaka si putera Ibu Pertiwi
29 Jadilah orang yang berguna
30 Pamit
31 Sesuatu yang tidak dapat dibagi
32 Kesatria bayangan
33 Mimpi basah
34 Menyergap
35 Identitas sesungguhnya
36 Rasa ingin tahu
37 Pelajaran pertama
38 Bunga cinta
39 Ingin mengambil hati
40 Siasat Kelam
41 Anu
42 Makna di balik musibah
43 Tidak dapatkan restu
44 Nokhrah cinta
45 Mimpi
46 Keraguan
47 Nampak Udangnya
48 SANI
49 Sastra Sunda
50 Si Mempesona
51 Bos!
52 Mematri dalam hati
53 Tidak terduga
54 Bahan perhatian
55 Sosok istimewa
56 Pertemuan Tidak Sengaja
57 Pria asing
58 Deja vu
59 Rasa aneh
60 Kamu nuaanynya?
61 Acara lelang
62 Pemain Sultan
63 Teman Online
64 Penjamret hati
65 Tantangan
66 Trauma
67 Berubah
68 Salah faham
69 Tamu tak diundang
70 Alik tidak hamil!
71 Kepergian Zahra dan Jaka
72 Ungkapan
73 Kaya raya
74 Posesif
75 Sebuah kisah panjang
76 Siasat Satria
77 Gugup gagap gempita
78 Kehncuran menuju kebabasan
79 Perbedaan Cinta dan pelecehan
80 Wanita lain
81 Tukang sosor
82 TAMAT
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Darah dan lumpur
2
Cinta itu apa?
3
Aku mencintaimu Sani
4
anggukkan
5
Aku masih utuh!
6
Rasa bersalah
7
Adat istiadat
8
Patah arang
9
Nampak jelas belangnya
10
Pinggan pecah
11
Pemberontakan
12
Pengasingan
13
Permohonan maaf
14
Aku mengingat semuanya
15
Kujang
16
Kabar bahagia
17
Kewalat
18
Hari berdarah
19
Tanah air mata
20
Aku serdadumu
21
Kobaran perjuangan
22
Kenangan
23
Senandung jeritan rindu
24
Pembantaian
25
Para Syuhada
26
Pohon kematian
27
Keserakahan pembawa maut
28
Jajang dan Jaka si putera Ibu Pertiwi
29
Jadilah orang yang berguna
30
Pamit
31
Sesuatu yang tidak dapat dibagi
32
Kesatria bayangan
33
Mimpi basah
34
Menyergap
35
Identitas sesungguhnya
36
Rasa ingin tahu
37
Pelajaran pertama
38
Bunga cinta
39
Ingin mengambil hati
40
Siasat Kelam
41
Anu
42
Makna di balik musibah
43
Tidak dapatkan restu
44
Nokhrah cinta
45
Mimpi
46
Keraguan
47
Nampak Udangnya
48
SANI
49
Sastra Sunda
50
Si Mempesona
51
Bos!
52
Mematri dalam hati
53
Tidak terduga
54
Bahan perhatian
55
Sosok istimewa
56
Pertemuan Tidak Sengaja
57
Pria asing
58
Deja vu
59
Rasa aneh
60
Kamu nuaanynya?
61
Acara lelang
62
Pemain Sultan
63
Teman Online
64
Penjamret hati
65
Tantangan
66
Trauma
67
Berubah
68
Salah faham
69
Tamu tak diundang
70
Alik tidak hamil!
71
Kepergian Zahra dan Jaka
72
Ungkapan
73
Kaya raya
74
Posesif
75
Sebuah kisah panjang
76
Siasat Satria
77
Gugup gagap gempita
78
Kehncuran menuju kebabasan
79
Perbedaan Cinta dan pelecehan
80
Wanita lain
81
Tukang sosor
82
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!