Adat istiadat

Deg, jantung jajang terhenti sejenak tak kala di perjalanan dia melihat sesosok orang yang seakan amat dia kenali, kepalanya tiba tiba terngiang ngiang dan pusing.

Jajang hampir terjatuh dari atas pohon, namun sani sigap dan turun dari pelukan jajang dan berbalik memeluk jajang dan mendudukkannya di sebuah dahan besar yang cukup aman.

"Sa ..sakit sekali!", jajang meringis menekan kepalanya yang sekan berdenyut.

***

"Pangeran hidayat...!", deg, suara itu terdengar jelas di telinga jajang namun tak dapat dia lihat sosok yang memanggil nama yang amat familiar di kepalanya.

"Kenapa sayang?", sani memeluk jajang penuh sayang dan mengusap usap kepala jajang yang nampak amat sakit.

Fleshback on.

Istana sebuah kerajaan di sebut sebagai kerajaan martapura nampak dari kejauhan amat tenang, karena memang serba baru.

Baru beberapa tahun saja pusat kerajaan di pindahkan dari sebuah tempat bernama muara kuwin ke muara tambangan kayu tangi dan di sanalah pusat martapura berasal.

Sultan adam yang sudah tua itu sebenarnya telah mewariskan kedudukkannya kepada anaknya bernama sultan abdulrahman.

Tetapi baru beberapa tahun memegang tali pemerintahan, sultan abdulrahman meninggal dunia meninggalkan dua orang putra.

Dari seorang selir bernama pangeran tamjid, sedangkan dari permaisuri yaitu ratu gahara mempunyai seorang putra bernama pangeran hidayat.

Selain sultan abdulrahman, sultan adam masih memiliki seorang putra bernama pangeran anom, ketika sultan abdulrahman wafat seharusnya kerajaan itu masih dapat di turunkan kepada pangeran anom.

Tetapi karena menurut penilaian sultan adam dan beberapa orang kalangan kerabat kerajaan, pangeran anom tidak akan dapat memerintah kendali pemerintahan kerajaan itu karena dia di anggap bodoh dan tidak di senangi rakyat.

Pada saat abdulrahman meninggal pangeran hidayat dan tamjid masih terlalu kecil untuk naik takhta.

Oleh karena itu, kerajaan di pegang kembali oleh sultan adam, kini ia nampak kian menua.

Di sebuah kejadian di mana saat itu sultan adam sedang memberikan nasihat nasihat yang perlu kepada pangeran hidayat, pangeran tamjid pun ikut turut dalam pertemuan kakek dan cucu cucunya itu.

"Cucuku!, hidayat dan tamjid", kata sultan adam dengan suara yang terdengar amat tenang dan syahdu, menunjukkan seorang tua yang sudah penuh ilmu dan pengalaman.

"Aku amat senang kalian berdua datang kemari, baru kali ini aku melihat kalian bersama sama berkumpul denganku, sekali lagi aku teramat senang dapat bertemu dengan kalian bersamaan di sini", sultan adam menunjukkan senyum tuanya yang nampak penuh wibawa.

"Aku akan lebih senang lagi bila kalian dapat hidup dengan rukun cucu cucuku", sultan adam mengelus kedua kepala cucunya.

"Saya juga mengharap demikian, kakek", sahut pangeran hidayat menundukkan pandangannya.

"Aku sudah tua cucu cucuku, rasanya sudah tidak sanggup lagi memegang kendali kerajaan ini lagi, kelak bila hidayat telah naik takhta, tamjid juga harus turut membantu adikmu ini", kata sultan adam sembari menatap lembut ke arah pangeran tamjid.

Sultan adam meneruskan nasihatnya, "menurut garis keturunan, yang berhak menerima warisan kerajaan ini adalah hidayat, karena dia adalah anak abdulrahman dan permaisuri", ujar sultan adam melirik ke arah pangeran hidayat.

"Tapi aku akan bergembira bila tamjid juga turut membantu hidayat, karena walau bagaimanapun dia lebih muda dari engkau, tamjid", sekali lagi sultan adam melirik kepada cucunya tamjid yang masih menunduk.

Namun pada akhirnya tamjid angkat bicara, "saya tidak senang tinggal di istana, saya lebih baik mencari teman di luar istana bila saya tidak akan menjadi raja padahal kami sama sama putra ayah dan lagipun aku adalah putra sulung", ucap pangeran tamjid mengucapkan keinginannya menjadi seorang raja.

Hati sultan adam menjadi terenyuh mendengar kata kata dari cucunya ini, lalu dia kembali berbicara dengan nada datar namun masih terdengar lembut.

"Jika menurut keturunan memanglah seperti itu, namun.., kita harus tahu adat kerajaan", kata sulatan adam menjelaskan.

"Yang berhak menerima warisan kerajaan itu dialah anak tertua dari permaisuri, adat itu sudah turun temurun dan masih bertahan hingga sekarang", tegas sultan adam melamjutkan keterangannya.

Dalam hati sultan adam bertanya tanya mengapa cucunya berkata demikian dia khawatir bila perasaan buruknya jadi berlarut larut.

"Sebaiknya mulai sekarang kalian harus mulai belajar meminmpin pemerintahan dan bahu membahu membangun kerajaan dan memakmurkan masyarakat dan kalian jangan memandang soal perbedaan ibu", nasihat lagi dari sultan adam.

Mata pangeran tamjid nampak memerah menahan amarah yang menggebu di dadanya, " tapi bila tidak membeda bedakan soal ibu, mengapa kerajaan ini harus diserahkan kepada hidayat saja?", tanya pangeran tamjid memotong perkataan sultan adam.

"Kita diingatkan kembali oleh adat, tamjid!", ucap kakeknya lagi, nadanya belum berubah tetap tenang, yang kemudian pangeran hidayat ikut bersuara.

"Baiklah kakek, maafkan saya bila yang saya katakan ini benar, mohon di terima namun bila salah mohon kakek memberikan petunjuk", ucap pangeran hidayat menundukkan pandangannya menghormati kakek yang menjadi suri tauladannya.

"Kau mau bicara apa hidayat?", tanya sultan adam dengan suara lirih.

"Bila apa yang di katakan oleh tamjid benar, maka saya bersedia memberikan warisan ayah kepada tamjid, mungkin dia lebih pandai dari saya, dan mungkin dia lebih berkeinginan untuk naik takhta".

"Kakek amat tertarik dengan kata katamu itu hidayat, kau benar benar orang yang baik budi, kakek lebih setuju bila kerajaan ini kau pegang, tapi bukan karena itu saja aku serahkan kerajaan ini kepadamu saja, kita dapat merubah aturan, namun amat sukar untuk merubah adat, adat kita merupakan adat kerajaan", jelas kembali sultan adam merasa amat sayang pada pangeran hidayat.

"Tapi mengapa orang asing dapat mengubah adat kita, misalnya para pendatang dari batavia mereka menentukannya dengan cara memilih", kata pengeran tamjid menyela perkataan kakeknya.

Untuk kedua kalinya hati sultan adam terkejut mendengar ucapan tamjid, tanda tanya dalam pikirannya kian menjadi jadi.

"Mengapa kau mengambil contoh orang orang orang pendatang itu tamjid?", tanya kakenya dengan penuh kecurigaan, "sejak kapan kau berhubungan dengan orang asing yanh mau menjajah kita itu?".

Pangeran tamjid tidak menyahut, dia keseleo lidah mengucapkan hal yang sepatutnya dia tutupi, "saya tahu dan hanya tahu saja kek!", katanya dengan suara yang sangat rendah.

"Tapi tamjid lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya, adat tiap tiap bangsa itu berlainan, di mana bumi di pijak di situ langit di junjung, kita harus taat dan patuh kepada adat dan aturan setempat, kita berada di kerajaan martapura, adat dan aturan martapuralah yang patut di junjung tinggi".

Bersambung...

( bila pembaca sekalian merasa tidak nyambung dengan ceritanya, cerita ini adalah cerita yang di adaptasi dari ingatan jajang, nah.. siapa jajang sebenarnya?, terus di baca ya kawan!").

Terpopuler

Comments

@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥

@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥

tamjid harus nya nyadar diri dong dia anak siapa, kalau jaman sekarang selir tuh istri simpanan 🤣tetap lah yang berhak jdi raja pangeran hidayat yg jelas jelas anak raja dan permaisuri.

2022-12-22

4

lihat semua
Episodes
1 Darah dan lumpur
2 Cinta itu apa?
3 Aku mencintaimu Sani
4 anggukkan
5 Aku masih utuh!
6 Rasa bersalah
7 Adat istiadat
8 Patah arang
9 Nampak jelas belangnya
10 Pinggan pecah
11 Pemberontakan
12 Pengasingan
13 Permohonan maaf
14 Aku mengingat semuanya
15 Kujang
16 Kabar bahagia
17 Kewalat
18 Hari berdarah
19 Tanah air mata
20 Aku serdadumu
21 Kobaran perjuangan
22 Kenangan
23 Senandung jeritan rindu
24 Pembantaian
25 Para Syuhada
26 Pohon kematian
27 Keserakahan pembawa maut
28 Jajang dan Jaka si putera Ibu Pertiwi
29 Jadilah orang yang berguna
30 Pamit
31 Sesuatu yang tidak dapat dibagi
32 Kesatria bayangan
33 Mimpi basah
34 Menyergap
35 Identitas sesungguhnya
36 Rasa ingin tahu
37 Pelajaran pertama
38 Bunga cinta
39 Ingin mengambil hati
40 Siasat Kelam
41 Anu
42 Makna di balik musibah
43 Tidak dapatkan restu
44 Nokhrah cinta
45 Mimpi
46 Keraguan
47 Nampak Udangnya
48 SANI
49 Sastra Sunda
50 Si Mempesona
51 Bos!
52 Mematri dalam hati
53 Tidak terduga
54 Bahan perhatian
55 Sosok istimewa
56 Pertemuan Tidak Sengaja
57 Pria asing
58 Deja vu
59 Rasa aneh
60 Kamu nuaanynya?
61 Acara lelang
62 Pemain Sultan
63 Teman Online
64 Penjamret hati
65 Tantangan
66 Trauma
67 Berubah
68 Salah faham
69 Tamu tak diundang
70 Alik tidak hamil!
71 Kepergian Zahra dan Jaka
72 Ungkapan
73 Kaya raya
74 Posesif
75 Sebuah kisah panjang
76 Siasat Satria
77 Gugup gagap gempita
78 Kehncuran menuju kebabasan
79 Perbedaan Cinta dan pelecehan
80 Wanita lain
81 Tukang sosor
82 TAMAT
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Darah dan lumpur
2
Cinta itu apa?
3
Aku mencintaimu Sani
4
anggukkan
5
Aku masih utuh!
6
Rasa bersalah
7
Adat istiadat
8
Patah arang
9
Nampak jelas belangnya
10
Pinggan pecah
11
Pemberontakan
12
Pengasingan
13
Permohonan maaf
14
Aku mengingat semuanya
15
Kujang
16
Kabar bahagia
17
Kewalat
18
Hari berdarah
19
Tanah air mata
20
Aku serdadumu
21
Kobaran perjuangan
22
Kenangan
23
Senandung jeritan rindu
24
Pembantaian
25
Para Syuhada
26
Pohon kematian
27
Keserakahan pembawa maut
28
Jajang dan Jaka si putera Ibu Pertiwi
29
Jadilah orang yang berguna
30
Pamit
31
Sesuatu yang tidak dapat dibagi
32
Kesatria bayangan
33
Mimpi basah
34
Menyergap
35
Identitas sesungguhnya
36
Rasa ingin tahu
37
Pelajaran pertama
38
Bunga cinta
39
Ingin mengambil hati
40
Siasat Kelam
41
Anu
42
Makna di balik musibah
43
Tidak dapatkan restu
44
Nokhrah cinta
45
Mimpi
46
Keraguan
47
Nampak Udangnya
48
SANI
49
Sastra Sunda
50
Si Mempesona
51
Bos!
52
Mematri dalam hati
53
Tidak terduga
54
Bahan perhatian
55
Sosok istimewa
56
Pertemuan Tidak Sengaja
57
Pria asing
58
Deja vu
59
Rasa aneh
60
Kamu nuaanynya?
61
Acara lelang
62
Pemain Sultan
63
Teman Online
64
Penjamret hati
65
Tantangan
66
Trauma
67
Berubah
68
Salah faham
69
Tamu tak diundang
70
Alik tidak hamil!
71
Kepergian Zahra dan Jaka
72
Ungkapan
73
Kaya raya
74
Posesif
75
Sebuah kisah panjang
76
Siasat Satria
77
Gugup gagap gempita
78
Kehncuran menuju kebabasan
79
Perbedaan Cinta dan pelecehan
80
Wanita lain
81
Tukang sosor
82
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!