Pemeriksaan kesehatan berjalan cukup baik di lakukan oleh seorang tabib di desa itu, dan sore tiba, berdasarkan tradisi dan kepercayaan setempat orang yang akan menikah di larang bertemu dan hanya bertemu setelah acara pernikahan selesai di tempat yang sudah di tetapkan.
Upacara pernikahan di langsungkan dengan sangat baik, bahkan pendeta mengatakan meski mereka akan terpisah cukup lama namun pada akhirnya mereka akan bersama di keabadian.
(Sedikit info bila kepercayaan yang mereka anut adalah sebuah kepercayaan nenek moyang, yaitu kepercayaan sanghiang, kepercayaan itu amat lekat dengan tanah pasundan ya kawan).
Sebuah tempat istimewa yang sudah di siapkan warga desa menempatkan sani duduk di sebuah rumah pohon penuh bunga bermekaran.
Jajang tiba dengan wajah memerah menatap kecantikan sani, sani menunduk malu pada dasarnya jajang yang sudah di ajari untuk menggoda wanita itupun langsung mendekat.
"Adinda amat cantik!", ucap jajang menyentuh pipi sani, sani kian menundukkan wajahnya dengan cahaya bulan yang menerobos memasuki jendela.
(Kalian bayangkan sendiri apa yang terjadi malam itu, author langsung menuju keesokan paginya).
Keesokan paginya sani merasakan pegal luar biasa di sekujur tubuhnya dan melihat bercak merah di kain putih di atas tempat tidurnya.
Di luar jajang sudah membakar ikan dan menanak nasi untuk sang istri, dengan malu malu jajang memasuki kamar yang sudah membuatnya merem melek semalaman.
"Ee.. Sa..sayang.. Makan dulu!", jajang menyimpan pasakannya di atas meja kayu, sani menggelengkan wajahnya melihat perubahan sikap jajang yang begitu berbeda.
"Ayo makan bersama!", sani menarik lengan jajang hingga duduk di atas ranjang yang terbuat dari akar tumbuhan.
"Ba..baiklah, terima kasih", jajang amat gugup melihat begitu banyak tanda merah di leher dan sekitar dada istrinya.
"Itu...anu.. maaf sudah melakukan hal itu berlebihan", jajang menunduk malu dan merasakan hawa panas di sekitar wajahnya.
"Tidak juga, kita menikmatinya bersama jangan merasa bersalah sendirian", ucap sani dengan senyum manisnya yang mengembang di sudut bibirnya.
Jajang tersipu dan mulai mendekat memakan masakannya bersama sang istri, "di sekitar sini di mana sungai?", tanya sani melihat ikan yang di masak jajang.
"Apa ikannya kurang?, aku akan ambil lagi bila kurang!", jajang bangkit namun sani menghentikannya.
"Tidak tidak!, aku hanya ingin mandi!", seru sani menarik kembali lengan jajang.
"Ada, di dekat sini ada sungai!", seru jajang tersenyum lembut, sani bangkit namun daerah kewanitaan dan pinggangnya terasa sakit dan linu, sani meringis merasakan pinggangnya yang sangat berdenyut.
"Aw...ssss...sakit banget!", sani menekan pinggulnya jajang yang melihat itu jadi kian merasa bersalah, dia mengangkat tubuh sani dan membawanya turun ke bawah pohon dan di lihat di bawah sana amat dekat dengan sungai kecil yang mengalir dengan ikan yang berjoget mengikuti liuk aliran air.
Sani sudah tak perduli bila jajang melihat tubuhnya, dia membuka pakaiannya di hadapan jajang, jajang melotot dan memalingkan wajahnya.
"Aa..aku mau bereskan bekas makan dulu!", seru jajang kembali ke atas mengambil bekas makanannya dan melihat darah yang tertempel di atas kain putih di atas ranjang yang terbuat dari akar pohon dan kasur dari kapas yang lembut dengan kain putih menutupinya.
Jajang menatap lembut, rasa bersalah kian menyelimuti hatinya, jajang melihat ke bawah dan menatap sani yang nampak sudah hampir selesai mandi, jajang turun dengan cepat dan langsung mengangkat tubuh sani sebelum sani berpakaian.
"I..ini kenapa?", sani gelagapan dengan pakaiannya yang dia peluk tanpa dia kenakan, dengan kulit kuning langsat yang berkilau saat matahari menyinari kulit indahnya.
"Dimana yang sakit?", tanya jajang langsung melihat sekitar tubuh sani.
"Ada apa?", tanya sani melihat kelakuan suaminya yang nampak sangat aneh.
"Ini... Ini... Darah..!", jajang gemetar mendudukkan sani di atas ranjang dan mengusap tangan sani.
"Tidak apa apa!, itu memang biasa bagi yang pertama melakukan hubungan suami istri, jangan takut!", seru sani mengangkat dagu suaminya.
"Maaf..!", ucap jajang penuh penyesalan, sani tersenyum dan mengecup bibir indah suaminya.
"Aku tidak apa apa sayang!", sani sangat tahu sifat jajang yang polos dan naif, jajang pasti sebenarnya tidak tahu apa yang telah dia lakukan, dan sudah pasti bila surwa yang mengajarinya untuk kejadian malam tadi.
"Satu hal lagi, setelah melakukan hal seperti itu, kita akan punya putra atau putri jadi bersiaplah menjadi ayah!", ucap sani tersenyum lembut, wajah jajang memerah dengan mata yang terbelalak, dia amat bahagia meski belum tentu perut sani sudah terisi jabang bayi.
"Aku mau jadi ayah!", seru jajang penuh semangat dan sangat bahagia.
"Jadi kalo mau jadi ayah jangan ragu ragu untuk melakukan hal seperti malam, mengerti!", sani tersenyum lembut, namun jajang kembali menunduk sedih.
"Tapi nanti berdarah lagi dan lagi, nanti sakit lagi..", jajang berucap lirih menundukkan pandangannya.
"Berdarah itu hanya untuk pertama kali sayang tidak seterusnya, percaya sama aku!", sani memberikan kepercayaan pada jajang, jajang mengangguk mengerti.
"Itu.. Anu.. Apa boleh sekarang aku melakukannya lagi seperti semalam?", mata sani terbelalak mendapatkan pertanyaan dari jajang.
"Tidak sayang, kita melakukan itu hanya di malam hari, bila siang kita juga harus melakukan kegiatan kita di siang hari, kita sudah berumah tangga jadi kita juga harus mempersiapkan rumah dan menghiasnya, mempersiapkan barang barang buat bayi dan nabung makanan untuk masa depan", seru sani tersenyum tulus.
"Apakah itu berarti kita juga akan membuat rumah di desa?", jajang bertanya penuh semangat, sani mengangguk dan tersenyum lembut.
"Iya, jadi kita harus melakukannya hanya di malam hari", sani menjelaskan dengan caranya, jajang mengangguk dan nampak sangat bersemangat.
"Ayo!, kita ke desa!", seru jajang, sani terdiam sejenak mengingat bagaimana sakit pinggangnya.
"Kita ke desanya besok saja ya!", sani tersenyum paksa, jajang berpikir dengan otak polosnya, deg jajang kembali teringat bila istrinya pasti sekarang tengah kesakitan.
"Tidak apa apa, ayo!", jajang mengangkat tubuh sani sangat ringan.
"Aku belum berpakaian sayang!", sani mengeluh melihat tubuhnya yang baru tertutupi bagian depan.
Jajang tersenyum kaku, dia menutup matanya sungguh bodoh kelakuannya dan kembali mendudukkan sani, "maaf!", ucap jajang lirih , sani mengangguk dan mengenakan pakaiannya.
Jajang menunggu sani dengan memalingkan wajahnya, setelah dirasa sani telah selsai mengenakan pakaiannya jajang berbalik menatap sani yang sudah aiap.
Jajang dengan sigap mengangkat tubuh mungil sani, bergelayun ke bawah pohon dan loncat ke atas pohon di sampingnya, di jaman itu memang banyak ilmu kanuragan dan berbagai jenis hal untuk meringankan tubuh, begitupun jajang yang memang sering berlatih dengan pak sukri mengenai ilmu ilmu kanuragan guna melindungi diri.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥
jajang polos banget sih kamu tapi ga nyangka juga kamu garang juga di ranjang sampai badan sani kaya macan tutul merah2🤣
2022-12-22
1
@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥
kita sama sama dari tanah pansundan🤣
2022-12-22
1
范妮·廉姆
AK mampir ya hehe
2022-12-17
1