Pangeran hidayat dan pangeran tamjid membisu, tapi hati tamjid berlaian, dia lebih baik mengambil jalan lain, kemudian sultan adam memberikan nasihat kepada kedua cucunya itu.
"Hati hatilah hidayat, dengan orang asing yang di sebutkan tamjid tadi, mereka berpura pura baik dan ramah kepada bangsa kita, padahal mereka berhati busuk, mereka ingin menguasai dan menjajah tanah kita, bebagai pemberontakan di daerah lain telah sering terjadi", kata sultan adam menasihati cucunya.
"Jangan coba coba mendekati mereka, apa lagi bersahabat, mereka pandai menanam tebu di bibir, manis mulut namun busuk di hati, itulah sifat bangsa penjajah", sultan adam mewanti wani kedua cucunya.
"Saya akan terima amanat dan pesan dari kakek, mudah mudahan saya dapat melaksanakannya", sahut pangeran hidayat.
"Bagaimana kau tamjid?", tanya sultan adam melihat tamjid yang masih membisu.
"Saya serahkan segalanya kepada hidayat sebagai kepercayaan kakek", jawabnya, " saya akan menempuh jalan saya sendiri".
Sultan adam tersenyum, dengan sopan tamjid meminta diri dari istana, kakeknya tidak dapat menahannya, setelah tamjid sudah tidak tampak lagi maka sultan adam mengingatkan kepada hidayat.
"Kau tentu mengerti, dengan tindakan tamjid tadi, hati hatilah dengannya, dia tentu akan meminta bantuan pada para orang asing itu".
***
Malam itu juga pangeran tamjid menemui teman temannya, wajahnya nampak memerah dengan dada bergetar penuh amarah, di antara kawan yang dia temui, mendapati seorang kawan dekatnya pieters.
Malam ini mereka melakukan pertemuan rahasia, di antara mereka nampak orang orang yang tengah berfoya foya, minum minum dan berjudi bahkan tanpa malu ada di antara mereka tengah bercinta di antara kerumunan orang lainnya.
Sejak usia belia tamjid memang sering sekali bergabung dengan mereka, dia merasa senang dan tidak tertekan dengan peraturan keraton yang baginya sangat merepotkan.
"Jika sultan adam meninggal maka yang berhak mendapatkan warisan dariinya adalah engkau tamjid", kata pieters menanamkan sebuah bibit yang amat buruk.
"Kau benar pieters aku adalah anak sulung dan sudah sepatutnya takhta jatuh ke tanganku, tapi sayangnya kakek mengatakan bila aku adalah anak selir dan tidak berhak mendapatkan warisan itu, dan hidayatlah yang putra dari permaisuri yang harus meneruskan takhta kerajaan", ucap tamjid merasa dongkal dengan adiknya sendiri.
"Mengapa demikian?", tanya pieters yang pura pura bodoh.
"Kita harus menjunjung adat, adat tidak boleh di langgar", ucap pangeran tamjid menjelaskan.
"Ah.. itu hanya karena kakekmu saja yang memang lebih menyayangi hidayat, padahalkan yang sebenarnya anak laki laki sulunglah yang berhak mendapatkan takhta", kata peaters.
"Sebenarnya ayahku sudah tahu masalahmu, pernah aku bicaa dengan ayahku dia mengatakan mendukung penuh, jika kelak engkau menjadi sultan, kau tahu ayahku seorang opsir dan mempunyai banyak anak buah meraka punya perlengkapan senjata yang cukup banyak", ucap pieters dengan sebuah seringai di bibirnya.
"Itulah yang kini sedang kupikirkan", ujar tamjid, dengan seorang wanita cantik tangah sedari tadi terus menggoda dan menyentuh bagian tubuh sensitif tamjid.
"Jangan khawatir pangeran aku akan selalu mendukung perjuanganmu pangeran", ucap seseorang yang berada di sebrang pandangan tamjid dengan dua wanita yang mengapingnya yang merupakan seorang koter yang bertubuh kekar dan tegap itu.
Setelah tersenyum pahit yang berubah manis karena sebuah ciuman wanita di sampingnya pangeran tamjid kemudian berkata lagi.
"Aku bukan takut pada kakek ataupun hidayat, tapi yanh ku pikir lebih jauh dari itu, karena hidayat lebih di senangi oleh orang orang di kalangan keraton dan rakyat".
"Ah, soal itu saja kenapa kau pikirkan pangeran?", seorang pribumi yang memang sering menemani pangeran tamjid bersuara dia bernama antang leman.
"Betul pangeran", tambah peaters, "kalangan keraton menghargai hidayat karena kakekmu masih hidup, kalau sudah tidak ada lagi, dan kau cepat bertindak tentu merekapun akan tetap menghargai engkau sebagai seorang sultan, dan sekali lagi aku ingatkan, kau jangan pernah takut kehilangan pengikit, pengikutmu akan jauh lebih banyak dari pada pengikut hidayat", kata peaters lagi memberikan pandangan.
Kemudian sekali lagi pengeran hidayat kembali termenung, namun wanita yang sedari tadi di sampingnya memegang benda sensitif tamjid hingga menggeliat nikmat dan mengecup wanita itu dengan buas, dan nenghentikan aktifitasnya kemudian dan diapun kembali berkata.
"Kalian benar kawanku aku telah berpikir sepintas, apakah aku harus menunggu kakek meninggal, lalu merebut kekuasaan, ataukah aku harus menyingkirkan hidayat?", pangeran tamjin kembali meraung kenikmatan sesudahnya saat di bagian bawah celanya telah hidup dan terus di elus penuh nafsu oleh wanita di sampingnya.
Pieters lebih cepat berpikir, "soal kakekmu itu tak usah di tunggu matinya, toh sekarang dia sudah tua, sebentar lagi juga masuk kubur, sekarang yang penting bagi kita adalah menyingkirkan hidayat".
"Tapj kau harus ingat pieters", peringatan di berikan pangeran tamjid, "jika hidayat menyingkir, saat kakek masih ada tak akan ada gunanya karena masih ada pamanku seorang lagi yang tentu berhak pula menerima warisan dan tkhta kerajaan".
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥
pantas saja rakyat tidak suka sama kamu tamjid, bersekutu dengan musuh negeri kita sendiri,mabuk, judi, maen cewek.
2022-12-22
1