Alangkah sedihnya perasaan pangeran hidayat, bukan sedih karena kekuasaan dipegang oleh Tamjid, tapi yang dia khawatirkan adalah karena di belakang Sultan Tamjid berdiri orang orang asing. Pangerah Hidayat berpikiran bahwa sebenarnya Sultan Tamjid tidak berkuasa apa apa, dia hanya di jadikan sebagai boneka. Gerak kekuasaannya diatur oleh pihak orang asing. Dan memang pemikiran Pangeran Hidayat sama sekali tidak meleset.
"Kau masih beruntung, tidak kami binasakan," kata Sultan Tamjid. "Aku percaya, dengan jabatan Mangkubumi sekarang, kau dapat berkerja sama. Aku masih menghargai kau sebagai saudaraku, Hidayat," tambah Sultan Tamjid dengan angkuhnya.
"Bagiku jabatan itu tidak penting. Aku merasa dihina dengan jabatan itu," jawab Pangeran Hidayat. "Orang orang asing itu telah membungkam mulut dan menutup matamu Tamjid, mereka telah memenjarakanku dengan cara seperti ini. Yang mengangkat aku menjadi Mangkubumi bukan engkau sendiri, tapi kau di dikte oleh mereka. Tamjid, mengapa kau belum juga sadar akan itu?". Lidah Pangeran Hidayat serasa kelu setelahnya, dia tak mampu kembali bersuara setelah mengucapkan sebuah penginsafan kepada Sultan Tamjid.
"Tidak Hidayat!, itu adalah kebijaksanaanku. Mengapa kau menuduhku yang bukan bukan?".
Habis sudah kata yang ingin di ucapkan Pangeran Hidayat dia sudah tidak mampu lagi bersuara, namun dia kembali berfikir haruskah dirinya membiarkan saudara satu satunya itu tersesat dan melangkah ke arah yang salah.
"Tamjid, kau tidak merasakan itu semua, karena kau telah perlahan di cekoki oleh orang orang asing itu. Dari pada aku dijadikan boneka mereka, lebih baik aku dihentikan dari jabatan yang memuakkan ini. Keluarkan aku dari sini!. Adililah aku!, bunuhlah aku bila itu memang putusanmu nanti begitu," ucap pangeran Hidayat dengan kata kata yang lebih berani.
Sultan Tamjid dan pihak asing memang pernah berpendapat untuk membunuh Pangeran Hidayat. Tetapi setelah dipikirkan masak masak, jika Pangeran Hidayat dibunuh, tentu rakyat akan berontak lebih hebat lagi. Karena rakyat masih mengharapkan Pangeran Hidayat untuk menjadi Sultan. Sedangkan pengangkatan Tamjid menjadi sultan sama sekali tidak mendpatkan dukungan dari rakyat. Dia mendapatkan sepenuhnya dukungan dari orang orang asing, terbukti dengan beberapa pemberontakan yang tengah terjadi, mereka menuntut Sultan Tamjid untuk turun takhta dan kembali takhta kekaisaran diserahkan kembali pada Pangeran Hidayat.
"Bagaimana dengan rencana pengangkatan aku menjadi kiai di Batang Balangan, Tabalong kiwa dan Tabalong Kanan, Tamjid?" tanya Pangeran Hidayat.
Sebelum menyahut Suntan Tamjid tersenyum pahit. "Aku akan tarik kemali pengangkatan itu. Kupikir bila aku membiarkan kau pergi kesana sama saja dengan membiarkan kembali ikan ke air, ibarat belut pulang ke lumpur. Bukankah engkau sakit hati? Kau akan kembali menyusun kembali kekuatan. Lalu balas dendam, merubuhkan kerajaan ini. Begitulah niatmu sebenarnya kan Hidayat?".
"Terlalu tajam dan terlalu jauh pikiran itu, Tamjid. Aku tak butuh kerajaan" kata Pangeran Hidayat. Tapi segera terpotong oleh Tamjid
"Tapi aku bukan anak kecil lagi, Hidayat. Aku pun dapat menggunakan otak," sahut Sultan Tamjid.
"Aku percaya kau bukan anak kecil, tapi kenapa kau belum juga sadar bila pihak orang orang asing itu telah mengancam dirimu......" sahut Pangeran Hidayat lagi. Tapi untuk kedua kalinya Sultan Tamjid memotong omongan dari Pangeran Hidayat.
"Sudahlah, Hidayat. Kau tak perlu bicara macam macam. Jika kau berketetapan hati ingin menjadi kiai, aku kabulkan kelak, bila kau dapat meredakan pemberontakan yang berada di Benua Lima, Nagara, Alabiu, Sungai barat, Amuntai dan Kalua. Bagaimana pendapatmu?".
Pangeran Hidayat termenung sejenak. Apakah mungkin dalam hal ini dia dapat membalikkan keadaan dan menyerang pihak asing untuk memanfaatkan keadaan.
"Berapa ratus kau akan kirimkan aku serdadu?", sambil tersenyum. Tamjid berkata. "Satu, engkau sendiri. Bila kau tidak dapat memadamkannya aku tak segan segan akan membunuhmu".
Pengajuan Sultan Tamjid kepada Pangeran Hidayat itu untung untungan, jika dia dapat memenangkan keadaan di sana. Dia akan membiarkan saudaranya itu tetap hidup. Tetapi jika kembali memberontak, Suntan Tamjid beranggapan karena dirinya mempunyai serdadu serdadu asing untuk menumpas Pangeran hidayat. Namun bagi Pangeran Hidayat, keadaan ini akan dia gunakan untuk melarikan diri.
Pangeran Hidayat berangkat, tentu saja dirinya tak sendirian. Dirinya berangkat bersama para pasukan orang asing. Dia di tempatkan di depan, bukan menjadi pimpinan perang, tetapi sebagai umpan.
Alangkah sedihnya hati Pangeran Hidayat ketika melihat bila di pihak lawan kebanyakan adalah rakyatnya sendiri.
"Turunkan Tamjid, tumpas para penjajah", teriak mereka rakyat yang tengah memberontak.
Ketika perang itu akan berkecamuk lebih hebat, Pangeran Hidayat segera melepaskan diri dari pasukan Sultan Tamjid dan segera bergabung dengan pasukan rakyat yang di pimpin oleh Aling. Pasukan lainnyapun berdiri dengan jumlah pasukan kurang lebih 300 orang yang di pimpin oleh Antasari.
Pemberontakan pemberontakan itu tak pernah padam. Malah semakin timbul di mana mana. Karena terdesak akhirnya pihak asing kembali meminta bantuan ke Batavia.
Pada waktu itu serangan pasukan gabungan di tujukkan ke Pangeran yang ketika itu dipertahankan oleh seorang letnan. Keesokan harinya semua Bangsa Eropa yang ada di perkebunan Gunung Jabuk, kira kira dua kilometer dari Pangaron, habis di bunuh oleh pihak pemberontak. Selain itu nasib yang sama menimpa pula kepada bangsa Eropa yang ada di tambang batu bara Sungai durian.
Sebuah kapal perang Bangsa asing datang dengan nama Arjuno, datang membawa bala bantuan yang di kepalai oleh A.J. Andersen. Ketika sampai di pelabuhan, Andersen segera mengirimkan surat kepada Pangeran Hidayat.
Kita bersahabat. Kami mengharapkan kesediaan Pangeran untuk berdamai dengan pihak kami. Karena kami yakin bahwa pemberontakkan ini sebenarnya atas suruhan Pangeran Tamjid sendiri.
Demikianlah tulis surat tersebut.
Tapi apa kata pangeran hidayat pada pengikut pengikutnya.
"Itulah siasat busuk mereka, jangan hiraukan seruan damai yang di kumandangakan mereka. Itu hanyalah sebuah isyarat bahwa mereka akan mengadu dombakan kita. Kemungkinan kedudukan Sultan Tamjid dalam keadaan goyah. Akhirnya mereka akan mencaplok kerajaan".
Surat itu tak di hiraukan sama sekali. Peperangan terus berlangsung. Kemudian pihak orang asing mngirimkan kembali sebuah armada yang terdiri dari 144 orang serdadu lengkap dengan senjatanya. Mereka di angkat menggunakan kapal Cipanas. Tapi kedatangan bala bantuan ini cepat mendapatkan penyerangan dari rakyat. Kapal itu akhirnya kembali lagi menuju asal. Kemenangan lain akhirnya kembali di raih oleh pihak pemberontak. Pos pertahanan di Tambanio dapat di hancurkan dan kepala pos itu bernama Mauritz terbunuh.
Mendengar berita yang mengerikan itu Sultan Tamjid menjadi cemas, hatinya sama sekali tidak tentram. Pikirannya kacau, kadang kadang timbul niat akan menyerah kepada Pangeran Hidayat.
'Tapi Hidayat tidak mungkin menerima'. Katanya dalam hati.
"Tuan Sultan, tuan tidak usah bimbang", tiba tiba Andersen berkata kepada Sultan Tamjid. "Tuan tetap saja menjadi Sultan , untuk mengatur pemerintahan, biarlah kami yang menjalankan".
Tentu saja kata kata itu cukup mengejutkan hati dan perasaan Sultan Tamjid. Dia tak mengira, seakan akan pihak orang asing itu mengetahui isi hatinya. Bila dia tidak mau tentu saja dirinya sendirilah yang akan terancam, bila dia menerima putusan itu tentu saja dirinya juga masuk perangkap juga.
Sekarang dirinya berada dalam cengkraman kuku mereka. Tetapi dia merasa pikiran untuk memperbaiki diri telah terlambat. Dia terpaksa menerima putusan mereka.
Rasa ingin bertobat kini muncul dalam hati kecil Sultan Tamjid, penyesalan yang tidak terkira tengah diarasakan, semua ucapan ucapan Pangeran Hidayat kembali terngiang ngiang di kepalanya.
'Hidayat maafkan aku adikku', ucap hati kecil Sultan Tamjid penyesalan itu kian terasa memenuhi sanubarinya, namun dirinya yang ingin memberontakpun percuma karena dirinyapun tengah dalam bahaya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥
Percuma kamu menyesalinya tamjid, sekarang pihak asing sudah bisa mengendalikan mu, dan kamu lebih percaya pihak asing daripada saudara mu sendiri.
2023-01-12
1
jeamona trymrr
aku like dulu ya nanti di baca di wktu luangku
2022-12-11
8
Sneha♥️
semangat kak
2022-12-10
3