Jajang menatap Sani lembut dan tersenyum setelahnya, dia menaiki tangga membawa daun pisang yang mana ikan di dalamnya terbungkus sempurna.
"Ayo makan!" Jajang dengan senyumnya mengajak sang isteri untuk menikmati masakan karya tangannya. Sani mengangguk dan berjalan mendekat ke arah Jajang.
Dengan hikmat Jajang dan Sani menyantap ikan bakar yang sangat terasa gurih di lidah, tak henti hentinya Jajang menatap setiap lekuk wajah Sani hingga membuat wanita itu salah tingkah. Dalam ingatan Jajang sekalipun dia sering melihat banyak wanita keraton yang sangat sering melakukan perawatan kulit namun dia tidak pernah melihat wanita yang begitu cantik seperti Sani.
Wajah Sani bersemu kemerahan merasakan desiran hebat di dadanya, sejak awal wanita itu memang sudah menaruh rasa pada Jajang dan kini sikap Jajang yang kian dewasa membuat dirinya kian jatuh cinta. Pencitraan dalam sosok Jajang memang amat sulit di gambarkan namun dengan pasti dia pria gagah dengan sejuta pesonanya.
"Kenapa terus memandangiku?, Apa ada yang salah dari wajahku?" tanya Sani terang terangan bertanya pada Jajang.
"Tidak ada, aku hanya merasa selalu jatuh cinta saat melihatmu, apa itu salah?" Jajang berkata tanpa rasa berdosa menggoda isterinya yang sejak semula sudah bersemu. Sontak saja perkataan Jajang barusan mampu membuat wajah Sani kepanasan nampak jelas ekspresinya dari wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.
"Berhentilah menggodaku!" cibir Sani dan sontak saja membuat Jajang semakin gemas dengan kelakuan isterinya.
...
Setelah suasana makan yang membuat dada Sani terlonjak lonjak kini dia juga harus melihat pemandangan yang sangat mendebarkan, terlihat jajang yang nampak tengah mandi di sungai kecil terguyur air dengan bertelanjang dada.
"Ya ampun dia sangat sempurna," dengan wajah merona sani amat menikmati pemandangan yang sangat memanjakan mata itu.
Sekilas Jajang melihat Sani yang tengah memperhatikannya sontak saja Sani berubah menjadi salah tingkah, Jajang terkekeh geli, Sani memalingkan wajahnya dan melihat dinding dinding kamar yang terbuat dari batang batang pohon.
Namun karena penasaran Sani kembali melihat ke arah tempat di mana Jajang tengah mandi namun Sani kembali terbelalak dikarenakan Jajang kini tak ada di tempatnya, Sani amat terkejut dia cepat cepat turun mengawasi sekitar meneliti setiap sudut tempat itu mencari sosok jajang yang tidak nampak di matanya.
"Suami... Kang... ?" Sani berteriak memanggil manggil suaminya namun dia tak kunjung mendapati suami tercintanya, kerisauan melanda hati Sani dia menatap langit yang kian menua dengan warna jingga sebagai latarnya. Sani mengigit bibir bawahnya merasa khawatir, matanya tak henti henti memandangi setiap sudut tempat di sekelilingnya dan kembali Sani berteriak.
"Suami?... Dimana.. Suami..?" Deg, jantung Sani kembali terlonjak saat seseorang meraih lengannya, dirinya yang memang sudah cukup ahli dalam ilmu bela diri lantas berbali menyerang dengan tangan yang sebelahnya, namun tangannya terhenti di tengah jalan saat melihat yang menariknya adalah Jajang.
Jajang tersenyum lembut meraih lengan Sani kedalam dekapannya, rambut Sani yang tersanggul kebelakang Jajang uraikan dengan lembut, Sani hanya melotot mendapatkan perlakuan semacam itu dari Jajang, Sani kian terperanjak saat nafas Jajang yang terdengar berat menerpa wajahnya.
Perlahan lengan jajang meraih pipi yang sudah nampak bersemu kemerahan, wajah jajang ikut memanas merasakan kobaran hasrat di dadanya, "terima kasih isteriku." bisik jajang mesra, hingga membuat bulu kunduk Sani ikut berdiri semua.
Jajang menarik tubuh sani menuju air hingga keduanya ikut basah, akibat air kini sentuhan jajang terasa begitu berbeda amat sangat terasa, begitu membuat hasrat keduanya membara, sebauah cumbuan di lontarkan jajang pada sang isteri yang penuh dengan kelmbutan dan rasa sayang, entah apa kelanjutan yang mereka lakukan hingga hari semakin tua dan langit membenamkan sinarnya.
Jajang terus melakukan kewajibannya sebagai suami bahkan hingga rembulan mulai memandikan bumi dengan sinarnya dan berhenti di peraduan mereka baru menyelsaikan aktifitasnya, akibat lelah yang melanda Sani tertidur cukup pulas hingga siang kembali menyingsing, Jajang yang melihat wajah lembut sang isteri nampak sangat senang karena telah memuaskan hasrat keduanya tanpa tertahan, neski dia juga cukup merasa kasihan pada sani yang nampak sangat letih, malam tadi Jajang benar benar tidak dapat mengendalikan hasrat yang menggebu di dalam dirinya, hingga tanpa sadar mereka melakukan hal itu hingga pagi buta.
...
Jajang beringsut meninggalakan Sani sendiri di kamar itu, Jajang melihat sekitar hutan mencari sayuran untuk dia masak, namun mata jajang sangat tertarik pada sebuah benda yang tersembunyi di antara akar besar yang merambat. Jajang mendekati benda yang terlihat seperti senjata namun bentuknya cukup aneh di mata Jajang, tanpa pusing Janjang membawa benda itu menuju kediamannya dengan beberapa sayuran, ubi dan jamur.
Beberapa makanan itu memang sangat familiar di mata jajang dia kembali ke kediaman dan mendapati isterinya yang tengah menghidupkan api dengan rambut basahnya.
Wajah Sani kembali bersemu saat melihat jajang yang telah kembali, dia tersenyum lembut dan meraih benda benda yang di bawa sang suami. Ubi yang di bawa jajang sani bakar dan beberapa makanan lainnya dia sisikan untuk sore nanti.
"Bukankah ini kujang?" Sani melihat benda yang bercampur dengan sayuran dia melihat lekat senjata itu yang nampak sudah berkarat dengan genggamannya yang sudah hampir habis oleh rayap.
"Aku tidak tahu, dan apa itu kujang?" Jajang bertanya dengan antusias, kerajaanya dan tempat itu memang jauh berbeda selain suku dan adat mereka senjatapun juga jauh berbeda.
"Hmmm.. Kujang adalah senjata yang sering di sematkan sebagai hiasan atau senjata oleh kaula keraton di kerajaan khususnya Padjajaran", jawab Sani memberikan penjelasan pada sang suami.
"Wah, aku tidak tahu mengenai itu, cobalah kemari biar aku bersihkan!" Jajang mengambil kujang itu dan menggosokkannya ke batu mengasah benda itu dan kini nampak sangat bersinar dan tajam.
"Cantik." ucap Sani lirih saat melihat kujang dengan warna perak berkilau, Jajang tersenyum dan mengambil sebuah akar dari salah satu pohon besar. Jajang mulai mengukir akar itu dengan sebuah bentuk yang memikat, jajang menuliskan namanya dan nama sang isteri di akar itu yang akan dia gunakan sebagai pegangan kujang.
Jajang memperlihatkan benda yang baru saja dia sempurnakan membuat mata Sani ikut berbinar, Jajang tersenyum dan memberikan kujang itu pada Sani.
"Ini untuk mu isteriku." mata Sani terbelalak dan menerima kujang itu dengan bahagaia, dengan lembut Sani mengelus lembut kujang yang di berikan sang suami.
"Terima kasih." ucap Sani dan memberikan senyum terbaiknya pada Jajang, hati Jajang menghangat mendapatkan ucapan itu.
"Ayo kita makan dulu, aku sudah memperisapkannya." Sani mengajak jajang ke tempat di mana Sani sebelumnya telah mempersiapkan makanannya, Jajang memangngguk mengikuti langkah sang isteri.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥
sweet banget sih kalian 😍malam habis berapa ronde tuh jang sampai sani terkulai lemas gitu🤣🤣dasar pengantin baru bikin orn iri aja hadeuh😆😆
2023-01-12
1