Empat hari sebelum peristiwa percobaan pembunuhan terhadap diri pangeran hidayat sultan adam menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggal dunia.
Atas desakan kerabat kerajaan dan desakan rakyat pula, maka empat hari setelah sultan meninggal dunia, maka pangeran hidayat di nobatkan sebagai raja atau sultan, penobatan itu mendatangkan dukungan penuh dari pihak rakyat.
Sedangkan pangeran tamjid pada waktu itu tidak ada di istana, dia sedang bergelimang dengan kegembiraan dengan pemuda pemuda batavia, ketika mendengar bahwa pangeran hidayat telah di angkat menjadi sultan, dia merasa tidak senang.
Segera dia memberitahukan kejadian itu pada kawan kawannya, karena dia tahu, bahwa kalau memberontak secara sendiri tidak mungkin berhasil, tamjid tahu hidayat mendapatkan dukungan penuh dari rakyat oleh sebabnya dia pun mencari kawan untuk membantu sepak terjangnya dalam merebut takhta.
"Tak perlu khawatir atau kecewa tuan tamjid", ucap seorang opsir yang amat dekat dengan pangeran tamjid.
"Selama kami memihak tuan maka anda tidak perlu takut pada pasukan hidayat, pasukan kita lebih banyak dengan persenjataan lebih lengkap, jangan buang buang waktu percuma, bertindaklah sekarang juga tuan, aku pastikan kita akan mendapatkan kemenangan!", kata opsir itu lagi memberi semangat kepada pangeran tamjid, agar melakukan pemberontakan kepada pangeran hidayat.
"Tidak ada jalan lain kecuali dengan jalan itu!", kata tamjid yang hati dan pikirannya telah di gerogoti oleh hasutan manis.
Pria itu kemali bertanya dengan wajah sok ramahnya "apakah kiranya rencana tuan sekarang?".
"Kita harus memberontak dan mengambil alih kekuasaan , dan yang penting lagi bila kesultanan itu telah aku ambil , aku akan memindahkan ibu kota kekaisaran kemari ke tempat ini", jawab pangeran tamjid penuh keyakinan.
"Bagus, itu adalah rencana yang benar benar jitu, dengan demikian kami dapat mengawasi perkembangan dan mendapat tuan akan perlindungan dari kami, bukan begitu tuan tamjid?".
"Tidak meleset tuan!", kata pangeran tamjid, "saya mohon bantuan dan dukungan tuan kemudian agar di persiapkan pula pasukan untuk nenyerang hidayat", kata pangeran tamjid lagi, karena dirinya sudah tidak tahan menahan gejolak dengki kepada adiknya yang memegang kekuasaan kekaisaran.
Dengan nada sombong pria dengan kulit putih pucat itupun kembali buka suara, "serahkan saja urusan itu kepada kami, beberapa saat saja tentu pasukan kita dapat di persiapkan tuan".
Berita persiapan pangeran tamjid yang akan menyerang telah sampai pula ke telinga pangeran hidayat, maka pada waktu itu juga sultan hidayat mengadakan musyawarah dengan pemuka pemuka istana, hulubalang hulubalang dan beberapa pemuka rakyat yang dapat di percaya untuk maju dalan rapat kilat.
"Saya percaya apa yang di berikan oleh kalangan rakyat, bila tamjid akan memberontak kepada kita, memang tamjid memiliki keinginan keras untuk memegang tampuk pemerintahan ini, saya ingin bertanya apakah saya harus menyerahkan ataukah kita mesti perjuangkan dan bertahan?", tanya pangeran hidayat yang kini memegang tampuk pemerintahan.
"Kami tidak suka kesultanan ini di serahkan kepada tamjid, kami tidak menyukainya, lebih baik kita pertahankan saja, kami siap berada di belakang sultan", ucap salah seorang dari pemuka rakyat.
Demikian pula suara suara dari kalangan istana, semua orang mendukung pemerintahan kesultanan pangeran hidayat, dan kini bulatlah sudah tekad pangeran hidayat untuk mempertahankan kerajaan itu.
Apa yang di khawatirkan sultan hidayat dan rakyat benar benar terjadi tamjid menyerbu istana, di barisan paling muka berdiri pangeran tamjid dan beberapa orang pribumi, tapi sisanya adalah para orang asing dengan kulit putih sebagai khasnya.
Melihat kejadian seperti itu hati pangeran hidayat merasa sedih dan gemas, bersedih karena dia harus berhadapan dengan saudaranya sendiri, dia juga merasa gemas karena di belakang saudaranya berdiri orang orang asing, kepada orang orang asing inilah yang menjadi pokok pangkal timbul kebencian.
'Padahal bila tamjid bicara baik baik tentang kesultanan, aku dapat berunding dan bermusyawarah memutuskan bagaimana baiknya, agar tidak sampai terjadi perang saudara seperti ini', ucap hati pangeran hidayat.
Tiba tiba suara tamjid terngiang dengan suara yang terdengar sangat lantang, "hai hidayat, lekaslah turun pilih satu di antara dua, serahkan kerajaan itu atau kau serahkan nyawamu untuk berperang denganku".
"Aku terpaksa akan menghadapi engkau tamjid, untuk membela hak dan kewajiban, membela hak untuk membela amanat kerajaan dan kewajibanku untuk melindungi rakyat dari cengkaraman kejam orang orang asing yang ingin menjajah tanah air", jawab sultan hidayat.
"Aku sama sekali tidak berniat berperang dengan saudara, tetapi aku akan menghancurkan siapapun yang berada di bagian belakangmu, sebaiknya segeralah engkau kembali ke mari bergantengan tangan denganku, jangan cepat terkena tipu muslihat orang orang asing itu, insafilah tamjid!", seru lagi sultan hidayat.
Tetapi pasukan tamjid yang di bantu serdadu serdadu asing itupun tidak senang mendengar kata kata pangeran hidayat, maka mulailah mereka menembaki rakyat yang tidak berdosa, kejadian mengerikan itu menambah gusar perasaan pangeran hidayat, maka pasukan pangeran hidayatpun mulai menyerang.
Suara tembakan dengan senjata beradu dengan kencang di medan perang, pertarungan sengit tak terelakkan, perang saudarapun berkobar namun tidak lama karena pasukan asing yang cukup kuat itu dapat segera mengalahkan pasukan pangeran hidayat dengan mudah, pasukan tamjid memperoleh kemenangan.
Pangeran tamjid dapat merebut kekuasaan kekasisaran pangeran hidayat, maka pangeran tamjidpun di angkat menjadi sultan sedangkan pangeran hidayat sendiri di sandra oleh pasukan asing, seberlangsungnya hal tersebut ibu kota kerajaan itupun di pindahkan, dan pangeran hidayat tidak di bunuh namun dia di angkat menjadi mengkubumi dan pangeran hidayat amat tidak suka dengan hal itu, apalagi gerak geriknya selalu di awasi oleh pasukan asing.
Alangkah sedihnya perasaan pangeran hidayat, bukan sedih karena kesultanan di pegang oleh tamjid, tapi yang kini dia khawatirkan ialah karena di belakang pangeran tamjid adalah orang orang asing yang sebenarnya hanya serigala berbulu domba.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥
akhirnya peperangan antara saudara terjadi, harusnya tamjid berpikir jernih yang mendukung tamjid sendiri itu orang asing yang ingin menguasai negeri kita sendiri,keserakahan mengggelapkan akal pikiran tamjid
2023-01-12
3
Sneha♥️
semangat kak udah ku tambah ke favorit
2022-12-09
10