Di waktu langit nampak kemerah merahan, bercelup kesumba sepuhan petang, alam bermandi sinar sinaran, aneka rona permai di pandang. Disana sini terdengar unggas bernyanyi, mengucap selamat mentari hilang, di puncak kayu Jajang menanti, menatap syamsu yang kian tenggelam.
Di saat itu dia terduduk lesu, bersadar di batang kayu nan rindang, di mukanya nampak air mengalir girang. Sekelebat dia memandang ke belakang merasakan hatinya yang mulai sayu, dari tempatnya terlihat desa baru yang telah di bangun nampak tengah melambai lambai.
Nampak bayangan di bawah petang, gambaran nasibnya yang malang, dia tak mampu memandang tanah tempat wanita tersayang yang kini bersemayam, tak pernah terbayang olehnya bila dia akan sendiri berjuang.
"Bapak..!" terdengar suara Kejora memecah kesunyian, dada Jajang seakan sesak mendengar suara sang puteri, dirinya yang kehilangan putera dan isterinya merasa amat tersiksa.
Tak dia bayangkan bila nasib seluruh pribumi sama akan dirinya, hembusan rayu mendayu mengibaskan rambut di telinganya, setara dengan desiran ombak menerpa daun yang menari.
Jajang terperangah menatap langit dengan jingga yang kian merata, setelahnya dia menatap sang puteri yang kini duduk bersebelahan dengannya.
"Mau belajar nak?" tanya Jajang menatap mata coklat keemasan di hadapannya.
"Iya pak, aku ingin belajar berenang, panahan, kuda, dan aku juga ingin belajar ilmu bela diri!" ucap Kejora penuh semangat.
Memang di beberbagai tempat wanita di anggap tabu mempelajari ilmu bela diri namun tidak di tanah Pasundan, Kejora dengan antusias berlatih dari sang ayah. Tak hanya dia seorang seluruh warga desapun ikut belajar dan kian mengembangkan kemampuan mereka.
Beberapa tahun berlalu Kejora si bayi kecil berganti menjadi gadis cantik nan mempesona dengan sifat nakal dan manja. Di hadapan mereka nampak pemandangan luar biasa, kini duduklah dia di pantai tanah yang permai.
Nampak dari kejauhan gelombang menerjang dan pecah berderai, buih putih di pasir terderai, nampak pulau pulau kecil di lautan hijau, gunung gunung bagus rupanya, dilingkari air mulia tampaknya.
"Tumpah darahku, tak akan aku berikan kau pada mereka!" ucap Kejora dengan gertakan amarah di giginya.
Hatinya seakan hancur meratap seluruh pribumi yang terusir dari rumahnya, di sanalah kini dia berdiri tepat di bawah pohon kelapa melambai lambai, berdesir bunyi lembut angin senyap sampai, tumbuh di pantai bercerai berai, memagar tanah nampak aman kelihatan.
"Dengarlah ombak datang berlagu, mengajariku bertapa berharganya tanah airku, kalian ingin menjatuhkan kami?, mimpi!" ucap lagi Kejora melihat sebuah kapal besar yang kian mendekat.
Dengan sigap Kejora memanah ke sebuah tempat yang terbilang sangat jauh,dan saat tembakan itu melayang ribuan anak panah ikut melayang di belakangnya, dan sudah tentu pada akhirnya kapal itu nampak porak poranda bederai perahu perahu kecil meninggalkan kapal besar itu, namun itu malah kian mempermudah pekerjaan mereka hingga akhirnya kapal besar itu karam.
Dengan sangat mudah Kejora memanah semua kapal kecil itu dan diikuti oleh banyak panah lainnya tembakan itu kian membabi buta hingga akhirnya nampak air yang jernih berubah memerah.
"Kau rampas tanahku!, ku ambil daging di badanmu!, kau ambil air di bumiku!, maka ku ambil darah sebagai gantinya!, kau pangkas kayu kayu di hutanku! maka ku patahkan tulang tulangmu untuk menyangga hutanku yang merana!" gertak Kejora dengan semangat yang berkobar.
Mata coklat keemasan dengan tatapan tajam menghunus musuhnya yang telah luluh lantah, Kejora mengangkat busurnya menandakan kemenangan yang telah tergapai tanpa harus mengorbankan satu jiwapun.
"Tanah airku, akulah serdadumu!" teriak Kejora kian membakar semangat juang para warga yang kini berada di belakangnya.
Di belakangnya nampak para wanita muda, tua bahkan lanjut usia, tangan mereka yang terlatih dan kerja sama yang apik membuat mereka berhasil menumpas para penjajah.
Senyum terukir di bibir mungil dan tipis yang nampak menggoda namun terkadang sangat menakutkan, dengan kemenangan yang di raihnya, Kejora kebali bersama sebagian rombongan dan sebagian lagi berjaga untuk mengawasi hal yang tidak terduga.
"Bagaimana menyenangkan?" tanya seorang pria yang belum begitu tua namun dapat mencerminkan seorang yang bijaksana.
"Lumayan pak!" jawab Kejora melepaskan ikatan rambutnya dan tidur di pangkuan sang ayah.
"Aish.. Sudah makan?" tanya Jajang mengelus kepala puterinya dengan rambut panjang yang tergerai.
"Lagi puasa pak!, mau belajar ngamalin hijib pak sekalian dayet" jawab kejora enggan bangkit dari pangkuan sang ayah.
"Baiklah, tidur dulu! Kamu sudah besar nak!" ucap Jajang dengan mata yang berkaca kaca.
"Syuut.. Aku memang sudah besar pak, tapi aku adalah puterimu dan akan tetap begitu" Jawab sani tersenyum lembut.
"Ya kamu memang puteri bapak, kamu memang sudah besar namun sifatmu sama seperti balita, bagaima kamu akan menikah bila sifat manjamu pada bapakmu saja seperti ini!" Jajang tersenyum kecut.
"Aku gak mau nikah pak, kalo boleh milih aku di dunia ini hanya akan mencintai bapak dan tanah airku saja tak ingin yang lain." Kejora bangkit dan memeluk sang ayah yang lantas melanjutkan ucapannya.
"Denger ya pak, aku puterimu dan selamanya seperti itu!" ucap tegas Kejora.
"Aish.. Mana boleh seperti itu kamu harus menikah nak!" ujar Jajang memeluk puterinya.
"Kalo aku nikah, siapa yang akan nemenin bapak!" Kejora memajukan bibirnya.
"Kan ada nanti cucu bapak!" ucap Jajang tersenyum lembut.
"Aku gak akan nikah dulu, itu keputusanku pak, udah jangan nyuruh nyuruh yang aneh lagi ya!" Kejora tak ingin kembali bersuara dia kembali berbaring di pangkuan sang ayah.
"Kabar buruk.. Kabar buruk!" seorang pria yang nampak sudah sangat tua melangkah mendekati mereka.
"Eh pak?, ada apa?" tanya Jajang pada Pak Sukri yang datang yang terlihat sangat panik.
"Begini, ada kabar dari mata mata kita katanya Pangeran Tamjid sudah berpulang." ucap Pak Sukri ngos ngosan.
"Ta..tamjid?, Innalillahi wainnailaihi rojiun." Jajang mengelus dadanya mendengar kabar itu dan lantas menggelengkan kepalanya.
"Kita adakan sholat gaib dulu, ayo nak bangun dulu!" Jajng berdiri menggusur puterinya yang tengah bermalas malasan.
Dengan malas akhirnya Kejora melangkahkan kakinya mengikuti langkah sang bapak.
Hari itu pula di adakan sholat gaib untuk almarhum Tamjid yang telah berpulang, memang Tamjid telah bertobat dan dengan sembunyi sembunyi Tamjid menyimpan para penyusup di sekitar para tentara penjajah, hingga akhirnya diapun ketahuan dan mendapatkan hukuman mati atas dasar penghianatan.
Tamjid sendiri cukup senang mendapatkan hukuman tersebut, karena baginya kini sebuah kehormatan baginya bila harus mati demi tanah airnya. Kebersalahan dia di masa lalu menjadikan pecut baginya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Meski penyesalan itu ada, namun setidaknya dia sudah ikut berpartisipasi untuk memperbaiki kesalahannya dan bertobat, berubah untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Komen dan masukin list bacaan kalian ya!.
Salam cinta dari Raisa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments