"Sudah cukup!, pulang!", seorang pria keluar dari semak semak.
"Bapak!", sani tertegun sejenak, jajang menggenggam tangan sani lembut memberikan kekuatannya pada sani untuk membuatnya kuat.
"Pulang!", pak sukri berdiri tegap di depan mereka.
"Pak maaf, tapi aku yang bersalah jangan apa apakan sani ini semua salahku!", jajang menuju tepi sungai menggenggam tangan sani, sani merasakan bertapa jajang benar benar serius dalam ucapannya.
"Oh jadi masih mau di sini dan melanjutkan kelakuan bejad kalian?", pak sukri murka dan mendekat pada mereka.
Plak, sebuah tamparan menghempas pipi jajang, jajang menerimanya dengan lapang dada karena dia memang bersalah, sebuah cairan merah meleleh di ujung bibir jajang.
Sani menutup mulutnya semakin mengeraskan genggamannya pada jajang, "kalian tahu apa yang kalian lakukan ini salah hah?", pak sukri kembali menampar sebelah pipi jajang.
"Kalian melakukan dosa besar dengan berzinah dan sekarang kalian meminta ampunan dengan begitu mudah, kalian harus menikah!", pak sukri melotot dia memang baru tiba dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi di lihat dari apa yang dia amati mereka memang telah melakukan hal serong dan sani pasti akan segera hamil, di pikitan pak sukri.
Jajang mengangkat wajahnya sumeringah, karena itulah yang dia inginkan dia memegang tangan sani lembut mengelus punggung tangannya dengan ibu jarinya.
Sani merinding dan menunduk malu, pak sukri yang melihat itu menjadi sangat sulit berpikir apa yang sebenarnya ada pada otak mereka.
"Pak, saya siap untuk menikahi saudariku dan meminang rumah tangga dengannya, aku sangat mencintai saudariku aku akan menjaganya seumur hidupku!", jajang berkata dengan pasti dan penuh keyakinan, sani semakin menunduk malu.
"Jangan panggil sani saudarimu!, dia calon istrimu!, berapa kali dan sejak kapan kamu melakukan hal seperti itu", pak sukri menatap tajam menghunus hati jajang.
"Baru hari ini pak!", jajang berkata dengan tegas dan polos tanpa rasa malu dan bersalah.
"Benar itu san?, kalian harus secepatnya menikah sebelum perutmu kian membesar!, ikut aku pulang kalian berdua!", pak sukri mewanti wanti sani, sani yang mengerti maksud bapaknya tertegun apakah sedari tadi bapaknya sudah salah faham padanya.
Sani terkikik menutup mulutnya, dia tidak perduli apa yang di pikirkan bapaknya namun melihat situasinya hal itu justru bagus agar mereka segera menikah, keduanya mengikuti langkah pak sukti berjalan menuju desa saling berpegangan tangan dan saling beradu pandang kemudian menunduk merasakan debaran yang berada pada jantung mereka masing masing.
Sani terdiam mentap darah di ujung bibir jajang akibat tamparan bapaknya dia menghapus darah itu dan menyentuh dengan lembut bibir jajang.
"Sakit ya!", sani meringis saat mengelap luka di bibir sensual jajang, jajang menggeleng.
"Dia laki laki, segitu tidak akan sakit kamu seorang perempuan kenapa mau di lecehkan jajang huh?, harusnya sadar diri!", pak sukri berkomentar pedas namun sani malah tersenyum lembut.
"Aku tidak di lecehkan karena pada dasarnya aku sangat mencintai jajang!", dengan tegas dan penuh keyakinan sani mengucapkan perasaannya dan pengakuannya di hadapan ayah tercinta.
"Bagus!, aku memang pantas mati!, anak seperti apa yang sudah aku besarkan selama ini, dan anak angkat apa yang sudah ku urus selama ini?!, kenapa sang hiang widi amat berpilih kasih padaku mengirimkan dua anak tak tahu malu", pak sukri amat frustasi dengan kondisi ini, namun nampak warga desa yang berkerumun menyambut mereka, hal itu memang sudah biasa terjadi karena sebelumnya pak sukri memang sedang melihat situasi dan kondisi di pemukimana baru mereka.
"Semuanya baik, dan aku ada sebuah penguman untuk kalian di mohon untuk mendengarkan", dari kejauhan surwa nampak berseri seri dan melihat wajah lebam jajang, tebakkannya pasti benar bila pak sukri memergoki mereka dan akan segera menikahkan mereka, dia tersenyum penuh kebahagiaan untuk sahabatnya yang telah melakukan perjuangan hebat.
"Aku menjodohkan putriku pada putra angkatku!", ucap pak sukri tegas semua orang nampak saling beradu pandang merasa aneh.
"Maaf pak sukri saya amat kurang setuju dengan perlakuan bapak, orang yang menikah harus di dasari rasa kasih sayang dan cinta, bila di sebabkan perjodohan saya takut mereka tidak akan lenggeng pak!", keluh seorang pria yang nampak seusia pak sukri dan merasa khawatir akan masa depan sani dan jajang yang memang di pandangan mereka sani dan jajang amat pantas saat di sandingkan, namun bila melalui perjodohan dan tampa perasaan dia takut malah akan menghancurkan mereka berdua.
"Aku sudah bertanya akan kesediaan mereka, dan mereka sudab bersedia menikah secepatnya!", seru pak sukri dengan jalan perjodohan dia akan mengurangi kesalah fahaman bila mereka saudara cabul yang melajukan hal serong di luar tali pernikahan.
"Bagaimana pendapatmu nak?, apakah benar yang di katakan pak sukri?", seorang yang sudah tua meminta pendapat sani dan jajang agar mereka tidak merasa di paksa saat melakukan pernihan.
"Itu benar, saya bersedia memang pada dasarnya saya amat mengagumi jajang namun karena status kami yang bersaudara saya merasa tidak pantas mengutarakan isi hati saya", sani bersuara semua orang terdiam mendengar ucapan sani.
"Bagaimana denganmu nak?", orang tua tadi bertanya pada jajang agar jajang bisa memberikan pengakuan dan apa sebenarnya yang terjadi, karena mereka masih takut bila jajang di paksa menikahi sani.
Jajang menekan dadanya yang terasa berdebar hebat merasakan perasaan nyaman, dan bahagia berpadu dalam keselarasan, "maaf tapi memang saya memang sangat menyayangi dan mencintai sani, dan benar kata sani status kami membuat kami takut untuk mengungkapkan perasaan satu sama lain", jajang merasakan dadanya yang semula terasa terhimpit menjadi sedikit lebih lega.
"Fiyuuuuh.. Bila kedua belah pihak sudah setuju mau bagaimana lagi, di sini tak ada yang dapat di salahkan, mari adakan acara pernikahan!", semua orang menghembuskan nafas lega setelah mendapatkan pengakuan dari jajang.
"Baiklah sebaiknya hari ini kita melakukan tes kesehatan pada keduanya dan malam nanti kita pergi ke atas bukit menemui pendeta", pak sukri tertegun, bila melakukan tes sudah pasti anaknya akan ketahuan bila dia sudah tidak perawan dan di tambah lagi dia akan ketahuan bila dia tengah hamil.
"Bagaimana bila sebaiknya tidak di lakukan tes dan langsung malakukan persiapan menaiki bukit?", tanya pak sukri merasa khawatir.
Sani terkikik mengetahui bagaimana ke khawatiran bapaknya, "tidak apa apa pak, aku masih utuh dan sehat bapak tak perlu khawatir", sani berbisik, pak sukri melotot apakah sebelumnya dirinya sudah salah faham pada mereka berdua, dia menatap jajang pria polos nan baik hati itu sudah dia salah fahami, dia menatap tajam bagaimana akhir akhir ini jajang sering dekat dengan surwa.
"Duda tulen itu benar benar kurang ajar!", pak sukri melotot menatap tajam ke arah surwa yang tengah menghampiri jajang.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Muzie✰͜͡v᭄👻ᴸᴷ㊍㊍
Akhirnya jajang dan sani mau menikah,,padahal mereka cuma berpegangan tangan saja,,,jadi salah paham yg mengharuskan mereka menikah,,,
2023-01-12
4
🍒Nungma🍃
heemmm si jajang dan si sani kayaknya udah bucin banget dehhhh
2023-01-12
3
Zubi
Ai bapak sempet nonton ? 🤔 Ganggu aja
2022-12-23
4