Hari berdarah

Bukan hal mudah bagi Sani melahirkan dua anaknya, dia melahirkan di gua tanpa pencahayaan.

Kini anak keduanyapun akan lahir dan sang puteri kecil nampak tengah memperhatikan ibunya yang nampak amat kesakitan, Jajang tidak berada di gua karena dia tengah membantu para warga lain mengungisi karena tempat mereka semula telah di hancurkan kembali.

Hati Jajang sungguh geram apalagi saat melihat para penjajah itu membawa beberapa gadis yang di kurung dalam jeruji besi. Kemungkinan para gadis itu merupakan tawanan mereka yang di bawa dari desa desa yang memang cukup jauh dari tempat tersebut.

Semua warga berhasil di ungsikan dan mereka yang memang sudah siap dengan kedatangan para penjajah sudah menyiapkan sebuah penyambutan istimewa. beberapa alat perangkap yang mereka tanam berhasil membuat para penjajah kerepotan.

Namun tak cukup itu Jajang dan para warga desapun tidak perlu turun tangan langsung karena setiap jebakan mereka berhasil tepat mengenai sasaran, pengetahuan jajang tentang taktik berperang dan mengetahui setiap sifat para penjajah di padu padankan dengan kemampuan para warga desa dalam membuat jeratan dan jebakan akhirnya berpadu dan berhasil membunuh para penjajah yang jumlahnya mencapai 200 orang itu.

Jajang kembali ke gua dan mendapati puteranya yang telah lahir, dia menatap sang isteri yang nampak sangat kelelahan akibat energi yang sudah dia habiskan.

Jajang memeluk bayinya dan memberi nama Surya dengan harapan semoga sang putera mampu memberikan sinar tanpa pamrih dan imbalan layaknya surya yang menjadi sumber kehidupan.

Jajang mendapatkan kabar dari Pak Sukri bila rencana mereka berhasil dan membawa para gadis tahanan itu untuk ikut bersama mereka dan mereka berencana meninggalkan desa itu dan tidak kembali kesana, karena sudah pasti bila mereka kembali kesana tentu akan memudahkan para penjajah untuk menemukan mereka.

Jajang akhirnya menghembuskan nafasnya kasar dan mengecup kening sang isteri.

"Sayang dengarkan aku!, setelah hari ini tinggalah di sini terlebih dahulu dan biarkan aku dan warga desa membangun pemukiman baru dan mencari persembunyian baru, karena menurut informasi dan kondisi yang di lihat para penjajah kian gencar kemari itu tandanya mereka sudah curiga, tapi kita juga tak bisa harus terus sembunyi, hutan sancang memang luas, namun mereka tidak pernah takut akan keadaan jadi bersabarlah dulu." ujar Jajang seraya terus mengelus rambut sang isteri yang basah oleh keringat.

Sani mengangguk setuju dan memberikan izin pada sang suami untuk melakukan tugasnya, para warga desa bersorak kegirangan karena akhirnya mereka berhasil embunuh begitu banyak serdadu penjajah.

Keesokan paginya Kejora amat ingin ikut bersama sang ayah menuju tempat baru yang akan mereka gunakan sebagai pemukiman baru, beberapa anak laki laki berusia 5 tahun ke ataspun ikut serta membangun Desa, bersama dengan para warga desa lainnya.

Para wanita sehat dengan usia yang cukup untuk bekerjapun ikut serta, mereka menganyam bambu bambu untuk mereka jadikan dinding rumah.

Entah mengapa saat akan meninggalakan Sani hati Jajang seakan tak rela, namun karena kewajibannya dia akhirnya pergi membawa puterinya Kejora, suasana ramai dengan gotong royong tercipta nyata.

Beberapa warga tertawa bahagia karena kejadian kemarin namun mereka kembali terdiam saat mendengar sebuah suara isyarat yang sangat keras dan terdengar seprti kode bahaya yang di lancarkan oleh seseorang di dua bukit di hadapan mereka.

Burung burung nampak berterbangan dan sontak saja membuat Jajang amat terkejut, tawa mereka terhenti seketika dan membawa bocah dan para wanita menjauh dari sana menjauhi asal suara dan beberapa yang lainnya memeriksa asal suara termasuk Jajang. Kejora yang tidak ingin jauh dari sang ayah akhirnya ikut turut dalam gendongan Jajang.

Mata Jajang terbelalak saat melihat asap yang mengepul dari arah gua tempat bersembunyi para warga desa, Jajang lantas mempercepat langkahnya dan bertapa terkejutnya dia saat mendapati hutan sancang yang luluh lantah bahkan para binatang yang berada di sanapun ikut mati, Jajang kian mendekat dan jantungnya seakan berhenti saat melihat Surwa yang di tugaskan untuk menjaga gua sudah di salib di di atas pohon.

Kedua tangan Surwa di paku begitupun kakinya. Dada Jajang seakan sesak, para penjajah itu telah tidak ada di sana, namun melihat jejak yang berada di sana mereka baru pergi sekitar satu jam lalu, Jajang mendekat ke arah Surwa yang nampak masih bernafas.

"Sur..?" Jajang berseru mencongkel paku di lengan kawannya, dia juga mencongkel paku besar yang berada di kakinya, sontak darah keluar dengan deras namun dengan sigap Jajang mengikat kaki tangan jajang dan menyumpalnya dengan kain yang di robek dari bajunya.

Mata Jajang kembali terbelalalak saat melihat mayat mayat bergelimpangan di depan gua, seorang pria mendekati Jajang.

"Serahkan Surwa padaku, Kau lihat keadaan di dalam sana!" ucap pria tersebut yang langsung di angguki Jajang, Kejora yang setia dalam gendongan sang ayah nampak tak gentar dan tetap teguh tak menangis.

Deg, jantung Jajang kembali terhenti saat melihat seorang wanita yang berlumur darah dengan bayi laki laki yang nampak sebuah tembakkan di kepala bayi laki laki itu.

Hati Jajang sekan hancur seketika, "Isteri ku... Aaaa... Hua..." teriak Jajang memecah kesunyian yang semula tercipta.

Jajang mendekat mendekap tubuh isterinya yang terasa hangat namun beberapa peluru berada di dada kirinya dan sudah dapat di simpulkan bila sang isteri telah meninggal..

"Aaa... Sayang bangunlah.. Aa... Sayang... Hua... Bangunlah... Aku sudah kembali.. Sayang.. Kita sudah berjanji untuk sehidup semati!, kita sudah berjanji akan memerdekakan tanah air kita bersama sama, Sayang... Aaa..." teriak lagi jajang dengan raungan tangisnya yang menggema.

Para warga desa yang melihat keluarganya ikut terbunuhpun semuanya menangis dan memeluk masing masing keluarganya dengan tangisan mereka yang sangat pilu.

"Sayang... ! Bangun...! Aku mohon padamu, nak ... Bangunlah ini bapakmu sudah kembali nak...!" Jajang mengerak gerakkan tangan Surya namun tak dia dapat tangis ataupun gerakan sedikitpun dari puteranya.

Kejora yang belum mengerti apa apa hanya memeluk sanga ayah, namun tak dapat di pungkiri, dia yang kian mengerti dengan dunia menitikan air mata memeluk sang bapak.

Kejadian hari itu menjadiakan kejadian yang sangat memilukan bagi seluruh warga desa begitupun Jajang, tak pernah dia sangka bila ketidak relaannya pagi itu malah mengantarkan sang isteri pada maut.

Masih teringat jelas saat Sani tersenyum melambaikan tangannya saat dia dan Kejora akan meninggalakn tempat itu. Hati jajang remuk dan hancur seketika, kini tak ada alasan lagi bagi dirinya dan seluruh warga desa untuk sembunyi. Mereka akan melancarkan serangan dan menghancurkan para penjajah.

Mereka tidak ingin hal yang menimpa mereka akan menimpa orang lain dan merasakan sakit yang sama seperti mereka.

Bersambung...

Jangan lupa Like, Komen dan masukin ke list bacaan kalian ya..

Bila tidak keberatan sematkan juga dukungan kalian dengan vote dan hadiahnya..

Terima kasih pada para pembaca yang sudah mampir.

Salam cinta dari Raisa.

Terpopuler

Comments

ˢ⍣⃟ₛ🍾⃝𝓡ͩ𝓱ᷞ𝔂ͧ𝓷ᷠ𝒾𝓮ͣᴸᴷ㊍㊍

ˢ⍣⃟ₛ🍾⃝𝓡ͩ𝓱ᷞ𝔂ͧ𝓷ᷠ𝒾𝓮ͣᴸᴷ㊍㊍

selamat untuk Jajang dan Sani.. di tengah tengah resahnya kehidupan kalian bisa merasakan kebahagiaan dengan lahirnya Surya... semangat Yaa Jajang teknikmu dalam menjebak penjajah sungguh luar biasa...

2023-01-12

1

lihat semua
Episodes
1 Darah dan lumpur
2 Cinta itu apa?
3 Aku mencintaimu Sani
4 anggukkan
5 Aku masih utuh!
6 Rasa bersalah
7 Adat istiadat
8 Patah arang
9 Nampak jelas belangnya
10 Pinggan pecah
11 Pemberontakan
12 Pengasingan
13 Permohonan maaf
14 Aku mengingat semuanya
15 Kujang
16 Kabar bahagia
17 Kewalat
18 Hari berdarah
19 Tanah air mata
20 Aku serdadumu
21 Kobaran perjuangan
22 Kenangan
23 Senandung jeritan rindu
24 Pembantaian
25 Para Syuhada
26 Pohon kematian
27 Keserakahan pembawa maut
28 Jajang dan Jaka si putera Ibu Pertiwi
29 Jadilah orang yang berguna
30 Pamit
31 Sesuatu yang tidak dapat dibagi
32 Kesatria bayangan
33 Mimpi basah
34 Menyergap
35 Identitas sesungguhnya
36 Rasa ingin tahu
37 Pelajaran pertama
38 Bunga cinta
39 Ingin mengambil hati
40 Siasat Kelam
41 Anu
42 Makna di balik musibah
43 Tidak dapatkan restu
44 Nokhrah cinta
45 Mimpi
46 Keraguan
47 Nampak Udangnya
48 SANI
49 Sastra Sunda
50 Si Mempesona
51 Bos!
52 Mematri dalam hati
53 Tidak terduga
54 Bahan perhatian
55 Sosok istimewa
56 Pertemuan Tidak Sengaja
57 Pria asing
58 Deja vu
59 Rasa aneh
60 Kamu nuaanynya?
61 Acara lelang
62 Pemain Sultan
63 Teman Online
64 Penjamret hati
65 Tantangan
66 Trauma
67 Berubah
68 Salah faham
69 Tamu tak diundang
70 Alik tidak hamil!
71 Kepergian Zahra dan Jaka
72 Ungkapan
73 Kaya raya
74 Posesif
75 Sebuah kisah panjang
76 Siasat Satria
77 Gugup gagap gempita
78 Kehncuran menuju kebabasan
79 Perbedaan Cinta dan pelecehan
80 Wanita lain
81 Tukang sosor
82 TAMAT
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Darah dan lumpur
2
Cinta itu apa?
3
Aku mencintaimu Sani
4
anggukkan
5
Aku masih utuh!
6
Rasa bersalah
7
Adat istiadat
8
Patah arang
9
Nampak jelas belangnya
10
Pinggan pecah
11
Pemberontakan
12
Pengasingan
13
Permohonan maaf
14
Aku mengingat semuanya
15
Kujang
16
Kabar bahagia
17
Kewalat
18
Hari berdarah
19
Tanah air mata
20
Aku serdadumu
21
Kobaran perjuangan
22
Kenangan
23
Senandung jeritan rindu
24
Pembantaian
25
Para Syuhada
26
Pohon kematian
27
Keserakahan pembawa maut
28
Jajang dan Jaka si putera Ibu Pertiwi
29
Jadilah orang yang berguna
30
Pamit
31
Sesuatu yang tidak dapat dibagi
32
Kesatria bayangan
33
Mimpi basah
34
Menyergap
35
Identitas sesungguhnya
36
Rasa ingin tahu
37
Pelajaran pertama
38
Bunga cinta
39
Ingin mengambil hati
40
Siasat Kelam
41
Anu
42
Makna di balik musibah
43
Tidak dapatkan restu
44
Nokhrah cinta
45
Mimpi
46
Keraguan
47
Nampak Udangnya
48
SANI
49
Sastra Sunda
50
Si Mempesona
51
Bos!
52
Mematri dalam hati
53
Tidak terduga
54
Bahan perhatian
55
Sosok istimewa
56
Pertemuan Tidak Sengaja
57
Pria asing
58
Deja vu
59
Rasa aneh
60
Kamu nuaanynya?
61
Acara lelang
62
Pemain Sultan
63
Teman Online
64
Penjamret hati
65
Tantangan
66
Trauma
67
Berubah
68
Salah faham
69
Tamu tak diundang
70
Alik tidak hamil!
71
Kepergian Zahra dan Jaka
72
Ungkapan
73
Kaya raya
74
Posesif
75
Sebuah kisah panjang
76
Siasat Satria
77
Gugup gagap gempita
78
Kehncuran menuju kebabasan
79
Perbedaan Cinta dan pelecehan
80
Wanita lain
81
Tukang sosor
82
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!