Gemuruh riuh hentakakan tangan dan sebuah lambaian menghentikan lamunan mereka, "jajang!, sani!, mari makan bersama!", seorang pria dengan perawakan yang cukup bagus dengan seorang perempuan menghpiri mereka.
"Ck, ganggu aja si!", surwa berdecak kesal.
Baik sani maupun jajang terdiam satu sama lain, sebuah perasaan baru yang muncul di dada jajang berhasil membuatnya tersihir dan terus menatap sani yang terlihat sangat cantik meski tanpa riasan, sedangkan sani hanya menunduk malu di perhatikan seperti itu oleh jajang.
"Ada apa?", tanya seorang yang memilki usia lebih tua dari sani melihat sani yang tersipu malu dengan wajah yang kemerahan.
"Tidak apa apa", sani tertunduk dan sekilas menatap mata jajang yang memandangnya penuh damba.
"Aku yakin sekarang kau beneran cinta pada saudarimu sani kan?", tanya surwa menyenggol tangan jajang.
"Iya", lirih jajang tak mengelak, dia amat menikmati perasaan yang keluar perlahan dari dadanya yang perlahan meluap memenuhi sanubarinya.
"Waahhh, aku memberi saran padamu kawan alangkah lebih baiknya bila kamu menciptakan suasan romantis bedua dengan sani, buat dia jatuh cinta padamu", surwa mengungkapkan ide idenya pada jajang, perlahan jajang mengerti dan sudah pasti akan melakukan apa yang di katakan surwa.
Surwa tersenyum puas saat menghasut seorang sahabat polos dan amat menurut seperti jajang.
Keesokan paginya jajang seperti biasa menuju air terjun namun kali ini dia datang cukup siang karena tadi malam dia mempersiapkan berbagai jenis hal yang di katakan surwa, jajang tersenyum saat mendapati sani tengah berayun di ayunan yang di buatnya tadi malam, sebuah tawa dan senyum tak lepas dari bibir manis sani.
Jajang mendekat dan menaburkan sebuah bunga dengan daun menyelanya sehingga hanya secara perlahan saja bunga itu jatuh dan menerpa tubuh sani.
"Jajang..", lirih sani saat melihat jajang dengan gagah turun dari atas pohon dan bergelayun bersamanya dalam ayunan yang sama.
Kelopak bunga berjatuhan menyirami mereka, jajang yang sudah berdandan seperti yang di katakan surwa dengan rambut sebahunya yang dia gerai dengan memperlihatan perut yang seperti roti sobek dan bentuk tubuh yang sempurna duduk bedua di ayunan bersama sani.
"Indah?", tanya jajang menyelipkan sebuah bunga cantik di sela sela telinga sani.
Sani tertegun dengan apa yang di lakukan jajang, dia terdiam sejenak merasakan kelembutan yang di berikan, dia sangat ingin mendapatkan perhatian semacam itu dari jajang sejak lama, namun karena dia seorang wanita dia hanya dapat menyimpan perasaannya dalam diam.
Wajah sani memanas namun tersenyum sekilas, dada jajang bergemuruh kencang merasakan sebuah hal yang aneh yang sebelumnya amat dia nantikan dan benar saja yang di katakan surwa bila itu akan terasa sangat indah.
"Kamu sangat cantik", puji jajang dan mengelus lembut pipi sani penuh perasaan.
Dag, dig, dug, jantung sani berdetak amat kencang dan menikmati sentuhan jajang, sani berpikir bila ini hanya mimpi dia menatap air yang bergerombol, dia tersenyum sekilas, cukup baginya mimpi indah malam ini dia ingin terbangun, sani melemparkan dirinya menuju air di bawah kakinya.
Byur.. Dirinya beradu dengan air dan tak lama kemudian jajang mengikuti apa yang di lakukan sani dan menatap sani setelahnya.
Deg, jantung sani seakan terhenti sejenak, 'ini bukan mimpi!', ucapnya dalam hati membelalakkan matanya ke arah jajang yang kian mendekatinya, dia teringat saat itu dirinya hanya menggunakan kain samping yang membelit tubuhnya dan pasti saja kain itu pasti akan melorot dan dengan cepat sani memegangi kain itu agar tetap menutupi tubuh bagian atasnya.
Jajang yang menatap sani risih dirinya mendekat dan menarik kain sani dan membelitkannya untuk sani, dia menarik pinggul sani yang amat indah dan mendekapnya erat sama seperti yang di ucapkan surwa.
Jajang menyentuh tengkuk sani dan menatap rambut sani yang tergerai indah, dia menarik tengkuk itu dan menempekan bibirnya di atas bibir sani, sani terdiam dengan mata yang membelalak merasakan perlakuan yang di berikan jajang.
Untuk beberapa saat jajang menikmati bibir yang amat manis itu, seperti yang di ucapkan surwa dia memasukkan lidahnya menuju mulut sani dan benar saja sensasi itu sangat nikmat dan sedari tadi benda yang telah mengembang dan mengeras itu kian menjadi, jajang menginginkan lebih namun cepat di hentikan sani dan mendorong dada bidang jajang.
Dengan nafas yang tersegal sani merasakan dadanya yang berdegup amat kencang, dia memang tidak mengelak bila dirinya sangat mendambakan jajang dan ingin lebih seperti jajang, namun dia tersadar akan statusnya saat ini, sebuah hal yang tabu di tempatnya bila wanita hamil tampa suami.
"Jajang!, apa yang kamu lakukan!?", sentak sani berusaha membelalakan matanya yang semula sempat sayu menikmati setiap sentuhan jajang.
"Sani menikahlah denganku!", jajang menarik kembali lengan sani dan mendekapnya erat enggan jauh dari sani.
Mata sani berubah lembut, namun dia juga sangat takut tak mendapatkan restu dari sang bapak namun dia kembali menunduk merasakan beban berat di kepalanya.
"Kita lakukan semuanya bersama, maka menikahlah denganku dan kita tarungi kehidupan kejam ini bersama dan bersama hingga usia tua bersama kita dan azal menjemput kita".
Jajang mengangkat dagu sani lembut dan kembali kain yang menutupi tubuh sani melorot dan memperlihatkan sebuah belahan besar yang membumbung di depan mata jajang.
Sani menenggelamkan tubuhnya meraih kain samping dan menyelam dengan sangat cantik, jajang mengikuti apa yang di lakukan sani dia menenggelamkan tubuhnya dan menarik lengan sani, keduanya saling tatap di tengah tengah air yang menari bersama gerak tubuh mereka, jajang memeluk tubuh sani dan menariknya ke atas permukaan dan menatap wajah yang nampak bersemu di hadapnnya.
"Apakah kamu bersedia sani?", jajang menempelkan keningnya di atas kening sani dengan nafas berat mereka, sani mengangguk dan dada jajang yang semula terasa terhimpit batu besar akhirnya plong dan bernafas enteng, jajang tersenyum lembut penuh kasih sayang dan kembali mengecup bibir manis sani, sani kini tak berontak dan merasakan setiap sentuhan yang di berikan jajang di bibirnya, ciuman yang membuat air terjun itu mendidih kepanasan, jajang memperdalam ciumannya dan menekan tengkuk sani, merasakan ciuman yang kian dalam sani memalingkan wajahnya namun jajang malah menyasar leher jenjangnya, merasakan sentuhan yang kian menggila sani berkata sesuatu yang membuat jajang menghentikan aktipitasnya.
"Kita belum menikah!", sani dengan nafas beratnya mengigit jarinya sendiri dan jajang berhasil berhenti kembali mengecup bibir sani sekilas, dia tersadar bila apa yang di lakukannya tak benar dia menatap wajah yang bersemu kemerahan di depan mayanya dan mendengar sebuah benda ergerak di sela sela rerumputan membuat jajang waspada.
Bersbung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Estin Toisuta
wahhh cover nya sudah di ganti ya
2023-01-19
1
🍒Nungma🍃
wahhh si jajang udah berani nihhh
2022-12-23
1
Ai 𝕷𝖎𝖔𝖓🦁💙
tarik napas buang, jajang mengambil kesempatan dlm kesempatan.🤭🤭🤭
2022-12-23
2