Mata Jajang terbuka saat di rasa tidurnya cukup untuk malam ini, dia menatap sekeliling di mana orang orang masih tertidur, Jajang mengeliat menggunakan kembali pakiannya dan keluar tempat persembunyian, bergelayun antara pohon ke pohon layaknya orang utan, dia berhenti di tepi sungai di dekat air terjun, tanpa aba aba Jajang membuka baju atasnya dan meloncat dari pohon langsung ke bawah air terjun.
Seseorang keluar dari air terjun tersebut lantas menutup matanya dan beranjak ke darat dan mengenakan pakaiannya, dia tahu pasti yang tadi melompat adalah Jajang percuma baginya memperingatkan Jajang kertas putih tanpa tahu benar dan salah seperti Jajang memang terkadang sangat sulit di pahami dan sering mengundang salah paham.
"Saudari!" Jajang memperlihatkan wajahnya ke atas air dan melihat sani yang tengah berpakaian.
"Jangan lihat kemari!", seru sani mengenakan pakaiannya.
Jajang mengangguk menenggelamkan kembali wajahnya ke dalam air hingga berapa lama dia kembali mengambang dan melihat sekeliling dan tidak di dapati saudarinya.
"Cepatlah!, kita akan membuat pemukiman baru hari ini!", sani mengibaskan rambut basahnya dan menggelung rambut panjang itu hingga membelit di kepala bagian belakangnya.
"Baiklah!", jajang bangkit dan dengan cepat dia menaiki pohon yang semula dia taruh bajunya di dahan besar yang terjuntai ke ari terjun.
Dalam perjalanan pulang baik jajang ataupun sani saling diam, seakan tak ingin ada pertanyakan nyatanya dalam hati jajang amat banyak pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan.
Mereka sampai di markas utama dan mulai mengusung rencana untuk pembangunan desa baru, pak sukri memang bukanlah kepala desa namun dia amat di segani oleh seluruh warga, bagi mereka tak perlu ada ketua yang diperlukan adalah saling percaya dan menghasilkan sesuatu dengan cara bermusyawarah dengan hasil akhir yang mereka ambil sebagai mufakat bersama.
Pembangunan desa tak dapat di selsaikan dengan satu hari mereka memerlukan waktu hingga satu minggu untuk membangun desa baru, saling bergotong royong dengan siulan burung dan nyanyian bambu yang silih berganti bersuara dengan teriakan teriakan semangat dari para pengayam wanita, kebersamaan dan tawa silih berganti dengan bahagia meski dalam keadaan yang amat menakutkan namun mereka masih memiliki kebahagiaan dalam kebersamaan, tidak sedikit dari mereka yang tak memiliki orang tua, dan tak sedikit pula orang tua yang kehilangan putra putrinya namun mereka masih teguh dengan tujuan tertinggi mereka dan cinta terbesar mereka untuk ibu pertiwi.
"Jajang ayo kita mengambil ikan di sungai untuk makan siang kita!", seru seorang pemuda yang melambaikan tangannya ke arah jajang.
"Oh ya surwa tunggu sebentar!", jajang mengenakan alas kakinya yang terbuat dari anyaman jerami melangkah mendekati surwa.
"Mari!", jajang melangkah beriringan bersama surwa menuju sungai mengambil ikan, namun mereka tidak pernah mengambil ikan kecil mereka selalu mengambil ikan besar secukupnya, karena ladang mereka untuk makan adalah air dan tanah yang tumbuh di tanah air tercinta.
"Hai jajang!, berapa usiamu sekarang?", tanya surwa menyenggol lengan jajang.
"Hmm, itu anu sebenarnya saya tidak tahu pasti berapa usia saya tapi kata bapak kemungkinan saat ini usia saya 19 tahun", jajang menjawab ragu karena dia sendiri saja tidak ingat apa apa tentang masa lalunya.
"Waah, sudah cukup buat menikah, ayolah kawan menikahlah mumpung umur masih ada dan jiwa masih di badan, tak mau kan kau tiba tiba meninggal sebelum menikah!", surwa terkekeh menggoda jajang.
"Mm, wa sebenarnya saya tidak tahu menikah itu apa?, bisakah kamu menjelaskannya sedikit?", tanya jajang, dia meminta penjelasan pada surwa, surwa terkikik geli senang sekali rasanya punya teman polos namun baik hati seperti jajang.
"Eh jang!, kau suka siapa di sini heh?", tanya surwa menyenderkan tangannya di pundak jajang di atas batu di tengah sungai mereka bertengger.
"Hmmm, aku suka bapak, suka kamu suka saudari perempuan dan suka semua warga desa", seru jajang berfikir mungkin maksud suka yang di katakan surwa bukan ke arah saa, namun jajang menafsirkan suka itu layaknya kamu menyukai ikan bakar, dan itulah suka di mata jajang.
Surwa menepuk jidatnya dan menggeleng kepalanya, dia menepuk pundak jajang meneguhkan, berusaha menjelaskan apa yang dia maksud, "kamu ya jang!, begini suka yang ku maksud bukan seperti itu, tapi begini bila kamu melihat seorang wanita lalu tiba tiba dada kamu bergetar hebat dan selalu ingin bersamanya", surwa menjelaskan perasaan yang amat sulit di tafsirkan itu.
"Sekarang dadakupun bergetar, aku juga senang bersama kamu sur, apa itu juga berarti suka?", jajang merasakan detak jantungnya sendiri.
Plak, lagi lagi surwa menepuk jidatnya dia benar benar sulit menjelaskan sesuatu hal yang dewasa pada jajang, "bukan begitu kawan, begini rasa suka yang ku maksud itu cinta, kamu tahu cinta kan?", surwa bertanya menyelidik, jajang menggeleng dan sudah pasti surwa pusing sendiri oleh kelakuan jajang.
"Kawan, dengar baik baik!, cinta itu sangat indah bahkan luar biasa indah, coba aku tanya padamu kawan siapa wanita paling dekat denganmu saat ini?", tanya surwa berusaha kembali menjelaskan.
"Wanita paling dekat denganku adalah saudara perempuanku!", seru jajang memberi tahu.
Surwa mengurut pelipisnya yang tiba tiba berdenyit, namun dia tiba tiba ingat jajang dan sani kan tidak sedarah jadi tidak mustahil bila mereka menikah, surwa tersenyum jahat namun dia kembali berubah ramah saat menatap jajang, "bagus!, nah sekarang bila kamu sering dekat dengannya apakah dia sering memerah pipinya saat di sapa atau di dekati olehmu?", tanya jajang berusaha melakukan kejahatan yang baik.
"Iya, dulu pas desa di bakar aku pagi pagi bangun meski matahari masih senyap dan sedikit mengeluarkan cahaya aku tidak sengaja mandi di air terjun dan saudariku pun sama dan aku melihat wajahnya memerah sepanjang jalan, mungkin dia marah padaku karena aku malamnya memeluknya tapi niatku tidak jahat aku hanya ingin berusaha menghangatkan tubuhnya", jajang menjelaskan keadaanya, yang sebenarnya terjadi di malam hari sani sama sekali tidak bisa tidur karena dadanya yang terus bergemuruh dengan wajah memerah merasakan bertapa lembutnya pelukan jajang yang sekilas.
"Bagus jang!, coba sekarang kamu katakan apa yang aku katakan tapi kamu jangan bilang ke saudarimu bila itu dari ucapanku kamu bilang saja itu perasaanmu, bagaimana?", tanya surwa terkikik ingin mengerjai jajang.
"Baiklah!", jajang mengangguk mengerti rasa ingin tahunya akan segala sesuatu membuatnya menurut dan melakukan apa yang di katakan surwa.
...
Jajang dan surwa pulang dari sungai dengan ikan dan kelinci hutan hasil buruan mereka, mereka membakarnya dan menyajikan hidangan itu di atas daun pisang yang berjajar rapih, (sekedar info di sana belum ada kecap, garam atau sejenisnya).
"Saudari, ini untukmu!", jajang memberikan sebuah bunga anggrek yang amat cantik pada saudarinya, wajah sani memerah, dari kejauhan surwa terkekeh dan rencananya pasti akan berhasil.
"Terima kasih!", sani meraih bunga tersebut dan menghirup aroma yang merasuki hidungnya dan tersenyum lembut, dirinya memang telah menyimpan rasa yang sangat dalam untuk jajang namun dia tidak berani mengatakannya karena melihat jajang yang amat polos, mustahil baginya untuk bersama di tambah lagi kini jajang adalah saudara angkatnya.
"Saudari, menikahlah denganku dan mari meminang rumah tangga", jajang meraih tangan sani sama seperti yang di kayakan surwa, dada jajang bergetar hebat dia bisa merasakan apa yang di ucapkan surwa apakah ini yang di sebut cinta menurut surwa, kini dia sadar bila dirinya memeng mencintai saudarinya.
Suasana menjadi melow seketika seakan bunga yang di pegang sani bertebaran di sekeliling mereka dengan hembusan angin memberi melodi pada rambut sani yang tergerai dan melambai menerpa wajahnya.
Jajang membantu sani menyibakkan rambut yang menutupi wajah sani dan melihat rona indah di pipi sani.
"Aku mencintaimu sani", jajang mengucapkan kata itu sendirinya merasakan dan mengungkapkan perasaannya.
Mata sani membulat seketika merasakan getaran yang kian menghebat dan rona wajahnya yang kian bertambah, surwa berjingkarak dari kejauhan dia amat sangat ingin berguling guling di tanah dan seperti terbawa melodi yang tercipta.
"Aku juga cinta kamu!, ayolah katakan itu aku menunggu aku menunggu.. Kyaaa...", surwa kegirangan ingin sekali dia bersembunyi di tepi sungai tapi dia juga tak ingin melewatkan kejadian luar biasa itu.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
ťeĐĎý🐻BeaŔ
jajang tuh yaa..terlalu lugu..moga2 diterima ya sama Sani
2023-01-12
1
Zubi
Ai maneh teu paham jang 😒
2022-12-23
1
🍒Nungma🍃
bener bener deh si jajang
2022-12-23
1