Dengan menyerahkan urusan pemerintahan kepada orang asing, berarti pada waktu itu juga Sultan Tamjid tidak mempunyai hak lagi untuk memerintah orang orang asing dalam bertindak. Berita tersebut sampai pula ke telinga Pangeran Hidayat. Oleh karena itu pemberontakkan kian menghebat di mana mana. Hampir seluruh Kalimantan bergejolak dengan pemberontakkan, para orang asing itu pun kembali meminta bantuan ke Batavia, di bawah pimpinan Kapten Van Hasselt. Baik di lapangan kemiliteran maupun di lapangan sipil, mereka selalu ingin mendapatkan kemenangan, mereka berniat untuk menghancurkan pada kaum pemberontak.
"Tuan Sultan sekarang juga akan di berangkatkan ke jakarta," kata Kolonel Andersen.
Berita itu sangat mengejutkan Sultan Tamjid, dirinya mencoba bertanya. "Urusan apa kiranya yang mengharuskan aku pergi ke sana."
"Sekedar istirahat, Tuan Sultan." jawab Andersen.
"Tapi Jakarta adalah pusat pemerintahan Tuan-tuan," ucap Sultan Tamjid berpura pura bodoh. "Sedangkan saya meninggalkan kerajaan ini."
"Bukankah Tuan Sultan telah mempercayakan dan menyerahkan kerajaan kepada kami? Sekarang percayalah pada kami, kerajaan ini akan kami pertahankan. Kami terpaksa akan bertindak lebih keras kepada siapapun yang merongrong kerajaan ini." demikian kata Andersen yang pandai memutar lidah.
Sultan Tamjid mengerti dengan isyarat tersebut. Dia sekarang benar benar akan di asingkan dari lingkungan kerajaan.
"Sebagai bukti bahwa pihak kami masih berbaik hati, maka tiap bulan Tuan Sultan akan mendapatkan jatah belanja." kata Kolonel itu menjelaskan.
"Ini namanya menggulingkan kekuasaan," kata Sultan Tamjid.
Sambil tersenyum Andersen berkata. "Apapun anggapan Tuan, harap Tuan terima sendiri."
Ingin rasanya Sultan Tamjid memberontak, tetapi semua itu sia sia, dia menyesalai kebodohannya sendiri, memang penyesalan yang tidak berguna.
Sultan Tamjid pada akhirnya di kirimkan ke Batavia dan biaya hidupnya di tanggung oleh pihak orang asing. Perlawanan kian berkobar di setiap kampung dan penjuru kalimantan. Dekat gunung lawak dan banyu ireng pemberontakkan di pimpin oleh Pangeran Hidayat bersama Kiai Demang Lahman. Benteng rakyat di Tobania yang di pimpin oleh Haji Buyasin dapat di rebut oleh para orang asing. Markas mereka di pindahkan ke Tanah Laut. Sementara itu orang orang asing berangsur angsur kian mendapatkan kemenangan. Pemberontakan di Martapura kian mereda, hanya pemberontakan pemberontakan kecil yang tak ada artinya, masih terus berlangsung. Mereka selalu mendaptkan kemenangan dan menumpas pemberontakan dengan mengerahkan kekuasaannya yang besar.
Kemudian perjuangan rakyat yang di pimpin oleh Pangeran Hidayat di pusatkan di Tanah Laut, Gunung Lawak, dan Pulau Petak. Pangeran Hidayat berusaha menghindar agar tidak tertangkap mereka, dia selalu mengadakan perlawanan. Dia sudah tahu betul, bahwa setiap yang tertangkap bakal di buang ke tempat lain. Sama seperti halnya Pangeran Prabu Anom dulu yang di buang ke Bandung.
Pada suatu waktu Pangeran Hidayat kedatangan 20 orang ulama. Di antara mereka ada para bangsawan kerajaan.
"Pangeran yang baik hati," ucap salah seorang pemuka agama pada Pangeran Hidayat ketika di temuinya sedang bergerliya dan memimpin pasukan di suatu tempat perjuangan. "Kami datang kemari tiada lain karena kami cinta pada Pangeran dan rakyat, maka kami akan sangat senang bila sekiranya Pangeran mau menghampiri para orang asing dan bermusyawarah dengan mereka. Apa kiranya yang Pangeran kehendaki, dan bagaimana pula kehendak mereka sehubungan dengan datangnya mereka di tanah kita ini."
Pangeran terdiam sejenak meresapi setiap ucapan yang di lontarkan oleh salah satu pemuka agama itu.
"Saya merasa sangat senang dan bersyukur dapat berjumpa dengan Tuan-tuan sekalian. Kita sama sama satu bangsa dan satu tanah air, kita satu tanah yang di pijak dan satu langit yang menaungi, tetapi mengapa saya merasa bila Tuan-tuan sekalian malah terlihat bersahabat dengan Belanda?" tanya Pangeran Hidayat.
"Kami belum paham maksud Tuan Pangeran." kata salah seorang kiai lagi yang hadir dalam pertemuan tersebut.
"Apakah Tuan-tuan berada di pihak kami ataukah berada di pihak orang asin?" jelas Pangeran Hidayat.
"Kami tidak memihak."
"Tapi kenapa kalian mau di suruh oleh pihak orang orang asing itu?", tanya Pangeran Hidayat.
"Kami berada di tengah tengah kami sebagai penengah."
"Tapi Tuan-tuan condong terbujuk oleh mereka, Tuan-tuan bukanlah pejuang. Pejuang tak kenal damai dengan penjajah kami sudah tahu sifat mereka, damai berarti suatu penangkapan. Kami menolak datang ke Martapura." tegas Pangeran Hidayat.
"Apakah Tuan Pangeran tidak kasihan pada rakyat yang telah sepakat mengangkat Pangeran menjadi Sultan?" tanya lagi salah satu pemuka agama.
"Saya menolak pengangkatan diri saya menjadi Sultan oleh mereka para pendatang. Pengangkatan seperti ini hanyalah menjadi boneka saja, saya tidak mau menjadi boneka mereka." kata pangeran hidayat dengan begitu banyak lontaran kata kata pedasanya, yang terus keluar dan membakar setiap kalimat yang di lontarkan para pesuruh itu.
Akhirnya merekapun pulang ke Martapura dengan tangan hampa. Pangeran Hidayat tidak ingin di ajak berunding dengan cara itu, dan merekapun terus melakukan pemberontakan, hingga akhirnya keluarlah suruhan para pendatang yang mengatakan.
Tangkap Pangeran Hidayat.
Menyusul kemudian berita , yaitu sebelum penangkapan di lakukan, Pangeran Hidayat di tunggu kedatangannya dalam rentang waktu 12 hari sejak pengumuman di keluarkan. Tapi apa pula yang di lakukan Pangeran Hidayat? Dia mengirimkan surat kepada pihak penjajah.
Pemerintahan kalian boleh menjatuhkan anggapan apa saja terhadap diri saya.
Demikian isi surat dari Pangeran Hidayat, tak lama kemudian kapal Onrust di kirim para penjaja ke Hulu Barito untuk menangkap Pangeran Hidayat, tapi kapal itu di serang habis habisan, seisi kapal itu nyatis semuanya terbunuh. Hanya beberapa gelintir orang yang dapat menyelamatkan jiwanya. Mereka kembali mengirimkan pasukannya untuk membalas dendam. Kampung kampung di bakar dan Benteng Lahai dihancurkan.
Serangan mereka semakin menjadi jadi, demikian pula perlawanan yang tak pernah padam. Di setiap ada penyerangan di situ pula ada pemberontakkan. Semua penjuru mendapatkan penjajahan yang begitu ganas. Hulu suangai seluruhnya bergejolak. Margasari, Kulumpang, Munggu Tayuh, Rantau, Kandangan, Amuntai, Tanjung, seluruh Tanah Laut, Tabanio, Pelaihari, Martapura, Amawang, Pantai Hambawang, Baramai dan lamphihung. Beberapa kepala pemberontak di gantung di depan umum oleh pihak penjajah guna memberikan rasa takut kepada rakyat, namun hal itu justrtu memicu semangat perjuangan para pemberontak.
Hingga akhirnya pihak orang orang asing mendapatkan bantuan 300 orang perajurit dari Raja Pagatan. Dan pasukan ini mampu menumbangkan benteng perlawanan yang di pimpin oleh Haji Buyasin. Satu persatu benteng pertahanan rakyat dapat di tumbangkan, hingga pada akhirnya Pangeran Hidayat pun tertangkap dan mebyerah.
Pangeran hidayat di buang ke Cianjur, namun jiwanya yang memberontak kembali berkobar bersama para pemberontak lain yang di giring menuju tempat pembuangan.
Pangeran Hidayat dan rombongannya akhirnya di siksa memang usia belia menjadi pemicu lemahnya Pangeran Hidayat hingga akhirnya merekapun di buang di hutan belantara dan di temukan oleh Pak Sukri yang lewat, Pak Sukri memeriksa setiap orang dan tubuh tubuh di sana namun dirinya tak menemukan satupun yang masih bernafas hingga akhirnya dia menemukan Pangeran Hidayat dalam keadaan hilang ingatan.
Fleshback off.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥
Ikut merasakan sakit dan sedih juga apa yg di rasakan pangeran hidayat, dikhianati saudara sendiri dan sekarang dirinya dibuang ke cianjur, mengalami penyiksaan sampai pangeran hidayah hilang ingatan 😭
2023-01-12
1
Sneha♥️
ceritanya keren👍
2022-12-11
1