Perkasanya gunung gunung yang membusung, dengan lembah lembah yang menganga memperlihatkan ronanya. Pohon pohon bergandengan di hutan yang rindang. Jajang menahan derita, sukma yang sempat tinggal dan kembali tanpa pengetahuannya, puing puing kehancuran dalam ingatannya kian membuatnya derita menabah rasa sesak di dadanya.
"Sani.. " lemah suara Jajang terdengar lirih di pelukan sang isteri, Sani menatap mata Jajang yang telah terbuka.
"Tidak apa apa mereka sudah pergi!" jawab Sani dengan nada halus yang terus mengelus puncak kepala suaminya.
"Aku ingat semuanya." Jajang berucap dengan nada yang lemah, Sani terkejut bukan main apakah itu pertanda bila Jajang akan meninggalkannya, pikir Sani.
"Ya, lalu bagaimana?" Sani mencoba menundukkan pandangannya mentap mata coklat Rama yang nampak sangat pilu.
"Aku tidak tahu, kini aku sudah mendapatkan kehidupan damai, meski demikian Bapak harus tahu siapa aku sesungguhnya," Jajang ingin tersenyum namun tak mampu karena bibirnya kelu dengan rasa pahit.
"Ya, sedikit lagi kita sampai, hanya tinggal sekitar 2 KM lagi," Sani mengusap kening Jajang yang penuh dengan peluh. Jajang mengangguk dan memeluk isterinya, Sani cukup terkejut dengan kejadian yang serentak itu.
Sekitar lebih dari satu jam mereka masih dalam posisi berpelukkan hingga kaki Sani merasa kesemutan, Sani menatap wajah teduh Jajang yang masih terdiam dan enggan beranjak jelas Jajang tengah memikirkan hidupnya harus bagaimana.
"Sayang apakah kau sedang bingung?" Sani memberanikan dirinya untuk bertanya dengan lembut.
Jajang mengangguk tak mengelak, jiwanya bergetar amat ingin membalaskan dendam namun dia pula harus bagaimaa dengan isteri dan keluarga barunya, Jajang merasa sangat kacau dalam kondisi saat ini.
"Aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi dan akan selalu bersama denganmu sampai akhir hayat." Jajang terperangah mendengar ucapan isterinya dia menguatkan tekadnya setelah mendapatkan seruan dari sang isteri.
Siang itu Jajang dan Sani akhirnya sampai di desa, tanpa pikir panjang Jajang langsung menghadap pada Pak Sukri.
"Mengapa kalian sangat cepat kembali?" tanya Pak Sukri keheranan, karena biasanya orang orang yang baru menikah condong lebih ingin menghabiskan waktu berdua.
"Saya ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan anda pak!" Jajang terbawa tutur katanya seperti dalam ingatannya semula.
Pak sukri mengangkat alisnya merasa aneh dengan tutur kata yang di ucapkan oleh jajang, sebelumnya dia berucap layaknya anak anak yang tengah belajar bicara dan acap kali dia seperti sulit mengucapkan penyampaian dari hatinya. Namun berbeda dengan apa yang dia dengar saat ini, Jajang berucap layaknya orang dewasa yang penuh dengan wibawa.
"Apa yang ingin kau sampaikan nak? Mari! Mari!" Pak sukri mempersilahkan Jajang untuk memasuki gubuk atau rumah yang kini di tinggalinya.
"Ayo duduk!" Pak sukri mempersilahkan Jajang untuk duduk lesehan di lantai dengan sebuah anyaman bambu yang di gelar.
"Silahkan, apa yang ingin kamu sampaikan nak, akan bapak dengar dengan baik." Pak sukri memperlihatkan keriput di pipinya melalui senyumnya yang kini terangkat.
"Pak saya sudah mengingat akan diri saya, Dirasa kurang pantas bila saya tidak memperkenalkan diri saya terlebih dahulu, status saya memang tidak nengubah apa apa di depan anda Pak aku tetaplah puteramu suami dari puterimu." Jajang mulai menjelaskan secara perlahan berbagai kronologi dan asal muasal dirinya hingga dapat terdampar di di hutan lebat yang di beri nama Hutan Sancang itu.
...
Setelah menjelaskan siapa dirinya dan di dengar pula oleh Sani, mereka amat terkejut dan hampir tidak percaya. Bukan karena identitas Jajang melainkan tujuan Jajang yang selaras dengan tujuan mereka.
"Hmmm.. Jadi apa yang ingin engkau lakukan Pangeran Hidayat?" tanya Pak Sukri berusaha mencari kebenaran lain.
"Fiyh.. Mungkin bila aku belum menikahi puterimu aku akan melanjutkan tekadku, namun kini aku sudah berkeluarga dan memikul beban yang cukup besar. Aku merasa gelisah akan hal yang kini menjadi beban pikiran ini, aku ingin mendapatkan pencerahan dari mu Pak." Jajang atau Pangeran Hidayat menghembuskan nafasnya kasar dan sedikit menundukkan pandangannya merasa sangat galau bila bahasa trendinya.
"Aku tidak bertanya akan hal itu nak, aku bertanya apa rencanamu untuk menghancurkan para penjajah itu!" wajah Pak Sukri nampak memerah dengan tangan yang terkepal.
"Tapi pak, bagaimana dengan isteri saya?" Jajang nampak kian gelisah akan keselamatan sang isteri.
"Jangan khawatirkan itu nak, kita hidup hanya sekali dan kita hidup untuk masa depan bila di biarkan para penjajah itu tentu akan lebih banyak pula isteri yang kehilangan suaminya, suami yang kehilangan isterinya, anak yang kehilangan orang tuanya dan orang tua yang kehilangan anak anaknya di masa depan. Tentu itu adalah jumlah yang tidak terhitung, coba kau pikirkan nak!, aku sebagai orang tua sangat setuju bila perjuanganmu di kobarkan kembali, tak perlu risau dengan dunia yang hanya sementara ini!" Pak Sukri memberikan semangat membara kepada arang yang masih hangat, membuat jiwa perjuangan di dalam jiwanya kan berkobar.
"Isteriku bagaimana pendapatmu?" tentu saja Jajang tak akan mengambil keputusan sendiri, dia kembali bertanya pada sang isteri.
Sani menganggukkan kepalanya dan mengangkat wajahnya menatap wajah teduh Jajang, "aku akan selalu bersamamu suamiku, ayo berjuanglah untuk anak cucu kita di masa depan!" Sani kembali memberikan semangat perjuangan kepada Jajang.
Jajangpun akhirnya mengangguk kian menambah keyakinannya, Pak Sukri yang sudah libur sangat lama menanti kaula muda yang siap membangun tiang tiang kemerdekaan kini telah duduk di hadapannya. Pak sukripun kian semangat dengan hal itu. Jajang meraih tangan Sani dan mengelusnya lembut penuh sayang.
'Bertapa beruntungnya aku memilikimu isteriku!' ucap hati kecil jajang yang kini sudah sangat mencintai isterinya.
"Ayo kita diskusikan apa yang akan kita lakukan!" Pak Sukri
Bangkit dari duduknya hendak keluar dari gubuk tersebut.
"Maaf pak rasanya saat ini bolehkah saya kembali saja terlebih dahulu?, tadi saya sempat melihat Tamjid di perjalanan, saya takut bila dia menemukan penginapan kecil kita." Jajang memberi alasan kepada Pak Sukri, Pak Sukri terdiam sejenak dan akhirnya dia sadar bila Sani dan Jajang baru saia menikah dan sudah pasti bila mereka juga sangat ingin menghabiskan waktu berdua.
"Ah maafkan bapak nak!, aku kurang sigap akan hal itu. Baik, kembalilah dulu dan setelah di rasa siap pulanglah kemari sebelum akhirnya desa kita kembali di hancurkan maka kita yang harus terlebih dahulu menghancurkan mereka." Pak Sukri mewanti wanti Jajang dan Sani.
"Baik Pak, saya pamit dulu." kini Jajang dan Sanilah yang bangkit dan berpamitan, tangan mereka saling bergandengan keluar dari gubuk itu dan kembali ke tempat di mana mereka akan menghabiskan waktu.
Sepanjang perjalanan memamng tak ada kata yang terucap dari Jajang dan Sani, mereka saling diam dalam perasaan masing masing. Terkadang Jajang sering curi curi pandang pada sani yang tengah melangkah dari dahan satu ke dahan lainnya untuk pergi ke rumah pohon, rasa haru, bangga, beruntung dan tentu saja bahagia di rasakan oleh Jajang.
Sesampainya di rumah pohon itu tidak ada tanda tanda keberadaan siapapun dan terbilang sangat aman itu pertanda bila tempat mereka belum di ketahui siapa siapa. Jajang melompat ke depan pintu rumah tersebut yang di susul oleh Sani. Wajah letih Sani sangat nampak di mata Jajang. Setelah mengingat semuanya kini Jajangpun ada dengan kondisi yang lebih dewasa.
"Lelah?" tanya Jajang melihat keringat Sani yang bercucuran, Sani enggan menjawab dia hanya menggeleng berbohong. Jajang terkekeh melihat kebohongan isterinya yang sangat terlihat.
"Baiklah, meski tidak lelah sekalipun tapi sayangku ini harus tetap istirahat, tunggu disini biar aku masakkan sesuatu untuk kita." Jajang kini mampu berkata dengan sangat baik bahkan membuat bulu kunduk sani saja mampu berdiri.
Jajang lantas turun dari tempatnya berpijak membuka baju atasnya dan mengambil ikan di sungai, dia membakar ikan itu hingga akhirnya matang dan melihat Sani yang masih setia mentapnya di depan pintu kamar dengan kaki terjuntai tengah bergerak bergantian.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥
beruntung nya pangeran hidayat memiliki istri seperti sani, pengertian dan mau mengikuti kemna pun suaminya berpijak dan sank juga sangat tulus mencintai jajang atau pangeran hidayat
2023-01-12
1
Nina
Ngga tau mau komen apaa, ceritanya bagus
2022-12-23
2