Keesokan harinya Arthur berada di depan gereja bersama Lily. "Suster Lily apa kamu sudah siap." Arthur melihat Lily.
"Aku sudah siap." Lily tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi ke kota." Arthur tersenyum dan menggandeng tangan Lily.
Arthur dan Lily kemudian berjalan bergandengan tangan meninggalkan desa.
Keesokan harinya Arthur dan Lily tiba di kota. "Suster Lily sebelum ke gereja ayo kita makan dulu." Kata Arthur.
"Baik." Lily mengangguk. Arthur dan Lily kemudian berjalan ke arah restoran.
"Selamat datang, apa yang ingin tuan dan nona pesan." Pelayan menyambut Arthur dan Lily yang masuk ke dalam restoran.
"Aku pesan satu porsi daging sapi dan segelas teh hijau." Kata Arthur.
"Aku juga pesan satu porsi daging sapi dan segelas teh hijau." Kata Lily.
"Baik, silakan tunggu pesanan anda." Kata pelayan restoran berjalan ke dapur.
Tidak lama kemudian Arthur melihat pesanannya datang. "Ini pesanan tuan dan nona." Kata pelayan restoran mengantarkan pesanan Arthur dan Lily.
"Suster ayo kita makan." Arthur melihat Lily.
"Baik." Lily mengangguk. Arthur dan Lily kemudian mulai makan.
Beberapa menit kemudian Arthur dan Lily telah selesai makan. "Arthur ayo ke gereja." Lily melihat Arthur.
"Baik." Arthur mengangguk kemudian mengikuti Lily keluar restoran.
Tidak lama kemudian Arthur dan Lily berada di depan gereja. Lily membuka pintu dan masuk ke dalam gereja. "Lily." Kata Elvie melihat Lily masuk ke dalam gereja.
"Suster Elvie." Lily tersenyum melihat Elvie.
"Suster Elvie ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Kata Lily.
"Oohh. Sepertinya kamu ingin membicarakan hal penting." Kata Elvie.
"Aku ingin berhenti menjadi suster." Balas Lily.
"Mengapa kamu ingin berhenti menjadi suster." Elvie terkejut.
"Aku ingin hidup seperti wanita normal dan menikah dengan Arthur." Kata Lily dengan malu.
"Apa." Elvie terkejut mendengar jawaban Lily.
"Apa kamu serius ingin menikah dengan Arthur." Kata Elvie melihat Arthur.
"Aku serius suster. Arthur adalah pria yang baik. Aku menyukainya." Lily tersipu malu.
"Baiklah jika itu keputusanmu." Elvie menghela nafas.
"Arthur kapan kamu ingin menikahi Lily." Elvie melihat Arthur.
"Secepatnya. Jika bisa, besok aku ingin menikah dengan Lily." Arthur melihat Elvie.
"Baiklah, besok pagi kalian berdua akan menikah." Elvie menghela nafas.
"Arthur apa kamu sudah membeli cincin pernikahan." Tanya Elvie.
"Aku lupa untuk membeli cincin pernikahan." Kata Arthur keluar dari gereja.
Elvie tersenyum kecut saat melihat Arthur yang keluar dari gereja. "Lily apa kamu serius ingin menikah dengan Arthur." Tanya Elvie.
"Aku serius suster." Lily mengangguk.
Saat ini Arthur sedang berada di dalam toko perhiasan. "Ada yang bisa saya bantu." Kata perempuan penjaga toko.
"Aku ingin membeli sepasang cincin untuk pernikahan." Kata Arthur. Perempuan kemudian menunjukan beberapa cincin kepada Arthur.
"Berapa harga cincin ini." Kata Arthur melihat sepasang cincin berlian.
"500 coin emas." Balas perempuan penjaga toko. Arthur membuka tasnya kemudian memberikan 500 coin emas kepada perempuan. Perempuan mulai menghitung coin emas yang diberikan Arthur.
Perempuan memasukan sepasang cincin berlian ke dalam kotak, kemudian memberikan kotak kepada Arthur. "Ini cincinnya tuan." Perempuan tersenyum kepada Arthur.
"Apa ada yang ingin tuan beli lagi." Tanya perempuan.
"Tidak ada." Kata Arthur berjalan keluar toko.
"Sekarang tinggal membeli jas dan gaun pengantin." Kata Arthur berjalan ke arah toko pakaian.
1 Jam kemudian Arthur kembali ke gereja. "Suster Lily cobalah gaun ini." Kata Arthur memberikan gaun kepada Lily.
"Baik." Lily tersenyum kemudian masuk ke dalam ruangan.
Beberapa menit kemudian Arthur melihat Lily keluar dari ruangan. "Suster apa kamu menyukai gaun yang aku berikan. Jika tidak aku akan membeli yang lain." Arthur melihat Lily.
"Aku menyukai gaun yang kamu berikan. Kamu tidak perlu membeli gaun lagi." Lily tersenyum.
"Besok kita berdua akan menikah. Mengapa kamu masih memanggilku suster." Lily menatap Arthur.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu Lily." Arthur tersenyum dan memeluk pinggang Lily.
"Uhukk. Kalian berdua belum resmi menikah. Jadi jangan melewati batas." Kata Elvie keluar dari ruangan. Lily tersipu malu dan mendorong Arthur.
"Apa kamu sudah membeli cincin untuk besok." Tanya Elvie.
"Aku sudah membeli cincin." Arthur mengangguk.
"Bagus. Apa kamu tidak ingin mengabari teman-temanmu. Bahwa besok kamu akan menikah." Elvie melihat Arthur.
"Tidak perlu, mereka saat ini pasti sibuk berlatih dan berburu." Balas Arthur tersenyum.
"Baiklah jika itu keputusanmu." Elvie mengangguk.
Keesokan harinya Arthur sedang berdiri di panggung bersama Lily. "Pengantin pria Arthur, apa kau bersedia menjadikan Lily sebagai istrimu selama hidupmu. Apa kau bersedia mengabdikan dirimu dengan setulus hati." Kata pria berpakaian hitam.
"Iya aku bersedia." Balas Arthur.
"Kau boleh mencium pengantin wanita sekarang." Kata pria berpakaian hitam.
"Lily." "Arthur." Arthur dan Lily saling menatap kemudian mulai berciuman.
"Selamat Arthur." "Selamat Lily." Elvie tersenyum melihat Arthur dan Lily.
Beberapa menit kemudian Arthur dan Lily berada di luar gereja. "Apa kalian berdua sudah ingin pergi." Elvie melihat Arthur.
"Benar suster, kami akan kembali ke desa." Lily mengangguk.
"Arthur jaga Lily dengan baik. Jangan kecewakan dirinya." Elvie melihat Arthur.
"Tenang suster. Aku akan menjaga istriku dengan baik." Arthur tersenyum dan memeluk pinggang Lily.
"Baiklah, kami akan pergi suster." Kata Arthur kemudian naik ke dalam kereta bersama Lily.
"Ayo berangkat." Kata Arthur melihat Supier kereta.
"Baik." Supir kereta mengangguk kemudian mencambuk kuda. "Nggiikkk." Kuda berlari dan menarik kereta.
Beberapa jam kemudian, Arthur melihat kereta kuda tiba-tiba berhenti. "Kita sudah sampai." Kata supir kereta. Arthur dan Lily kemudian keluar dari kereta.
"Arthur, Lily." Rosmila terkejut melihat Arthur yang memeluk pinggang Lily saat turun dari kereta.
"Kepala desa, kami baru saja menikah." Arthur tersenyum dan menunjukan cincin di jarinya.
"Ahhhh." Rosmila terkejut dengan kata Arthur. "Suster apa itu benar kamu menikah dengan Arthur." Rosmila melihat Lily.
"Benar kepala desa, hari ini aku menikah dengan Arthur. Dan mulai saat ini aku bukan lagi seorang suster." Lily tersenyum.
Tidak lama kemudian Arthur masuk ke dalam rumahnya bersama Lily. "Mulai sekarang aku akan tinggal disini." Kata Lily melihat rumah Arthur.
"Sayang ayo kita berhubungan badan." Kata Arthur memeluk pinggang Lily. Lily tersipu malu saat mendengar kata Arthur.
"Aku ingin mandi dulu." Kata Lily dengan malu.
"Baiklah." Arthur tersenyum dan melepas pelukannya. Melihat Arthur melepas pelukannya Lily berlari ke arah kamar mandi.
"Aku tidak menyangka akan menikah dengan seorang wanita di dunia lain." Kata Arthur tersenyum.
Beberapa menit kemudian Lily keluar dari kamar mandi. "Sayang kamu mandilah juga." Kata Lily dengan malu.
"Baiklah, aku mandi juga." Arthur tersenyum kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Tidak lama kemudian Arthur selesai mandi. Arthur masuk ke dalam kamar dan melihat Lily duduk di atas kursi. "Apa kamu sudah siap." Arthur melihat Lily.
"Aku sudah siap." Lily tersipu dengan malu.
Arthur tersenyum kemudian mencium bibir Lily. "Eemmm." Lily memejamkan matanya dan mencium bibir Arthur.
Arthur membaringkan Lily ke kasur kemudian melepas pakaiannya. "Sayang dadamu sungguh besar." Kata Arthur menjilati dada Lily. "Emmm." Lily mengerang saat Arthur menjilati dadanya.
Setelah puas menjilati dada Lily. Arthur kemudian menusuk milik Lily. "Ahhh." Lily berteriak saat Arthur menusuk miliknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Zoelf 212 🛡⚡🔱
hajaaasrrrr
2023-11-10
0
Ibrahim Rusli
tusuk menusuk teroooos..🤘😄
2023-02-08
3
𝙍𝙮𝙪𝙪 𝘼𝙯𝙖𝙩𝙝𝙤𝙩𝙝
... Tydack mengecewakan ya
2023-01-29
4