Bab 18 Ketika harus kehilangan

Sandi dan Indah mencari kemana hantu itu pergi. Namun di semua sudut rumah tidak ada tanda jika hantu Arimbi masih disana.

"Kita sudah aman," kata Sandi pada Indah yang juga merasakan seluruh tubuhnya sakit akibat di seret paksa oleh hantu Arimbi.

"Iya. Sepertinya dia sudah pergi," kata Indah dan mulai mengompres beberapa bagian tubuhnya yang memar.

"Apa maunya hantu itu? Kenapa dia melakukan semua ini?" Sandi masih tidak mengerti.

"Saya juga tidak tahu pak," indah sudah selesai mengobati lukanya. Dia lalu menatap Sandi yang duduk disampingnya.

"Biar saya obati bapak juga. Hantu sialan itu sudah membuat kita jadi begini. Sepertinya kita harus pergi ke orang pintar. Mumpung hantu itu pergi, kita akan membuatnya tidak bisa masuk rumah ini lagi," kata Indah tiba-tiba.

"Apakah bisa?"

"Ya. Saya akan mengantarkan bapak menemui guru saya," Setelah selesai mengobati Sandi mereka segera bergegas meninggalkan rumah itu.

Mereka belum tahu jika Sonia sudah meninggal dirumah sakit. Saat akan menyalakan mesin, Sandi mendapatkan telepon dari rumah sakit.

"Apa!? Baik dokter, saya akan segera kesana," kata Sandi menoleh sejenak wajah Indah.

"Aku harus ke rumah sakit. Sonia meninggal. Apakah kau bisa pergi sendiri mencari orang pintar?"

"Baik pak. Bapak kerumah sakit saja. Saya akan pergi sendiri," kata Indah lalu turun dari mobil Sandi.

Sandi melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Sementara Indah naik motor ke kediaman gurunya untuk membuat perisai agar hantu Arimbi tidak bisa memasuki rumah mereka.

Tiba dirumah sakit, Sandi langsung menuju kamar istrinya.

"Istri bapak sudah meninggal, dengan sangat menyesal saya tidak bisa menyelamatkan nya," seorang dokter berkata dihadapan sandi dengan sedih.

Sandi juga kaget. Lalu menatap dokter di depannya.

"Kami sangat sedih dan merasa kehilangan,"

"Silakan jika ingin melihat," dokter mempersilahkan masuk kekamar istrinya yang sudah terbujur kaku tak bernyawa.

"Baik dokter. Apakah saya bisa segera membawanya pulang?" tanya Sandi ketika sudah melihat istrinya yang tak bernyawa lagi.

"Ya,"

Sandi lalu mengutus semua keperluan administrasi dirumah sakit dan ambulans membawa istrinya pulang.

Dirumah sudah ada Tina yang menemani Kumala dan Roki. Sandi tadi menelpon Tina untuk menjemput Kumala dan Roki. Juga memberitahukan jika ibu mereka meninggal dunia.

"Ibu......" Kumala berteriak histeris kala Sonia di turunkan dari ambulans.

Kumala menangis dan memeluk jasad ibunya yang sedang di gendong pada tetangga.

"Kumala, sabar sayang...." Tina meraih Kumala dalam pelukannya dan membiarkan jasad Sonia di bawa masuk keruang tamu.

Roki juga menangis memeluk Tina, namun masih belum mengerti benar apa arti kehilangan dan kematian. Meskipun melihat kakaknya menangis dia juga ikut menangis dan memeluk kakak ya.

Sandi sibuk mengurus jasad Sonia bersama para tetangga. Dan menjelaskan pada beberapa sanak saudara tentang kematian Sonia yang mendadak agar Sandi tidak di curigai sebagai pemuja setan dan membuat isytinya menjadi tumbalnya.

Jasad itu kini telah di selimuti kain panjang hingga wajahnya. Beberapa orang yang kaget dengan berita kematian Sonia datang dan membuka penutup wajahnya.

Pucat dan terlihat duka di wajah Sonia yang sudah tak bernyawa.

"Sabar ya anak-anak, Tuhan lebih sayang pada ibu kalian. Semoga kalian di beri kesabaran dan ketabahan," kata beberapa tamu yang hadir dan menjabat tangan Kumala sebagai anak yang paling besar.

Suasana dirumah Kumala menjadi ramai karena seluruh orang ingin melihat Sonia untuk yang terakhir kalinya. Beberapa pelanggan setia yang sudah lama kenal juga nampak hadir di rumah Sandi.

Sandi pura-pura sedih dan menangis ketika menemui para tamu. Semua tamu juga prihatin dengan Sandi dan kedua anaknya karena di tinggal istrinya secara mendadak.

Ketika jasad itu dimandikan, seorang anak kecil tanpa sengaja naik ke pohon jambu karena belum mengerti apa-apa.

Dia kaget ketika melihat yang dimandikan itu adalah pohon pisang.

"Kenapa mereka mencuci pohon pisang?" kata anak kecil itu bergumam sendirian.

Anak kecil itu lalu turun dan mencari ibunya yang sedang membantu memasak di ruang terbuka di samping rumah sandi.

"Ibu! Ibu! Kenapa mereka mencuci pohon pisang?" Ibunya kaget dan tertegun mendengar apa yang di ucapkan anak kecil.

"Ssttttt, jangan keras-keras. Coba katakan dengan pelan," bisik ibunya sambil melirik pada ibu-ibu yang lainnya.

"Aku dari atas pohon jambu melihat orang-orang itu mencuci pohon pisang," kata anak kecil itu berbisik ditelinga ibunya dengan pelan.

Ibunya kaget.

"Apa? Kamu yakin?"

"He em," kata anak itu lalu berlari menjauh untuk main lagi.

Sementara ibu sang anak yang sedang membantu masak untuk keluarga yang ditinggalkan tertegun. Sang ibu lalu melihat jenazah yang baru saja dimandikan.

"Sonia. Itu Sonia. Kenapa anakku bilang pohon pisang?" Sambil menggelengkan kepalanya sang ibu melanjutkan pekerjaannya kembali.

Sandi nampak duduk di dekat jenasah istrinya dengan tertunduk.

Sementara Tina bersama Kumala dan Roki juga berada disamping jenazah yang akan di makamkan.

"Ibu....Tante...ibu...sudah tiada. Ibu tidak akan kembali lagi. Ibu....." Kumala menangis di pelukan Tina.

Kesedihan jelas membuat wajah gadis itu menjadi sangat memelas.

"Sabar sayang....ini sudah takdir dari yang maha kuasa. Kalian harus bersabar dan iklhas. Doakan ibu kalian agar tenang di alam yang berbeda," Tina juga berulang kali mengusap air matanya.

Sementara para pria mulai mengangkat jenazah Sonia dan akan di masukkan kedalam keranda.

Kumala dan Roki saling berpelukan. Roki menangis kali ini ketika melihat ibu mereka dimasukkan kedalam keranda berwarna hijau. Lalu satu persatu diatasnya di hias dengan rangkaian bunga.

"Mbak...kenapa ibu di bawa?"

Kumala hanya menggelengkan kepalanya dan tidak sanggup mengatakan apapun pada adiknya Roki yang kebingungan.

Kumala hanya bisa memeluk dengan hati yang hancur melihat para tetangga menggotong keranda ibunya dan akan membawanya ke kuburan setelah di sholat kan di masjid.

Sampai di kuburan.

Perlahan jenasah Sonia dimasukkan ke liang lahat dengan hati-hati. Lalu di kubur dengan tanah. Saat itu Roki dan Kumala tidak berhenti menangis dan terus saja berpelukan sangat erat.

Melihat untuk yang terakhir kalinya wajah ibunya. Yang tidak akan bisa dilihat lagi esok hari dan sampai kapanpun. Kecuali hanya foto dan kenangan yang tertinggal dalam ingatan mereka.

Kumala berusaha kuat demi adiknya Roki. Jika ibunya telah pergi untuk selamanya dari dunia ini. Maka sekarang, menjaga Roki menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang kakak.

Kumala dengan menguatkan hatinya dan berusaha tegar sebagai seorang kakak, berjongkok di hadapan Roki.

Lalu perlahan menatap sang adik yang matanya terus saja mengeluarkan air mata dengan derasnya. Menatap sang adik yang tidak berhenti menangis membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Dengan perlahan, Kumala mengusap airmata sang adik.

"Tenang lah. Doakan ibu agar tenang dan damai disana. Kamu jangan takut. Ibu akan baik-baik saja. Sekarang kita pulang dan kakak akan selalu menjagamu, jangan menangis lagi. Ayo kita pulang,"

Melihat sang kakak yang menjadi dewasa dan tegar dalam hitungan detik, membuat hati Roki sedikit tenang.

Airmatanya mulai surut. Dan mengangguk pelan pada sang kakak.

Sampai dirumah. Kumala teringat jika sang adik belum makan sejak pagi. Semua saudara sibuk dan tetangga juga sibuk. Hanya Kumala yang ingat jika Roki belum makan apapun dan minum apapun.

Kumala lalu berjalan kedapur dan mengambil piring serta gelas berisi air hangat.

"Kakak akan menyuapimu makan. Kamu belum makan sejak tadi pagi," kata Kumala sambil mengambil sesuap nasi untuk adiknya.

Adiknya menggeleng lemah.

"Aku tidak lapar..." Dia tidak mau makan karena sedih dan kehilangan sang ibu yang sangat mereka cintai dan menjadi dukungan dalam setiap menjalani kehidupan.

"Satu suap saja. Jika kamu tidak makan, ibu akan sedih disana," kata Kumala sambil mengusap satu airmatanya yang menetes ketika menyebut nama ibunya.

"Iya. Aku mau makan," kata Roki lalu mbuka mulutnya. Mendengar jika ibunya akan sedih di alam lain, maka hati Roki tidak bisa menerima. Dia lalu makan hingga habis.

"Kalau habis, apa ibu akan senang?" tanya Roki ketika tinggal satu suap lagi.

"Tentu saja sayang...." kata Kumala sambil menyeka satu lagi airmatanya yang tetap jatuh meski berusaha tegar didepan sang adik.

Terpopuler

Comments

neng ade

neng ade

Innalillahi wa innailaihi roji'uun..
yg sabar ya Kumala dan Toko. m 😭😭

2023-06-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!