Bab 4 Gangguan di hutan

Sonia dibawa ke ruang operasi. Beberapa dokter siap untuk melakukan tindakan. Seorang gadis telah datang untuk membayar biaya operasi Sonia.

Sandi yang datang untuk menghabisi istrinya terkejut.

"Siapa yang sudah membayar biaya operasi istri saya?"

"Seorang wanita datang untuk membayar biayanya. Dia adalah keluarganya," kata suster bagian administrasi.

"Oh, baiklah. Terimakasih," dengan kecewa Sandi berbalik dan menunggu di luar ruang operasi.

Dalam hati bertanya siapa wanita yang sudah datang membayar biaya operasi istrinya? Ini sangat aneh.

Kumala dan Roki pulang sekolah lebih awal. Mereka mendapati rumah sangat sepi.

"Mbak, dimana ayah? Apakah ayah sudah kerumah sakit? Kenapa tidak menunggu kita pulang?" Roki sedih dan hampir menangis.

"Kamu ingin kerumah sakit? Kalau begitu ganti bajumu. Mbak akan menelpon ayah," Kumala lalu menelpon ayahnya dari rumah.

Sementara Roki mengganti seragam sekolahnya dengan baju biasa lebih cepat.

"Sudah mbak. Ayo pergi!" Roki sangat merindukan ibunya dan tidak sabar untuk melihat keadaannya.

"Baiklah," Kumala disuruh naik ojek kerumah sakit jika ingin bertemu dengan ibunya.

Mereka berdua akhirnya naik ojek. Dan melewati hutan saat kerumah sakit.

"Kok lewat sini pak?" tanya Kumala pada pengendara ojek itu.

"Iya neng, biar lebih cepat," kata pengendara ojek.

"Memang jauh rumah sakitnya ya pak?" tanya Kumala merasa cemas dan takut.

"Jauh neng,"

Hutan itu ditumbuhi banyak tanaman Pinus dan juga rumput liar yang tinggi. Matahari bahkan tidak bisa masuk untuk menerangi karena terhalang oleh daun yang begitu lebat.

"Mbak, Roki takut," kata Roki menutup matanya.

"Pak, bisa lebih cepat lagi?" tanya Kumala juga merasakan takut yang menggigit kalbunya.

Tiba-tiba motor itu berhenti.

"Pak...kenapa berhenti?" Kumala kaget.

"Mogok neng," Pengendara motor itu lalu turun dan memeriksa motornya.

"Turun dulu neng. Biar abang periksa motornya," Kumala dan Roki lalu turun dan berjalan ke bawah pohon untuk duduk bersandar sambil menunggu pengendara motor itu memperbaiki motornya.

"Mbak, Roki takut, disini seperti malam hari saja, inikan masih jam satu siang," kata Roki merasakan dadanya mulai berdetak tak menentu.

Angin berhembus seperti berbisik ditelinga mereka berdua.

"Masuk lagi,"

"Suara apa tadi?" gumam Kumala bertatapan dengan Roki.

"Mbak juga dengar?" tanya Roky yang berfikir jika hanya dia yang mendengar bisikan yang terbawa angin.

"He em...." Kumala menatap sekeliling tempat itu dengan tajam.

Hening.

"Apa kita jalan kaki saja mbak?" tanya Roki yang sudah tidak tahan berada di hutan itu.

"Kita tunggu saja. Jalan kaki sangat jauh," kata Kumala keberatan.

"Bapak itu kenapa lewat sini sih? Tidak ada yang lewat sini selain kita," kata Roki menyesalkan pengendara yang mencari jalan pintas.

Tiba-tiba ada seorang pencari kayu yang lewat.

"Segera pergi neng. Jangan disini setelah sore hari," pesan bapak pembawa kayu itu ketika melihat Kumala dan Roki bersandar disebuah pohon besar.

"Kenapa pak?"

"Sejak kecelakaan satu keluarga satu bulan lalu. Tidak ada yang berani lewat sini. Labih baik segera pergi neng," pesan bapak pembawa kayu.

Roki dan Kumala saling bertatapan.

Bapak pembawa kayu itu cepat sekali berlalu. Kumala tidak sempat bertanya lagi padanya.

"Ayo mbak, kita harus segera pergi. Jalan kaki saja," kata Roki pada kakaknya.

Mereka lalu bangun dan mendekati pengendara motor itu.

"Gimana pak. Sudah bisa?"

Pengendara motor itu menggelengkan kepalanya.

"Ngga bisa neng. Padahal motor ini baru saja di servis. Ini juga motor baru. Ngga pernah mogok sebelumnya," keluh pengendara motor itu.

Deg.

Artinya, mungkin saja ada hantu disekitar sini, gumam Kumala mulai cemas.

"Pak, kita jalan kaki saja. Jangan disini hingga malam hari. Mungkin saja tempat ini bahaya," kata Kumala pada pengendara motor itu.

"Iya neng," mereka bertiga lalu jalan kaki.

Saat ini pukul empat sore.

Sandi menelpon rumahnya namun tidak ada yang mengangkat teleponnya.

"Jika sudah berangkat sejak tadi. Kenapa belum sampai juga," kata Sandi sendirian.

Mencemaskan kedua anaknya yang tidak kunjung sampai sejak tadi menelpon ingin datang ke rumah sakit.

Kumala dan Roki sangat kelelahan berjalan di hutan.

"Istirahat dulu mbak," kata Roki sangat lelah.

"Hem..." Kumala mengangguk.

Mereka bertiga lalu istirahat di sebuah gundukan tanah.

Roki bersandar dan tanganya dia taruh dibelakang untuk menopang tubuhnya.

Tiba-tiba, dia merasakan sentuhan dingin. Tangannya seperti dipegang oleh anak kecil.

Roki gemetar saat tangan itu begitu erat memegang dirinya dan seakan ingin menarik dirinya.

"Mbak...." Roki tidak berani menoleh. Hanya merasakan tanganya digenggam oleh seseorang.

"Ada apa?" Tanya Kumala menatap adiknya dengan kasihan. Melihatnya kusam dan berkeringat karena berjalan di hutan, membuatnya sedih.

"Dibelakang ku," kata Roki setengah berbisik.

Kumala lalu melihat kebelakang tubuh Roki.

"Tidak ada apapun. Ada apa? Kenapa kamu berkeringat dingin?"

"Mbak, kita sebaiknya jalan lagi aja. Ngga papa. Roki kuat kok. Tidak capek lagi,"

Roki segera bangun. Di ikuti oleh Kumala dan pengendara ojek itu.

"Ya udah neng. Ayo kita lanjutkan lagi. Sebentar lagi gelap. Saya khawatir dengan kalian berdua,"

Mereka melanjutkan perjalanan dan sekarang sudah terlihat jalan raya dari dua ratus meter mereka berdiri.

"Syukurlah pak. Itu ada jalan raya. Artinya kita sudah dekat," kata Kumala senang.

"Iya,"

"Roki? Dimana Roki?" Kumala kaget saat melihat adiknya tidak ada disampingnya.

Pengendara ojek itu juga kaget.

"Tadi ada disini?" kata pengendara ojek itu.

"Rokiiiiii" Kumala berteriak.

Dan tiba-tiba Roki keluar dari balik pohon.

"Kamu darimana?" tanya Kumala terkejut.

"Aku melihat kalian berjalan kearah sini. Lalu tadi siapa? Kok kalian kembar?" kata Roki dan segera di gandeng dengan erat oleh Kumala.

"Jangan lepaskan pegangan mbak. Kita segera keluar dari hutan ini," berkata dan mempercepat langkahnya.

Benar kata tukang kayu itu. Hutan ini berbahaya jika sore menjelang malam. Banyak hantu gentayangan, batin Kumala.

"Untunglah mbak segera memanggilmu. Jika tidak, bagaimana?" Kumala hampir menangis.

"Iya mbak...Roki takut,"

"Biar abang coba motornya ya neng?"

Pengendara motor itu lalu mencoba menyalakan mesin ketika mereka sudah sampai di pinggir hutan.

Nggreeengg!

"Bisa!" pengendara motor itu kegirangan.

"Ayo naik," teriak bapak itu.

"Iya pak," Kumala dan Roki saling berpandangan.

"Kok aneh. Kenapa setelah keluar dari hutan bisa nyala motornya?" kata Kumala setelah mereka naik ke atas motor.

"Berarti itu bukan hutan sembarangan neng. Disana banyak penunggu nya," kata pengendara motor itu dengan hati lega.

"Kita akan segera sampai neng,"

"Iya pak,"

Saat turun kumala kaget melihat baju Roki yang bagian belakang.

"Kenapa bajumu kotor Roki?"

"Kotor gimana mbak?" Roki bertanya sambil berjalan masuk kerumah sakit.

"Ada coretan pensil dan tulisan "Ayo main lagi"

"Apa?" Roki kaget.

"Ini baju baru kok mbak. Belum lama ibu beli dipasar,"

"Artinya, mungkinkah saat dihutan tadi...."

"Hiiiiiii" Mereka segera berlari memeluk ayahnya saat melihat Sandi menjemput mereka di luar rumah sakit.

Terpopuler

Comments

neng ade

neng ade

duuhh .. kasihan Toko dan Kumala.. semoga kedua nya selamat

2023-06-08

0

Siti Lestari

Siti Lestari

aku selalu ngikutin 👍

2022-11-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!