Seekor buaya tiba-tiba muncul di malam hari. Dia berada diruang tengah rumah Sandi. Anaknya sedang lelap tertidur.
"Mbak, kenapa ibu belum pulang?" tanya Roky yang minta tidur ditemani oleh kakak perempuannya. Dia gelisah sejak sore hari. Dan merasa cemas karena ibunya belum juga pulang, juga ayahnya.
"Tenanglah, nanti ibu juga pulang. Kan ayah juga belum pulang,"
"Kenapa pulangnya harus selarut ini. Kasihan ibu. Bekerja sampai malam hari belum pulang. Ibu pasti lelah dan mengantuk,"
"Kakak juga lelah Roky. Jangan cemaskan ibu. Ibu di toko kan bersama ayah. Kakak tadi banyak kegiatan di sekolah. Sekarang sangat mengantuk. Kau cepatlah tidur," kata Kumala anak Sonia yang beranjak dewasa.
Sambil berkata hal itu pada adiknya, Kumala malah tertidur disamping adiknya yang masih terjaga.
"Mbak...mbak...bangun mbak...suara apa itu?" Roki gemetar ketakutan. Suara aneh terdengar dari ruang tengah.
Tapi kakaknya Kumala tidak mau bangun. Dia sangat mengantuk. Akhirnya Roki mengendap-endap turun dari ranjang dan mengintip dari pintu kamarnya.
"Mbak....bangun mbak...." Roki menoleh pada kakaknya yang sangat lelap.
Melihat kakaknya tidak mau bangun, Roki akhirnya membuka pintu kamarnya perlahan.
kreeekkk.
Berjalan perlahan-lahan dengan kaki gemetar tapi ingin tahu suara apa yang tadi dia dengar.
Buaya yang ada diruang tamu menoleh ke arah Roki. Roki gemetar.
"Bu...buaya....." Roki pingsan ditempat. Buaya itu lalu merambat kearahnya. Dia mendekati Roki. Dan saat mulutnya terbuka lebar, Sandi masuk.
"Hentikan!" Sandi yang baru masuk kaget melihat anaknya di dekati buaya siluman.
Buaya menoleh dengan mata merah, lalu bersuara menakutkan.
"Tepati janjimu....." kata buaya itu.
"Aku sudah melakukannya," kata Sandi lalu memeluk anaknya.
Buaya siluman lalu berubah wujud menjadi manusia. Menatap Sandi dengan tatapan menyala tajam. Di tangan kanannya ada tongkat dengan kepala buaya di atasnya.
"Kau belum melakukan tugasmu," kata pertapa sakti itu yang bisa menghilang dengan kesaktiannya.
"Saya sudah melakukanya. Dia sudah mati," kata Sandi sambil memeluk Roki yang pingsan.
"Aku tunggu sampai Selasa Kliwon selanjutnya. Tepati janjimu, atau nyawamu sebagai gantinya"
Setelah berkata dengan tatapan menakutkan dan membuat Sandi gemetar, pertapa sakti itu lalu menghilang dari hadapannya.
"Roki...kamu tidak apa-apa sayang?" Sandi menciumi wajah anak bungsunya.
"Untung aku datang tepat waktu. Jika tidak, buaya itu akan memakanmu," Sandi lalu menggendong putranya ke kamarnya.
Setelah kedua anaknya sudah tidur, dia menutup pintu depan. Dan saat akan berbalik, pintunya diketuk dari luar.
Sandi segera membukanya. Terdengar suara dua orang memanggil namanya.
"Pak Sandi!"
Kreeekkk
Pintu terbuka. Sandi kaget melihat dua polisi yang menatapnya dengan tajam.
"Apa benar anda suaminya nyonya Sonia?"
"Benar. Ada apa pak?"
"Istri anda mengalami kecelakaan. Dan sekarang ada dirumah sakit. Anda bisa datang untuk membuat laporan dan melihat keadaannya, lukanya sangat parah," kata kedua polisi itu lalu pamit pada Sandi.
"Baik pak. Saya akan segera ke sana," Sandipun lalu menutup pintu rumahnya dan pergi kerumah sakit untuk melihat kondisi istrinya.
Di ruang perawatan, istrinya masih dalam keadaan kritis. Artinya nyawanya masih ada ditubuhnya.
Sandi terkejut dan bergumam,"pantas saja biaya itu datang kerumah. Ternyata tumbalnya masih hidup. Aku pikir dia sudah tiada," kata Sandi dari pintu dan langkahnya terhenti disana.
Melihat banyak selang ada ditubuh istrinya dan bunyi monitor yang berdecit.
Masih ada garis vertikal naik turun yang menandakan denyut jantung pasien masih berdetak.
"Dia masih bernyawa," kata Sandi lalu duduk disamping istrinya yang koma.
"Jika aku melepas selang ini maka dia akan tiada. Dan garis vertikal akan berubah horisontal. Lalu, buaya itu tidak akan datang lagi," kata Sandi berdiri dan akan bergerak melepaskan selang itu.
Namun tiba-tiba dokter masuk dan membuatnya mengurungkan niatnya.
"Anda suaminya pasien?" tanya dokter dengan kertas ditangan kirinya.
"Benar dokter," jawab Sandi kaget sekaligus berusaha mengubah mimik mukanya menjadi sedih.
"Bisa ikut saya ke kantor. Ada yang harus saya bicarakan dengan anda," kata dokter lalu berjalan keluar kamar pasien di ikuti oleh Sandi.
"Ini adalah hasil rontgen pasien. Dia mengalami cedera patah tulang dibagian kaki. Jika sembuh, kemungkinan bisa lumpuh," kata dokter dan membuat Sandi kaget.
"Apa yang harus saya lakukan dokter?"
"Biaya pengobatan nya sangat mahal. Namun jika anda bersedia maka saya akan melakukan tindakan operasi," imbuh dokter membuat Sandi kesal.
Sial. Bukannya tiada malah membuat aku harus membayar mahal biaya pengobatannya, umpat ya dalam hati.
"Biar saya pikirkan dokter," kata Sandi lalu pamit.
Sandi keluar dari ruangan dokter dengan tangan mengepal. Kesal dan marah.
Sandi lalu masuk kedalam ruangan istrinya dirawat. Didalam kamar itu merasakan aura yang tidak biasanya. Seperti ada yang berdiri dikamar istrinya menatap dirinya.
Angin berhembus di lehernya padahal jendela tertutup rapat.
Tiba-tiba air dikamar mandi mengalir.
"Ada orang didalam?" Sandi berbicara sambil berjalan ke kamar mandi. Melihat siapa selain dirinya yang sedang menunggui istrinya.
"Tidak ada orang. Tapi kenapa airnya bisa menyala?"
Sandi lalu memutar kran dan menutupnya. Saat dia berbalik, air keluar lagi dan kali ini berwarna merah.
Deg. Sandi kaget bukan kepalang. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Sandi lalu mengusap matanya dan air kran berubah menjadi putih.
"Siapa yang sedang mengganggu ku? Keluar dan tunjukkan dirimu!" kata Sandi kesal karena merasa di ganggu oleh makhluk gaib.
Tiba-tiba dari kamar mandi dia melihat bayangan putih dengan rambut panjang mendekati istrinya lalu mengulang disana.
"Apakah ini hanya perasaan ku saja? aku seperti melihat gadis berambut panjang dengan baju putih tadi. Kemana dia menghilang?" Sandi lalu keluar dari kamar mandi dan mencari keluar kama istrinya. Di lorong itu tidak ada siapapun yang lewat atau berjalan.
Sandi merasa ada yang mengganggu dirinya. Makhluk gaib. Tapi bukan pertapa sakti itu. Ini makhluk yang lain.
"Apa tujuannya? Kenapa dia menggangguku?" Sandi kesal lalu duduk didekat istrinya.
"Kau! kenapa kau masih hidup? Kau bukanya membuat aku kaya malah aku harus mengeluarkan uang untuk pengobatan mu!"
Sandi mengumpat dengan kesal.
"Tidak. Kau harus tiada sekarang juga," Sandi lalu berdiri dan akan melepaskan selang oksigen dari wajah istri nya. Namun tiba-tiba sebuah tangan dingin menahan tangannya dan dia tidak bisa menyentuh selang oksigen itu.
"Aduh! Kenapa tanganku tidak bisa bergerak. Dan tangan siapa tadi yang menghalangi tanganku?" Melihat tidak ada siapapun dikamar itu selain dirinya.
Dia merasakan tangan itu dingin seperti es. Namun wujudnya tidak kelihatan. Dia memegang tangannya dengan kuat sehingga sandi tidak bisa melepaskan selang oksigen sebagai alat bantu pernapasan untuk istrinya.
Namun merasakan ada mahluk lain yang mencegahnya membunuh istrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Siti Lestari
ih serem tapi bikin penasaran
2022-11-25
0