Bab 3 Arimbi

Makhluk itu sekarang telah berbicara pada Sonia yang sedang koma. Suaminya pulang dan Sonia sendirian dirumah sakit dalam keadaan koma.

Arimbi berbicara pada Sonia dan masuk dalam alam bawah sadarnya.

Sonia berada di antara kabut putih diatas sebuah gunung. Dia tidak tahu ada dimana. Ada seekor buaya yang ingin memangsanya. Tapi Arimbi berada didepannya dan membawanya lari menjauhi tempat itu.

"Siapa kau?" Sonia bertanya pada Arimbi yang menyelamatkan dirinya.

"Aku mengalami nasib sama seperti dirimu," kata Arimbi pada Sonia.

"Apa maksudmu, aku tidak mengerti," Sonia menatap Arimbi yang memakai baju putih hingga ke tanah. Rambutnya tergerai panjang sepinggang.

Sonia sedang berada diantara hidup dan mati. Dia koma. Dalam komanya dia seperti tersesat diatas gunung yang penuh dengan kabut putih.

Saat itulah Arimbi datang menyelamatkan dirinya dari buaya yang siap menerkamnya.

"Suamimu jahat. Dia mengorbankan dirimu sebagai tumbal," kata Arimbi berhadapan dengan Sonia.

Sonia tidak percaya dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin. Jangan memfitnah suamiku. Dia tidak akan melakukan yang kamu katakan itu,"

"Percayalah padaku. Kamu akan dijadikan tumbal olehnya. Kau harus menyelamatkan dirimu sendiri dari janjinya pada pertapa sakti itu,"

"Kau pasti mengarang cerita. Jangan bicara padaku. Aku tidak mau mendengar cerita palsumu itu!" Sonia lalu berjalan dan tidak menghiraukan Arimbi.

"Sonia! Tunggu! Lihat aku...." Arimbi lalu mengangkat badannya dan dia melayang diatas tanah.

Sonia terpana melihatnya dan dadanya berdegup kencang.

"Ha...hantu....Kau hantu....." Sonia justru ketakutan dan malah berlari menjauh dari Arimbi.

"Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu. aku justru akan menolongmu," Arimbi lalu melayang diatas tanah dan berhasil menyusul Sonia. Kini dia berhenti dihadapan Sonia.

"Jangan mendekat, atau aku akan terjun ke jurang," kata Sonia karena dia berdiri tepat diatas tebing jurang yang dalam.

"Aku tidak akan mendekat. Jangan terjun. Aku butuh kau tetap hidup, dan membalaskan dendam ku," kata Arimbi.

"Kalau begitu. Jangan mendekat...." Sonia berkata dengan nafas tersengal-sengal antara takut dan tidak percaya jika dia berbicara pada hantu.

"Aku takut...." Sonia menutup kedua matanya dan terduduk di tanah.

Tiba-tiba bayangan gadis bernama Arimbi itu menghilang. Dan fajar menyingsing di ufuk timur. Cahaya harapan telah terbit. Bersinar dan membuat makhluk gaib itu tidak tahan pada cahayanya. Dia menghilang entah kemana.

Dan saat itu, Sonia berusaha bangun dan seorang suster yang akan melihat keadaan nya melihat Sonia berusaha membuka matanya.

"Dokter! Pasien telah sadar!" Suster itu berteriak dan melepaskan penutup hidung Sonia.

Dia bisa bernafas tanpa membutuhkan alat penghantar oksigen lagi.

"Ohh, syukurlah...pasien telah melewati masa kritis," Dokter lalu melakukan tindakan dan meminta suster untuk menghubungi suaminya.

Saat ini, dirumah.

Sandi sedang bertapa di sebuah kamar yang tertutup dari cahaya. Dia sedang melakukan ritual memanggil gurunya. Bau kemenyan nyaring terhirup di ruangan itu.

Klotek!

Lilinya padam. Artinya pertapa itu sudah datang.

"Saya minta maaf guru. Saya belum bisa memberikan tumbalnya,"

"Tunggulah sampai purnama berikutnya. Kau harus segera melaksanakan janjimu. Dan bawa ke padaku kepala seekor kerbau serta darahnya," pesan suara gurunya.

"Baik guru,"

Sandi lalu membuka matanya ketika lilin itu menyala kembali.

Guru bilang aku harus menyembelih seekor kerbau dan membawa darah segarnya. Akan aku laksanakan perintahmu guru. Yang penting sekarang aku kaya raya.

Sandi lalu keluar dari kamarnya dan saat itu handphonenya berdering.

Dari rumah sakit, gumamnya.

"Pak, kami dari rumah sakit. Istri bapak sudah sadar. Bapak bisa datang untuk menjenguknya,"

Sonia sudah sadar, celaka.

"Ayah, dimana ibu? Kenapa ibu belum pulang?" Tanya Roki terbangun dari tidurnya dan menanyakan keberadaan ibunya.

Tidak bisa berbohong didepan anaknya, Sandi terpaksa mengatakan jika ibu mereka sedang dirawat karena kecelakaan.

"Ibu kalian mengalami kecelakaan. Dan sekarang dirawat dirumah sakit," melihat kedua mata Roki langsung mengucur deras dan membasahi pipinya.

Kumala berdiri dipintu dan mendengar semuanya. Hatinya terguncang dan merasa sangat cemas.

"Ayah....jadi ibu ada dirumah sakit? Aku ingin kesana melihatnya?" Kulakan mendekati ayahnya dan memeluknya sambil menangis.

"Tenanglah. Kalian akan menjenguknya besok. Sekarang lebih baik istirahat lagi. Ayah yang akan kesana untuk melihatnya,"

"Tapi kami juga ingin melihat keadaan ibu,"

"Jangan. Tunggu sampai ibu kalian sadar. Baru ayah akan membawa kalian melihat ibumu,"

Kumala mengangguk dan mengajak adiknya untuk masuk kamar kembali.

Sementara Sandi menatap langit-langit ruangan itu dengan menggigit bibir bawahnya. Dia merasa kesal. Karena niatnya untuk menghabisi Sonia belum terwujud. Dan selama semua itu belum terwujud, dia harus mengorbankan seekor kerbau seperti ya g diminta oleh pertapa sakti itu.

"Sial! Harga kerbau kan mahal. Dan gara-gara aku gagal mengorbankan dirinya. Maka aku harus mengambil tabunganku lagi untuk membeli kerbau,"

"Aku tidak tahan hidup miskin. Aku bosan kerja keras. Dan aku kesal karena kau menghinaku dan mengatakan jika aku suami tak berguna,"

"Sekarang, aku akan mulai menjadi kaya-raya. Dan tidak perlu kerja keras lagi. Aku hanya harus mengikuti apa yang di minta pertapa sakti itu,"

"Dan kau...akan menjadi tumbalnya.... setelah itu, aku akan menikahi Tina. Tina yang cantik dan masih muda. Dia pasti mau denganku. Dia kan janda kembang. Aku sebentar lagi akan menjadi duda. Maka kita bisa menikah, hhhh..."

Terpopuler

Comments

Siti Lestari

Siti Lestari

ceritanya semakin lama semakin bikin penasaran

2022-11-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!