Bab 11 Kedatangan Indah

Sandi tidak bisa melihat apapun. Semuanya gelap didalam kamar mandi itu.

Lalu terdengar suara wanita tertawa dari plafon. Terkekeh seakan mentertawakan dirinya.

"Siapa kau? Cepat tunjukkan dirimu? Kau manusia atau hantu?" Sandi kesal karena di ganggu oleh makhluk yang tidak terlihat. Dalam hatinya, dia juga yang telah membuat Sandi gagal menghabisi istrinya.

Tawa wanita itu semakin terkekeh. Seakan meledek Sandi yang terkunci didalam kamar mandi.

"Mas Sandi!" Panggil Tina yang mau masuk ke kamar mandi.

Lalu suara hantu perempuan itu menghilang.

Lampu nyala kembali. Dan Sandi bergumam dalam hati.

Ini pasti kerjaan hantu sialan itu.

Sandi lalu menyalakan kran air. Sekarang warna airnya tidak entah seperti kala dia masuk dan menyalakan airnya. Kini airnya sudah normal.

Kreekkkk!

Sandi membuka pintu. Sekarang Tina berada didalam. Dan tidak terjadi hal aneh seperti yang dialami oleh Sandi.

Tina keluar dan Sandi masih ada diluar kamar mandi. Sandi khawatir Tina diganggu oleh makluk itu. Itulah sebabnya dia menunggu diluar.

Kreekkkk!

Tina keluar. Sandi menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"

Tanya Tina saat melihat Sandi menatapnya dengan bingung.

"Apakah terjadi sesuatu didalam?"

"Ehm, tidak. Terjadi apa?" Sekarang gantian Tina yang bingung.

"Air kran. Apakah warna nya merah?"

"Tidak. Warnanya seperti biasa,"

"Lalu lampu. Apakah lampunya mati?"

"Tidak. Tidak ada yang mematikan lampu. Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Ohh, tidak ada. Aku hanya khawatir saja. Jika ada yang kau alami seperti hal aneh atau diganggu oleh mahkluk tak terlihat katakan padaku,"

"Ya. Tapi ada apa? Kenapa tiba-tiba berbicara tentang makhluk tak terlihat?"

"Ada yang tidak beres disini."

Saat akan berjalan ke tempat Sonia. Sandi melihat wajah wanita dibalik kaca. Menatap dirinya dengan marah. Sorot matanya merah penuh dendam. Dan dia menyeringai kejam.

"Dia disini. Melihat kita," kata Sandi pada Tina.

"Aku tidak melihatnya," Tina menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tidak melihat apapun.

Seorang Dokter nampak sedang berbicara dengan Sonia.

"Saya akan rawat jalan saja dokter," terdengar suara Sonia memohon. Sonia mengatakan hal itu karena dia mengkhawatirkan anak-anak nya juga merindukan mereka. Selain itu jika terus dirumah sakit, maka biayanya akan membengkak.

Dokter melihat wajah Sonia lalu mengecek beberapa hal. Setelah itu mengangguk pelan.

"Baiklah. Anda bisa pulang malam ini dengan kursi roda,"

"Terimakasih Dokter,"

Sandi dan Tina mendekati Sonia.

"Mbak, akan rawat jalan?"

"Iya Tin. Jika saya aku disini terus kasihan anak-anak,"

"Iya mbak,"

Tina lalu membantu membereskan beberapa barang milik Sonia yang akan dibawa pulang.

Sonia menatap Sandi yang berdiri didekatnya.

"Jadi kau akan pulang kerumah hari ini?" Sandi kaget.

"Iya Mas,"

Seorang Suster datang dengan kursi roda. Sandi lalu membantu Sonia duduk diatas kursi roda.

Mereka meninggalkan kamar dan mahkluk gaib itu juga ikut bersama mereka.

Begitu sampai dirumah, Tina mendorong Sonia ke kamar anak-anaknya.

"Ibu.....ibu sudah boleh pulang kerumah?" Tanya Roki dan Kumala sambil memeluk ibunya. Mereka sedang belajar untuk ujian.

Sonia memeluk Kumala dan Roki dengan kerinduan yang sangat besar dia simpan didalam hati.

"Iya. Ibu sudah pulang. Ibu akan selalu bersama kalian," Sonia berkata sambil mengusap airmatanya. Dia yang tadinya sehat dan bisa berjalan. Kini harus duduk dikursi roda selamanya.

Sandi menatap dari tempatnya berdiri dan menarik nafas berat. Tina senang karena Sonia sekarang rawat jalan dan bisa menemani anak-anak nya.

"Mbak, aku pamit pulang dulu ya, kemarin aku menginap disini,"

"Menginap disini?" Sonia terkejut.

"Iya mbak. Mas Sandi kan nungguin mbak dirumah sakit. Jadi saya menemani Kumala dan Roki,"

"Apa?" Sonia sekali lagi terkejut. Justru dia bingung dengan ucapan Tina. Suaminya tidak datang sejak sore untuk menjenguknya.

Tapi dia tidak akan membahasnya dengan Tina. Dia ingin tahu kemana suaminya pergi, dan akan dia selidiki sendiri.

Dan dalam hati dia mengapresiasi kejujuran Tina. Dalam hati dia senang karena mendapat pegawai yang jujur dan peduli seperti Tina.

"Ya. Terimakasih Tina, kamu sudah menemani anak-anak,"

"Iya mbak. Saya pulang sekarang ya mbak,"

"Iya Tin,"

Tina lalu pamit dengan sandi yang nampak sedang memikirkan sesuatu hingga membuatnya terkesan berwajah tegang.

"Mas saya pulang sekarang," kata Tina pamit pada Sandi.

"Biar saya antar kamu pulang," kata Sandi dan menoleh pada Sonia yang duduk dikursi roda agak jauh darinya.

Sonia mengangguk.

"Ya sudah," kata Tina ketika Sonia memberikan isyarat pada Sandi untuk mengantar pegawainya itu.

Sonia berbalik dan menabrak seseorang yang tidak terlihat.

"Aku akan memberikan pelajaran pada suamimu," kata hantu itu tanpa terdengar oleh Sonia.

Hantu itu lalu melayang dan masuk kedalam mobil Sandi tanpa terlihat oleh siapapun.

Sonia merasakan hal aneh dirumahnya.

"Kenapa rumah ini menjadi dingin? Aku merasakan hawa yang tidak biasanya," Sonia lalu masuk ke dapur.

Klotek!

Terdengar suara dari sebuah gudang yang sekarang dijadikan kamar rahasia oleh Sandi untuk pemujaan.

Sonia mendekat dengan kursi rodanya.

"Suara apa itu?"

Sonia berdiri didepan pintu kamar rahasia.

"Dikunci? Kenapa dikunci?" kata Sonia lirih.

Matanya melihat ke sekeliling dan biasanya kuncinya menggantung disana.

"Kuncinya juga tidak ada," Imbuh Sonia lagi.

Karena tidak bisa membuka pintu gudang itu akhirnya Sonia ke kamar anak-anak.

Selagi mereka belajar, Sonia menghubungi sebuah yayasan untuk minta dikirimkan seorang asisten rumah tangga.

"Kalau ada bisa dikirimkan sekarang juga Bu," kata Sonia karena kata pihak yayasan kebetulan ada seorang gadis yang baru datang dari kampung. Dan sekarang ada di yayasan.

"Baik Bu," kata pihak yayasan penyalur ART.

Mau tidak mau aku harus memakai jasa ART. Bagaimana pun sekarang aku duduk dikursi roda. Dan aku tidak bisa melakukan tugasku seperti sediakala, gumam Sonia.

Tidak lama kemudian, pintu rumahnya diketuk oleh seseorang.

Sonia lalu ke depan untuk membukakan pintunya.

Ketika dibuka seorang gadis dengan dandanan mencolok dan pakaian trendi berdiri dihadapannya.

"Saya Indah. Saya datang untuk bekerja dirumah ini," kata Indah.

Melihat penampilan Indah, Sonia sebenarnya tidak suka. Sekali melihatnya dia merasa khawatir akan kepribadiannya. Entah kenapa hatinya cemas.

Namun karena hanya Indah yang tersisa di yayasan itu maka diapun menyetujuinya.

"Ya, saya yang memesan tadi. Silakan masuk," kata Sonia.

Indah lalu masuk kedalam dan diruang tamu melihat foto Sandi dan Sonia yang terpajang. Indah menatap foto suaminya dengan sangat lama. Lalu beralih menatap Sonia yang duduk dikursi roda.

Heh, Suaminya masih muda. Istrinya sudah duduk dikursi roda? Sepertinya ini rumah yang tepat untukku. Aku datang kerumah yang tepat.

Indah menyeringai saat melihat foto Sandi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!