Indah lalu menghampiri majikannya dan berdiri disampingnya, terheran.
"Pak, anda yakin mobil itu jalan sendiri?"
"Iya Indah. Tidak ada suara pintu terbuka. Dan aku tidak melihat siapapun dibelakang kemudi,"
"Jadi artinya, hantu itu membawa mobil bapak?" raut muka Indah nampak meringis menahan sakit akibat kena hantaman barang-barang yang tadi melayang didapur.
"Aduuuhhhh!" Indah memegang salah satu pipinya. Sandi lalu menoleh dan memperhatikan wajah Indah.
"Pasti sakit?" tanya Sandi sambil memegang pipi Indah.
"Sakit sekali pak," tanya Indah memegang jemari Sandi yang menyentuh pipinya dengan lirikan menggoda dan nampak genit.
"Ayo kita masuk kedalam," Sandi lalu mengajak Indah masuk kedalam.
"Hantu itu mengamuk dan melempar semua barang di dapur. Bapak bisa lihat sendiri," Indah mengajak Sandi masuk kedapur dibelakang.
Alangkah terkejutnya Indah ketika dapur itu sangat rapi.
"Tidak ada yang berantakan disini. Semua normal. Tidak ada yang aneh," kata Sandi dan menatap Indah dengan bingung.
"Tidak pak. Saya yakin. Tadi semua barang ini berantakan dilantai. Semua barang melayang ke udara. Hantu itu mengamuk pada saya. Dan sekarang semuanya berada ditempatnya, bagaimana ini bisa terjadi?"
"Lihat wajah saya. Ini adalah buktinya jika hantu itu mengamuk. Dan melempar semua barang ke udara!" Indah tidak terima jika majikannya tidak percaya pada perkataanya.
"Oke. Oke. Aku percaya padamu. Sekarang, bersihkan wajahmu dan aku akan mengobatinya,"
"Iya pak," Indah berjalan gontai dan kecewa karena tidak bisa membuktikan keberadaan hantu itu.
"Dasar hantu sialan! Entah kemana dia!" Indah mengumpat didalam kamar mandi dan menatap kesal pada wajahnya yang penyok dan jadi buruk karena lebam.
Sementara Sandi duduk diruang tamu dan menyandarkan dirinya pada kursi sambil menutup matanya.
"Ada yang aneh. Bagaimana wajah Indah bisa lebam seperti itu. Dan bagaimana mobilnya bisa jalan sendiri? Siapa yang melakukan semua ini?" Sandi mencoba berfikir secara logis.
Indah datang dan duduk disampingnya dengan membawa salep.
"Biar aku yang oleskan," Sandi lalu mengobati Indah dan mengoleskan salep pada wajahnya.
Dan saat itu mobil itu sudah kembali dan terparkir di depan rumahnya ketika Sandi menoleh.
"Mobil itu sudah kembali, lihat di sana," Sandi dan Indah secara bersamaan melihat ke halaman. Dan benar saja, mobilnya ada disana.
"Apakah ini hanya ilusiku saja?"
"Tidak mungkin pak. Jika hanya ilusi bapak, harusnya saya tidak bisa melihatnya. Saya juga melihat jika mobil itu berjalan sendiri tadi,"
"Artinya, memang ada yang mengganggu dirumah ini," Sandi lalu menutup salep dan akan berjalan ke pintu.
Cuaca memang berubah mendung dan matahari tidak nampak bersinar. Hampir turun hujan, dan angin bertiup kencang.
Hantu Arimbi sudah sampai dirumah itu kembali dan sedih karena kondisi Sonia yang koma. Sekarang keadaan nya lebih buruk dari sebelumnya.
Bahkan Arimbi bisa merasakan jika nyawa Sonia berada diujung tanduk kehidupan.
Arimbi sangat kesal dengan dua orang dihadapanya kini.
Arimbi memejamkan matanya lalu membuat jendela-jendela bergerak sangat kencang dan saling menghantam tembok.
"Ada apa ini? Tutup semua jendela Indah. Kenapa angin tiba-tiba sangat kencang?"
Brak! Brak! Brak!
Suara jendela yang saling beradu membuat bulu kuduk Indah merinding.
"Sepertinya dia disini," kata Indah pada Sandi.
"Siapa?" Sandi menatap Indah dengan lekat.
"Hantu itu," kata Indah mulai merasakan jika angin ini bukanlah dari alam. Melainkan gangguan dari hantu.
Tiba-tiba sebuah asbak melayang di udara dan menghantam Sandi dan Indah.
Praanggg!
"Kurang ajar! Siapa yang melempar asbak ini?!" Sandi berteriak kesal ketika asbak itu menghantam keningnya.
Lalu listrik menjadi padam.
"Aaaaaaawww....Tolooooong! Aaaa tolong!"
Suara jeritan dari Indah yang diseret oleh tali. Dan hantu itu tidak terlihat. Semua gelap diruangan itu. Sandi tidak bisa melihat apapun. Hanya bisa mendengar suara Indah yang semakin menjauh dari samping Sandi.
"Indah! Kamu dimana!"
"Pak Sandi tolong saya! Hantu itu menyeret saya!" Teriak Indah lagi. Namun karena semua gelap maka Sandi tidak bisa melihat apapun sama sekali. Sedangkan semua jendela dan pintu terkunci dari dalam. Suara mereka tidak terdengar dari luar.
Didalam ruang itu menjadi semakin gelap.
"Kamu dimana?" Sandi lalu mengelakkan kompor didapur dan memegang lilin di tangannya.
Tidak ada suara apapun termasuk suara Indah.
Sandi berjalan mengendap-endap ke setiap ruangan dengan siaga dan dada berdebar.
Tiba-tiba ada SMS dari guru les Kumala dan Roki.
SMS itu mengatakan jika kedua anaknya akan menginap dirumahnya yang bersebelahan dengan sekolah. Karena ada pohon tumbang dan jalanan macet total. Belum intensitas hujan disana sangat deras hingga membuat genangan air dimana-mana.
Sandi lalu membalas "Ya, terimakasih,"
Pesan terkirim.
Sandi kembali mengendap dengan pelan tanpa ada suara dari kakinya berusaha mencari Indah dalam bantuan nyala lilin.
Ffuuuuuuuhhhhh
Suara itu membuat lilin ditangan Sandi padam.
Hihihihihi... hihihihihi.
Terdengar suara tawa nyaring dari Arimbi yang marah karena Sonia celaka.
"Tunjukkan dirimu!" Teriak Sandi dan akan ke kompor untuk menyalakan lilin kembali.
Check!
Sebuah tangan dingin memegang kakinya dan menyeretnya hingga dia terjatuh.
Tangan itu memegang dengan erat kaki Sandi.
"Lepaskan! Lepaskan!" Sandi mulai ketakutan. Karena Hantu itu seakan ingin membunuhnya.
Tak!
Sebuah pisau melayang di udara dan hampir mengenai perutnya.
Ssseeeehhhhh!
Sandi menghindar dan pisau itu jatuh ketanah.
Taaakkkk!
Hihihihihi....hihihihihi....
Hantu itu kembali tertawa melihat mangsanya ketakutan dan berusaha melepaskan diri dari tangannya.
Sandi meraih pisau itu dan mengiris pergelangan hantu itu.
Kreeesss!
Tidak keluar darah.
Hihihihihi....hihihihihi.
Hantu itu malah tertawa melihat tanganya terpotong. Dan tetap berada di kaki sandi sebagian jatinya.
Sandi lalu berusaha lari dan mendobrak pintu.
"Pak Sandi....tolong saya...."
Suara Indah dari kamar mandi.
Sandi segera berlari dan memapah indah setelah menemukan dirinya.
"Kita keluar dari rumah ini," kata Sandi dan tiba-tiba hujan berhenti.
Hening.
Tidak ada hantu. Tidak ada suara tertawa cekikikan.
Tidak ada tempat yang berantakan. Lampu nyala kembali.
Sandi dan Indah saling berpandangan.
Sandi menunduk pada kakinya yang tadi ada jari-jari hantu tertinggal disana. Tidak ada. seakan tidak terjadi apapun.
Semua normal.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Sandi kebingungan dengan nafas tersengal.
"Kemana dia pergi? Kemana dia pergi?"
Ternyata Arimbi pergi ke rumah sakit. Karena saat ini detak jantung Sonia berhenti.
Dan Arimbi akan merebut jasad Sonia dari pertapa sakti itu. Dan sebenarnya yang ada dirumah sakit saat ini hanyalah pohon pisang.
Sedangkan jasad Sonia sudah ada bersama pertapa sakti itu yang juga telah membuat Arimbi kehilangan anaknya.
Namun di mata orang awam, dia adalah manusia. Sementara dimata Arimbi itu hanyalah pohon pisang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Siti Lestari
waduh apa Sonia akan mati
2022-11-28
0