Arimbi melayang meninggalkan kediaman Sandi. Dia sampai dirumah sakit. Berdiri disamping mayat Sonia. Kesedihan yang mendalam terlihat dari wajahnya.
"Aku tahu ini bukan dirimu. Kau dimandikan oleh dokter dan semua perawat. Tapi ini hanya pohon pisang. Kau bersama pertapa sakti itu," kata Arimbi menangis tersedu-sedu.
"Putriku juga mengalami hal yang sama. Dia menjadi tumbal pesugihan saudaraku. Dan aku juga tidak bisa menyelamatkannya, mungkin melalui dirimu, aku bisa melihat putriku,"
Arimbi lalu meninggalkan jasad Sonia dirumah sakit yang sudah di mandikan. Sonia melayang ke luar rumah sakit dan pergi ke gunung.
Dia ingin mencari Sonia jika masih memungkinkan. Agar dia tidak di jadikan budak oleh pertapa sakti itu.
"Dimana pertapa sakti itu?" Arimbi terus melayang dan sampai disebuah goa didalam gunung.
Banyak sekali manusia didalam gunung itu sedang berpesta.
Dan terlihat Sonia ada di antara mereka sedang di siram air bunga. Wajahnya pucat dan matanya kosong.
Dia menatap ruang hampa dan terlihat tak berdaya. Dia masih tidak mengerti kenapa ada ditempat ini. Dia juga tidak bisa memahami apa yang terjadi dengan dirinya dan apa yang dilakukan hantu-hantu di goa ini.
Buaya nampak duduk di singgasana. Banyak sekali pelayan yang mondar-mandir melayaninya.
"Aku memang tidak bisa melawannya. Jika aku menyerangnya, dia akan mengurungku dan menyiksaku di lembah kehancuran, dia begitu sakti karena bantuan iblis. Tapi aku ingin melihat putriku. Dimana dia?"
Arimbi menyelinap diantara struktur dinding goa yang tidak rata.
"Sonia, kasihan dirimu. Kau akan menjadi budak iblis itu yang menyamar sebagai pertapa sakti," hati Arimbi trenyuh melihat para iblis berpesta menyambut kedatangan Sonia.
"Seandainya aku bisa menyelamatkan dirimu Sonia. Kau pasti masih hidup, sayangnya aku hanya hantu biasa tanpa kesaktian," Arimbi menyesali kematian Sonia yang pada akhirnya menjadi tumbal suaminya sendiri.
Seorang gadis belia dengan wajah pucat tanpa cahaya datang membawa nampan berisi air bunga. Dia mendekati Sonia dan wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Putriku....itu putriku...." Arimbi menangis melihat putrinya menjadi pelayan iblis di gunung ini.
"Siapa disana?" Semua iblis menoleh kearah suara tangisan itu.
Putri Arimbi merasakan kehadiran ibunya. Dan dia tahu jika ibunya ada di dinding itu. Maka agar ibunya tidak tertangkap, putri Arimbi menumpahkan air bunganya dan mengalihkan perhatian pada iblis.
Byuuurrr!
"Hah!? Kamu menumpahkan air persembahan!? Kurang ajar kamu!" Ketua iblis marah dan mencambuk putri Arimbi hingga membuatnya menjerit.
"Kau pelayan paling baru disini. Kau paling sering membuat kesalahan! Rasakan ini!"
"Aaaooooo!"
Putri Arimbi menjerit merasakan cambukan dari ketua iblis.
Hancur hati Arimbi melihat putrinya menjadi pelayan di dunia iblis. Dan juga dia menerima cambukan demi menyelamatkan dirinya.
"Maafkan ibumu....ibumu tidak bisa menyelamatkan dirimu..." Dengan berurai air mata, Arimbi pergi dari goa itu.
Dia juga tidak akan diterima disana jika ingin bersama putrinya. Dia mati karena kecelakaan. Dan hanya yang mati sebagai tumbal yang bisa tinggal bersama para iblis.
Jika dia ketahuan, maka dia akan di penjara dan disiksa. Lalu di benamkan kedalam api oleh para iblis.
Sonia terkejut ketika seluruh kepalanya disiram dengan air mawar dan bau wangi.
Dari tadi wajahnya beku. Kini dia tersadar saat melihat seorang gadis sebesar Kumala menangis dengan punggung biru akibat cambukan di hadapannya.
"Apa yang terjadi padamu?" Kata Arimbi masih tidak sadar jika dia berada di dunia iblis.
"Dan siapa mereka?"
Semua iblis sudah kembali ke pekerjaannya masing-masing. Dan membiarkan Sonia sendirian bersama gadis yang baru saja di cambuk itu.
"Aku Sarah Arimbi, aku terjebak ditempat ini. Mereka para iblis. Dan kita adalah pelayannya,"
"Bagaimana mungkin?!" Sonia terkejut lalu melihat ke sekelilingnya.
"Dimana kita?"
"Di dunia iblis," jawab Sarah Arimbi sambil sesenggukan.
"Kita sudah mati," imbuh Sarah lagi.
"Apa!?" Sonia sangat terkejut dan kedua matanya berair. Dia segera teringat pada kedua anaknya.
"Anakku....maafkan ibu...ibu...kenapa ibu bisa ada disini, ibu juga tidak tahu," Sonia sedih dan melihat seluruh ruangan itu yang penuh dengan para iblis sedang tertawa senang dan berpesta.
"Apakah kita bisa keluar dari sini?"
"Tidak. Selamanya kita disini. Kita adalah tumbal yang akan di jadikan pelayan disini,"
"Apa? Aku tidak percaya," Sonia lalu bangun dan berjalan akan mencari pintu keluar. Namun seorang algojo Iblis menghalangi.
"Kau mau lari kemana?"
"Aku ingin pergi dari sini. Aku ingin kembali pada keluargaku!" teriak Sonia berusaha melawan algojo itu.
Plaaaakkk!
Sebuah cambuk membuat Sonia tersungkur ke lantai.
"Tempatmu disini. Kau sudah di jadikan tumbal oleh suamimu. Dan kau sekarang milik kami. Pelayan kami, para iblis...." Algojo berwarna hijau berbadan tinggi besar dengan tanduk di kepalanya berkata tanpa rasa iba. Manusia adalah musuh bebuyutannya. Dan dia ingin mengajak pengikut dan pelayan sebanyak-banyaknya.
"Aku tidak mau!"
"Perjanjian sudah dibuat dan tidak bisa dibatalkan! Ketika suamimu melakukan kesalahan dan menggantikanmu disini, kau akan bebas! Hahaha hahaha, manusia-manusia bodoh dan serakah! Akan menjadi pengikut abadiku!" Beberapa iblis lalu bersulang untuk bertambahnya pengikut mereka.
Sonia tertunduk dilantai dengan sedih.
"Bu, mari saya bantu," tangan Sarah terulur pada Arimbi.
"Saya juga belum lama disini. Selama kita menuruti perintah mereka. Maka kita tidak di sakiti. Mereka bilang kita tidak selamanya disini. Kita hanya tumbal. Mereka yang melakukan perjanjian akan tinggal disini selamanya. Dan ketika hari itu tiba, kita akan terbebas dari perjanjian mereka,"
"Suamiku, aku tidak menduga dia salah jalan dan membuat kesepakatan dengan para iblis," Sonia kemudian teringat pesan seorang wanita bernama Arimbi.
"Aku pernah bermimpi bertemu dengan Arimbi,"
"Itu ibuku,"
"Ibumu?" Sonia terkejut.
"Dia mengingatkan aku jika suamiku jahat dan akan menjadikan aku sebagai tumbal. Tapi aku tidak percaya padanya. Aku pikir itu hanya ilusi dan bagian mimpi buruk," Sonia menyesal tidak mempercayai perkataan Arimbi.
"Ibu berusaha menyelamatkanmu," kata Sarah.
"Jadi Arimbi itu ibumu? Kenapa dia tidak disini?" Arimbi tidak mengerti kenapa Sarah disini dan ibunya disana.
"Ibu meninggal karena kecelakaan. Dan aku meninggal sebagai tumbal," Sarah berkata dengan penyesalan yang amat dalam.
"Ohh. Jadi begitu, aku sangat merindukan anakku. Aku ingin melindungi mereka,"
"Tenanglah Bu. Ibu Arimbi pasti akan melindungi kedua anakmu. Jika ibu mengenalmu. Maka dia juga mengenal kedua anakmu. Ibu akan menjaganya di dunia manusia,"
"Kenapa ibumu ada disana?" Sonia juga bingung, kenapa Arimbi gentayangan di dunia manusia.
"Karena ibu belum waktunya meninggal. Dan Ibu membuat permohonan pada Tuhan. Jika dia masih akan tinggal di bumi hingga aku dibebaskan dari para iblis,"
"Aku tidak mengerti,"
"Ibu ingin menyelamatkan para korban dan berbuat kebajikan. Dan agar bisa menyelamatkan aku dari tempat ini,"
"Caranya?" Sonia bingung anak sebesar Kumala begitu cerdas dan pemberani. Bahkan ketika berada didunia iblis.
"Ketika ibu menemukan saudaraku yang membuat aku tiada maka ibu akan membuatnya berada ditempat ini. Dan aku dibebaskan. Namun saat ini, orang itu berada diluar pulau. Ibu tidak bisa menyeberangi pulau. Ibu menunggu orang itu kembali, jelas Sarah menggenggam erat genggaman tangan Sonia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments