Sandi berhasil mendapatkan kerbau dan langsung menyembelih nya di hutan. Dia mengikat kerbau itu dan mengambil kepala serta darah segarnya. Dagingnya dia jual kepada pemotong kerbau dengan harga murah.
"Darahnya taruh di baskom,"
"Tidak di kubur aja pak?" tanya sang pemotong.
"Tidak," Sang pemotong nampak tertegun. Dia bingung, kenapa pria yang beli kerbau padanya justru hanya mengambil darah serta kepalanya.
"Ini pak," sang pemotong memberikan kepala kerbau yang sudah dia masukkan kedalam plastik. Lalu darah segarnya dipisah dan dimasukkan kedalam plastik.
"Terimakasih, kau bisa mengambil daging itu untuk dijual kepasar dan aku memberimu harga murah,"
"Ya. Terimakasih,"
Sang pemotong segera masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil tempat besar untuk menaruh daging yang dia potong.
Dan saat keluar Sandi sudah tidak ada disana. Dia sudah masuk ke hutan dan akan ke gunung.
Ditengah hutan, beberapa makhluk halus mulai menampakkan diri.
Ada yang tiba-tiba menggelinding seperti bola lalu meringis dan terkekeh dihadapannya.
Deg. Dada Sandi bergetar. Kakinya juga mulai gemetaran.
"Ini godaan. Kata guru jangan hiraukan mereka,"
Sandi berbicara sendirian dan tidak menghiraukan kepala yang tanpa badan dan terus menggelinding seperti bola. Matanya kosong dan giginya besar-besar meringis tertawa mengganggunya.
"Pergi kau. Jangan halangi jalanku!" Sandi lalu berjalan lagi dan sekarang dia di hadang oleh seorang wanita dengan baju putih berbisa darah dengan rambut panjang menjuntai ke tanah.
Wajahnya putih semua. Tidak ada mata, hidung maupun bibir.
Berdiri tidak jauh dihadapannya. Dan wanita itu berbalik memperlihatkan punggungnya yang berlubang.
"Hihihihihi....hihihihi....."
Sandi menoleh keatas. Peri itu terkekeh terbahak-bahak.
Dia terbang ke atas pohon dan rambut panjangnya menjuntai ke tanah.
"Enyah kau. Jangan ganggu aku, ini pasti gangguan," kata Sandi dan meneruskan langkahnya lagi.
Deg.
Sekarang dia melihat tubuh manusia tanpa kepala dan berjalan di sampingnya.
Dag dag dag.
Jalannya seperti di hentakkan, meskipun Sandi tahu dia tidak menyentuh tanah.
Ketika sandi menoleh, dia tidak punya kepala. Hanya tubuh saja dan berjalan tanpa kepala.
"Astaga, apa lagi ini!"
Kakinya sebenarnya gemetar dan jantungnya berdegup kencang.
Sandi tidak menghiraukannya. Dia menyangka ini hanya ilusi saja. Dalam hati sebenarnya takut, namun sudah kepalang tanggung jika harus lari dan rencananya gagal.
Dia juga sulit membunuh istrinya karena ada makhluk gaib entah darimana yang menghalanginya.
Karena gagal membunuh istrinya sebagai tumbal maka dia harus menyerahkan kepala kerbau itu sebagai gantinya sampai dia bisa menyerahkan tumbal manusia.
"Ini gangguan. Ini godaan. Aku harus tetap berjalan dan tidak menoleh ke belakang, itu pesan guru,"
Sandi berbicara sendirian, dan menguatkan hatinya jika itu hanyalah ilusi semata.
Sandi akhirnya berhasil melewati hutan. Sekarang dia sedang berada dikaki gunung.
Berdiri melihat ke sekelilingnya. Udara sangat dingin. Angin berhembus kencang. Tidak ada siapapun selain dirinya.
Dia bersila dan mengatupkan kedua tangannya. Memejamkan mata.
Bibirnya mengucapkan mantra yang sudah dia hapalkan.
Tidak lama kemudian kabut putih datang dan seekor buaya mendekat padanya.
Sssshhhhhh. Buaya itu bersuara. Membuat buku kuduk Sandi berdiri.
Sandi memberikan kepala kerbau dan darah segarnya pada buaya itu.
Sssshhhhhh.
Buaya itu makan kepala kerbau dan minum darah segarnya lalu menghilang.
"Kau bisa pergi sekarang," kata gurunya dan tidak menampakkan diri. Hanya suara saja.
"Baik guru,"
Sandi tidak melewati hutan itu lagi. Dia melewati jalan pedesaan.
Sementara dirumah Sandi, Tina tidak bisa tidur. Kedua anak Sandi sudah tidur, tapi Tina tetap terjaga.
Dia memikirkan kamar yang tadi siang dia lihat itu.
"Apa didalam kamar itu?" kata Tina bergumam di tempat tidurnya.
Tiba-tiba sebuah bayangan putih seperti lewat dikamarnya.
"Siapa? Mas Sandi? Apa sudah pulang?" Tina lalu bangun dan keluar dari kamarnya.
"Tidak ada siapapun," Tina menoleh ke kiri dan ke kanan.
Bayangan putih itu terlihat lagi. Dia berjalan kedapur.
"Siapa?" Tina berjalan sambil bertanya dan mengikuti bayangan putih itu.
Bayangan itu menghilang di kamar yang tadi Tina akan masuk kesana.
"Menghilang? Dikamar itu lagi? Memang apa yang ada didalam kamar itu?" Tina berjalan perlahan akan mendekati kamar itu.
"Sepertinya bayangan putih itu ingin memberitahukan sesuatu padaku," gumam Tina.
"Jika aku membuka kamar ini, aku ini kan hanya tamu. Kenapa aku kelayapan malam-malam dan masuk kekamar lain?"
Tina ragu untuk membuka kamar itu. Berdiri mematung agak lama disana.
"Ahh, tindakanku ini tidak benar. Aku adalah tamu disini. Tidak boleh masuk ke kamar lain sembarangan,"
Tina lalu berbalik dan mengurungkan niatnya.
Klotek!
Tiba menoleh saat mendengar suara dari kamar itu, diapun menoleh ke belakang.
"Pintunya terbuka? Apakah ada orang didalam? Tapi kan, Mbak Sonia ada dirumah sakit. Mas Sandi pergi dan anak-anak tidur. Siapa yang ada didalam?"
Sonia akan melangkah melihat kamar yang terbuka entah siapa yang membukanya itu.
Tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka.
"Pak Sandi datang. Aku harus segera pergi dari sini," kata Sonia dan tiba-tiba pintu kamar rahasia itu tertutup kembali.
Braakkkk!
Deg.
Tina kaget karena pintu itu kembali tertutup dengan sendiri nya.
"Ada apa ini? apa yang terjadi dirumah ini?" gumam Tina sambil berjalan kedepan.
"Tina kamu belum tidur?" Sandi kaget ketika baru saja masuk dan berpapasan dengan Tina yang akan masuk kekamar anak-anak.
"Saya tidak bisa tidur. Jadi saya keluar,"
"Ohh, sekarang tidurlah. Kau pasti lelah," kata Sandi dan Tina terkejut ketika melihat noda darah ditanganya.
"Mas Sandi? Kamu terluka? Ada darah ditanganmu..." kata Tina khawatir.
"Ohh, ini, tadi aku membantu orang memotong daging untuk dijual kepasar. Lumayan buat uang tambahan," kata Sandi.
"Bukannya Mas Sandi di rumah sakit?"
"Ohh, iya, pulang dari rumah sakit, temanku tidak ada pegawai yang membantu memotong sapi. Aku jadi membantunya dulu,"
"Ohh...." Tina mengangguk lalu masuk ke kamarnya.
"Sial! Kenapa aku lupa mencuci tanganku?" Sandi lalu pergi kedapur.
Esok harinya,
Tina dan Sandi membuka toko seperti biasanya. Dan belum sempat Tina menyapu, tiba-tiba ada pengunjung dari luar kota datang dan memborong beberapa baju di tokonya.
"Toko lain belum pada buka. Hanya toko mbak yang sudah buka," kata pembeli itu.
"Saya butuh oleh-oleh untuk saudara di kampung," kata pembeli itu lagi dan membayar semua baju yang dia beli.
"Semuanya dua puluh potong," kata Tina.
"Ini uangnya, terimakasih. Saya soalnya buru-buru," kata pembeli itu.
Sandi tersenyum.
Dalam hati berkata," ini pasti karena Pesugihan dari gurunya. Baru datang sudah ada yang beli,"
Tiba lalu menaruh uang itu dan mengambil sapu.
"Coba setiap hari seperti ini ya Tin. Toko kita akan rame dan maju," kata Sandi.
"Iya mas. Kita baru datang dan sudah ada pembeli buang mborong," kata Tina senang juga.
"Ini karena kau saat jualan menarik Tin,"
"Maksud Mas Sandi?"
"Ya, selain barang di tokonya yang harus bagus, pegawainya juga harus cantik dan menarik seperti kamu," kata Sandi merayu dan memuji Tina.
Deg.
Ahh, mulai lagi Mas Sandi. Aku harus kuat. Tidak boleh terjerat oleh pujian serta rayuannya. Ingat, mbak Sonia sedang dirumah sakit. Aku disini untuk membantunya.
Sonia berbicara sendiri dalam hati. Dia lalu sibuk menyapu lalu mengepel dan tidak menghiraukan pujian bos prianya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Widodo Wilujeng
banyak yang typo
2023-07-29
0
Siti Lestari
lanjut kak
2022-11-25
0