Sonia menatap kekamar mandi dan memang tangan suster dirumah sakit. Sonia yakin, jika wanita yang mati dalam kecelakaan itu gentayangan. Dan dia ada dikamar dimana dia dirawat.
"Suster, tunggu disini, saya merasa takut," Sonia tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Sosok itu melihatnya dari dalam kamar mandi.
Krucuk! krucuk!
Air kran dikamar mandi tiba-tiba mengalir. Suster dan Sonia menoleh ke arah kran itu.
"Dia datang suster," kata Sonia pada suster disampingnya.
"Maksud ibu?"
"Siapa yang menyalakan kran dikamar mandi?"
"Ohh itu, mungkin tadi anak-anak ibu lupa mematikannya. Ibu jangan takut. Saya berjaga diluar," suster itu lalu berjalan kekamar mandi dan mematikan kran air.
Saat berbalik menatap Sonia sambil tersenyum. Mata Sonia memancar penuh harap agar suster mau dikamarnya menemaninya. Namun suster begitu banyak pekerjaan dan juga harus mengecek pasien yang lainnya.
"Tenang Bu. Tidak ada seperti yang ibu pikirkan. Kami setiap hari berada dirumah sakit siang dan malam. Dan tidak ada hal aneh apapun. Jadi ibu jangan takut," suster berusaha menenangkan pasiennya yang ketakutan pada makhluk tidak terlihat.
"Ya sudah...jika suster akan berjaga diluar," kata Sonia dan menatap bangsal kosong disampingnya.
Dia berada dikamar kelas dua. Di sana ada satu bangsal yang kosong. Tidak ada yang tidur disana.
Tapi Sonia merasa jika hantu itu sudah berpindah dari kamar mandi ke bangsal kosong itu. Diatas sprei berwarna putih, merasakan sosok itu tengah tidur miring menatap dirinya.
Sonia menutup matanya karena takut. Tapi telinganya bisa mendengar ketika seseorang menaruh gelas.
Klotek!
Sonia tidak berani membuka matanya. Malam semakin larut. Dia tidak kunjung bisa tidur. Merasakan kehadiran sosok gaib semakin membuatnya gelisah.
Keesokan harinya,
Sandi menggantikan Sonia bekerja ditoko istrinya. Tidak lama kemudian, Tina datang dan menyapanya.
"Mas Sandi, maaf saya terlambat," Tina nampak berkeringat di dahinya karena datang terlambat.
"Tidak papa. Ini, kamu berkeringat," bukannya dimarahi, Tina malah diberikan saputangan oleh Sandi untuk mengelap keringatnya.
"Tidak mas. Saya bawa tissue,"
"Ohh, kamu berkeringat. Duduk dulu, nanti baru beres-beres," kata Sandi dan memasukkan sapu tangannya kembali.
Tina mengelap wajahnya dengan Tissue. Sandi diam-diam memperhatikan setiap gerakannya. Setiap gerakannya membuat dia semakin menyukainya. Apalagi saat melihat tanganya yang bergerak gemulai dan bajunya sedikit naik keatas. Sehingga bagian perutnya terlihat karena kaos yang dia pakai tertarik oleh tangannya.
"Saya akan bersih-bersih dulu," Tina mengambil sapu lalu menyapu toko pakaian itu.
Saat mengambil sampah Tina menunduk, Sandi memperhatikan bokongnya yang sintal dan penuh.
Tangan Sandi bergerak ingin membelainya. Namun segera dia tahan. Dia berkata dalam hati. Tidak lama lagi, aku akan memilikinya, gumamnya.
Tina menoleh dan menangkap basah mata Sandi yang menatap bokongnya.
"Ehm, sudah bersih Tina. Sekarang duduklah disini," kata Sandi menjadi salah tingkah saat kepergok menatap bokongnya itu.
"Mau ngepel dulu Mas,"
"Ohh ya sudah,"
Tina mengambil air dan mulai mengepel lantai yang basah. Saat dia jongkok dan bokongnya bergerak maju mundur, Sandi terus memperhatikannya.
Ahh, aku tidak tahan lagi untuk memilikinya, gumamnya.
Apalagi sekarang Sonia sudah lumpuh. Mana bisa melakukan kewajibannya.
Sandi menelan salivanya sendiri. Matanya tak henti menatap pinggul Tina hingga dia selesai mengepel.
Tiba-tiba Sandi punya cara agar sebagian hasratnya terpenuhi.
"Tina, kau sudah selesai?" tanya Sandi melihat dia kembali dari kamar mandi.
"Sudah mas," Tina lalu duduk disampingnya menunggu pelanggan datang.
"Mendung ya Mas,"
"Iya, yang lewat juga agak sepi. Pada kemana orang-orang ini?" Sandi lalu terpikir ide untuk memanfaatkan Tina.
"Tin,"
"Ya mas,"
"Saya semalam tidak bisa tidur. Mumpung toko lagi sepi, gimana kamu kalau kerokin saya," Tina terperanjat kaget.
Tapi karena yang meminta adalah bosnya maka dia mengangguk pelan.
Dalam hati Tina juga berfikir jika istrinya sedang dirawat dirumah sakit. Jadi tidak bisa mengurus Suaminya. Mas Sandi pasti repot mengurus rumah serta toko, pikir Tina.
"Gimana Tin? Kamu bisa ngerokin kan?" Sandi berbalik kearahnya dan menatap wajah Tina.
"Iya mas,"
Tiba-tiba dari mendung berubah menjadi hujan. Dan mengguyur dengan deras dipagi hari. Orang yang lewat pertokoan semakin sepi saja.
"Wah, alamat sepi nih Tin!" kata Sandi sambil melepas bajunya.
"Kan masih pagi Mas. Nanti siang juga rame," Tina lalu mengambil uang logam seribuan di tasnya.
Sandi melepas atasanya dan kini punggungnya terbuka dihadapan Tina. Tina sebenarnya ragu dengan apa yang dia lakukan. Namun, karena Sonia sedang dirumah sakit, maka tidak bisa merawat suaminya.
"Gimana Mas. Apakah sakit?" Tanya Tina saat menekan uang logam sambil menggerakkan kesamping membentuk garis-garis.
"Enggak Tin. Enak kok. Beda sama Sonia. Kalau dia yang ngerokin badanku rasanya sakit semua," mulai membandingkan dan mencari simpati Tina.
"Ohh, ya bilang saja Mas suruh pelan. Kan kalau pelan ngga sakit," kata Tina sambil tangannya tetap bergerak dipunggung Bosnya.
"Iya, kalau pelan emang ngga sakit. Sama dengan pengantin baru yang masih perawan. Kalau pelan kan ngga sakit. Gitu ngga Tin?" Gurau Sandi cengengesan.
Tina langsung menghentikan tanganya dan merasa risih dengan candaan bosnya yang mulai menjurus pada hal sensitif.
Tina diam saja dan tidak mau menanggapi. Kalau ditanggapi malah nanti semakin menjadi, pikir Tina.
Setengah jam kemudian, Tina sudah menyelesaikan bagian atas lalu pinggang.
"Turun kebawah lagi Tin. Bokongku juga kau kerok. Soalnya masih sakit disana. Kayak ada anginnya gitu," Sandi lalu membuka resleting celana nya.
"Jangan Mas, jangan dibuka," Tina kaget karena Bosnya sudah membukanya.
"Ngga papa Tin. Kan cuma celana luarnya saja. Aku masih pakai celana kan didalamnya, ngga akan keluar kok Tin."
Deg. Tina lalu menyentuh bokongnya dan mengeroknya.
"Enak banget Tin. Tanganmu memang berbakat," memuji Tina sambil menahan sakit ketika bokongnya di kerok dengan keras olah Tina.
"Sudah Mas," kata Tina yang mempercepat semuanya.
"Tenang Tin. Nanti kamu aku kasih bonus tambahan. Karena sudah ngerokin aku,"
"Tidak usah Mas. Tina ikhlas kok. Ngga perlu di tambah bonus lagi. Lagian, kan ini juga karena Mbak Sonia dirumah sakit. Jadi Tina mau membantunya," kata Tina lalu ke belakang untuk mencuci tangannya.
"Badanku sekarang udah enakan. Dirumah juga semua berantakan Tin. Ngga ada yang nyuci baju dan nyuci piring. Ngga ada yang masak juga," kata Sandi mulai menggoda Tina.
"Kasihan anak-anak. Ibunya dirumah sakit. Jadi rumah tidak ada yang ngurusin," kata Sandi menatap reaksi Tina.
"Oh ya Tin. Nanti tutup cepat aja ya. Karena aku mau nyuci baju dan nyuci piring. Ya Syukur-syukur kalau kamu bantuin. Gimana Tin?"
Deg. Dalam hati merasa kasihan juga pada kedua anak Mbak Sonia. Dan akhirnya Tina mengangguk karena teringat akan jasa mbak Sonia padanya.
"Iya Mas,"
Senangnya hatiku. Semoga Sonia betah dirumah sakit. Dan lama disana. Jadi aku bisa dekat-dekat an sama Tina. Perangkapku akan membuatnya menjadi milikku nanti.
Besok aku akan memberikan tumbal kerbau pada guru. Sementara belum mendapatkan tumbal manusia. Aku harus menyerahkan kepala kerbau dan darah segarnya. Setelah itu uang akan datang dengan sendirinya.
*Suami tak berguna mu ini akan kaya mendadak Sonia. Kesal tiap kali aku ingat kau bilang aku suami tak berguna setiap bertengkar masalah uang.
Sekarang akan ku buktikan. Kaulah istri yang tidak berguna. Cacat dan tidak bisa menyenangkan suamimu. Dendam aku, jika ingat kau selalu bilang aku pria malas dan tak berguna*.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Siti Lestari
makin menarik
2022-11-25
0