Bab 14 Hampir saja

Siang ini jam 11 siang. Matahari bersinar tidak seterik biasanya. Awan mendung menggumpal dilangit. Indah terpikir akan suatu hal.

Tiba-tiba dia berjalan ke dekat Sonia yang sedang membaca majalah diruang tamu. Menatap sinis ketika majikannya tertunduk melihat beberapa gambar desainer.

"Bu," Sonia menoleh.

"Jika ibu mau jalan-jalan diluar, biar saya temani," ucap Indah dengan maksud terselubung didalam hati. Dia punya niat jahat dan ingin melenyapkan Sonia.

Sonia nampak berfikir sesaat, lalu mengangguk tanpa ada sedikitpun rasa curiga didalam hatinya.

Tidak mungkin gadis desa sepolos indah, berubah menjadi penjahat berdarah dingin. Tanpa perlu merasa khawatir, Sonia lalu meninggalkan ponselnya di meja ruang tamu.

Indah tersenyum penuh misteri. Tanganya memang handle lalu mendorong majikannya perlahan meninggalkan rumah itu.

"Kita akan kemana Bu?" Tanya Indah ketika sampai di perbatasan perumahan.

"Ada taman disana," kata Sonia yang ingin melihat pemandangan dari taman.

"Baik Bu,"

Arimbi yang biasanya menjaga Sonia juga hari ini tidak terlihat dirumahnya. Ternyata hari dia sedang pergi ke suatu tempat untuk sebuah urusan.

"Hati-hati Indah. Ada galian disekitar sini,"

"I-iya Bu." Indah mendorong kursi roda sambil matanya menatap sekelilingnya. Dia mencari waktu yang pas untuk melakukan aksinya.

Beberapa meter dari dirinya ada orang lain juga yang tengah jalan-jalan disekitar taman. Mata Indah terus mengawasinya sambil mengajak ngobrol Sonia.

Namun tiba-tiba, kedua orang itu juga bergegas meninggalkan taman.

Ini kesempatan bagus. Jika aku lepaskan Ibu Sonia dari atas sini, maka dia akan meluncur dan sampai dijalan raya. Lalu tertabrak dan mati.

Indah lalu mendorong Sonia agak keatas bukit buatan yang tertutup rumput hijau.

"Dari sini pemandangan sangat indah ya Bu," kata Indah pada majikannya.

"Ya, aku sering kemari bersama anak-anak sekedar untuk menghilangkan jenuh ketika mereka libur,"

"Iya, ah Bu Sonia!" Dengan cepat Indah melepaskan pegangannya dan kursi roda itu menggelinding sangat cepat. Bahkan Rem yang ada disebelah Sonia tidak mampu menghentikannya.

Indah pura-pura berteriak seakan dia tidak sengaja melepaskanya. Indah berteriak dari tempatnya berdiri.

"Bu Soniaaaaa!"

"Indah! Tolong! Rodanya tidak mau berhenti!" Sonia terus berteriak ketakutan. Karena jika kursi rodanya tidak berhenti maka dia akan menuju jalan raya yang ramai dan bisa tertabrak.

"Indaaaahhhh!" Sonia terus berteriak dan kursi rodanya menggelinding lebih cepat.

Indah hanya berdiri ditempat tadi dan melihat dengan senyum tertarik ke bawah.

Duaaaarrrrrr!

Sebuah truk menabrak Sonia.

"Bu Sonia!" Indah segera melarikan diri dari tempat itu.

Lalu dia kembali kerumah majikannya dengan tenang seakan tidak terjadi apapun.

Sonia terkapar bersimbah darah karena tertabrak oleh truk. Dan dia segera dilarikan kerumah sakit. Masih ada denyut nadinya di pergelangan tangannya.

Sandi yang sedang ditoko melayani pembeli mendapat telepon dari polisi.

"Halo, dengan pak Sandi,"

"Betul pak. Saya sendiri,"

"Istri anda mengalami kecelakaan. Sekarang kondisinya kritis ada dirumah sakit,"

"Apa!?" Sandi terkejut bukan main.

"Baik pak, saya akan kesana," Sandi lalu bergegas pergi dan meninggalkan Tina yang sedang melayani pembeli di tokonya.

Ada apa dengan Mas Sandi? Kok buru-buru sekali? Tina bergumam dalam hati.

Sandi tiba dirumah sakit. Dia melihat selang infus kembali di pergelangan istrinya dan juga wajahnya.

Sandi melihat dari kaca karena belum diperbolehkan masuk kedalam.

"Bagaimana ini bisa terjadi?" Sandi sendiri kebingungan. Bagaimana istrinya bisa mengalami kecelakaan didekat taman itu.

Sandi lalu menelpon Indah dari rumah sakit.

"Indah? Sonia mengalami kecelakaan. Bagaimana ini bisa terjadi?"

"Apa? Saya ti-tidak tahu pak. Saya sedang dirumah sejak tadi. Ibu hanya pamit jalan-jalan sama saya," kata Indah pura-pura tidak tahu karena tidak ingin dicurigai dan menjadi saksi.

"Ohh, ya sudah kalau begitu, kamu bisa naik motor?" tanya Sandi pada Indah.

"Bisa pak,"

"Kalau begitu, tolong sebentar lagi kamu jemput anak-anak disekolah," pesan Sandi pada Indah.

"Baik pak,"

Sandi menutup teleponnya dan melihat lagi kedalam. Sonia baru saja di obati oleh dokter. Dan sekarang masih dalam kondisi koma.

Dokter keluar dan berbicara empat mata dengan Sandi.

"Bagaimana kondisi istri saya dokter?"

"Dia koma. Semoga ada keajaiban, sehingga cepat sadar. Hanya keajaiban yang bisa membuatnya sadar. Lukanya sangat parah,"

"Terimakasih dokter," Sandi lalu masuk kedalam dan memegang tangan Sonia yang terkulai tak bergerak sama sekali.

Hanya suara denyut jantung yang terdengar dari mesin didekatnya.

"Kenapa tidak tiada saja sekalian?" Bisik Sandi lirih lalu melepaskan tangan Sonia.

Sandi menatap wajah istrinya yang pucat seperti tak bernyawa. Tidak ada aura kehidupan bersinar diwajahnya. Namun anehnya, detak jantungnya masih ada.

Sandi lalu keluar menemui polisi dan menanyakan bagaimana ini bisa terjadi.

"Mobil yang menabraknya sudah kami tahan. Kami mendapatkan keterangan dari sopirnya jika Nyonya Sonia tiba-tiba meluncur dari arah taman dengan kecepatan tinggi. Hingga begitu truk itu lewat, tidak bisa mengendalikan remnya. Kami sudah mintai keterangan. Dan ini bukan kelalaian sopir," kata Polisi itu.

"Baik pak, terimakasih...."

Sandi lalu kembali ke toko untuk mengambil uang hasil penjualan hari ini.

Kala sampai ditoko, Tina sudah merapikan semua barang-barang.

"Tutup cepat Tin," kata Sandi begitu masuk kedalam toko.

"Ada apa pak? Kok tutup cepat?"

"Sonia kecelakaan. Dan sekarang koma," kata Sandi sambil berjalan ke laci penyimpanan uang.

"Apa? Bagaimana bisa terjadi?" Tina terkejut dan wajahnya langsung berubah sedih.

"Ini murni kecelakaan. Sopir itu tidak bersalah. Sonia yang menabraknya, hal seperti ini memang sering terjadi ketika orang yang tadinya sehat tiba-tiba cacat. Mungkin seperti depresi atau keinginan bunuh diri," imbuh Sandi tiba-tiba.

"Ohh, tapi jika bunuh diri. Tidak mungkin. Mbak Sonia sangat menyayangi kedua anaknya. Tidak mungkin ingin mengakhiri hidupnya dan meninggal kan mereka," kata Tina yang tidak percaya jika bosnya akan bunuh diri karena depresi.

"Yah, itu hanya sebagian dari perkiraan Tin. Mungkin benar, mungkin juga salah. Ohh ya Tin. Sekarang dapat berapa? Apa sudah kamu hitung?"

"Empat puluh juta pak," kata Tina.

"Wah, luar biasa ya Tin. Toko kita menjadi sangat ramai, besok pesan barang lagi ya Tin. Jika ramai terus begini. Maka setiap hari kita pesan model baru," timpal Sandi.

"Iya Mas sandi," Tina ke belakang namun hatinya menjadi kacau setelah mendengar bosnya kecelakaan lagi. Tokonya sangat ramai sebagai karyawan dia sangat senang. Namun kabar kecelakaan membuat rasa senangnya enyah seketika. Dan sekarang berganti rasa sedih dan duka.

Sandi memasukkan uang itu kedalam tasnya. Dia sangat senang bukan kepalang. Hari ini, tepat ketika kecelakaan baru terjadi, omsetnya langsung bertambah. Ini pasti karena pertapa sakti itu. Tumbalnya hampir saja tiba, kata Sandi membatin dalam hati.

Terpopuler

Comments

Siti Lestari

Siti Lestari

aku nyimak terus

2022-11-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!