Beberapa hari terlewati, hingga tiba saat di mana Faris dan Sintia akan melangsungkan pernikahan mereka di sebuah villa di luar kota. Malam hari sebelum berangkat keluar kota dan sebelum pernikahan nya akan di laksanakan, Faris meminta izin kepada Nirmala untuk keluar kota selama seminggu lamanya, alasannya karena lagi ada pekerjaan yang harus di kerjakan di luar kota. Perut Sintia sudah mulai membuncit, ia terus mendesak agar Faris segera menghalalkan nya. Di dalam kamar yang temaram itu, Faris mulai berbicara kepada Nirmala. Mereka berdua duduk bersandar di kepala ranjang, duduk berdampingan.
''Sayang, besok Mas akan keluar kota selama seminggu lamanya karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan di sana. Kamu baik-baik, ya, di sini.'' Faris berkata sambil menggenggam tangan Nirmala.
''Sama siapa? Sintia juga?'' tanya Nirmala.
''Iya, Sintia juga akan pergi. Dia 'kan sekretaris, Mas.''
''Aku kok merasa nggak enak, ya. Jujur, Mas, aku merasa cemburu melihat kedekatan antara dirimu dan Sintia.'' Nirmala berkata dengan lirih. Iya, dia hanya bersandiwara saja.
''Hey, kamu kok ngomong gitu, Sayang?! Sintia itu sahabat kamu, Mas dan Sintia nggak akan mungkin mengkhianati kamu. Mas sayang sama kamu, begitu juga Sintia, dia pasti sangat menyayangi sahabat seperti mu. Kami pergi memang murni karena ada pekerjaan di sana. Kalau nggak ada pekerjaan Mas juga males banget pergi. Semua ini Mas lakukan demi kamu, demi masa depan kita kelak.'' Jelas Faris panjang lebar, nampak serius, tapi di hatinya merasa ketar ketir, takut Nirmala mencium kebusukkan dirinya dan Sintia. Dia memang masih belum mau kalau Nirmala mengetahui semuanya. Dia belum rela untuk kehilangan Nirmala dan melihat Nirmala terluka. Faris meraup pipi Nirmala dengan dua tangannya, ia menatap sang istri lekat. Sekarang mereka sudah duduk dengan saling berhadapan. Mereka terlihat seperti pasangan yang begitu harmonis, tapi siapa sangka, di antara keduanya sudah banyak kebohongan yang mereka ciptakan dan tutupi di dalam rumah tangga mereka.
''Ya sudah, kamu baik-baik, ya, saat sedang bekerja di sana. Jangan nakal. Ingat, kamu itu pria beristri, ada hati yang harus kamu jaga.'' Kata Nirmala sedikit menyindir, wajahnya yang cantik tersenyum simpul.
''Ya Sayang. Terimakasih karena selama ini kamu sudah selalu mengerti akan diri Mas.'' Faris berucap lirih. Ia menatap lekat bibir seksi bewarna merah muda sang istri. Ia lalu menyentuh nya perlahan, mengelus bibir itu pelan dengan begitu bernafsu. Nirmala hanya diam di perlakukan seperti itu, setelah itu Faris semakin mendekatkan bibirnya dan bibir sang istri, ia begitu bernafsu melihat sang istri yang semakin hari semakin cantik saja, apalagi bentuk tubuh sang istri yang semakin berisi dengan pinggul dan buah dada yang semakin padat. Kalau di bandingkan dengan Sintia saat ini, Sintia tidak ada apa-apa nya, karena efek Sintia yang tengah mengandung membuat tubuhnya sedikit gendut, dengan buah dada yang kendor dan wajahnya pun nampak kusam dengan beberapa jerawat mulai tumbuh di sebagian wajahnya. Benda pusaka milik Faris sudah menegang, sebelum melangsungkan pernikahan besok dengan Sintia, Faris ingin menghabiskan malam panjang dengan Nirmala. Saat bibir Nirmala dan bibir Faris akan menyatu, tiba-tiba saja Nirmala menghindar dari sang suami, Nirmala semakin menjauh kan wajahnya dari wajah sang suami, membuat Faris kaget dan kecewa. Ia menatap Nirmala kesal karena Nirmala yang selalu menolak saat ia ajak bercumbu.
''Maaf, Mas. Aku lagi datang bulan.'' Kata Nirmala meyakinkan. Ia beranjak dari kasur lalu berjalan perlahan ke dekat jendela kamar yang belum tertutup sempurna. Ia menatap ke arah luar, menatap gelapnya langit malam. Beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan Dirga, membuat nya begitu merindukan sosok pria tampan lagi baik hati tersebut.
''Belum selesai juga? Ini sudah hampir seminggu lamanya semenjak kamu pulang dari luar kota waktu itu. Selama itu pula kita tidak pernah berhubungan badan. Mas ini lelaki normal, Nirmala. Mas butuh menyalurkan hasrat ke-lelakian, Mas!'' Faris berkata dengan dada turun naik. Lalu ia memegang kepalanya yang mendadak sakit mendapat penolakan demi penolakan dari sang istri. Susah payah ia menahan amarahnya agar tak kelepasan memarahi Nirmala. Biar bagaimanapun dia masih sangat menghargai Nirmala sebagai istri. Sebenarnya Faris lebih mencintai Nirmala di bandingkan Sintia, tapi karena alasan anak, ia rela mendua dan menjadikan Sintia wanita istimewa di dalam hidupnya.
''Ya mau bagaimana lagi, Mas. Aku juga tidak tahu kenapa kali ini lama sekali darah nya belum juga berhenti keluar. Tapi kamu tenang aja palingan tiga hari lagi selesai.'' Ucap Nirmala lagi beralasan. Bukan apa-apa, semenjak dia tahu pengkhianatan yang di lakukan oleh sang suami, ia telah mengharamkan dirinya di sentuh oleh sang suami. ''Dasar lelaki rakus, egois sekali. Apa dengan Sintia seorang tidak cukup untuk menyalurkan hasrat mu itu!'' umpat Nirmala di dalam hati.
Faris tak bersuara lagi, setelah itu ia keluar dari kamar dengan membanting pintu, hingga mengeluarkan suara yang cukup bising.
''Dasar kekanak-kanakan! Lelaki seperti memang seharusnya di lepaskan!'' desis Nirmala lagi.
Malam itu, Faris meninggalkan rumah, ia pergi melajukan kendaraan roda empat miliknya ke rumah Mama nya. Karena Sintia sedang berada di sana. Sintia, Retno dan Tika sedang sibuk menyiapkan keperluan mereka untuk berangkat ke luar kota besok pagi-pagi sekali. Faris tidak mampu menahan hasrat yang sudah di ujung tanduk, ia akan menyalurkan hasratnya lewat Sintia saja. Hingga saat ia tiba di rumah Mamanya, ia langsung menarik Sintia ke dalam kamar, melucuti pakaiannya dan pakaian Sintia, lalu ia mulai bermain-main dengan Sintia.
"Nirmala ... Ah, nikmat sekali Sayang ...'' gumam Faris lirih saat ia sudah melakukan pelepasan cairan kental berwarna putih milik nya di dalam rahim Sintia. Ia mendesah panjang menyebut nama Nirmala hingga membuat Sintia teramat marah. Selama berhubungan dengan Sintia, Faris memejamkan matanya sembari berkhayal kalau ia sedang bergumul dengan Nirmala.
Sedangkan Nirmala, setelah Faris pergi meninggalkan dirinya sendiri di dalam kamar, ia membuka lemarinya, mengambil map bewarna kuning, dia menyusun semua berkas-berkas yang ada di dalam map, bukan hanya berkas, tetapi juga ada beberapa lembar foto dan surat cerai. Besok rencananya, saat Faris dan Sintia sedang melangsungkan pernikahan mereka, Nirmala akan muncul di sana dengan di temani Dirga dan Bara, Nirmala akan memberikan surat gugatan cerai tersebut di sertai beberapa lembar foto yang menunjukkan bukti perselingkuhan Faris dan Sintia. Hari itu juga ia akan meminta Faris menalak nya, dan pada saat itu juga, Bara, sahabatnya Nirmala akan memecat Faris dan Sintia secara tidak terhormat dari perusahaan.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Ajusani Dei Yanti
wiihhh sunguh pembalasan yg luar biasa semangat thorrrr kuh
2023-03-14
1
Sulati Cus
sepadan alamat jd gembel sekeluarga 😂
2022-12-27
4
Esjasz Malek
x sabar nunggunya thor..
2022-11-26
2