Sakit

Malam yang cerah, rembulan dan kerlap kerlip bintang begitu indah menghiasi langit. Aku terduduk di antara dua gundukan tanah, menangis terisak seraya bergumam kecil mencurahkan segala isi hatiku kepada kedua orang tuaku yang telah beristirahat dengan tenang di dalam sana. Malam yang kian larut sama sekali tidak membuat ku merasa takut berada di tengah-tengah makam. Rasa takut sudah terkalahkan dengan rasa sakit yang di berikan oleh suami yang seharusnya menjaga tapi nyatanya tega mendua. Selain mencurahkan segala isi hatiku, aku juga mengirimkan doa kepada kedua orangtuaku, semoga mereka bisa tersenyum bahagia di sana dengan doa-doa yang aku sematkan kepada mereka. Kedua orangtuaku sudah lama meninggal, saat aku berusia lima belas tahun. Mereka meninggal karena kecelakaan hebat, mobil yang membawa mereka menabrak pembatas jalan, mereka meninggal di tempat saat aku sedang tidak bersama mereka. Saat itu aku lagi di sekolah, dan kedua orangtuaku sedang ada urusan pekerjaan diluar kota. Keduaorangtua ku merupakan pengusaha di bagian makanan, Mama memproduksi lalu memasarkan makanan tersebut secara langsung ke konsumen, hingga bisnis mereka sukses dan maju pesat. Tapi naasnya, setelah kematian Mama dan Papa, bisnis mereka hancur seketika karena di kelola oleh orang yang salah, pada saat itu aku belum tahu apa-apa. Fokus ku hanya sekolah dan belajar agar menjadi orang sukses, karena itulah pesan terakhir keduaorangtua. Mereka ingin aku menjadi wanita kuat dan mandiri. Beruntungnya Mama dan Papa meninggalkan tabungan yang tidak sedikit untukku. Aku tumbuh dan semakin dewasa dengan di temani Bik Arum, pembantu yang selalu setia membersamai keluarga kami sedari aku kecil. Bik Arum juga telah meninggal saat aku dan Mas Faris masih pacaran. Aku sebatang kara, tidak, aku tidak sebatang kara, karena aku masih punya teman-teman yang cukup baik, selain Sintia.

***

Aku tiba di rumah dengan kondisi yang begitu kacau balau, kepala ku pusing, ulu hatiku terasa perih serta mual. Mungkin asam lambung ku naik karena aku yang hanya siang tadi makan, dan itupun hanya sedikit.

''Non, Non Nirmala kenapa?'' tanya Bik Asih pembantu yang bekerja di rumah ku. Iya, rumahku, karena rumah yang kami tempati sekarang adalah rumah peninggalan kedua orang tua ku. Mas Faris hanya menumpang.

''Tidak, Bik. Aku baik-baik saja.'' balas ku sembari memaksa senyum. Aku ingin terlihat kuat di hadapan siapa pun. Bik Asih menatapku lekat, beliau mengikuti langkah ku.

''Tapi wajah Non Nirmala begitu pucat.'' kata Bik Asih lagi.

''Aku baik-baik saja, Bik. Aku ke kamar dulu, ya, Bik.'' ucapku lagi menaiki tangga.

''Hati-hati, Non.'' kata Bik Asih.

Setibanya di kamar, aku meletakkan tas, melepaskan sepatu, serta membuka jas kerjaku, lalu aku berbaring di atas kasur, aku menarik selimut hingga sebatas dada, aku berbaring meringkuk karena aku merasa sangat dingin. Dingin sekali, aku merasa tengah di siram air es.

''Dingin, ah ... Dingin sekali.'' rintih ku dengan menahan sakit yang aku rasa di sekujur tubuh. Mas Faris mungkin sedang bersenang-senang sama Sintia, mereka mungkin sedang saling mendekap mesra, saling berbagi kehangatan. Sedangkan aku harus menahan sakit di sini, sakit bukan hanya di luar, tapi juga di dalam dada.

Saat aku tengah merintih menahan sakit, aku mendengar ponselku yang ada di atas nakas berdering beberapa kali. Tanpa melihat terlebih dahulu siapa gerangan yang menghubungi, aku langsung mengangkat panggilan tersebut.

''Hallo,'' ucapku lirih, aku menggigil hebat.

''Nirmala, kamu di mana sekarang?'' ucap pria di seberang sana dengan nada terdengar cemas. Ternyata Pak Dirga yang menghubungi aku.

''Pak Dirga? A-aku di rumah, Pak.'' jawabku pelan.

''Kamu kenapa Nirmala? Apa yang terjadi, kenapa suara mu terdengar lemas?'' tanya Pak Dirga lagi.

''A-aku, aku, tolong aku, Pak. Aku merasa kepala ku begitu pusing.'' kataku akhirnya. Entah kenapa kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku, karena sejujurnya aku memang lagi butuh teman dan pertolongan. Rasanya aku ingin di bawa ke rumah sakit saja, supaya aku tidak merasa sakit lagi.

''Baiklah, aku akan segera ke sana Nirmala.'' ucap Pak Dirga di seberang sana, lalu panggilan terputus. Dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi lagi.

***

Saat membuka mata, hal pertama yang aku lihat adalah rupa seorang pria yang teramat tampan, pria itu terlelap di pinggir kasur dengan memegang erat tanganku. Pak Dirga nampak tidur sangat lelap, aku tersenyum kecil melihat nya. Pandang ku mengedar, melihat ruangan di mana aku berada, ruangan yang cukup luas dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Tidak, aku sedang tidak berada di rumah sakit, tapi aku sedang berada di sebuah kamar yang begitu mewah. Selang infus terpasang di tanganku dan pakaian ku juga telah berganti dengan kaos over size warna putih.

''Pak ...'' ucapku hati-hati seraya mengelus pucuk kepala Pak Dirga. Aku membangun kan Pak Dirga karena aku merasa kasihan melihatnya tidur dengan tidak layak.

''Nirmala, kamu sudah bangun,'' begitu matanya terbuka, Pak Dirga langsung mengecup tangan ku berulang kali, ia juga mengelus pipiku, mata elangnya berbinar bahagia menatap ku. Aku ingin protes atas apa yang Pak Dirga lakukan kepada ku, tapi mulut ku seakan kelu untuk berkata-kata, karena jujur, rasanya aku sungguh nyaman berada di dekat Pak Dirga dan aku juga sungguh nyaman dengan perhatian dan kepedulian nya terhadap diriku.

''Aku di mana sekarang, Pak?'' tanyaku.

''Kamu berbaring lah yang nyaman Nirmala, jangan banyak pikiran dan jangan membantah apa yang aku katakan, karena aku ingin yang terbaik untukmu. Sekarang kamu lagi di rumah ku, aku membawa kamu ke sini karena tadi aku menemukan mu tidak sadarkan diri di kamar mu. Kamu sakit, aku juga telah memanggil Dokter pribadi keluarga ku untuk menangani mu. Maaf kalau aku lancang Nirmala.'' jelas Pak Dirga.

''Pak, lebih baik aku pulang saja, aku tidak mau merepotkan Bapak.''

''Tidak, kamu sama sekali tidak merepotkan, aku senang bisa membantu mu Nirmala.''

''Tapi, aku takut suamiku mencari ku.'' kataku akhirnya berbohong.

''Nirmala, berhenti lah menyebut pria itu, aku tahu kamu jadi begini karena pria tak bertanggungjawab itu.'' ucapan Pak Dirga berhasil membuat ku sedikit kaget, aku menatap nya.

''Pak ...'' ucapku lagi.

''Aku tahu semuanya, tetaplah di sini, jangan kamu pikirkan lagi pria brengsek itu, karena mulai hari ini akulah yang akan menjaga mu.''

''Tapi, ini salah, Pak.''

''Aku tahu ini salah, Nirmala. Tapi aku akan selalu bersabar untuk menunggu mu hingga kamu lepas dari pria itu. Aku akan selalu sabar menunggu mu hingga hatimu benar-benar terbuka untuk ku.'' kata Pak Dirga terlihat sungguh-sungguh. Lagi-lagi dia mengecup tangan ku dengan sangat lembut.

''Terimakasih, Pak Dirga.'' ucapku akhirnya dengan hati yang terasa nyaman. Jujur, aku rasa bagai mimpi, aku tidak menyangka pria sempurna seperti Pak Dirga bisa berkata begitu manis kepadaku.

''Sama-sama Sayang.'' balas Pak Dirga yang rasanya aku ingin pingsan mendengar nya.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Maria Magdalena Indarti

Maria Magdalena Indarti

wow..... dihianati suami, di sayang bos

2023-09-25

0

Erlinda

Erlinda

mending pak Dirga lagi seorang CEO. ini suami mu cuma hanya manager aja udah betingkah mendua kan mu

2023-07-03

0

Ajusani Dei Yanti

Ajusani Dei Yanti

tiuh kan pak bos bnaksir berat ama kamu mala

2023-03-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!