Kekesalan Sintia

''Maaf Sin, aku lagi nggak ada uang. Kamu cari pinjaman ke orang lain aja, ya.'' Kata Nirmala dari seberang sana. Sintia mendengus kesal mendengar itu.

''Emang beneran kamu nggak ada uang simpanan lagi, Nirmala? Duh, harus ke mana lagi, ya, aku cari uang untuk orangtuaku di kampung. Mana mereka lagi butuh banget,'' Sintia berpura-pura sedih dengan nada suara melemah.

''Iya, Sin. Sorry, ya. Maaf aku matikan lebih dulu teleponnya, soalnya aku lagi sibuk ini. By ...'' Nirmala akhirnya memutuskan panggilan secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Sintia lagi. Dia benar-benar sudah muak mendengar suara Sintia dan dia juga sudah muak dengan semua sandiwara Sintia.

''Nirmala ...'' Panggil Sintia membentak ketika panggilan terputus. Sintia lalu meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar.

''Songong banget dia! Kalian denger sendiri apa kata wanita mandul itu, 'kan? Nirmala benar-benar sudah berubah jadi pelit. Aku nggak yakin dia nggak punya uang, sementara gajinya sebulan itu besar benget. Dasar wanita mandul belagu!'' Sintia berkata lantang dengan nafas memburu. Ia merasa kesal karena tidak dapat lagi memeras uang Anjani dengan alasannya yang kampungan itu.

''Terus kira-kira dia kenapa, ya? Kok bisa berubah jadi perhitungan gini? Biasanya kita mudah banget buat ngibulin dia. Nah sekarang?'' Tika menimpali sambil berpikir keras kenapa Nirmala bisa berubah.

''Mama juga heran sama perubahan Nirmala. Mama khawatir dia tahu tentang hubungan kalian berdua dari orang lain. Makanya dia berubah pelit sama kita.'' Kata Retno lagi.

''Sudah! Sudah! Kalian jangan ngomongin Nirmala terus. Mungkin dia memang lagi nggak punya uang atau dia memang lagi ada keperluan yang lebih penting yang ingin ia beli. Tidak usah menduga-duga.'' Faris angkat suara karena dia merasa sedikit pusing melihat Mama, Adik dan kekasihnya terus saja membicarakan Nirmala. Dan karena Faris belum siap kalau sampai Nirmala tahu tentang hubungan dia dan Sintia.

''Bela aja terus.'' Kata Sintia memasang wajah cemberut.

''Sayang, bukan gitu. Maaf, Mas nggak ada maksud apa-apa,'' Faris membawa tubuh Sintia dalam dekapannya. Ia sungguh tidak suka melihat Sintia cemberut. Yang ia inginkan adalah Sintia selalu tersenyum bahagia. Hati Faris telah bercabang, dia mencintai Nirmala dan juga Sintia. Dia begitu egois tanpa berpikir betapa sakit nya Nirmala ketika ia khianati.

Setelah itu Faris dan Sintia pamit pulang. Rencananya malam ini Sintia akan menginap di rumah Nirmala, dan di kamar Nirmala dan Faris.

***

Di tempat berbeda, Dirga pulang lebih cepat dari biasa. Dia tidak betah lama-lama di perusahaan karena selalu terbayang-bayang wajah cantik Nirmala. Dia sudah sangat merindukan sang kekasih.

''Sayang ....''

''Sayang ...'' Panggil Dirga saat dia masuk ke dalam rumah. Nirmala tidak menyambut kepulangan nya. Lalu dia berjalan menaiki satu persatu anak tangga, dia akan menemui Nirmala di kamar. Dirga membuka pintu kamar tanpa mengetuk dan mengucap salam terlebih dahulu, begitu pintu terbuka tidak ia temui keberadaan sang kekasih di atas ranjang.

''Sayang!'' panggil Dirga lagi. Setelah itu seulas senyum terbit di bibir seksinya ketika ia mendengar suara gemericik air di kamar mandi.

''Hm sedang mandi rupanya, pantas saja dari tadi di panggil tak kunjung nyaut.'' Gumam Dirga lirih. Ia lalu duduk di pinggir kasur, ia akan menunggu Nirmala selesai mandi. Tidak lama setelah itu suara derit pintu kamar mandi terdengar terbuka, Nirmala keluar dari kamar mandi dengan handuk bewarna putih melilit di bagian dadanya. Rambutnya yang panjang sepunggung nampak basah, sepertinya Nirmala habis keramas. Dan lehernya yang jenjang terekspos sempurna. Dirga yang duduk di pinggir kasur hanya mampu menelan saliva melihat sang kekasih yang nampak begitu cantik menggoda. Susah payah Dirga menahan hasrat ke-lelakian nya yang tiba tiba bangun. Dia tidak mau mengotori Nirmala, dia hanya akan mengauli Nirmala setelah Nirmala resmi menjadi istrinya.

Sedangkan Nirmala merasa begitu kaget melihat Dirga yang telah duduk dengan anteng di atas kasurnya. Nirmala terpaku di tempat, wajah putih mulus nya bersemu merah, ia menunduk malu. Ia akhirnya membalikkan tubuhnya, ia hendak ke kamar mandi lagi. Dia merasa malu karena Dirga yang terus saja menatap nya tanpa berkedip. Melihat Nirmala yang hendak masuk ke kamar mandi lagi, Dirga mencegah nya cepat, ia turun dari kasur lalu berjalan ke arah Nirmala.

''Sayang, kamu mau kemana? betah banget kayaknya di kamar mandi. Apa kamu tidak kasihan dengan Mas di sini?'' ucap Dirga lirih. Ia memeluk Nirmala dari belakang. Aroma tubuh Nirmala yang wangi begitu menenangkan baginya. Seketika lelahnya sehabis bekerja menguap sudah, berganti menjadi rasa tenang dan damai. Kehadiran Nirmala di rumahnya seakan menjadi obat tersendiri bagi dirinya. Makin mantap sudah niat Dirga untuk mengikat Nirmala di dalam ikatan pernikahan. Dirga akan membantu proses perceraian antara Nirmala dan Faris dengan cepat. Agar Anjani segera terbebas dari Faris.

''Aku mau ganti baju di kamar mandi saja, Mas,'' jawab Nirmala sama lirihnya. Ia merasa geli di bagian tengkuk nya karena Dirga yang perlahan mulai menciumi tengkuknya dengan lembut. Deru nafas Dirga terasa menerpa kulit, membuat bulu-bulu Nirmala berdiri meremang.

''Kok repot-repot ganti baju ke kamar mandi, di sini aja, Mas tidak akan melihat kok.'' Kata Dirga lagi.

''Kamu kapan pulangnya?'' tanya Nirmala mengalihkan topik pembicaraan. Ia juga mengalihkan posisi tubuhnya, hingga kini tubuh nya dan Dirga sudah saling berhadapan. Sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta itu saling memandang lekat, saling mengagumi satu sama lain.

''Dari tadi Mas sudah pulang Sayang. Mas nunggu kamu karena ada yang ingin Mas bicarakan, dan karena Mas bawa sesuatu untuk mu.'' Dirga berkata sambil merapikan rambut Nirmala yang sedikit berantakan.

''Apa Mas?'' tanya Nirmala penasaran.

''Sini, ayo.'' Dirga menggendong tubuh Nirmala menuju kasur. Nirmala merasa begitu bahagia mendapatkan perlakuan yang sangat manis dari sang kekasih. Setelah sampai di kasur, bukan nya memberi apa yang Nirmala tanya, tapi Dirga malah mengambil sisir lalu dia dia mulai menyisir rambut panjang dan indah Nirmala dengan pelan.

''Mas, biar aku saja yang sisir rambut aku. Kamu pasti capek,'' Nirmala berkata tidak enakan.

''Tidak apa-apa Sayang. Mas senang melakukan sesuatu untuk mu.''

''Ya sudah, terserah kamu aja deh. Asalkan kamu senang.'' Nirmala akhirnya mengalah. Dia membiarkan Dirga menyisir rambutnya hingga rapi. Sesekali Dirga menciumi tengkuk dan punggung Nirmala yang masih polos, hingga Nirmala ikut terpancing hasrat kewanitaan nya.

''Mas sudah berapa banyak wanita yang kau perlakukan dengan begitu manis seperti ini?'' tanya Nirmala dengan suara tertahan.

''Apa maksud mu, Sayang? Hanya kamu, kamu yang pertama dan Mas harap kamu juga juga yang terakhir.'' Kata Dirga lembut.

''Dan apa kau tahu Sayang, baru kali ini juga Mas menciumi punggung seorang wanita.'' Jelas Dirga, membuat Nirmala merasa menjadi wanita yang paling beruntung.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Ajusani Dei Yanti

Ajusani Dei Yanti

soweet bingit sih

2023-03-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!