Setelah menghubungi Nirmala, Faris berbicara sama sang asisten rumah tangganya yang sedang menyapu lantai.
''Emang beneran Nyonya berangkat ke luar kota tadi malam, Bik?'' tanya Faris kepada Asisten rumah tangganya.
''Em benar Tuan.'' jawab Sang Asisten rumah tangga seraya mengangguk kecil.
''Bibik sedang tidak berbohong 'kan?'' lagi-lagi Faris mencoba untuk memastikan. Ia menatap Bibik dengan tatapan menelisik.
''Tidak Tuan.'' jawab Bibik lagi dengan tetap mempertahankan janjinya kepada Dirga kalau dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya terkait Nirmala yang tengah sakit.
''Ya sudah lanjutkan lagi pekerjaan Bibik. Aku mau ke atas dulu.'' kata Faris lalu berlalu menaiki anak tangga. Usai Faris berlalu, Bibik menghembuskan nafas lega. Bukan apa-apa, bukan juga mau ikut campur urusan rumah tangga sang majikan, tapi Bibi wanita yang sudah begitu lama bekerja di keluarga itu, ia tahu apa yang terjadi. Dia tahu apa yang terjadi dengan sang nyonya dan dia tahu apa yang di perbuat Faris di belakang Nirmala karena waktu itu dia pernah melihat sendiri Faris dan Sintia sedang bercumbu mesra di dapur saat Nirmala lagi bersiap di kamarnya.
Tapi Bibik tidak berani mengatakan apa yang pernah ia lihat kepada Nirmala karena dia takut rumah tangga Nirmala dan Faris hancur. Tapi kini sepertinya sang nyonya sudah tahu tentang kecurangan sang suami, Bibik hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Nirmala. Karena Bibik sangat menyayangi Nirmala.
***
Faris duduk di pinggir kasur, lalu dia mengambil foto sang istri yang di pajang di atas nakas. Faris menatap nya lekat dan mengelusnya perlahan, lalu Faris berucap.
''Maafkan, Mas, Sayang. Karena akhir-akhir ini Mas kurang memperhatikan kamu. Mas berbuat seperti ini karena Mas ingin memiliki keturunan dan karena Mas memang telah jatuh cinta sama Sintia sahabat mu. Maafkan Mas, perasaan cinta dan kagum itu muncul begitu saja karena kami sering menghabiskan waktu berdua. Mas harap saat kamu tahu semuanya nanti kamu akan menerima dengan lapang dada. Mas harap kamu akan menerima Sintia sebagai adik madu mu. Mas tidak mungkin menceraikan kamu dan Mas juga tidak mungkin meninggalkan Sintia yang tengah mengandung anak Mas.'' gumam Faris. Setelah itu ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, karena dia harus pergi ke kantor.
Setelah selesai mandi, Faris berdiri di depan cermin dengan handuk bewarna putih melilit di pinggang. Ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
''Ah, dasar Sintia nakal dan begitu agresif, tanpa aku sadari ternyata dia telah meninggalkan tanda-tanda ini di dada dan leherku.'' gumam Faris seraya tersenyum kecil. Ia melihat dada dan leher nya yang telah memerah di beberapa titik, memerah bekas hisapan sang kekasih. Tadi malam mereka bermain di ranjang beberapa ronde.
''Meskipun begitu aku sungguh puas dengan pelayanan Sintia, dia lebih bisa memuaskan dan menyenangkan aku saat kami lagi berhubungan. Berbeda sekali dengan Nirmala yang masih sering malu-malu.'' gumam Faris lagi. Setelah itu ia mengambil pakaiannya di dalam lemari lalu memakainya cepat.
Faris sudah menghubungi Sintia, mengatakan kalau Nirmala lagi keluar kota. Sintia sangat senang mendengar kabar itu, bahkan dia meminta agar Faris menjemput nya pagi ini.
''Silahkan masuk Sayangku.'' ucap Faris membuka pintu mobil untuk Sintia.
''Terimakasih Sayang.'' balas Sintia memasuki mobil. Setelah itu Faris juga ikut masuk ke dalam mobil.
''Aku senang deh, akhirnya kita bisa berduaan lagi pagi ini Mas.'' kata Sintia menggandeng mesra tangan Faris. Ia merebahkan kepalanya pada bahu Faris.
''Mas juga merasa begitu bahagia Sayang.'' balas Faris seraya mengecup pucuk kepala Sintia beberapa kali.
''Kok Nirmala berangkat nya mendadak gitu sih Mas?'' tanya Sintia.
''Mas nggak tahu juga, mana dia sebelum berangkat tidak mengabari Mas.'' kata Faris lesu.
''Emang dia pergi sama siapa Mas.'' tanya Sintia lagi.
''Sama Pak Dirga katanya.''
''Upss sama Pak Dirga. Eh, jangan-jangan dia ada main sama Pak Dirga Mas.'' kata Sintia lagi.
''Apaan sih kamu, kalau ngomong jangan ngaco gitu.'' Faris sedikit meninggikan nada suaranya. Dia tidak suka mendengar apa yang dikatakan Sintia barusan.
''Kamu cemburu, ya.'' tanya Sintia dengan wajah cemberut.
''Iya. Dia kan masih istri Mas.'' kata Faris lagi.
''Terus aku apa dong?'' tanya Sintia.
''Kamu calon istri dan calon Ibu dari anakku Sayang. Mas mencintai Nirmala, tapi Mas lebih lebih mencintaimu.'' kata Faris lembut, yang berhasil menciptakan sebuah senyuman kemenangan di bibir Sintia.
''Ah kamu so sweet banget deh.'' Sintia mengecup pipi Faris beberapa kali.
''Harus lah Sayang.''
''Tapi aku nggak mau di madu, Mas. Pokoknya kamu harus menceraikan Nirmala.''
''Sayang sudah berapa kali kita membahas ini. Mas tidak mungkin menceraikan dia, kasihan dia. Keduaorangtua nya sudah tidak ada dan dia juga tidak bisa punya anak. Kasihan dia kalau harus sendirian.'' kata Faris lagi.
''Hmmm.'' Sintia hanya berdehem kecil.
''Udah, kamu makin cantik kalau lagi cemberut gitu.''
''Aku 'kan emang lebih cantik dari Nirmala.''
''Udah nggak usah ngomongin Nirmala lagi. Kita selalu saja ribut kalau lagi berbicara soal dia.''
''Iya deh. Nanti pulang kerja kita ke hotel, ya, Sayang. Aku pengen merasakan sensasi yang berbeda dengan bermain di sana, dan sepertinya ini mau nya anak kita.'' pinta Sintia seraya mengelus perutnya yang masih rata.
''Oke Sayang. Nanti kita main sepuas-puasnya di sana.'' ucap Faris, dia juga membelai perut Sintia.
***
Di tempat berbeda, Nirmala baru saja habis di periksa oleh Dokter pribadi keluarga Dirga.
''Alhamdulillah, kondisi Nak Nirmala sudah mulai membaik. Hanya perlu istirahat yang cukup dan satu lagi, jangan telat makan.'' pesan Sang Dokter laki-laki yang berusia sekitar lima puluh tahun.
''Tuh, kamu dengar kan Nirmala, jangan telat makan.'' timpal Dirga.
''Iya, Mas.'' jawab Nirmala.
''Nak Dirga, seharusnya kamu sebagai kekasih Nak Nirmala harus memperhatikannya. Jangan sibuk kerja terus.'' kata Dokter itu lagi. Dia menganggap Dirga sudah seperti anaknya sendiri.
''Kekasih?'' ucap Nirmala menatap Sang Dokter lalu bergantian menatap Dirga.
''Iya, katanya tadi malam kamu adalah kekasihnya. Saya sangat senang mendengarnya akhirnya Nak Dirga punya kekasih juga.'' jelas Sang Dokter.
''Doakan kami, ya, Dok. Semoga secepatnya kami bisa menikah.''
''Pasti Dirga. Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk mu.''
''Eh tapi ingat, Dok. Jangan Dokter katakan dulu hubungan aku dan Nirmala sama Mama, ya.''
''Baiklah. Kalau begitu saya pamit dulu.''
''Baik, Dok.''
Setelah itu Sang Dokter keluar dari kamar di ikuti Dirga yang mengantarkannya ke depan. Setelah Dokter benar-benar pergi dari rumah mewah lagi megah itu, Dirga kembali masuk ke kamar. Ia memberikan obat kepada Nirmala dengan sangat sabar.
''Pintar sekali kamu Sayang.'' puji Dirga saat Nirmala selesai meminum tiga butir pil.
''Apaan sih kamu kayak lagi ngomong sama anak kecil aja.'' ujar Nirmala.
''Bagi Mas kamu lebih dari anak kecil. Eh tunggu, ada bekas air di dagu mu, biar Mas bersihkan.'' ucap Dirga, Nirmala mengangguk kecil. Dirga menyentuh dagu Nirmala dengan sangat lembut. Netra keduanya saling memandang lekat mengagumi satu sama lain, lalu setelah itu, Dirga semakin mencondongkan wajahnya pada wajah Nirmala, Nirmala menutup matanya perlahan setelah itu sebuah kecupan hangat ia rasakan di bibirnya. Dirga menciumi bibir seksi Nirmala dengan begitu lembut, dalam dan lama, entah kenapa dia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh Nirmala. Begitupun Nirmala, dia tidak kuasa untuk menolak kecupan hangat yang Dirga berikan. Karena jujur, sebagai wanita normal Nirmala pasti menginginkan itu. Mereka saling bertukar saliva, menikmati rasa yang begitu memabukkan.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Maria Magdalena Indarti
salah juga Nirmala kl selingkuh dibalas selingkuh. tunggu sp cerai
2023-09-25
0
Ajusani Dei Yanti
lanjut thorrrr kuh keren
2023-03-14
0
Yoo anna 💞
najis
2022-11-22
1