Hari ini aku merasa ada yang aneh dengan Pak Dirga, dia bersikap begitu baik kepada ku, berbeda sekali dengan hari-hari kemarin. Waktu kami berjalan ke kantin tadi, banyak pasang mata para karyawan yang bekerja di perusahaan Pak Dirga menatap kami dengan tatapan keheranan. Wajar saja, karena selama ini Pak Dirga tidak pernah berjalan berdampingan dengan wanita manapun, biasanya aku selalu berjalan di belakangnya saat kami ada meeting di luar. Dan kali ini, sepanjang perjalanan menuju kantin, Pak Dirga tak mau melepaskan genggaman tangannya pada tanganku, aku sudah berusaha untuk melepaskan genggaman tangan nya, tapi dia semakin kuat menggenggam tanganku.
''Kalau kamu lagi butuh teman untuk mencurahkan segala isi hatimu, aku siap jadi pendengar nya, Nirmala.'' ucap Pak Dirga sembari menikmati segelas teh miliknya. Dia menatapku lekat.
''Iihh ... Pak Dirga ada-ada saja. Aku 'kan sudah punya suami, Pak. Cukup suami aku aja yang jadi pendengar yang baik untuk aku.'' jawabku tersenyum kecil. Aku sedang menikmati makanan yang aku pesan di kantin.
''Ya siapa tahu kamu lagi ada masalah dengan suami mu.'' kata Pak Dirga santai. Perkataan nya itu berhasil membuat aku salah tingkah. Pak Dirga seperti tahu kalau aku lagi ada masalah dengan Mas Faris.
''Em, tidak Pak. Kami baik-baik saja.'' aku masih berusaha menyembunyikan aib suami ku.
''Baguslah, silahkan di habiskan makanan nya Nirmala, supaya kamu tetap sehat dan kuat.'' kata Pak Dirga dengan senyum simpul. Ah, Pak Dirga terlihat sangat tampan sempurna, aku rasa dada ku sedikit berdebar melihat senyuman nya yang mematikan. Wajar saja selama ini banyak sekali wanita cantik yang datang ke perusahaan untuk menemui Pak Dirga. Tapi sayangnya Pak Dirga selalu mengusir mereka dan menolak cinta mereka secara terang-terangan.
''Baik, Pak.'' jawabku mengangguk kecil.
***
Sore harinya, sepulang dari kantor, aku melajukan kendaraan roda empat milikku dengan kecepatan sedang. Aku tidak akan pulang ke rumah ku sore ini, tapi aku akan mengunjungi rumah Mama mertua ku lebih dulu. Sudah lama sekali rasanya aku tidak mengunjungi Mama. Kalau tidak salah sudah tiga minggu lamanya kami tidak bertemu, aku tidak sempat main ke rumah Mama karena kesibukan ku dan Mama pun tidak pernah berkunjung lagi ke rumahku selama tiga minggu itu, entah kenapa aku tak tahu, biasanya Mama selalu berkunjung ke rumah dengan membawa makanan yang ia masak khusus untuk ku. Tapi selama tiga minggu ini aku rasa Mama sedikit berubah. Mama mertuaku masih sangat sehat di usia nya yang hampir menginjak lima puluh tahun, kalau Papa mertua, beliau sudah meninggal dunia dari beberapa tahun yang lalu saat aku dan Mas Faris masih pacaran. Mas Faris punya satu orang saudara kandung, yaitu Tika namanya, Adik perempuannya yang masih kuliah. Hubungan aku dengan Mama dan Tika bisa di bilang baik sekali, kami tidak pernah bertengkar selama aku menjadi istri Mas Faris. Tapi sekarang, Mas Faris menghancurkan semuanya, semua harapan aku yang dulu ingin menjadi menantu Mama untuk selamanya, sekarang tidak lagi, karena aku akan segera mengajukan gugatan cerai kepada Mas Faris.
Aku ingin mengunjungi Mama karena aku ingin mencurahkan segala isi hatiku kepada wanita yang telah melahirkan suamiku itu. Akan aku katakan kepada beliau kalau anak laki-laki nya telah menorehkan luka yang teramat dalam di hatiku, akan aku katakan kepada beliau kalau anak laki-laki nya telah menduakan aku.
Saat lagi menyetir, tiba-tiba ponselku yang ada di dashboard mobil berdering, aku mengangkat nya cepat sambil memasang handset di telinga.
''Iya, Mas.'' ucapku seperti biasa. Ternyata Mas Faris yang menghubungi aku.
''Nirmala, maaf, Mas seperti nya tidak akan pulang malam ini karena ada pekerjaan tambahan di kantor. Mas lembur malam ini Nirmala, kamu tak apa-apa 'kan kalau harus tidur sendiri malam ini?'' kata Mas Faris di seberang sana.
''Em aku tidak apa-apa, Mas.'' jawabku berusaha baik-baik saja. Lalu setelah itu panggilan terputus. Aku menarik nafas dalam, aku yakin sekali kalau Mas Faris telah berbohong pada ku, aku yakin mungkin nanti malam dia akan menghabiskan malam dengan Sintia, Mas Faris menginap di rumah Sintia. Aku yakin itu. Aku lalu mengambil ponselku lagi, aku akan menghubungi Sintia. Hanya dengan sekali panggilan, Sintia langsung mengangkat telepon ku.
''Hallo, Sin.'' kataku.
''Iya, Nirmala. Ada apa?'' jawab Sintia.
''Sintia, lu di mana sekarang? Bisa kita ketemuan sekarang?'' ucapku lagi.
''Em, aku, aku masih di kantor sekarang Nirmala. Emang kenapa? Apa ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan kepadaku?'' Sintia berkata dengan nada di buat polos. Benci sekali aku dengan wanita bermuka dua seperti dia. Rasanya ingin aku buat rata tuh muka.
''Oh masih di kantor. Ya udah, enggak apa-apa. Rencananya tadi aku mau ajak kamu ketemuan sore ini, lalu malam nya aku ingin kamu nginep di rumah aku seperti biasa. Aku nggak punya teman nanti malam soalnya Mas Faris lembur.''
''Yaahh sorry deh. Aku nggak bisa nginep di rumah kamu Nirmala, soalnya aku lagi ada urusan lain.''
''Ya udah, nggak apa-apa deh.'' ucapku lagi setelah itu aku memutuskan panggilan dengan hati terasa kelu. Tega sekali dua manusia munafik dan tidak tahu terimakasih itu bermain-main di belakang ku.
''Kenapa harus suami aku, Sin? Kenapa?'' ucapku di dalam hati sambil menggenggam kuat setir mobil. Tidak lama lagi aku akan sampai di rumah Mama mertua.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Ajusani Dei Yanti
lanjut thorrrr kuh semangat
2023-03-14
0
Sulati Cus
Sintia tipe teman yg g tau diri pagar mkn tanaman
2022-12-27
1
Uthie
Pasti perubahan ibu mertuanya juga itu ada andil dehh.. kebelet pingin cucu dari wanita lain anak lakinya 😏
2022-12-13
1